
Hubungan bapak dan anak itu sudah renggang selama belasan tahun. Setelah ibunya meninggal, ia sangat jarang bertemu apalagi bicara dengan ayahnya. Terakhir kali mereka bertemu di acara peluncuran produk lipstik terbaru Belleria yang juga digabung dengan acara kejutan ulang tahunnya.
"Bagaimana keadaan istri kamu?" tanya ayah Barack sedikit sungkan.
"Entahlah, dokter belum bisa menentukan apa tumor yang ada di rahimnya itu jinak atau ganas."
"Semoga tidak buruk dan ke depannya bakalan baik-baik saja!" Ayah Barack menepuk pundak Darren.
Darren mengangguk kecil. "Gimana kabar keluarga ayah?" tanyanya balik.
"Mereka baik-baik saja."
"Oh," sahutnya pendek. Terlihat jelas ada kecanggungan di antara ayah dan anak itu.
"Mengurus pasangan yang sakit butuh kelapangan dan kesabaran yang ekstra. Tapi, ayah yakin kamu bisa menjadi suami yang sabar."
"Mengurus orang tercinta yang sedang sakit bukan pertama kali bagiku. Ayah masih ingat, kan?" singgungnya tiba-tiba.
Ayah Barack bergeming. Darren tersenyum tipis lalu berbalik hendak masuk menemui Karen.
"Tentang ayah menikah lagi saat ibumu sakit ... sebenarnya itu permintaan ibu kamu sendiri," ungkap ayah Barack saat Darren hendak membuka pintu.
Tangan Darren yang memegang gagang pintu, sontak terlepas begitu saja. Namun, ia tetap membelakangi ayahnya.
"Ibu memaksa ayah menikah lagi. Sejak divonis kanker, kepercayaan dirinya runtuh. Semangat hidupnya menipis. Dia bahkan sempat ingin bercerai karena merasa tak pantas menjadi seorang istri. Ayah lalu memutuskan menikah lagi untuk mengurangi beban ibumu sebagai menantu di keluarga ini. Tapi, Oma malah menganggap ayah berselingkuh. Oma marah besar, lalu melarang ayah untuk menemui ibu dan kamu," ungkap ayah Barack berusaha menjelaskan alasannya meninggalkan Darren dan ibunya demi keluarga baru.
"Aku pikir ... saat ibu meminta ayah menikah lagi, itu tidak benar-benar dari hatinya. Yang aku tahu, wanita kadang-kadang bicara gak sesuai dengan isi hatinya. Wanita sering mengutarakan hal-hal bodoh untuk menguji pasangannya. Dan pria yang bodoh akan menelan mentah-mentah ucapan pasangannya," tangkas Darren penuh sarkastik, "apa Ayah enggak sadar kalimat itu keluar dari mulut ibu karena Ayah selalu mengeluh?"
"Kamu enggak paham! Enggak mudah berada di posisi ayah saat itu!" tampik ayah Barack.
__ADS_1
"Ya, memang aku enggak berada di posisi ayah saat itu, tapi aku telah berada di posisi yang sama saat ini. Ibu telah berdiri dan menghabiskan waktunya bersama ayah selama delapan belas tahun. Apakah ayah pikir, semudah itu dia merelakan ayah pada wanita lain? Kepercayaan diri ibu yang runtuh, semangat hidup yang menipis, dan keinginan untuk bercerai bisa jadi karena dia sedang meminta perhatian dan dukungan lebih dari ayah. Apa ayah pernah menanyakan keinginan ibu yang sebenarnya? Ibu hingga di akhir hayatnya membuang semua kebutuhan, keinginan, dan impiannya demi kebahagiaan ayah dan keluarga ini."
Ayah Barack tercenung. Diam dan kaku. Ini bukan lagi terlihat seperti obrolan antara ayah dan anak, tapi ini adalah pembicaraan dua pria dewasa.
"Apa itu yang dikatakan ibumu?"
Darren menggeleng. "Aku ... bisa memahami perasaan ibu setelah istriku mengalami sakit yang sama."
Ada yang bilang, orangtua mengenal dengan baik anaknya hanya sampai batas usia tujuh tahun. Setelah dia masuk sekolah, guru dan teman-temannya yang akan lebih mengenalnya. Dan setelah menikah, pasanganlah yang akan mengenal baik buruknya luar dalam. Namun, tak sedikit orang yang tidak dapat mengenal pasangannya, meski telah bertahun-tahun bersama. Bagi Darren, rumah tangga orangtuanya membawa pelajaran untuk dirinya dan pasangannya.
Di dalam sana, Oma Belle masih semangat mempromosikan obat herbal yang dibawanya. Dia juga merekomendasikan sejumlah ahli terapis Tiongkok yang terkenal di Jabodetabek.
Melihat Karen yang sungkan menolak saran dari Oma Belle, mami Valen pun angkat bicara. "Oma, makasih udah perhatian sama Karen. Tapi, dokter gak ijinin Karen buat minum sembarangan obat. Lagian, obat herbal itu proses penyembuhannya gak instan dan cukup memakan waktu. Sementara penyakit tumor itu cepat perkembangannya. Harus segera ditangani," ucap mami Valen lemah lembut agar tak membuat Oma Belle tersinggung. Biar bagaimanapun, ia merasa senang melihat dukungan dari keluarga suami anaknya itu.
"Kalo gitu biarin Oma ikut kamu ke Kuala Lumpur," pinta Oma Belle seketika.
"Gak usah, Oma. Yang pergi cuma aku sama Darren. Oma di sini aja tungguin Karen pulang biar kalo Karen udah sembuh, kita bisa melukis bareng lagi," ucap Karen dengan senyum yang terpampang di wajahnya. Semangatnya untuk segera sehat muncul berkali-kali lipat begitu orang-orang terdekatnya menghujaninya dengan perhatian.
"Bagaimana?" tanya kakek.
"Ibu masih di sana. Aku duluan pulang."
"Kamu ketemu Darren, enggak?"
"Ketemu, Yah. Tenang aja, Darren enggak seperti aku. Dia benar-benar menjaga istrinya."
"Dia diberikan ujian yang sama denganmu supaya kamu bisa mengambil pelajaran dari dia bagaimana menjadi suami yang setia dan bertanggung jawab. Ketika hati telah terpaut pada seseorang, kita gak lagi menggunakan kalimat alasan seperti aku mencintaimu karena bla ... bla ... bla .... Hati yang tulus akan mencintai seseorang di segala situasi. Aku mencintaimu meskipun kamu seperti itu. Seperti itulah seharusnya!" Kakek Aswono memberi wejangan pada anaknya yang telah berusia lebih dari setengah abad itu.
Sama halnya dengan ayah Darren yang telah kembali ke perusahaan, Chalvin pun sedari tadi telah berada di ruangannya. Ia duduk terpekur, mengingat apa yang dikatakannya pada Karen. Benarkah itu adalah suara hatinya? Entahlah, yang pasti rasa itu tidak boleh terus dibiarkan berkembang.
__ADS_1
Selepas pulang kerja, Chalvin berusaha menghilangkan kegusarannya dengan nongkrong di kelab malam. Berharap mendapatkan teman kencan baru yang bisa membuang rasa tak wajar di hatinya. Berwajah tampan dan berpenampilan keren, membuatnya sangat mudah mendapatkan teman ngobrol seorang wanita yang berpenampilan seksi.
Rupanya Feril dan kawan-kawannya juga berada di kelab yang sama. Mereka tengah sibuk mengepul asap rokok sambil menenggak minuman yang mendapat potongan diskon khusus malam ini.
"Ril, ril, lihat sana, Ril!" Si Jamet tiba-tiba menepuk pundak Feril dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Feril dengan kepala yang menoleh ke kiri dan kanan.
"Bukan di situ. Di sana!" Jamet malah menarik kasar dagu Feril agar pandangannya searah dengan objek yang hendak diperlihatkan.
"Ada apa?" tanya Feril yang masih tak mengerti.
"Lu enggak ingat? Tuh cowok yang pake kameja biru. Dia bukannya cowok yang pernah Karen kenalkan ke elu sebagai pacarnya?"
Mata Feril terbelalak seketika. "Wuih, bener, tuh cowok yang juga mukulin teman-temannya Farel waktu itu!"
"Oh ... jadi dia yang dibilang tunangannya Karen?" sahut si gimbal.
"Wah, pantesan Karen mau sama dia dibanding elu. Dari luarnya aja udah kelihatan, pasti besar, nih!" sahut Jamet memanas-manasi Feril.
"Punya dia boleh besar, tapi punya gua lebih panjang dan tahan lama," cetus Feril penuh percaya diri.
Si Jamet lantas menoleh ke arahnya. "Lu ngomong apa, sih? Yang gua maksud besar itu pendapatannya, Tolol!"
"Eh, eh, dia lagi ngobrol ma siapa, tuh? Keknya bukan Karen, deh!" ucap salah satu dari mereka.
Feril menajamkan penglihatannya. "Wuih, bener! Bukan Karen, tuh. Sialan, Karen gua diselingkuhin. Gak terima gua!" ucapnya sambil menyilangkan kaus lengan panjangnya.
.
__ADS_1
.
.