DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 108 : Salah Sasaran


__ADS_3

Melihat Feril yang berdiri sambil menyingsingkan lengan, teman-temannya pun menahannya secara serentak.


"Ril, jangan gila, lu! Apa untungnya lu labrak dia."


"Tenang, Ril, tenang! Jangan kek syaiton yang gak dibelenggu!"


"Apaan, sih? Gua cuma mau gulung baju doang! Kenapa kalian nahan gua mulu!" ketus Feril menepis kasar tangan kawan-kawannya.


Bahu kawan-kawannya sontak merosot. "Ya, elah, kita-kita pikir lu mau samperin dia! Katanya gak terima Karen diselingkuhin!" celetuk si Jamet.


"Justru karena gua gak terima, makanya gua biarin. Yang penting, Karen harus tahu kalo tuh laki gak cocok buat dia!" Feril mengangkat sepasang alis seraya menggoyang-goyangkan ponsel di tangannya.


"Wuih, gak nyangka lu pintar gini!" sahut teman-temannya.


Feril menaikkan kerah kamejanya. "Lu ... lu pada pengen tahu enggak tips pintar dari gua!"


"Apaan?" tanya mereka serius.


"Tipsnya cuma satu, jangan tolol!"


"Heleh!" Teman-temannya lantas berdecak kesal.


Feril tersenyum ringkih sambil melempar tatapan sinis ke arah Chalvin.


Kutipan dari orang yang tak bijak mengatakan: "sahabat yang baik itu tak akan saling menjelek-jelekkan satu sama lain, tapi bersama-sama menjelekkan orang lain." Seperti yang dilakukan Feril dan kawan-kawannya saat ini. Mereka sengaja berpindah tempat yang cukup dekat dengan meja Chalvin, agar bisa mengambil foto secara dekat.


"Mirip fisika lu, banyak gaya!" umpat Feril kesal saat melihat Chalvin tertawa bersama perempuan di hadapannya.


"Masih mending, Ngab. Daripada kek matematika, perhitungan!" timpal si gimbal sambil menyengir.


Dari pantauan mereka, Chalvin tampak asyik mengobrol dengan wanita yang memakai pakaian setengah jadi. Hal ini membuat Feril semakin bersemangat karena berpikir ini kesempatan baginya untuk menghancurkan hubungan Karen dan tunangannya.


"Wah, wah, tampang adem kek ubin masjid gini gak nyangka doyan clubbing dan jajan cewek!" cetus salah satu temannya sambil ikut memantau layaknya detektif.

__ADS_1


"Sekarang kita gak bisa nilai seseorang hanya berdasarkan dari muka, Cuy!" tandas Feril sambil mencoba mencari posisi yang pas untuk menjepret foto.


"Faktanya perempuan kebanyakan menilai laki dari mukanya dulu, baru dari isi dompetnya. Masalahnya, kita gak punya dua-duanya! Sulit bersaing sama yang kayak dia," tandas si Jamet.


"Kalo muka gue kayak lu yang menengah ke bawah sih emang sulit bersaing, muka gue kan ada nilai jualnya juga! Gua cuma butuh skincare buat cerahin masa depan gua!"


"Tapi, Ril, keknya dia cuma ngobrol biasa, deh! Enggak bisa dibilang selingkuh!" ucap salah satu temannya.


"Tetap aja itu gak baik bagi pria yang udah punya cewek. Karen harus tahu ini!" tampik Feril yang entah untuk ke berapa kalinya hendak menjadi pahlawan kemalaman untuk Karen.


Sementara, Chalvin masih tampak mengobrol dengan wanita lain. Jika biasanya Chalvin menebarkan pesona pada wanita yang baru dikenalinya, berbeda dengan kali ini. Kepada wanita di hadapannya yang hanya memakai baju setengah jadi itu, ia justru menceritakan perasaannya yang tak wajar pada istri sepupunya.


"Kenapa lo bisa jatuh hati sama istri sepupu lo sendiri? Padahal ... populasi cewek di dunia ini banyak, loh! Apalagi untuk pria keren kayak lo, siapa sih yang gak mau," ucap perempuan yang menjadi teman minum Chalvin saat ini.


"Gua juga gak ngerti! Bahkan gua pikir hati gua saat ini bercanda," balas Chalvin seraya membaringkan kepalanya di atas meja.


"Mungkin lo cuma sekedar bersimpati aja ke dia."


"Ya, bener, keknya gua cuma simpatik aja," gumam Chalvin dalam hati.


Karen yang masih berada di rumah sakit, mengernyit heran melihat foto-foto Chalvin bersama seorang wanita. Namun, yang membuatnya gagal fokus, karena salah satu foto itu menunjukkan kepala Chalvin yang tengah terantuk di atas meja bar seperti tak sadarkan diri. Berpikir sesuatu mungkin terjadi pada Chalvin, ia pun langsung menghubungi pria itu.


Sepuluh menit telah berlalu sejak dikirimnya foto-foto tersebut. Namun, hingga kini tak ada balasan apa pun dari Karen. Hal itu membuat Feril kesal.


"Kok cuma di-read doang!" cetus Feril dengan bibir manyun ke depan.


"Kasihan, laporan lu benar-benar gak dianggap! Radiasi emang bahaya, tapi lebih bahaya lagi radianggap, Bro," cela teman-temannya.


(Ket. Radianggap\= ora' dianggap/tidak dianggap)


"Positif thinking aja, sapa tahu doi lagi nangis di pojok kamar," kata si gimbal.


"Ah, bener! Atau enggak ... mungkin dia sekarang lagi ancang-ancang mau minta putus!"

__ADS_1


Bertepatan dengan itu, Chalvin terhenyak ketika nama Karen tercantum sebagai pemanggil di layar ponselnya. Khawatir sesuatu telah terjadi pada istri sepupunya, dia pun bergegas menepi untuk menghindari kebisingan suara musik. Rupanya, gerak-geriknya itu tak luput dari sorotan Feril dan kawan-kawannya. Mereka lantas membuntuti pria yang menjabat sebagai manajer umum perusahaan kosmetika itu.


"Halo, kar, kamu kenapa?" tanya Chalvin begitu berada di luar gedung.


"Kamu di mana? Kamu baik-baik aja?" Karen malah balas bertanya dengan nada yang sedikit mendesak.


Mendengar pertanyaan Karen, membuat Chalvin membeku beberapa saat. Irama jantungnya mengetuk cepat. Padahal, tujuannya datang ke sini, agar bisa menepis bayang-bayang Karen yang mulai kembali berkelebat dalam pikirannya, juga membuang perasaannya yang menyimpang.


Apa Karen khawatirin gua? Enggak ... Enggak mungkin!


"Chalvin? Chalvin?" panggil Karen berkali-kali. Ia mengerutkan dahi karena tak ada tanggapan apa pun dari Chalvin.


Tersadar dari lamunannya, Chalvin lalu segera merespon panggilan Karen. Apesnya, baru saja hendak berkata, panggilan itu sudah tak terhubung.


"Karen, Karen!" Kini giliran Chalvin yang memanggil-manggilnya. Ia lalu berusaha menelepon balik.


Tindakan Chalvin saat ini malah disalahartikan Feril dan kawan-kawan yang setia mengintainya.


"Keknya misi kita berhasil! Mereka pasti lagi marahan! Yess!" ucap Feril kegirangan.


Darren yang baru saja masuk ke kamar rawat, langsung mengambil ponsel dari tangan Karen dan menyimpannya di laci nakas. Alhasil, panggilan balik dari Chalvin pun tak terlihat karena ponselnya juga diatur ke mode senyap.


"Kan udah aku bilang, jangan banyak main hp! Cepat istirahat, besok kamu dah bisa keluar."


"Terus, kapan kita berangkat ke Kuala lumpur?"


"Lusa. Aku dah konsultasi sama dokter yang mau tangani kamu di sana. Makanya kamu harus banyak-banyak istirahat," balas Darren sambil duduk di pinggiran ranjang tidur Karen.


"Aku cuma mau vitamin D. Disayang, dipeluk, dicium," kata Karen dengan gaya yang manja.


Darren tersenyum simpul. Ia lalu mengusap lembut kepala istrinya sambil berkata, "Disayang ..." Kemudian menarik tubuh Karen ke dalam dekapannya. "Dipeluk ..." Lalu menjatuhkan bibirnya ke kening perempuan itu dengan lembut. "Dicium ... pemberian vitamin D sudah lengkap, jadi sekarang kamu tidur!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2