DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 78 : Pak Darren Sudah Menikah?


__ADS_3

"Memancing pelaku melakukan klarifikasi?" ulang beberapa dosen mengernyit bingung.


Sudut bibir Darren terangkat ke atas. "Ya." Ia membenarkan, lalu menoleh ke sisi kanan. "Profesor Purwoto, Anda seorang ahli hukum pidana. Pasti paham apa yang saya maksud!"


Profesor yang disebutkan Darren lantas berdiri sambil berkata, "Ya, seperti yang dikatakan Profesor Darren, foto yang beredar luas di sosial media cuma berupa tampilan kaki pria dan wanita di kolong meja. Tidak ada kejelasan gambar yang benar-benar mengidentifikasi kalau itu diambil di kampus ini dan tidak ada bukti yang menunjukkan wajah dosen bersangkutan. Menuduh seseorang melakukan perbuatan tertentu dengan maksud agar tuduhan itu viral alias diketahui banyak orang bisa terjerat pasal 310 ayat (1) KUHP. Namun, karena dalam berita yang beredar hanya disebutkan oknum dosen di universitas kita, maka pihak universitas bisa melakukan somasi terhadap pelaku dengan ancaman pasal 27 ayat 3 UU ITE.


"Kita akan meminta pelaku memilih. Memberi bukti yang lebih jelas atau melakukan klarifikasi permintaan maaf secara terbuka karena telah melakukan pencemaran nama baik institusi. Jika kedua-duanya tidak dia penuhi, maka kita bisa mengambil langkah hukum sesuai dengan pasal tentang UU ITE. Dengan begitu pihak universitas tidak terlihat seperti mengekang pelaku penyebaran. Publik pun bisa menilai sendiri apabila pelaku tidak bisa membuktikan secara jelas tuduhan perbuatan mesum yang dilakukan oleh saya," terang Darren dengan sunggingan senyum tipis yang masih bertahan di bibirnya.


Para dosen saling memandang dan mengangguk-angguk. Tampaknya, mereka setuju dengan solusi yang ditawarkan Darren.


Di luar ruangan, Feril dan kawan-kawannya masih berusaha menguping pembicaraan Darren bersama para petinggi universitas. Tubuh mereka menempel seperti cicak di daun pintu. Sayangnya, suara-suara yang dihasilkan di dalam sana tak satu pun terdengar jelas di telinga mereka.


"Ngomong apa sih mereka? Eh, lo dengar enggak obrolan di dalam?" tanya Feril pada temannya yang berambut gimbal.


"Makanya telinga lo mesti rajin dikorek, Cuy. Biar pendengaran lo jelas!"


"Jadi lo dengar jelas apa yang mereka omongin?" tanya Feril penasaran.


"Kagak!" balas gimbal dengan ekspresi datar.


Bibir Feril mengerut menahan geram. Ia lalu mencoba mengintip dari celah lubang kunci. Baru saja membungkuk, tiba-tiba kepalanya malah menyeruduk perut buncit seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.


"Siapa sih ini, datang-datang main nyerobot. Minggir sana!" Feril malah mendorong tubuh orang itu ke samping. Sayangnya tubuh orang itu terlalu kokoh dan tak bergeser sedikitpun.


"Ril, lo yang mesti minggir!" bisik kawan-kawannya dengan raut penuh kekhawatiran.


Feril lantas mendongak. Matanya terbelalak begitu mengetahui pria yang berdiri di hadapannya adalah rektor mereka.


"Halo, Pak, apa kabar, Pak? Ingat saya enggak, Pak? Saya anak tetangga Bapak, loh!" ucap Feril sok akrab.


"Tetangga mana yang kamu maksud? Samping kiri kanan muka belakang rumah saya hanya ada cafe dan perhotelan. Bahkan sampai jarak 100 meter dihuni ruko-ruko. Minggir sana!" ketus rektor.


Feril langsung bergeser ke samping sambil menahan napas.

__ADS_1


"Kalau boong yang natural dikit, dong!" bisik temannya sambil menyengir.


Tak lama kemudian Darren keluar dari ruang rapat. Ia langsung disambut pertanyaan beberapa mahasiswa yang mengkhawatirkan dirinya.


"Prof, Gimana tentang berita yang beredar?"


"Itu bukan Profesor, kan?"


"Itu bukan ruangan Bapak, kan?"


Tak mau kalah, Feril langsung mencegat langkah Darren dengan tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Eh, Prof, gimana keputusan rektor? Wah, kita semua mengkhawatirkan Profesor. Tapi ... kalau memang keputusannya Profesor harus dikeluarkan dari universitas ini, kami akan menerima dengan senang hati. Jangan khawatir, Prof, ilmu yang profesor ajarkan akan kami tanamkan di kehidupan bermasyarakat."


Cerocosan Feril malah diabaikan Darren. Pria itu langsung meninggalkannya dan tampak sibuk mencari-cari seseorang tanpa memedulikan tatapan-tatapan yang menyerbu ke arahnya. Namun, ketika melihat dua kawan Karen ikut berada di sana, ia pun menghampiri keduanya.


"Karen tahu enggak tentang masalah ini?"


Nadya dan Vera saling memandang dalam diam, lalu menatap Darren sambil menganggukkan kepala.


"Gak tahu, Pak! Tadi pas kita bilang Bapak dipanggil Rektor, dia langsung lari ke sini. Tapi sekarang malah gak ada," balas Vera dengan wajah mengetat.


Darren bergegas meninggalkan kerumunan mahasiswa. Ia khawatir, berita tentangnya semakin membuat Karen terpuruk dan menyalahkan diri sendiri. Saat hendak menuruni tangga, ia bertemu dengan Marsha.


"Ren, jadi gimana?" tanya Marsha yang ikut mencemaskan nasib Darren di kampus ini.


Bukannya menjawab, Darren malah melempar balik pertanyaan. "Sha, kamu lihat Karen, enggak? Kata temannya tadi dia ada di sini. Aku khawatir dia nyalahin dirinya sendiri gara-gara foto yang beredar."


Marsha terdiam seketika sambil mengingat pertemuannya dengan Karen di lantai bawah.


"Aku tadi ketemu dia di bawah. Mungkin dia masih di sana."


"Thanks, ya!" Darren bergegas turun tangga sambil mengambil ponsel dalam saku celana.

__ADS_1


Marsha hanya bisa tersenyum kecut seraya memandang Darren yang telah berlalu. Bahkan saat masalah sedang menerpa pria itu, dia masih mengkhawatirkan istrinya.


Setelah Darren keluar dari ruangan, para jajaran pejabat universitas pun keluar dari ruangan. Mereka telah merilis pernyataan somasi sesuai yang dicetuskan Darren dan profesor dari fakultas hukum di akun official universitas.


"Gak nyangka profesor Darren udah nikah, padahal baru saya mau ngenalin sama anak saya yang baru lulus di universitas Harvard," ucap wakil rektor I pada beberapa dosen sambil melangkah bersama.


"Dia emang pernah bilang udah punya pasangan pas saya mau comblangin ke sesama rekannya. Tapi saya enggak ngerti kalau yang dia maksud itu punya istri. Kirain cuma pacaran gitu," sahut pak Budi Luhur sambil cengengesan.


"Mahasiswi di kampus kita kan terkenal cantik-cantik, banyak dari kalangan artis dan selebgram, jadi wajar kalau profesor Darren mau nikah dengan mahasiswi kita," timpal wakil rektor III.


Mahasiswa-mahasiswa yang tak sengaja mendengar perbincangan para dosen, lantas tercengang seketika. Mereka makin terkejut karena istri Darren merupakan mahasiswa di universitas ini.


"Hah? Profesor Darren dah married?"


"Siapa istrinya? Katanya mahasiswa sini?"


Semua saling bertanya-tanya. Beberapa dari mereka tampak heboh dan tak terima dengan kabar tersebut. Mereka bahkan menyebut kabar ini menjadi momen patah hati se-universitas.


Teman-teman sekelas Karen tak kalah heboh mengetahui fakta jika Darren telah menikah. Mereka melirik ke arah Vera dan Nadya yang hanya diam tanpa ekspresi apa pun.


"Kok lo biasa aja denger pak Darren dah nikah? Bukannya dulu lo bilang mau nangis tujuh hari tujuh malam kalau pak Darren nikah?" tanya teman sekelas Karen pada Vera.


"Ya, gak papa. Gue malah ikut senang," jawab Vera seraya mengayunkan kepalanya.


"Hah serius?" Mereka tak percaya dengan jawaban santai yang meloncat dari mulut Vera.


"Take it easy. Normal kan kalau pak Darren nikah? Soalnya jaman sekarang cowok ganteng banyak yang gak suka cewek cantik, tapi sukanya sama cowok ganteng juga," jawab Vera sambil menggandeng Nadya dan beranjak pergi.


Tak hanya para mahasiswa dari berbagai jurusan, gadis berkacamata yang menjadi penyebab dari masalah ini pun turut terperanjat. Ia mengepalkan tangannya seiring mengilas balik perkataan Darren tempo hari.


"Yang kamu lakuin cuma sia-sia. Karena hubungan kami gak akan berakhir semudah itu. Saya tunggu klarifikasi dan permintaan maaf kamu buat Karen secara terbuka."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2