DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 215 : Hasil USG Karen


__ADS_3

Chalvin bergegas mengendarai motor menuju tempat pernikahan. Sesampainya di sana, ia langsung disapa beberapa tamu yang juga merupakan kenalannya. Meski hanya memakai kameja lengan panjang polos, tidak mengurangi karisma lelaki itu.


Oma Belle dan Silvia menghampiri Chalvin yang sedang asyik berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnisnya. Ya, penglihatan wanita tua itu sungguh tajam melebihi elang, hingga bisa mendeteksi keberadaan Chalvin meski pria itu berusaha menghindar bahkan bersembunyi.


"Chalvin, dari mana aja kamu?" serang Oma yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Sibuk nyari kendaraan. Kan mobil aku disita sama Oma," singgung Chalvin.


Silvia langsung berdiri di samping Chalvin, dengan tangan yang tak sungkan merangkul lengan pria itu. "Chalvin, foto bareng Yuk! Udah lama banget kita gak foto bareng," ucap Silvia sembari menempelkan pipi mereka.


Di waktu yang bersamaan, rekan-rekan Oma Belle yang terdiri dari ibu-ibu tua pebisnis handal, datang menyapa mereka. Kehadiran Silvia di tengah-tengah Oma dan cucu itu, membuat mereka menyangka dia adalah istri Chalvin.


"Ini istri Chalvin, ya?"


"Bukan, Tante," tampik Chalvin cepat.


"Chalvin belum nikah, tapi dia ini memang calon istrinya," sambung Oma sambil menyikut perut Chalvin.


"Oh, ya? Terus, kapan, nih, nikahnya?" tanya ibu-ibu itu kembali.


"Gak ada rencana nikah sih, Tante. Aau!" Chalvin menjerit kecil saat Oma langsung menginjak kakinya bersamaan dengan jawaban yang ia berikan pada ibu-ibu itu.


"Maksud Chalvin ... dia gak mau sesumbar dulu. Kalo bilang dalam waktu dekat ini, kan, takutnya tiba-tiba ada halangan. Biarkan undangan yang berbicara," ucap Oma Belle meralat ucapan Chalvin.


"Oh, gitu. Duh Chalvin cepat dong dilamar kekasihnya. Gak baik nunda-nunda! Anak Tante yang lebih muda dari kamu aja dah nikah," celoteh salah satu ibu-ibu tadi.


"Anak Tante yang seumuran kamu aja anaknya udah masuk TK, loh!" sambung ibu lainnya.

__ADS_1


"Hidup itu, kan, bukan perlombaan, Tante. Gak perlu ada yang harus dulu-duluan. Gak perlu lebih dulu nikah, lebih dulu punya anak, lebih dulu sukses atau lebih dulu ke bulan. Semua orang akan punya waktunya masing-masing." Chalvin tak segan memberi kalimat menohok untuk pertanyaan yang sering ditanyakan pada orang-orang yang masih melajang.


Ibu-ibu itu lantas hanya tersenyum samar sembari berlalu setelah berpamitan pada Oma Belle. Sebaliknya, wajah Oma Belle berubah seiring dengan kepergian mereka. Tas hitam yang ditentengnya langsung menghantam lengan kiri Chalvin.


"Lihat tadi itu! Gak lelah apa ditanyain kapan nikah sama orang-orang?"


"Enggak!" jawab Chalvin cepat, "karena lelahnya ditanya kapan nikah, gak selelah menikah dengan orang yang salah."


"Iya, jelas salah kalo kamu milih nikah sama cewek sembarangan!" ketus Oma Belle.


Acara pesta masih terus berlanjut, sementara Silvia terus mengekor Chalvin sembari melakukan siaran langsung di akun instagramnya. Sambil merangkul pria itu, ia terus mengarahkan kameranya untuk merekam aktivitas mereka. Tampaknya, ia ingin membuat pengikut akunnya, mengetahui jika dirinya sedang menjalin hubungan dengan wakil direktur dari brand kosmetik ternama Indonesia. Hal ini tentu membuat Chalvin risi karena Silvia terus bertindak seolah mereka adalah pasangan kekasih.


Puncak kekesalan Chalvin muncul ketika Silvia terus melakukan siaran langsung, sambil mengarahkan sendok berisi dessert seolah hendak menyuapinya. Chalvin mengambil alih gawai di tangan Silvia dan langsung menghentikan siaran langsung tersebut.


"Bisa enggak usah ngekor gua mulu sambil rekam-rekam sesuka hati?" ketus Chalvin kesal.


"Dengar, ya, jangan mengharapkan apa pun kecuali berteman!" tekan Chalvin sambil berbalik hendak meninggalkannya.


"Ya, udah, kalo kamu gak mau nikah sama aku! Aku bisa berubah haluan ke Darren. Darren jauh lebih baik dari kamu yang terang-terangan bawa cewek ke apartemen di saat udah dijodohkan," cela Silvia dengan terang-terangan.


Chalvin menoleh sembari menyipitkan sebelah mata. "Darren? Kamu lagi mabuk atau halusinasi? Kamu tahu sendiri kan dia udah nikah."


"Kenapa emang? Kamu aja suka sama istrinya, kan? Jangan-jangan kamu enggak nikah karena masih ngarepin si Karen! Oh, iya, cewek muda waktu itu temenan sama Karen, kan? Dia bukan pelarian kamu, kan?" singgung Silvia sambil tersenyum remeh.


Chalvin terdiam seketika. Ia melangkah pelan ke arah Silvia, memosisikan berdiri sejajar dengan perempuan itu sambil berbisik, "Itu dulu. Sekarang gua dah sadar kalo gua saat itu mungkin cuma sekedar tertarik. Tapi ... lihat lu gak tahu malu kayak gini, bikin gua jadi geli sendiri karena ingat gua pernah ada di posisi yang sama."


Setelah berkata, Chalvin langsung meninggalkan Silvia. Bahkan lebih dulu pulang sebelum Oma Belle kembali menemuinya. Sementara, Silvia harus kembali menelan kekesalan setelah bertemu Chalvin. Meski sudah membawa-bawa nama Darren dan Karen, nyatanya tak membuat pria itu bisa disetir.

__ADS_1


Berbeda dengan Chalvin, pasangan Karen dan Darren baru saja selesai mengontrol perkembangan calon buah hati mereka. Darren yang penuh suka cita, tak bosan memandang hasil USG janin yang berada di rahim istrinya. Apalagi karena jenis kelamin janin mereka telah terdeteksi. Namun, hal ini justru berbanding terbalik dengan Karen. Perempuan muda yang tengah mengandung itu justru terlihat murung setelah melihat hasil USG. Bahkan ekspresinya bertahan hingga mereka berada dalam mobil menuju pulang ke kediaman Bratajaya.


"Kamu kenapa? Kok kayak sedih gitu?" tanya Darren sambil menyetir mobil.


"Enggak ... aku cuma sedikit kecewa aja dengan hasil USG-nya."


"Loh, kenapa?" tanya Darren mengernyit.


"Anak pertama kita bukan laki-laki," ucap Karen menunduk.


"Emang kenapa kalo anak kita perempuan? Mau laki-laki atau pun perempuan sama aja, tetap darah daging aku. Buah cinta kita. Justru kata orang anak perempuan itu bakal dekat sama ibunya. Kamu bisa dandanin dia, beliin pernak-pernik yang lucu, terus dia bakal jadi sahabat buat kamu, teman untuk bercerita," kata Darren dengan sebelah tangan mengusap rambut Karen.


Ya, dokter mengumumkan janin mereka berjenis kelamin perempuan. Sejujurnya, tak ada masalah bagi Karen. Ia menerima apa pun jenis kelamin janin yang sedang dikandungnya. Namun, mengingat Oma Belle sedari awal mengharapkan cicit laki-laki sebagai penerus, tentu ini menjadi beban tersendiri untuknya.


"Aku gak masalah juga. Tapi, aku takut ngecewain Oma sama kakek. Terus, kata orang anak pertama itu bagusnya laki-laki," ucap Karen pelan.


Darren merekatkan jari-jemari mereka sambil berkata, "Kita gak harus seragam dengan pemikiran orang dan kita gak harus memenuhi keinginan dari siapapun. Yang harus kamu ingat, Tuhan udah memercayakan kita untuk segera jadi orangtua setelah kamu berhasil sembuh dari penyakit rahim."


**


Masih terbaring lemah di kos-kosannya, Nadya yang merasa suntuk, mencoba menghibur diri dengan membuka aku instagramnya. Namun, postingan pertama yang berada di beranda atasnya adalah foto Chalvin bersama Silvia yang begitu dekat. Silvia memang telah mengunggah fotonya bersama Chalvin di akun pribadi miliknya dengan keterangan yang bertabur emoticon hati. Ia bahkan menandai akun Chalvin dalam foto tersebut sehingga membuat Nadya bisa melihatnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2