DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 82 : Gadis Untuk Chalvin


__ADS_3

Chalvin kembali ke ruang kerjanya setelah mengantar Karen pulang ke rumah. Mengarahkan pandangan ke jendela, pria itu tercenung selama beberapa menit. Ia merasa dirinya menjadi aneh jika Karen sedang berada di dekatnya. Ia pun sadar perasaan ini salah dan tak boleh ada.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Chalvin. Tak lama kemudian, sekretarisnya masuk berjalan lenggang-lenggok ke arahnya. Perempuan itu berdiri di belakang sambil mengalungkan tangan di lehernya. Tampaknya, kehadiran sekretaris yang centil itu, kurang bisa mengalihkan fokus yang masih memikirkan keanehan dalam dirinya.


Sekretaris itu mengarahkan bibirnya, tepat di telinga Chalvin sambil berbisik, "Malam ini datang ke tempatku, yuk!"


"Sorry, kayaknya aku gak bisa deh," tolak Chalvin.


"Yah ... padahal aku baru beli lingerie dan G-striing," bisik sekretarisnya dengan nada menggoda seraya menunjukkan foto lingerie super seksi.


Melihat itu, jiwa kelaki-lakian Chalvin seakan terpancing. Ia meneguk ludah seraya berkata, "Kalau gitu aku bakal sempatin mampir ke apartemen kamu."


Di waktu yang sama, pintunya kembali terketuk. Sekretarisnya tampak kelabakan saat Oma Belle tiba-tiba masuk dan memandangnya dengan sinis. Ia pun segera keluar dari ruangan itu.


"Chalvin, jadi pria yang berkelas dong kalau pilih perempuan. Jangan seperti air yang datang dari tempat tinggi, malah mengalir ke tempat rendah!" singgung Oma Belle setelah sempat melihat tingkah sekretaris yang terus menempel pada Chalvin.


Chalvin menyengir bodoh seraya berdiri dari tempat duduknya. "Oma kenapa ke sini?" tanyanya untuk mengalihkan omelan Oma Belle.


Oma Belle langsung tersenyum. "Gini loh. Oma punya rekomendasi calon istri buat kamu. Dia anak bungsu dari teman sekolahnya Oma dulu. Anaknya manis, masih muda, dan belum pernah pacaran. Kata mamanya, dia gak pernah jalan atau dekat sama laki-laki lain.


Sudut bibir Chalvin sontak terangkat ke atas. "Yaelah, Oma ... di western sana anak usia 21 tahun udah dilepas orangtuanya, eh di sini udah 30-an masih dicariin jodoh. Udah kek kembali ke jaman Siti Nurbaya aja!"


"Kalau gak kayak gitu kamu gak bakal nikah. Kamu itu dipersiapkan untuk jadi wakil presiden direktur, menggantikan ayah Darren yang jadi Presdir. Mestinya udah nikah dan membentuk keluarga harmonis, bukan gonta-ganti cewek melulu. Oma dah bosan didatangi karyawati yang nangis-nangis patah hati sama kamu."


"Perempuan itu belum jadi pasangan aja dah ribet, apalagi pas jadi pasangan sah ... pasti makin ribet. Egoisnya pun ikut naik kelas!"


"Coba jelasin ke Oma, kenapa kamu bilang perempuan itu ribet dan egois!"


"Ya, iyalah Oma. Ini berdasarkan curhatan teman-teman aku yang pada nikah. Contohnya nih ya Oma, ada istri teman aku yang doyan banget muji-muji aktor-aktor Korea di depan mereka sampe simpan foto-fotonya di galeri ponsel, pake bilang suami kedualah, suami khayalanlah. Eh, giliran temanku muji cewek lain, malah kena amuk. Jangan kan muji, ketahuan nge-love foto cewek cantik di instagram aja auto perang dunia. Padahal mereka juga pasti doyan lihat foto-foto cowok ganteng selain suaminya." Chalvin menceritakan apa yang dialami kawan-kawannya yang telah berumah tangga.


"Makanya jadi laki-laki mesti jaga pandangan, biar dapat pasangan juga yang bisa jaga pandangan!" tandas Oma, "dulu juga Darren saat Oma mau jodohin, nentang keras. Tapi sekarang, lihat sendiri kan ... baru tiga bulan aja dia dah sayang banget sama istrinya. Kalau disuruh cerai pun, pasti gak mau."


"Ya ... itu karena pasangan yang Oma pilihkan cocok sama dia," sanggah Chalvin.


"Tuh kan kamu akui sendiri kalau pilihan Oma gak salah buat Darren. Kamu juga bisa gitu. Coba, bilang ke Oma, kamu mau perempuan kayak gimana? Biar Oma bisa cariin yang pas!"


"Yang pasti jangan yang jeleklah, Oma. Soalnya liatinnya bukan sebentar doang, tapi bakalan sampai tua," ujar Chalvin blak-blakan.


"Nah, calon yang pengen Oma kenalin ini cocok buat kamu! Cantik dan muda kayak Karen." Oma Belle semakin bersemangat membujuk Chalvin.

__ADS_1


Sebaliknya, mendengar nama Karen membuat Chalvin mempertimbangkan usulan Oma Belle.


"Pokoknya kamu harus kenalan sama calon istri yang Oma rekomendasiin."


"Iya-iya. Cuma kenalan doang, kan? Kalau aku gak sreg, Oma jangan maksa, ya?"


Akhirnya Chalvin menyetujui keinginan Oma. Daripada harus mendengar ocehan Oma yang sepanjang naskah sinetron yang tidak tamat bertahun-tahun.


...****************...


Sore yang ditentukan pun tiba, Chalvin berdiri di depan pintu masuk Plaza Indonesia sambil menunggu seseorang. Ia kembali melihat foto yang dikirimkan Oma Belle. Tampaknya, perempuan yang akan berkencan dengannya itu seusia Karen. Bahkan memiliki rambut pendek sebahu seperti istri sepupunya itu.


Tak lama kemudian, seseorang menegurnya dari belakang. "Chalvin, ya?"


Chalvin segera berbalik, lalu sedikit terperangah menatap seorang gadis yang memakai dress biru muda dikombinasi dengan blazer denim. Wajahnya mirip dengan foto yang dikirimkan Oma Belle.


Chalvin segera mengulurkan tangannya. "Cha ...."


"Yuk, temani gue belanja!" ucap gadis itu sambil menarik Chalvin masuk ke dalam gedung.


Chalvin lantas terhenyak. "Nih cewek gak ada basa-basinya. Main tarik-tarik aja. Dia kira gua angkot apa!" gumamnya dalam hati.


Berjalan di belakang, Chalvin malah menggunakan mata teropongnya untuk menilik gadis di hadapannya itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Chalvin merasa gadis yang dipilihkan Oma, cukup sesuai dengan tipenya. Yang membuatnya semakin tertarik karena gadis itu memiliki potongan rambut yang sama dengan Karen.


Masih memerhatikan gadis itu secara diam-diam, Chalvin kembali melakukan observasi sesuai apa yang dilihatnya.


Kalau dilihat dari caranya berjalan, kayaknya dia ini gadis mandiri. Suaranya juga gak dibikin manja-manja atau feminin kek gadis-gadis seusianya. Beneran gak sih dia gak pernah pacaran dan gak pernah dekat sama laki-laki? Kayaknya orangnya gak polos dan pemalu. Cocok sih sama selera gue yang suka cewek dewasa.


Gadis itu mengajaknya masuk ke salah satu toko yang mengusung brand ternama. Ia mengambil sebuah tas branded lalu tersenyum manis ke arah Chalvin. "Gua suka ini. Lo yang bayarin, ya!"


Chalvin mengangguk-anggukan kepala sambil tersenyum kaku antara merasa kaget dan heran. Pasalnya, dari banyaknya wanita yang jalan dengannya, mereka tak berani minta macam-macam di pertemuan pertama.


Gadis itu kembali mengambil satu tas yang diletakkan di etalase khusus. "Gue juga mau ini. Tapi harganya 350 juta. Sanggup gak, lo?"


Mata Chalvin terbelalak seketika disertai mulut yang tercungap.


"Oh, duit lo gak nyampe, ya?" tanyanya sejenak. Tak ada jawaban apa pun dari Chalvin, membuat gadis itu kembali meletakkan tas yang dipegangnya. "Oh, gak nyampe, ya! Kirain lo punya banyak uang!"

__ADS_1


Merasa direndahkan, Chalvin lantas berkata, "Ambil aja kalau mau!"


Seolah masih belum puas, gadis itu terus memilih barang-barang mewah berkelas tanpa memberi kesempatan Chalvin untuk mengobrol dengannya. Mereka mengelilingi empat lantai, keluar dari toko satu ke toko lainnya dengan membawa barang belanjaan yang makin bertambah.


Chalvin terduduk kelelahan setelah satu jam menemani gadis itu berbelanja. Ketika melihat ponselnya, ia baru menyadari Oma Belle mengirimkan pesan padanya.


Oma Belle: gimana gadis pilihan Oma? Menarik, kan?


Membaca pesan Oma Belle, membuat rahang Chalvin mengetat seketika. "Cewek pilihan Oma benar-benar menarik, menarik isi dompetku!" omelnya dalam hati.


Chalvin kembali menoleh ke arah gadis itu. Ia mengernyit heran ketika gadis pilihan Omanya itu sibuk memilih sepatu boot pria, bahkan mencoba sepatu dengan ekspresi senang. Chalvin lalu mendekati gadis itu sambil membawakan sepatu boot perempuan untuknya.


"Ini lebih cocok di kaki kamu," ucap Chalvin sambil tersenyum.


Bersamaan dengan itu, seorang perempuan cantik dan modis menegur gadis itu dengan ekspresi terkejut.


"Boy? Ini elu?" Perempuan itu sampai melihat dari atas ke bawah lalu mengelilinginya, "ini beneran lu, Boy? Kesambet apa lo sampai dandan cantik kayak gini?"


Chalvin yang tak tahu apa-apa, hanya bisa melebarkan matanya seraya mematahkan kepala ke samping. "Boy? Siapa Boy?" tanyanya sambil menatap gadis yang jalan dengannya itu.


Gadis itu segera menarik Chalvin keluar dari toko tersebut. Saat berada di tempat sepi, gadis itu langsung melepas tangan Chalvin. Ia duduk sambil menghela napas. Gaya duduk gadis itu membuat Chalvin terperanjat hebat. Kedua kakinya terbuka lebar, dengan satu tangan yang bertopang pada dagu. Salah satu kakinya dihentak-hentakkan ke lantai dengan gerakan cepat.


Chalvin semakin syok, ketika gadis itu membuka rambut palsu yang panjang sebahu itu dan menunjukkan rambut asli dengan potongan yang hampir sama dengannya.


"Nama gue Elvina tapi dipanggil Boy. Sorry, sebenernya gua gak demen sama cowok. Penampilan asli gua tomboi. Gua juga udah punya cewek. So, gua sama sekali gak tertarik sama lo meski lo mungkin jadi kriteria impian sebagian banyak cewek. Minggu lalu gue mau ke Thailand buat operasi hormon dan ngilangin dada. Cuma ditentang habis-habisan sama nyokap. Makanya dia gencar cariin gue jodoh. Kalau bukan karena nyokap maksa pake ngancam bakal bunuh diri, mana mau gue dandan kayak gini dan jalan bareng elo. Terpaksa gue turutin! Sial banget, kan, gue?"


Chalvin langsung termegap-megap mendengar pengakuan perempuan itu. Matanya terbelalak diikuti mulut yang terbuka lebar sebesar bola kasti. Ia bahkan terhuyung dan hampir jatuh ke belakang, kalau saja tak ada tembok yang menopangnya.


Kayaknya gue deh yang lebih sial. Demi apa ... gua jalan sama cewek buchi. Dikuras pula!"


(Buchi: istilah untuk cewek maskulin yang suka sama cewek dan memosisikan dirinya sebagai pria. Kayak gay versi cewek gitu)


"Makanya gue sengaja borong banyak barang branded. Gue pikir ... tadinya lo bakalan kabur gara-gara gue habisin duit lo, eh ... gak nyangka ternyata lo setajir ini. Tahu gini gue beli tas ransel dan sepatu boot impian gue aja. Tapi gak papa, semua barang-barang belanjaan ini bakal gue kasih ke cewek gue. Pasti dia senang banget! Thanks, ya!"


Chalvin langsung memegang dadanya yang terasa sesak.


Jadi ini yang Oma maksud ... gak pernah pacaran, masih ting-ting, dan gak pernah jalan atau dekat sama laki-laki?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2