
Sejak dari di apartemen Chalvin, Nadya mendadak menutup diri dari siapapun. Ia lebih menyibukkan diri mengurus kafe pamannya dibanding meluangkan waktu berlama-lama di kampus. Bahkan, cenderung duduk menyendiri di sudut ruangan ketika mata kuliah berlangsung. Hal ini tentu saja membuat Karen dan Vera kebingungan dan bertanya-tanya. Pasalnya, Nadya juga seolah menghindari mereka.
Di sisi lain, kabar burung tentang kehamilannya mulai beredar di kalangan mahasiswa sejak penampilan Karen berubah dari biasanya. Perempuan itu kini lebih senang tampil natural dalam balutan dress yang longgar dan sepatu tanpa hak. Kecurigaan teman-teman sekelasnya pun semakin bertambah saat Marsha mengisi mata kuliah saat ini.
Di penghujung waktu, Marsha meminta Karen menggantikan ketua kelas untuk mengumpulkan lembaran tugas yang diberikan. Karen berjalan mengitari setiap bangku mahasiswi untuk mengambil lembar tugas. Beberapa mahasiswi yang duduk di pojok ruangan tengah bergosip dan tak sengaja didengar oleh Karen.
"Eh, dengar-dengar, Bu Marsha dan pak Darren pernah pacaran lama, loh!"
"Serius? Kok bisa putus? Padahal cocok banget, loh! Gua biasa ngelihat mereka jalan bareng kek serasi banget," respon mahasiswi lainnya.
"Gua juga shipper mereka berdua. Tapi, kabar kalo pak Darren dah nikah bener, gak, sih?"
"Gak tahu! Kalo emang dah nikah, jadi penasaran sama istrinya! Levelnya di atas Bu Marsha atau turun ke bawah, nih!"
Mendengar obrolan teman-temannya, membuat hati Karen mengecil. Saat hendak beranjak ke bangku yang diduduki Nadya, perempuan itu dengan cepat menggeser lembaran jawabannya di sudut meja lalu sibuk memainkan ponselnya seolah menolak bertatapan langsung dengan Karen.
Begitu semuanya terkumpul, Karen pun maju ke depan untuk menyerahkan lembar tugas kawan-kawannya pada Marsha.
"Ini, Bu."
Tak langsung mengambil tumpukan kertas di tangan Karen, tangan Marsha malah mengelus perut Karen dari balik dress-nya.
"Eh, masih datar aja, ya, perutnya? Kirain dah mulai besar!"
Karen membulatkan mata. Meski ucapan Marsha tak dijelaskan secara eksplisit, tapi lewat gerakan tangannya di perut Karen tentu mendapat atensi dari teman-teman sekelasnya.
"Eh, Karen hamil, ya?" Teman-teman sekelasnya kini saling bertanya-tanya.
"Ah, jangan-jangan vitamin yang jatuh waktu itu punya dia lagi! Mana pake sok bilang punyanya Nadya! Malu, ya, ketahuan hamil?" cerocos satu dari beberapa mulut yang tak sungkan melempar cibiran pedas.
__ADS_1
Mereka bahkan tak sungkan bertanya pada Marsha langsung. Para mahasiswi itu rela mengejar Marsha yang baru saja keluar dari kelas setelah sukses menggiring opini teman-teman sekelas Karen.
"Bu, bukannya waktu itu Ibu sempat ngomong ke Karen soal cuti hamil? Emang Karen hamil, ya, Bu?" tanya beberapa mahasiswi dengan penasaran tingkat akut yang sudah tak tertolong.
"Loh, kok tanya saya. Tanya orangnya, dong!" jawab Marsha sambil berlalu.
Vera menarik Karen keluar, bermaksud untuk membawanya keluar agar tak mendengar komentar miring dari teman-teman sekelasnya. Namun, Karen malah menahan tangan Vera yang hendak menariknya. Alih-alih mengkhawatirkan dirinya karena ucapan Marsha, Karen malah fokus pada sikap Nadya yang mendadak tak acuh dengan orang-orang sekelilingnya.
"Nad, kamu mau balik ke kafe, ya?" tanya Karen sambil menahan tangan Nadya.
"Hum ...." Nadya hanya membalas dengan anggukan kecil dan dehaman pelan, kemudian pergi.
"Ver, apa kamu gak ngerasa aneh sama sikap Nadya akhir-akhir ini?" tanya Karen sambil memandang Nadya yang baru saja lewat di hadapan mereka.
"Halah, paling juga dia lagi galau-in cowok baru! Kan dia juga sibuk kejar target pendapatan kafe pamannya," balas Vera dengan enteng.
Karen tahu temannya itu memang telah disibukkan dengan usaha barunya, tapi ia bisa merasakan kalau Nadya tengah menjaga jarak dengan siapapun, termasuk dirinya. Ia tentu merasa ada yang aneh atas perubahan kawannya itu. Meski tak tahu penyebabnya, tapi ia merasa Nadya berubah padanya sejak kehebohan kelas beberapa hari yang lalu karena penemuan vitamin ibu hamil. Ia pun merasa bersalah karena berpikir Nadya pasti sakit hati atas perkataan Feril yang menudingnya hamil. Ia tahu, ucapan Feril itu hanya membuka luka lama Nadya yang hanya diketahui olehnya, Darren dan juga Chalvin. Jika saja waktu itu dia berani jujur, mungkin Nadya tak perlu mendengarkan lontaran kata-kata tak menyenangkan dari Feril.
"Sejak kapan bangku perpustakaan cuma dipake untuk duduk ngelamun? Cuma menuh-menuhin tempat duduk, tahu!" Suara pria yang tak asing baginya tiba-tiba berembus.
Karen menoleh ke samping tempat duduknya. Ia tercengang melihat Darren tengah duduk di sampingnya dengan tangan yang sibuk mengoreksi sebuah skripsi. Entah sejak kapan pria itu tiba-tiba muncul. Namun, ini pertama kalinya mereka duduk sejajar seperti ini tanpa ada pembatas atau pun penghalang. Karen sampai harus menengok ke kiri, kanan dan belakang hanya untuk memastikan tak ada yang melihat mereka.
"Darren, kamu kok ada di sini?"
"Aku emang selalu ada di sini. Justru kamu yang baru datang ke perpustakaan lagi. Iya, kan?"
"Bukan, maksud aku kenapa duduk di samping aku?" Karen malah menggeser bokongnya agar tak terlalu berdekatan dengan suaminya.
"Emang ada yang ngelarang?"
__ADS_1
"Kalo ada yang lihat, gimana?" Karen memelankan suaranya.
"Ya, gak papa. Gak ada yang salah, kan? Di sini kita dosen dan mahasiswa. Di rumah kita suami-istri."
Karen terdiam sejenak sambil menghela napas. "Tapi kan gak ada yang tahu kita suami istri. Ini aja aku bingung soal kehamilan aku."
"Kenapa bingung? Karena gak ada yang tahu kamu udah nikah? Ya, tinggal bilang aja kamu itu istri aku," jawab Darren santai.
"Emangnya segampang itu!"
"Terus, apanya yang sulit? Kita bukan artis yang perlu klarifikasi, kan? Kalo ditanya atau ada yang curiga, ya, tinggal jawab yang sebenarnya. Kecuali ... kalo kamu emang punya niat merahasiakan pernikahan kita selamanya. Sampai sekarang aja kamu gak mau make cincin yang aku kasih," singgung Darren.
Karen bergeming. Andaikan ia punya keberanian seperti itu. Mengatakan dengan lantang jika Darren adalah suaminya ketika teman sekelasnya curiga tentang kehamilannya. Sayangnya, nyalinya duluan menciut karena takut mendengar tanggapan dari orang-orang. Darren terlalu hebat, terlalu tinggi, terlalu berkelas untuk disandingkan dengannya yang biasa-biasa saja. Anggapan itulah yang ia takuti keluar dari mulut orang-orang nantinya.
Tanpa Karen sadari, akhir-akhir ini suaminya itu telah terang-terangan mengekspos hubungan mereka di depan para mahasiswa dan dosen. Pria itu mulai berani duduk bersebelahan dengannya, membiarkan Karen keluar masuk ruang penelitian untuk mengambil katering makan siang harian, bahkan menunjukkan perhatiannya di depan para mahasiswa seperti yang dilakukan beberapa hari yang lalu.
****
Tak terasa, warna langit telah berubah menjadi gelap. Chalvin baru saja tiba di Jakarta setelah berada di Bandung selama dua hari untuk memantau pabrik baru mereka. Ia membuka pintu apartemennya seraya mendorong koper kecil. Rasa haus menuntutnya membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa diminum. Saat hendak mengambil salah satu minuman, ia tertegun melihat deretan bahan makanan yang tertata rapi di kulkasnya.
Ya, setelah malam itu, Chalvin memang langsung berangkat ke Bandung keesokan harinya. Namun, ia sempat mencoba menghubungi Nadya dan mengirim pesan permintaan maaf. Sayangnya, hingga kini gadis itu tak membalas pesannya.
Chalvin menoleh ke belakang, tepatnya di sofa yang sempat diduduki mereka. Otaknya secara tak langsung merekam kembali apa yang terjadi di sana. Di sofa itu, ia melakukan tiga kebodohan sekaligus. Yang pertama, menciumnya tanpa permisi. Ciuman itu terlalu spontan dan terjadi begitu saja. Kedua, terlalu terbawa suasana hingga kembali mengulang ciuman untuk kedua kalinya. Ketiga, mencoba mengalihkan tindakan refleksi yang dilakukannya dengan berdalih hanya ingin menguji gadis itu.
Sejujurnya, bukan hanya Nadya saja yang kikuk usai ciuman itu terjadi. Dia pun demikian. Hanya saja, pria itu pandai menutupi perasaan dan bahasa tubuhnya yang sebenarnya. Ia pun menyadari telah melontarkan kalimat yang cukup pedas tanpa mempertimbangkan perasaan gadis yang pernah menjadi kekasih palsunya itu. Sungguh, dari lubuk hatinya, ia tak bermaksud melukai atau pun mempermainkan gadis itu. Kata-kata itu terlontar justru agar Nadya bisa lebih waspada padanya atau pada pria lain yang mendekatinya.
Tak terasa jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktunya untuk menutup kafe bagi Nadya setelah dua baristanya telah dibiarkan pulang lebih dulu. Namun sebelum itu, ia harus lebih dulu mengecek persediaan kopi dan bahan-bahan lainnya. Sedang sibuk mencatat stok bahan, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti tepat di depan kafenya. Bersamaan dengan itu, Chalvin keluar dari mobil tersebut.
.
__ADS_1
.
.