DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 73 : Lagi-lagi Soal Anak


__ADS_3

Masih berada di kediaman cucunya, Oma Belle mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan di rumah itu. Pasalnya, saat pertama datang ke situ, keadaan rumah masih kosong dan polos tanpa desain dan perabotan. Tak seperti sekarang yang terlihat lebih hidup dengan sentuhan interior bergaya modern.


"Rumah kamu ini kok gak ada ciri khas Indonesianya gitu! Coba lihat rumah Oma, desainnya penuh dengan ukiran kayu jati khas Indonesia," protes Oma Belle.


Yaelah Oma ... emang harus dicat warna merah putih biar kelihatan nasionalis! Huu ....


Oma Belle lalu memperhatikan beberapa lampu penerang yang masih menyala. "Udah siang gini kok lampunya masih dinyalain?"


Karen tersentak dan ikut mendongak ke atas. "Astaga, lupa dimatiin, Oma!"


Oma Belle menggeleng-geleng kepala seraya berdecak. "Lihat, terlalu banyak lampu di rumah ini. Sudah ada lampu di atas, eh malah ada lampu standing, belum lagi lampu hiasnya. Bikin boros listrik. Padahal, rumah ini gak ada sekatnya udah gitu jendelanya selebar dinding, kalian bisa ambil cahaya dari luar," protes Oma sambil masih menatap langit-langit ruangan.


"Gimana ceritanya Oma, malam disuruh ambil cahaya dari luar. Kan gelap?" tanya Karen menggaruk-garuk kepala.


"Ya, kan ada cahaya lampu penerang jalan sama cahaya bulan. Dengan jendela selebar gini pasti cahaya dari luar masuk. Gak perlu pakai lampu-lampuan. Nyalain lampu cukup satu aja kalau lagi mau makan malam. Makanya belajar hemat sama Oma biar gak banyak pengeluaran Rumah Tangga."


Hadeh, ini sih bukan hemat tapi pelit! Pantes aja keluarga Darren harta kekayaannya langgeng sampai turun-temurun, sesepuhnya aja pelit bin perhitungan kayak gini!


"Kan bulan gak tiap hari nampak di langit. Gak sekalian Oma suruh kita pakai lilin aja," ketus Karen sambil mencebikkan bibir.


"Nah, itu juga ide bagus buat ditaruh di kamar kalian. Lebih kelihatan hangat dan romantis. Darren bisa terpancing untuk mesra-mesraan dan buatin Oma cicit." Oma Belle tertawa geli sambil menutup mulutnya.


Karen spontan melebarkan mata sambil meneguk ludah dengan kasar.


Di waktu yang sama, bel rumah kembali berbunyi. Ternyata yang datang adalah kurir pengantar makanan yang dipesan Karen. Rupanya Karen memesan makanan di Rumah makan Manado. Oma Belle melihat menu-menu pesanan Karen. Ada cakalang fufu rica-rica, ayam woku, sup brenebon dan ikan bakar dabu-dabu.


Setelah menyalin makanan tersebut ke wadah miliknya, ia pun mengajak Oma untuk turut makan siang bersamanya.


"Oma, makan siang bareng, yuk! Cobain dulu makanannya ini rating restonya 4,9 loh!"


"Kamu mau buat Oma mati secara perlahan? Nyuguhin makanan pedas kayak gini!"


"Ya ... mana aku tahu Oma datang ke sini. Makanannya kan aku pesan sebelum Oma datang."


"Kamu tuh cuma berdua sama Darren kok pesan makanan segitu banyaknya. Ini namanya pemborosan!"


"Kan ada Oma juga!"


"Bukannya kamu bilang pesannya sebelum Oma datang? Berarti kalau gak ada Oma, ini makanan yang makan cuma kalian berdua aja, kan?"


Karen memilih diam. Sebab, dia tahu akan kalah telak jika berdebat dengan Oma.

__ADS_1


Telepon Oma Belle mendadak berdering. Saat melihat layar ponsel, nama Chalvin tertera sebagai pemanggil. Oma Belle pun langsung menerima telepon tersebut.


"Halo, Oma, lagi di mana? Aku lagi di rumah sekarang, nih! Ada yang harus Oma tanda tangan karena kontrak ini Oma yang sepakati."


"Oma lagi di rumahnya Darren. Kamu ke sini aja. Dekat dari rumah Oma kok."


"Oke, aku udah pernah ke sana juga kok." Chalvin memutuskan panggilan dan langsung meluncur ke kediaman Darren dan Karen untuk berurusan dengan Oma Belle terkait bisnis mereka dengan kolega.


"Chalvin mau ke sini. Sekalian kita ajak dia makan siang aja, ya? Oma baru ingat, dia suka masakan yang pedas-pedas."


"Oh, iya, Oma." Karen langsung mengambil satu piring lagi.


Tuh, kan! Gak sia-sia juga kan aku beli banyak makanan.


Selang beberapa menit kemudian, Chalvin pun datang. Oma Belle langsung mengajaknya makan setelah selesai menandatangani kontrak kerjasama yang dibawa Chalvin.


Melihat aneka hidangan lezat penuh rempah, Chalvin pun langsung berceletuk dengan raut penuh kekaguman. "Wow, Karen jago masak juga, ya? Mantep banget!"


"Kamu lagi membicarakan keajaiban dunia yang kedelapan, ya?" sindir Oma Belle.


"Ih, Oma ngomongnya lebih pedas dari makanan yang aku beli, deh!" ketus Karen cemberut.


"Anak muda jaman sekarang jarang ada yang tahu masak, apalagi masakan khas Indonesia kayak gini. Kalau mau masak pun paling juga menu ala-ala luar negeri."


"Jam ngajarnya full. Waktu istirahat pun biasa dipakai buat ngebimbing mahasiswa akhir," jawab Karen, "makan, yuk! Mumpung masih hangat, nih!"


"Ah, iya, kebetulan belum makan juga!" Chalvin menarik kursi makan lalu membalikkan piring yang tersaji di depannya.


"Makanya Vin, cepatan nikah. Biar ada yang ngurusin. Apa perlu Oma bantu cariin jodoh? Lihat tuh, Darren! Awalnya sok-sok gak mau dijodohin. Begitu nikah, eh ... malah nempel banget, karena Oma cariin istri yang muda dan cantik."


Chalvin menatap Karen yang tersenyum lebar karena mendapatkan pujian dari Oma Belle.


"Sayang, mereka malah nunda punya anak. Bikin kesal aja!" Oma Belle menyambung perkataannya sehingga membuat senyum di wajah Karen tak bertahan lama.


"Menurut aku, itu keputusan tepat. Apalagi Karen masih muda, masih kuliah. Emang sebaiknya nunda dulu, kan?" Chalvin tiba-tiba membela keputusan Karen.


Yes ... gak kusangka Chalvin ada di kubu aku.


"Nunda ... nunda ... keburu Oma sama kakek meninggal kalau kayak gitu."


"Tenang, Oma! Kalau Oma terlanjur meninggal duluan, entar aku ajak anak aku ziarah ke kubur Oma," balas Karen cepat.

__ADS_1


Mata Oma Belle membesar dua kali lipat seketika. Sementara pipi Chalvin mengembung karena menahan tawa.


"Kamu emang masih muda. Tapi kamu juga harus pertimbangkan usia Darren yang udah matang! Jarak usia kalian aja jauh."


"Darren kan juga belum tua amat, Oma. Aku aja yang seumuran dia, belum nikah sampai sekarang masih pengen sendiri sampai empat lima tahun ke depan." Chalvin kembali membela Karen.


Karen mengangguk menyetujui ucapan Chalvin.


Denger, tuh, Oma! Denger!


"Ren, terus nasinya mana?" tanya Oma Belle dengan pandangan tertuju di meja makan.


Mata Karen terbelalak diikuti mulut yang ternganga. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata, "Lupa Oma."


"Ambil cepat sana!"


Karen menyengir bodoh. "Maksud Karen ... lupa dibeli."


"Hah? Memangnya kamu gak masak nasi?"


Karen menggeleng. "Soalnya jarang makan di rumah, Oma."


"Terus Oma makannya pakai apa?"


"Pakai sendok, Oma. Pakai tangan juga boleh," ucap Karen sambil memberikan sendok.


"Maksud kamu gak usah pakai nasi? Apa gak seret makanan kayak gini gak pakai nasi? Kamu pikir kita ini orang barat yang dah biasa makan lauk gak pakai nasi." Oma Belle mulai mengomel.


"Kalau gitu aku masak dulu deh nasinya." Karen langsung berdiri.


Chalvin langsung menahan Karen. "Udah-udah ... biar aku aja yang beli di Rumah makan perempatan depan sana."


Aahhh ... Chalvin, kau memang pahlawanku.


.


.


.


catatan author ✍️✍️

__ADS_1


Aku lagi sibuk-sibuknya ngurusin paskibraka di kotaku. Jadi maaf kalau lambat update. Semoga ada waktu buat nulis sampai tanggal 17. Jangan lupa like dan komeng


__ADS_2