DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 182 : Ketika Feril Menyadari


__ADS_3

Feril terperanjat kaget. Pasalnya, dosen PA-nya tengah bersama dengan seorang wanita. Apalagi posisi Darren saat ini memang membuat siapapun yang melihatnya tampak salah paham. Feril pun spontan menutup mata karena mengira dosennya itu tengah bercumbu dengan seorang wanita.


Keterkejutan itu tampak berlaku juga untuk Darren dan Karen. Bagai kucing yang tertangkap basah mencuri ikan, begitulah mereka saat ini. Keduanya membeku diam setelah dipergoki oleh Feril. Untungnya, wajahnya tertutupi oleh punggung lebar Darren, karena posisi pria itu tengah membungkuk di hadapannya. Ya, meja kerja dan tempat yang diduduki Karen saat ini memang sejajar dengan arah pintu ruangan.


"Sorry, Prof. Sorry," ucap Feril kelabakan. Namun, bukannya segera pergi, ia malah menetap berdiri di depan pintu. Masih menutup mata dengan kedua tangannya, ia kini mencoba mengintip dengan membuka sela-sela jarinya, untuk melihat siapa gerangan wanita yang tengah bersama dosennya itu. Sialnya, yang terlihat hanyalah kaki dan tangannya saja.


Ketika Darren hendak berbalik ke arah Feril, Karen malah mencegatnya dengan meremas kuat bagian baju pria itu. Kepalanya bergeleng pelan dengan raut memohon, seolah tak ingin Feril melihatnya. Mungkin, hanya Karen yang paling gugup di antara mereka bertiga.


"Kamu bisa pergi, gak? Lain kali kalo mau buka pintu, tunggu diijinin dulu, baru masuk!" ucap Darren dengan nada tenang tanpa berbalik ke arah Feril.


"Siap, Prof. Sorry banget dah ganggu, nih! Jadi gak enak sama Profesor," sahut Feril sambil berusaha mengintip wanita yang berada di ruangan itu. Namun kalah cepat dari Darren yang langsung memutar kursi Karen, sehingga hanya memperlihatkan punggung sandaran kursi.


Begitu Feril pergi, Karen lantas menghela napas. Bukan karena lega, melainkan gusar dan was-was. Sementara Darren langsung berdiri tegak dan sedikit menjauh dari istrinya.


"Kayaknya kamu takut ketahuan sama dia kalo kamu istri aku," cetus Darren sambil memilih salah satu buku yang akan digunakan sebagai bahan mengajar di jam berikutnya.


"Enggak gitu! Aku cuma panik aja. Dia tuh tukang rusuh. Kalo dia teriak, gimana? Entar dikira kita ngapa-ngapain di dalam sini." tampik Karen cepat.


Darren tersenyum miris. "Ya, kayaknya emang itu yang ada di otaknya sekarang. Ya, udah, aku pergi duluan. Kalo kamu mau keluar dari sini, jangan lupa kunci lagi pintunya. Kita ketemu di kelas dua jam lagi!" ucap pria itu sebelum beranjak dari ruangannya meninggalkan Karen.


Karen tertegun sejenak. Jelas, ia bisa merasakan ada kekesalan dari kata yang didesiskan suaminya. Jujur saja, ia hanya terlalu takut saat mendengar suara Feril. Namun, ada yang lebih penting saat ini! Feril pasti tak akan diam setelah melihat kejadian ini. Meskipun ia mungkin aman karena tak terlihat oleh pria itu, tapi posisi Darren tadi pasti akan membuatnya salah paham.


Ternyata benar apa yang diprediksi Karen! Di hadapan kawan-kawannya, Feril menceritakan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.


"Serius lo lihat pak Darren lagi bercumbuu dengan perempuan di ruang penelitian?" tanya para Mahdi dengan nada tak percaya.


"Lo kira gua mendongeng?"


"Kali aja lu lagi berhalusinasi!" tandas mereka.


"Lu kira gua lagi ngedoping? Gua lihat sendiri pake mata kepala dan mata kaki gua!"

__ADS_1


"Tambahin mata duit juga, Ril," celoteh Gimbal.


"Lagi gak punya kalo itu!" jawab Feril.


"Terus, kenapa lu gak rekam?" tanya Jamet.


"Nah, itu dia yang gak kepikir otak gua! Gua lebih dulu kaget! Yang penting udah ketahuan belangnya tuh dosen. Pantes aja pas gua ngeluh soal pak Ahmad, dia ogah-ogahan bantu gua, malah buru-buru pergi. Ternyata lagi simpen cewek di ruang penelitian. Nyesel gua jadiin dia dosen PA. Ciih!"


"Jangan suudzon! Kali aja itu istrinya. Kan katanya dia udah punya istri," kata gimbal berpikiran positif.


"Halah ... paling juga itu cuma hoax yang dibuat rektorat untuk nutupin kasusnya waktu itu! Kalian percaya, kan, sama gua? Gua lihat sendiri mereka main di kursi, Cuy!"


"Serius? Buka baju, enggak?" tanya mereka penasaran.


"Ya, belom! Keknya baru mau pemanasan!"


"Tangannya piknik ke gunung, gak? Atau udah menjelajah ke lembah tersembunyi?" tanya mereka lagi dengan jiwa penasaran yang tak tertolong. Bahkan wajah mereka kian maju ke arah Feril.


"Ini di luar Nasar, gak habis Fikri dan gak masuk Haikal. Bikin gua terherman-herman! Emang, ya, sesungguhnya tipu daya wanita lebih dahsyat dari syaiton!" Jamet menggeleng-geleng kepala.


Tak hanya bercerita pada teman-temannya, Feril juga membawa gosip tersebut hingga di ruang kelas selanjutnya. Tentu saja hal ini menghebohkan seisi kelas. Mereka tak serta-merta memercayai ucapan Feril terhadap dosen idola tersebut. Apalagi tak ada bukti apa pun yang dibawa Feril. Namun, mengingat sebelumnya Darren pernah tersandung kasus yang sama, membuat gosip yang dibawa Feril itu seolah benar.


"Kalian masih mau diajar sama dosen kayak gitu? Lihat, kan, dia malah berbuat cabull di kampus kita! Dari dulu kan gua dah bilang, tuh dosen tampangnya aja yang kek surga, tapi hati dan kelakuannya udah kek neraka!" cerca Feril layaknya pemimpin orasi.


"Lo sendiri tampang kek anak Adam, tapi kelakuan kek anakonda!" sambar Vera yang mulai muak dengan keonaran yang diciptakan Feril.


"Ya, wajar dong! Namanya anak-anak!" Feril membela diri layaknya emak-emak yang membela anaknya.


"Woi, gua bilang anakonda, bukan anak-anak! Lo pikir maksud gua anaknya Onda?" sengit Vera.


"Ril, lu udah jadi kang hasut ya sekarang. Jangan gantiin tugasnya setan dong!" cetus Jamet yang sedikit tak setuju karena Feril terlalu menggebu-gebu.

__ADS_1


Karen masuk ke ruang kelas di saat seisi kelas heboh membicarakan tentang suaminya terkait kesaksian dari Feril. Lagi-lagi, suaminya harus terkena masalah karena dirinya. Sekarang, apa yang harus ia lakukan untuk menampik isi tersebut? Mungkin sebentar lagi isu ini akan kembali menyebar se-universitas. Tidak, ia tak mau menempatkan kembali suaminya dalam masalah.


"Eh, Karen!" Pandangan Feril mendadak mengarah pada Karen yang baru masuk.


Ketika hendak menghampiri perempuan pujaannya itu, ia malah tak sengaja melihat jam tangan yang dipakai Karen. Ia pun menunduk untuk melihat sepatu yang dikenakan perempuan itu. Sontak, pupil matanya pun membesar.


Feril mendadak terdiam dan kembali duduk. Hanya matanya saja yang membulat dan tak berhenti berkedip saat memandang Karen. Ia seakan hendak menolak prasangka yang ada di pikirannya saat ini, tapi mata dan ingatannya terus membenarkan apa yang dilihatnya tadi. Jam tangan dan sepatu yang dipakai Karen saat ini persis dengan wanita yang dilihatnya bersama Darren tadi.


Di saat yang sama, Karen berucap dengan lantang, "Pak Darren gak kayak gitu!"


Semua orang lantas menoleh ke arahnya.


"Bener, kok, Ren! Kak Feril sendiri yang lihat!" kata mahasiswa lainnya yang sebenarnya takut dengan Feril.


"Enggak! Pak Darren itu udah nikah. Gak mungkin kayak gitu!" tampik Karen.


"Polos banget, sih! Pria yang udah nikah belom tentu gak nakal! Apalagi dia cakep kek gitu," kata salah satu dari geng Mahdi.


"Enggak! Aku tahu pak Darren gak gitu! Yang kak Feril omongin itu cuma salah paham."


"Tahu dari mana emang, hah?" tantang kawan Feril lainnya.


Karen memejamkan mata seraya berkata, "Karena aku ... karena aku ...."


"Karena dia istri saya!" Seseorang menyambung dari arah belakang. Seseorang itu tak lain adalah Darren yang sedang berdiri di depan pintu dan siap untuk mengisi kuliah.


Seisi kelas lantas tercengang mendengar pengakuan santai dari Darren. Namun, yang lebih terkejut tentunya adalah Feril. Lelaki itu lantas spontan berdiri dari duduknya dengan bola mata yang hampir meloncat keluar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2