DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 170 : Ciuman Anti Mual


__ADS_3

Usai mata kuliah yang diajarkan Darren selesai, Karen buru-buru keluar kelas menuju ke perpustakaan di mana sebelumnya ia melihat suaminya juga menuju ke sana. Begitu tiba di sana, karena berjalan pelan di antara rak yang memuat koleksi buku dan jurnal ekonomi.


"Senang, ya, didekati mulu sama cowok yang naksir kamu." Suara Darren dengan nada tak senang terdengar dari balik rak buku yang disinggahinya.


Karen segera mengambil salah satu buku tebal di hadapannya, dari celah itu ia bisa melihat suaminya bersandar tepat di rak yang sama dengan sebelah tangan memegang buku.


"Kamu sendiri ngapain jadi dosen PA dia?" balas Karen menunjukkan wajah cemberut.


"Aku dosen. Pekerjaanku menuntut profesionalitas. Aku gak boleh milih-milih mahasiswa, apalagi dia punya niat berubah walau secuil. Tapi kamu dan dia hanya sebatas hubungan senior dan junior. Kamu seharusnya bisa hindari dia!" Setelah menyindir dengan nada tak senang, kini Darren malah menunjukkan sikap cemburunya walau masih dibalut dengan kedewasaannya.


"Ih, kok jadi cemburuan gini!"


"Aku cuma gak mau suatu saat dia terpukul pas tahu kalo kamu sebenarnya dah bersuami."


Pintu perpustakaan mendadak terbuka bersamaan dengan banyaknya mahasiswa bimbingannya yang juga masuk untuk datang konsultasi skripsi.


"Dah banyak orang. Sebaiknya kamu keluar dari sini dan cepat pulang biar bisa istirahat," ucap Darren yang kemudian pergi.


Karen masih mematung diam. Sejujurnya, ia ingin membicarakan terkait status pernikahan mereka yang masih disembunyikan. Namun, sepertinya Darren belum memiliki inisiatif untuk mengumumkan kalau mereka adalah pasangan suami istri.


Di sisi lain, Nadya terburu-buru keluar dari kelas dan hendak bergegas kembali ke kedainya untuk membantu para barista melayani pengunjung kedainya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Vera yang memanggil namanya sambil berlari menyusul ke arahnya.


"Gue kira lu gak datang!"


"Aku terlambat dikit. Jadi duduk paling belakang. Untung yang ngajar pak Darren, coba pak Budi luhur, gak bakalan masuk aku!"


"Eh, eh, lu dah dengar dari Karen belom?" tanya Vera.


"Apaan?"


Vera lalu berbisik ke telinga Nadya. "Karen lagi hamil."


"Serius?" tanya Nadya dengan mata melebar dan bibir yang membentuk lengkungan.


"Iya. Katanya kandungannya masih sebulan. Tapi gue gemes deh sama doi, kok masih belom mau go publik sama pak Darren. Kalo besok-besok, dia ketahuan hamil sama teman-teman lain gimana coba?"


Nadya tertegun. Dibanding Vera yang mengkhawatirkan Karen, ia justru tiba-tiba teringat Chalvin. Bagaimana perasaan pria itu mengetahui kehamilan perempuan yang disukainya diam-diam? Apa mungkin gelagat aneh Chalvin waktu itu berhubungan dengan kabar kehamilan Karen?


Nadya kembali ke coffee shop. Ia tersentak begitu melihat papan keterangan tutup yang tertempel di pintu kacanya. Ia pun buru-buru masuk dan menghampiri dua karyawannya.


"Ini kenapa ditutup? Kan belum terlalu sore."


"Tadi kita terima pesanan 40 cup kopi dari aplikasi go food, Kak."

__ADS_1


"Hah? Serius 40 cup? Itu yang order satu per satu orang atau sekaligus?" tanya Nadya terkejut.


"Sekaligus, Kak. Makanya kita langsung tutup setelah itu."


Nadya mengernyitkan dahi sesaat. Rasanya skeptis ada yang memborong kopi mereka di pembukaan hari pertama. Meski begitu ia merasa sangat bersyukur dan berharap mereka yang memesan menyukai racikan kopi di kedainya dan akan berlangganan.


Malam hari, Darren yang baru saja pulang dari kampus, langsung bergegas masuk ke kamar. Ia mendapati Karen yang sedang terlentang lemah di tempat tidur. Ia pun menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.


"Kata Oma kamu muntah-muntah terus, ya, tadi sore?"


Karen hanya bisa mengangguk karena hingga kini ia masih merasa mual. Darren mendekatkan wajahnya ke arah Karen.


"Transfer aja rasa mualnya ke aku." Setelah berkata, bibir Darren yang hangat menekan lembut bibir Karen yang sedikit kering. "Ini ciuman anti mual. Gimana ... masih mual, gak?"


"Masih!" balas Karen cepat sambil memajukan dagunya.


"Kalo gitu ... perlu diulang sekali lagi." Darren kembali mengecup istrinya, sedikit menyesap bibir atas dan bawahnya secara bergantian.


"Udah reda mualnya?"


"Masih!" balas Karen sambil menahan tengkuk leher suaminya.


"Kayaknya butuh tindakan lebih lanjut!" ucap Darren sambil tersenyum miring.


"Karen, ini Oma buatin air jahe yang dicampur lemon sama madu. Ramuan ini manjur buat meredakan mual dan muntah. Dulu Oma sama ibunya Darren juga rutin konsumsi ini pas lagi ngidam."


Darren mengambil gelas berisi air jahe tersebut dari tangan Oma Belle. Ia juga membantu Karen untuk duduk bersandar di sandaran ranjang, lalu menyodorkan ramuan herbal anti mual itu untuk diteguk Karen.


"Panas banget!" keluh Karen saat mencoba menyesap ramuan itu dari cangkirnya langsung.


Darren menuang sebagian cairan dalam cangkir ke piring tatakan, kemudian mengaduk-aduk dengan sendok kecil. Hal ini dia lakukan agar uap panas segera keluar, daripada meniupnya secara langsung karena bisa berisiko perpindahan kuman dari mulutnya.


"Karen, kamu kan lagi hamil. Gimana kalo kamu cuti kuliah aja dulu. Biar fokus sama kehamilan kamu." Oma Belle mendadak berceletuk.


Usul dari Oma membuat Karen terhenyak. "Karen gak papa kok, Oma. Tadi muntah-muntah cuma karena makan masakan bersantan doang," tolak Karen secara halus.


"Bukan cuma kamu doang, tapi janin kamu juga perlu dipikirin. Kalo ada apa-apa sama janin kamu, gimana? Ini karena pulang terlalu sore, pasti kesambet sama makhluk halus. Makanya mending dia di rumah aja, sudah paling aman. Perempuan jaman dulu itu kalo hamil, jangan pun keluar rumah ... tengok matahari aja gak mau!" bantah Oma Belle dengan nada memaksa.


Karen menoleh ke arah Darren seolah meminta pembelaan.


"Oma, ini udah malam. Kok Oma belum tidur? Oma juga harus jaga kesehatan, biar bisa kuat nimang cicit nanti."


"Iya, Oma emang mau istirahat. Tapi Oma khawatirin istri kamu. Tadi itu dia gak berhenti muntah, loh!"

__ADS_1


"Orang hamil muntah-muntah kan normal, Oma. Ya, sudah kalo gitu istirahat aja. Takutnya malah Oma lagi yang drop." Darren merangkul Oma Belle dengan maksud agar bisa membawanya keluar dari kamar.


Begitu keluar kamar, Oma Belle kembali berkata, "Darren, kasih tahu sama istri kamu itu buat ambil cuti sampai melahirkan. Diam aja di rumah gak usah keluyuran."


"Oma, kehamilan Karen itu di luar rencana aku dan dia sebelumnya. Dia bisa terima kehamilannya di kondisi tubuhnya yang belum siap pun itu perlu kita apresiasi. Gak perlulah kita tekan buat harus gini harus gitu. Gak boleh gini, gak boleh gitu. Kalo terlalu dikekang, entar yang ada dia malah stress dan berpengaruh ke janinnya," ucap Darren dengan memakai penuturan yang paling halus dan sopan di muka bumi.


"Ya, sudah! Yang penting kamu bisa selalu siaga sama istri kamu!"


Setelah sukses membuat Oma Belle melunak, Darren kembali ke kamar. Melihat istrinya sudah dalam posisi berbaring, ia pun ikut menyusul masuk ke dalam selimut.


"Oma bilang apa? Aku gak mau cuti kuliah!" ucap Karen cemas.


"Udah ... gak usah dipikirin. Oma cuma khawatir sama kamu," balas Darren sambil mengusap kepala Karen dengan lembut. "masih mual, gak?"


Karen menggeleng. "Ramuan Oma lumayan manjur.


"Jadi ciuman aku gak manjur, nih?"


"Ciuman kamu juga. Kalo bisa diulang lagi, biar mualnya hilang total," ucap Karen sembari menggulung-gulung ujung selimut.


Darren menunduk untuk kembali mendekatkan wajah mereka. Saat aroma napas pria itu berembus, Karen segera memejamkan mata seolah bersiap menyambut bibir suaminya. Namun, bukan ciuman yang didapatnya, ia malah terhenyak saat jari Darren menyentil dahinya.


"Tidur sana!" ketus pria itu.


"Ih, nyebelin. Kayaknya jam kritis aku bukan pagi, deh. Tapi sore menjelang Maghrib."


"Makanya kamu harus banyak istirahat. Konkumsi makanan bergizi juga. Biar gak anemia," himbau Darren yang kemudian mendekatkan mulutnya ke perut Karen sambil mengelusnya. "Anak papa bobo juga, ya? Jangan isengin mama kamu kayak tadi, ya? Kasihan, loh, mama jadi lemes gini!"


Darren lalu meletakkan telinganya di perut Karen seolah sedang mendengarkan suara dari dalam perut.


"Tuh, dia bilang masih mau isengin kamu kalo kamu gak cepat bobo."


Karen menahan senyum sambil berceletuk. "Mana ada kayak gitu. Emang dah bisa ngomong? Detak jantungnya aja belom ada."


"Ih, serius! Aku dengar sendiri! Coba kudengar lagi!" Darren kembali menempelkan telinganya. Di saat yang bersamaan, terdengar bunyi suara gemuruh di dalam perut Karen. "Eh, itu ... beneran ada suaranya loh perut kamu! Aku denger sendiri!" ucap Darren dengan mata membulat tak percaya. Pria itu mendadak heboh sendiri.


Karen menggigit bibir bawahnya sambil berkata, "Itu perut aku yang keroncongan. Lagian mana ada janin bisa bersuara, adanya bisa nendang."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2