DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 183 : Feril Sad Boy


__ADS_3

Semua tatapan kini berpusat pada Darren. Dengan santai, pria itu melenggang masuk ke ruangan dan berdiri tepat di belakang Karen. Seketika, seisi kelas heboh dan saling bertanya-tanya.


Pria itu memegang bahu Karen dari belakang, sambil kembali berkata, "Yang Feril lihat tadi itu dia, istri saya!"


"Maksudnya ... Pak Darren sama Karen udah nikah?" tanya ketua kelas.


"Ya, kami sudah menikah hampir setahun dan memang belum banyak yang tahu," ungkap Darren dengan mimik serius yang terpasang di garis wajahnya.


"Jadi ... mahasiswi ekonomi yang jadi istri pak Darren itu Karen? Really?" Kawan-kawan Karen saling berbisik. Dari ekspresi mereka, tentu saja tak serta-merta percaya.


Di antara semua yang terkejut, gerombolan Mahdi malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan Darren yang dianggap mereka adalah sebuah bualan belaka.


"Halu, nih, laki!" Gimbal menunjuk ke arah Darren sambil tergelak lebar.


"Wakakak ... Karen istri, Bapak? Jangan bercanda gitu, dong, Pak! Saya tahu Bapak keren, idola para cewek-cewek, tapi gak usah pake sembarangan akui salah satu mahasiswa Bapak sebagai istri!" sergah Jamet yang juga menyangsikan ucapan Darren.


"Mau percaya atau tidak, setidaknya saya sudah katakan yang sebenarnya pada kalian," balas Darren tanpa keraguan.


"Bohong! Mana buktinya kalo Karen istri Bapak? Atau jangan-jangan ini cuma modus Bapak buat nutupin kelakuan Bapak di ruang penelitian. Ya, kan, Ril?" Kawanan Mahdi itu menoleh ke arah Feril.


"Sebaiknya kamu tanyakan juga sama dia ciri-ciri perempuan yang bersama saya di ruangan itu! Saya rasa dia sudah punya jawaban," singgung Darren.


"Gimana, Ril? Cewek yang lu lihat Karen, bukan?" tanya Jamet.


"Ril, lo juga lihat tuh profesor lagi indehoyy di dalam sana, kan? Apa iya tuh cewek Karen?" sambung teman-temannya yang lain.


"Kenapa saya harus melakukan itu dengan istri saya di ruangan terbatas jika di rumah bisa lebih bebas dan banyak waktu?" Darren menampik tuduhan mereka dengan sudut bibir yang terangkat.


Feril yang sebelumnya berisik seperti kaleng kosong yang tergelinding, kini diam seribu bahasa. Namun, arah pandangannya terpaku pada Karen yang hanya bisa menunduk. Meski tak melihatnya secara langsung, tapi dia sempat mengenali jam tangan dan sepatu yang dipakai Karen saat ini mirip dengan perempuan yang bersama Darren.


"Kalau memang Karen istri Bapak, kenapa gak dikasih tahu dari dulu kalo kalian udah nikah? Karen aja gak pake cincin nikah!" cecar kawan-kawan Mahdi yang justru ngotot di saat ketuanya hanya bungkam.


"Ya, kali gak pake cincin nikah atau jangan-jangan digadaikan buat menuhin kebutuhan rumah tangga, wkwkwk!" ledek mereka lagi.


Tiba-tiba Nadya berdiri sambil berkata, "Aku saksinya. Pak Darren dan Karen emang menikah dan tinggal bersama layaknya suami istri."

__ADS_1


Vera ikut berdiri dan berkata, "Aku juga. Aku sama Nadya udah lama tahu kalau Pak Darren dan Karen udah nikah. Kalian kalo gak percaya, ya, tinggal ikuti aja mereka pas pulang!"


Melihat dua sahabatnya ikut pasang badan untuknya, membuat Karen terenyuh. Ia sendiri tak bisa berkata apa-apa seakan lidahnya berhenti memproduksi kata-kata. Seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya, sehingga untuk menelan ludah pun terasa sulit.


"Terus, kenapa kita gak dikasih tahu?" tanya Jamet.


"Kenapa saya harus kasih tahu sama kalian?" tanya Darren balik dengan kepala yang sedikit dimiringkan.


"Ya, biar kita tahulah!" cetus para Mahdi.


"Dosen tidak punya kewajiban untuk menjelaskan statusnya pada mahasiswa. Tugas kalian bukan mengurusi kehidupan pribadi orang, apalagi mengurusi hal privasi dosen kalian!" tegas Darren.


"Terus, kenapa Karen selama ini gak cerita ke kita kalo udah sama Pak Darren? Karen juga gak kelihatan seperti dekat sama Bapak atau punya hubungan istimewa gitu!" Salah satu mahasiswi yang juga syok, ikut menyundulnya dengan pertanyaan.


"Saya kira yang dilakukan istri saya sudah tepat. Dia tahu membedakan mana lingkungan kampus dan rumah. Dia tahu untuk menempatkan diri dengan bersikap formal pada saya jika sedang berada di kampus. Karena dia sadar saat di kampus, saya bukan lagi suaminya melainkan dosennya."


Darren menjawab semua pertanyaan yang penuh keraguan dengan cepat, akurat, dan tetap tenang. Para mahasiswa yang tadinya meragu, tampak mulai menerima semua pernyataan pria itu.


"Saya rasa cukup untuk membahas ini. Jangan mudah percaya dengan gosip yang tidak kalian lihat langsung dan jangan mudah membuat gosip jika hanya setengah dari apa yang kamu lihat! Silakan persiapkan diri kalian untuk menerima mata kuliah!" tegas Darren dengan mata yang berpendar ke seluruh ruangan.


Satu jam kemudian, Jamet dan kawan-kawan berdiri di bawah gedung fakultas mereka dengan kepala yang menengadah. Ternyata, mereka sedang memantau Feril yang duduk diam di pembatas rooftop gedung itu. Ya, sudah selama itu Feril berada di sana dengan tatapan kosong. Sebelah kakinya ditekuk untuk menopang tangannya yang memegang sebatang rokok.


"Kasihan juga kalo lihat Feril mode gini. Auto jadi sad boy dia sekarang! Kayaknya Feril syok, deh! Cewek incarannya ternyata istri orang, mana dosen PA-nya sendiri lagi!" kata Jamet yang merasa kasihan pada sahabatnya itu.


"Gimana, nih? Apa kita samperin aja? Gua khawatir dia bunuh diri! Biar gitu-gitu dia sohib kita. Gua gak bisa bayangin kalo kita kehilangan dia," ucap salah satu dari mereka dengan nada cemas.


"Sama. Gua juga takut dia nekat lompat ke bawah," timpal Gimbal.


"Lu juga takut kehilangan dia, ya?"


"Gua takutnya kalo dia bunuh diri entar arwahnya gentayangan neror kita," jawab Gimbal.


Akhirnya, mereka semua memberanikan diri menghampiri Feril. Sikap tak biasa yang ditunjukkan pria itu, membuat para Mahdi kebingungan dan memutar otak untuk menghiburnya. Mereka saling sikut-menyikut dan dorong mendorong untuk berbicara padanya.


"Menikah itu bukan babak akhir dari percintaan, masih ada yang namanya perceraian, Sob," ucap salah satu kawannya sambil menepuk pundak Feril.

__ADS_1


"Kalo udah gak bisa ambil hatinya kek gini, ya tinggal ambil hikmahnya aja!" sambung yang lainnya.


"Mending kita jor-joran minum aja di tempat biasa. Siapa tahu Nemu cewek bohay!" ajak kawan lainnya.


Tak ada jawaban apa pun dari Feril. Pria itu benar-benar seperti batu saat ini.


"Udahlah, Ril. Wanita bukan cuma Karen seorang. Doi dah bersuami ganteng, profesor lagi! Otak kita cuma seonggok upil di kolong meja gak mampu bersaing sama tuh profesor!" kata Jamet. Terkesan sadis memang ucapannya, tapi justru untuk membuat Feril bersikap realistis jika memang seperti itu kebenarannya.


Feril masih tak merespon apa pun kata-kata temannya. Kawan-kawannya lantas kembali saling berbisik.


"Eh, Gimbal, lu ngomong juga dong! Biasanya kalo lo yang ngomong pasti direspon Feril," pinta Jamet setengah berbisik.


"Mau ngomong apa?"


"Ya, terserah. Yang bikin dia terpancing buat ngomong!"


Gimbal lalu mendekati feril. "Ril, lo butuh tali, enggak? Kalo mau gua cariin."


"Buat apa?" tanya Feril dengan nada malas-malasan.


"Ya ... kali aja lu tertarik gantung diri!" jawab Gimbal sambil menyengir.


Kawan-kawannya lantas menepuk jidat. "Ini sih bukan mancing ngomong, tapi mancing emosi!"


.


.


.


catatan author ✍️✍️


Mungkin banyak yang gak sadar kalo karakter Feril ini second male lead di novel ini, bukan Chalvin. kalo Chalvin itu second couple di novel ini. Bisa dilihat, karakter Feril udah muncul di awal-awal bab dan tetap eksis hingga bab ini. kehadirannya emang untuk mengunci tema dan konflik utama (pernikahan rahasia). Sedangkan Chalvin munculnya di atas chapter 30-an. Karakter Feril ini unik, bukan protagonis tapi dibilang antagonis juga enggak. Ya, tipikal karakter kesukaan gua, abu-abu!


Dan emang karakternya sebagai mahasiswa pemalas, apatis dan Mahdi ini related dengan kehidupan perkuliahan. Di kampus mana pun, ada banyak tipe mahasiswa kek Feril ini... datang ngampus tiap hari tapi gak masuk kelas. Banyak kok! Dan rata-rata mahasiswa yang kek gini, paling berisik dan paling berani nantangin dosen. Merasa bangga jadi preman kampus.

__ADS_1


Terus, kenapa masih kuliah kalo gak serius? Ya, biar bisa eksis sama adik tingkat, biar bisa terus dapat kucuran duit dari orangtua, meras orangtua dengan modus kebutuhan kuliah. Apalagi kalo ortunya yang emang ga paham dengan dunia perkuliahan, habis deh dikibuli orangtuanya 🤧


__ADS_2