
Chalvin menoleh ke sekeliling tempat, mencari keberadaan Nadya di antara kerumunan manusia. Namun, matanya masih belum menangkap bayang gadis itu. Ia kembali menepi sembari menelepon Nadya. Tak dijawab. Ia kembali menyambungkan panggilan. Masih belum ada jawaban.
Mungkinkah gadis itu tersesat? Ataukah telah kembali ke stand-nya?
Saat hendak melangkah menuju rute yang mereka lewati sebelumnya, tiba-tiba ia teringat Karen tengah menunggunya saat ini. Mungkin, saat ini Nadya memang telah kembali ke stand. Sebab, dari awal dialah yang memaksa untuk menemaninya. Itu pun hanya diberi batas waktu hingga minumannya habis. Jadi, sangat egois jika meminta gadis itu untuk tetap menunggunya.
"Kamu udah balik, ya? Maaf, aku mau anterin Karen dulu. Entar aku balik nemuin kamu lagi, boleh, kan?" ketik Chalvin pada pesan chat yang akan dikirimkan ke Nadya. Ketika hendak menekan tombol perintah kirim, ia malah menghapus kalimat terakhir yang ditulisnya. Sebab, tentu ia tak memiliki alasan untuk menemui gadis itu. Takutnya, Nadya mungkin akan merasa terusik.
Menggenggam erat-erat ponselnya, Chalvin pun memutuskan untuk menjemput Karen terlebih dahulu. Sebaliknya, Nadya yang memutuskan kembali ke stand-nya, mendadak menerima satu pesan chat dari Chalvin.
Chalvin : Kamu udah balik ke stand, ya? Maaf, aku mau anterin Karen dulu.
Selalu saja seperti ini. Selalu terbuai dengan perlakuan manis pria itu. Rasanya ingin merutuki dirinya sendiri yang selalu terjerat dengan pesona pria itu. Sekuat apa pun menghindar dan berpaling, Chalvin seolah bisa membuatnya tertarik seperti magnet.
Sialnya, itu hanya membuatnya kembali jatuh dalam pengharapan semu.
Di apartemen Chalvin, Darren yang baru saja pulang, duduk bersandar di sofa seraya menghidupkan ponselnya kemudian membuka pembungkus plastik berisi perban yang baru dibelinya di apotik. Di hari kedua ini, ia masih enggan pulang ke rumah dan memilih tinggal di rumah Chalvin hingga lukanya kering. Selain itu, ia juga mempertimbangkan Oma Belle dan kakek Aswono pasti tak akan tinggal diam jika mengetahui dirinya diserang. Kemungkinan besar, kakek dan omanya akan membawa pelaku yang notabene adalah mahasiswanya sendiri itu ranah hukum. Sementara, ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri. Tentunya sesuai yang telah Feril sepakati.
Baru saja berencana mengganti perban luka jahitannya, ia dikejutkan dengan suara pintu yang mendadak terbuka.
"Eh, Vin, baru pulang juga? Kirain aku yang bakal telat—" Kalimat Darren tak terteruskan ketika melihat Karen muncul di belakang Chalvin. Ia justru berdiri dengan menampilkan ekspresi terkejut.
Karen lantas menghampiri Darren dan langsung menyerbunya dengan pukulan-pukulan kecil.
"Jadi ini yang kamu rahasiain ke aku sampai enggak mau pulang ke rumah!" serbunya sambil terus memukul dada dan lengan pria itu, "kamu sendiri yang ngomong kalo ada apa-apa harus saling terbuka, tapi kenapa kamu nutupin ini dari aku. Kamu nganggap aku ini apa? Apa aku bukan istri kamu sehingga hal penting kek gini kamu tutupi ke aku? Kalo kamu kenapa-kenapa, gimana?" Karen terus menyerangnya dengan rasa kesal yang bercampur khawatir hingga tak terasa matanya pun mulai berair.
Darren menahan kedua tangan Karen lalu membawanya ke dalam pelukan. "Maafin aku, ya?" ucap pria itu sambil mengeratkan pelukannya.
"Enggak, enak aja main minta maaf setelah bikin orang khawatir seharian."
"Aku cuma gak mau bikin kamu panik. Aku akui aku salah. Maafin aku, ya?" ucap Darren tanpa membela diri karena kesalahan ini memang total ada pada dirinya. Ia tak menyangka, tujuannya untuk tak membuat istrinya panik, justru malah mendatangkan kekhawatiran berlebihan.
Setelah Darren menceritakan kronologi pemukulan yang dialaminya, Karen pun membantunya untuk mengganti perban. Di hadapan istrinya, Darren tak sungkan meringis kesakitan hanya agar mendapatkan perhatian lebih dari istrinya. Ia pun meminta Karen untuk duduk di pangkuannya seraya membersihkan lukanya jahitan.
"Aku makin berat enggak, sih? Kata teman-teman aku mulai kelihatan gendut," tanya Karen.
"Enggak kok."
__ADS_1
"Ih, yang jujur dong!"
"Beneran! Aku malah enggak sabar pengen lihat perut kamu membuncit. Kok lama banget? Jangan-jangan anak papa diet lagi di dalam sana," ucap Darren sambil membungkuk hanya untuk menempelkan telinganya di perut Karen yang masih rata, kemudian mengecupnya berkali-kali.
"Ya, elah, malah mesra-mesraan di apartemen gua. Enggak ada empatinya sama jomblo."
Suara Chalvin membuat Darren dan Karen terhenyak. Mereka sampai tak sadar masih ada Chalvin di sana dan menyaksikan semua yang mereka lakukan.
"Sorry, lupa kalo ada kamu di sini!" Darren malah terkekeh, sementara Karen hanya bisa tersipu. Biar bagaimanapun, Chalvin berjasa malam ini karena telah membantu menjelaskan semua yang terjadi sehingga Karen tak salah paham pada Darren.
"Ya, udah, gua mau lipat bumi aja kalo gini! Untuk sementara ngungsi ke planet lain dulu."
Chalvin memilih keluar dari apartemennya. Ia bersandar di dinding samping pintu kediamannya. Kemesraan Darren dan Karen seakan terkilas kembali di benaknya. Melihat kehidupan rumah tangga sepupunya itu, setidaknya sedikit mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan pernikahan.
Selama ini, ia selalu beranggapan memiliki pasangan sangat merepotkan. Namun, hari ini ada hal yang ia pelajari. Ternyata pasangan adalah tempat untuk menunjukkan segala kekurangan yang mungkin tak bisa ditunjukkan ke orang lain. Pasangan juga bisa menjadi tempat menunjukkan segala emosi dan perasaan. Bertengkar boleh saja, asal ada dalam porsinya dan mengalah kadang-kadang bisa menjadi solusi.
Chalvin mengambil ponselnya hanya untuk sekadar memeriksa pemberitahuan. Nyatanya, chat yang telah dikirim sejam lalu tak ada balasan meski telah dibaca oleh Nadya. Ketika hendak menyimpan ponselnya, tiba-tiba hatinya tergerak untuk kembali menemui gadis itu. Langkah kakinya pun membawanya berlari keluar dari apartemennya dan mengendarai mobil menuju kawasan pameran.
Sesampainya di sana, Chalvin segera berlari menuju stand kopi Nadya. Ketika sampai di sana yang terlihat hanya seorang barista yang bersiap-siap menutup stand tersebut.
"Nadya mana?"
"Udah lama pulangnya?"
"Barusan kok. Mungkin masih di sekitar sini."
"Oh, thanks, ya!" Chalvin kembali berlari untuk mengejar Nadya. Ia berusaha menghubungi gadis itu meski tak kunjung diterima. Pada panggilan keempat, telepon pun dijawab.
"Halo, Nad, kamu di mana?" tanya Chalvin.
"Aku dah pulang, Kak. Kenapa, ya?"
"Kenapa tadi kamu pergi pas aku angkat telepon dari Karen?"
Nadya terdiam sebentar, lalu berkata. "Aku pikir ... Kak Chalvin dah pergi. Soalnya aku sempat dengar Kakak mau jemput Karen. Oh, iya, Karen baik-baik aja, kan?"
"Iya, dia baik-baik aja, kok."
__ADS_1
"Oh, syukur, deh! Kirain dia kenapa-kenapa," balas Nadya sambil tertawa getir.
Masih kuat di ingatannya saat pria itu langsung berpaling darinya dan pergi begitu saja saat menerima telepon dari Karen. Sungguh, tak ada masalah antara dirinya dan Karen karena ia tahu betul sahabatnya itu. Bukan juga salah Chalvin jika mengabaikannya. Sebab, mereka memang tak memiliki hubungan apa pun. Hatinya saja yang terlalu nyaman untuk menerima rasa sakit dari cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Entah kenapa, telepon yang masih tersambung itu tiba-tiba senyap tanpa ada suara.
"Kamu sendiri baik-baik aja?" tanya Chalvin pelan
Nadya sedikit tersentak mendapatkan pertanyaan itu dari Chalvin. "Aku baik-baik aja kok."
Saat Nadya mengatakan itu, Chalvin malah tak sengaja mendengar suara musik yang biasanya mengiringi komidi putar.
"Kamu tunggu di situ! Jangan ke mana-mana dulu! Oke, jangan ke mana-mana!" perintah Chalvin sambil berlari menuju area permainan anak.
Nadya lantas kebingungan mendapat instruksi berulang dari Chalvin. Meski begitu ia masih mencoba diam dan tak bergerak. Saat matanya menoleh ke samping, ia terhenyak melihat Chalvin yang tengah berlari ke arahnya.
"Kak Chalvin, kenapa ke sini?" tanya Nadya dengan raut kaget.
"Karena jawaban kamu yang bilang baik-baik aja," jawab Chalvin dengan napas tersengal-sengal.
Dahi Nadya malah berkerut. "Maksud Kakak?"
"Ketika wanita mengatakan baik-baik aja, sebenarnya itu gak baik-baik aja, kan?" ucap Chalvin dengan mata yang tertancap di manik Nadya. Ia langsung menggenggam tangan gadis itu dan membawa pergi bersamanya.
***
Di sisi lain, Darren akhirnya keluar dari apartemen Chalvin dan pulang bersama Karen. Alis Karen tampak bergelombang ketika mobil malah berhenti di rumah mereka, bukan di kediaman kakek dan Oma.
"Loh, kok kita ke sini?" tanya Karen sambil memandang rumah mereka yang tampak remang di mana hanya ada cahaya lampu dari teras.
"Buat nebus kesalahan aku yang absen di kamar semalam," kata Darren sambil tersenyum penuh arti.
Karen mengikuti Darren yang telah turun lebih dulu. Meski kediaman mereka tak dihuni selama hampir tiga bulan, tetapi pekarangan depan tetap terawat karena mereka memperkerjakan orang agar rutin membersihkan rumah.
Darren membuka pintu rumah mereka. Karen ragu melangkah karena rumah mereka serasa horor tanpa ada cahaya penerang dari lampu. Keadaan semakin gulita ketika Darren menutup pintu rumah mereka dengan cukup kuat.
"Darren, nyalain lampunya dulu dong!" rengek sedikit panik karena tak bisa melihat apa pun. Tangannya sampai meraba-raba ke depan, sekaligus mencari suaminya. Tiba-tiba, ia terdorong ke belakang hingga punggungnya tersandar ke dinding. Hanya berselang hitungan sepersekian detik dari itu, bibir Darren yang penuh langsung menjamah hangat permukaan bibirnya. Memagut dengan rakus dan basah.
__ADS_1
.
.