DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
bab 106 : Reaksi Oma Belle


__ADS_3

"Tu–mor rahim?" Oma Belle terlonjak seketika. Sontak, ia langsung menerbangkan ingatannya saat ibu Darren alami penyakit serupa.


"Iya, Oma," balas Darren dengan suara kelam.


"Ba–bagaimana bisa? Sejak kapan? Kenapa hal besar seperti ini malah kamu sembunyikan dari oma?" tanya Oma Belle.


Menghadapi pertanyaan Oma yang beruntun, Darren hanya bisa menghela napas. Namun, hal itu makin membuat Oma Belle tak sabaran.


"Darren!" panggil Oma Belle dengan suara tegas.


"Kami juga baru tahu, Oma. Tapi, aku sama Karen udah mutusin mau berobat ke rumah sakit Malaysia. Di sana ada pengobatan tanpa operasi. Udah dulu, ya, Oma. Entar aku kabarin lagi. Kalo Oma mau nengokin Karen, dia ada di rumah sakit langganan kita," tutur Darren dengan tenang.


Saat Oma Belle masih hendak berkata, telepon sudah terputus meninggalkan banyak tanda tanya di kepalanya.


Selepas menelepon, Oma Belle yang masih terguncang, buru-buru menuju ruangan suaminya. Di sana, ia langsung memberitahukan kabar Karen yang berada di rumah sakit pada suaminya. Sontak, kakek Aswono pun terperanjat. Bahkan, ayah Darren yang juga ada di ruangan itu ikut terkejut.


"Ba–bagaimana ini? Kasihan Darren kita bakal menduda! Dia udah terluka saat ditinggal ibunya, sekarang bakal ditinggal istrinya." Oma Belle malah sudah berpikir jauh sambil menangis tersedu-sedu.


"Tapi, Bu. Kan belum tentu juga penyakit Karen separah Dewi dulu," imbuh ayah Darren yang menyebut nama mendiang istrinya.


"Diam kamu! Orang yang gak setia dilarang komen!" cetus Oma Belle menunjukkan wajah garang di tengah kesedihan.


Bibir ayah Darren langsung terkatup rapat. Sudah setua itu, ia masih takut dan tak berani membantah orangtuanya. Hal inilah yang membuatnya juga tak berani tinggal di rumah yang sama, apalagi membawa keluarga barunya di kediaman Bratajaya.


"Kamu ini, seharusnya kamu lebih khawatir sama istrinya. Tanyain Darren, gimana caranya dia ngurus istrinya? Orangtuanya percayakan dia untuk dinikahi cucu kita, tapi kita gak bisa jaga dia dengan baik." Kata-kata itu keluar dari mulut kakek Aswono menanggapi omongan Oma Belle.


"Kamu kok malah nyalahin Darren, Mas? Mereka itu baru nikah hitungan bulan. Masa salah Darren kalo istrinya jatuh sakit. Siapa tahu aja sebelum nikah emang udah sakit kayak gini!" Oma Belle malah perang argumen dengan suaminya.


"Sudah ... sudah ... sebaiknya kita ikut mikir kesembuhan istrinya. Kamu sebaiknya datang ke sana!" ucap kakek Aswono, "kamu juga datang lihat menantumu, Barack!" perintah kakek Aswono pada putranya.


Dengan wajah yang diselimuti kesedihan, Oma Belle malah bergumam pilu. "Ada apa dengan mantu kami? Kenapa bisa punya penyakit yang sama? Yang ini malah lebih parah, belum sempat melahirkan anak udah kena penyakit. Apa karena kita gak buatin mereka ritual adat sebelum nikah? Atau jangan-jangan ... tanggal pelaksanaan pernikahannya gak sesuai primbon dan hitungan weton!"


"Lah ... lah ... kok malah percaya takhayul!" ketus kakek Aswono berdecak keheranan.


***

__ADS_1


Sejak keluar dari rumah sakit, Chalvin hanya diam dan memilih fokus berkendara. Sementara, Nadya yang duduk di sampingnya, juga tak berani membuka suara. Sesekali, perempuan seusia Karen itu mencuri pandang ke arahnya. Sejak awal bertemu, ia sudah mengagumi visual pria itu.


Saat meluruskan pandangan, Nadya terkesiap karena mobil Chalvin terus melaju lurus.


"Kak, Kak, belok kiri, Kak!"


Chalvin mengerem mobilnya secara mendadak. "Ah, kelewatan! Mana gak bisa putar balik lagi," geramnya lalu menoleh pada Nadya, "sorry, ya, lagi gak fokus."


"Kak Chalvin suka sama Karen, ya?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Nadya. Tampaknya, ia sempat mendengar ucapan Chalvin pada Karen di kamar tadi.


Chalvin ternanap seketika. Meski begitu, sudut bibirnya terangkat kecil. "Terlalu kelihatan, ya?"


Nadya mengangguk. "Banget! Kalo boleh kasih saran, mending Kakak cari yang lain aja, deh. Soalnya gak etis loh naksir istri keluarga sendiri. Naksir istri orang aja udah gak banget. Mau dibilang pebinor?" cetus Nadya dengan jari telunjuk mengarah padanya.


Chalvin malah tergelak mendengar saran dari cewek yang jarak usianya cukup jauh darinya.


"Tenang ... aku gak pernah serius suka sama orang!" tampik pria itu dengan santai.


"Kok gitu? Itu namanya genit! Jangan-jangan Kakak playboy, ya?"


Pipi Chalvin mengembung menahan tawa. Setelah dikatakan pebinor, kini gadis itu malah menuduhnya genit dan playboy. Rasanya belum pernah ada perempuan yang blak-blakan menilainya.


Nadya tersenyum sambil menunduk. "No worries. Aku aja yang malu sama diri sendiri."


"Ada yang bilang, sebelum mencintai orang lain, kita harus mengisi cinta itu ke diri kita sendiri. Simpelnya, cintai diri sendiri dulu baru berikan cinta kita ke orang. Supaya kita bisa lebih menghargai diri sendiri," ucap Chalvin.


Masih tertunduk, Nadya berkata pelan, "Pacaran sampai hamil itu kebodohan kuadrat yang pernah aku lakukan."


"Gimana, ya? Gak pro sih cowok kamu," ejek Chalvin sambil tertawa.


Respon Chalvin yang seperti itu, membuat Nadya menjadi berang. "Jadi Kakak bangga jadi cowok pro? Kirain Kakak bukan cowok kayak gitu. Bikin kecewa!


"Kecewa kenapa?" tanya Chalvin sambil terus menyetir.


"Aku kira Kakak pria berkelas. Dari omongan Kakak barusan, ternyata sama aja, ya! Playboy!"

__ADS_1


Chalvin tersenyum getir. "Kayaknya kamu tipe orang yang suka berekspektasi tinggi ke orang lain."


"Stop! Aku turun di sini aja!" Nadya mendadak memintanya berhenti.


Mobil Chalvin mendadak berhenti. Pria itu melengos sesaat, lalu berkata, "Ya, elah gitu aja ngambek."


"Siapa ngambek, di sini kos-kosan aku tahu! Masuk gang itu!" Nadya menunjuk gang sempit yang hanya bisa dimasuki kendaraan roda dua. Sambil membuka sabuk pengaman, ia kembali berkata, "thanks, ya, Kak."


****


Di rumah sakit, Karen dan mami Valen terkesiap melihat Oma Belle yang datang tiba-tiba dan langsung menyerobot masuk. Wajah wanita tua itu dikepung kesedihan melihat istri dari cucunya itu terbaring lemah di atas ranjang pasien.


"Karen, Kenapa kamu sakit gak bilang-bilang Oma? Kenapa kamu sembunyiin ini dari kita semua. Kalo tahu selama ini kamu lagi sakit, Oma gak bakal maksa kamu cepat-cepat punya anak. Oma pasti bakal fokus cari cara sembuhkan tumor kamu," ucap Oma yang langsung memeluknya dengan erat sambil terisak. Ini benar-benar membuatnya teringat mendiang ibu Darren yang dulunya menjadi menantu kesayangannya.


Meski merasa tercekik karena pelukan Oma Belle yang begitu kuat, Karen justru tersenyum lebar karena respon nenek dari suaminya itu tak seperti prasangkanya selama ini.


"Maafin Karen udah bikin Oma khawatir," ucap Karen yang merasa bersalah.


"Karen ... jangan tinggalin Oma sama Darren. Oma sudah anggap kamu seperti cucu sendiri," tangisan Oma Belle malah semakin kencang, "apa kamu punya keinginan terakhir? Katakan aja, jangan ragu-ragu! Bakal oma kabulkan selagi keinginan kamu gak terlalu nyusahin Oma. Atau ... kamu punya pesan terakhir yang mau disampaikan? Oma siap mendengarnya!" ucap Oma Belle sambil memeluk erat Karen.


Bukannya haru mendengar ucapan Oma yang disertai tangisan pilu itu, Karen dan mami Valen malah terbelalak kaget.


"Oma, Karen itu cuma sakit ... bukan mau mati," cetus mami Valen yang mendadak kesal.


Oma Belle langsung melepaskan pelukannya. Ia merogoh tas lalu mengambil sebuah botol bertulisan huruf kanji.


"Karen, kamu harus minum obat ini daripada dioperasi atau berobat ke luar negeri! Ini obat dari sembilan tanaman herbal yang diambil di pegunungan Thaihang, Cina. Obat ini bisa nyembuhin sembilan puluh penyakit akut, tanpa operasi, tanpa ke rumah sakit!" seru Oma Belle yang berorasi mirip penjual obat di pasar.


(FYI, pegunungan Thaihang menjadi tempat budidaya tanaman herbal Tionghoa)


Mendengar celotehan Oma Belle, mata mami Valen lantas terbelalak diikuti kepala yang yang mundur ke belakang. "Bisa nyembuhin sembilan puluh macam penyakit akut? Wow, sebentar lagi dokter bakal pensiun!" Gumam mami Valen.


Sementara itu, Darren yang baru saja tiba, langsung terhenti ketika melihat ayahnya berdiri di samping pintu kamar istrinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2