
"Jadi kamu ingin berubah, biar perempuan yang kamu suka bisa noleh sama kamu?" tanya Darren.
Feril memetik jari. "Tepat sekali, Prof! Gak salah, kan, kalo kita termotivasi seseorang?"
"Ya, emang gak salah! Cuma aku khawatir kamu bakalan berubah pikiran lagi kalo orang yang bikin kamu termotivasi mungkin tetap gak mau sama kamu."
"Urusan itu belakangan, Prof. Asal gigih dan berusaha, pasti cewek yang tadinya ogah-ogahan nanti juga bakalan klepek-klepek."
Pernyataan Feril yang begitu percaya diri malah makin membuat Darren tersentak. Aneh rasanya seorang mahasiswa yang menyukai istrinya malah datang padanya untuk meminta bimbingannya selama masa perkuliahan. Di mana salah satu tujuan mahasiswa itu ingin berubah karena hendak menarik hati istrinya sendiri. Namun, bukankah lebih lucu jika dia menolak permintaan sang mahasiswa hanya karena urusan pribadi?
"Jadi, gimana Prof? Apa yang harus saya urus?" tanya Feril melihat Darren tertegun sekian menit.
Darren menyetujui dan meminta Feril mengurus berkas pengajuan pergantian dosen PA.
"Jangan lupa tulis juga rencana hidup kamu ke depan."
"Kalo soal itu biar Tuhan aja yang ngatur Prof, gimana baiknya. Kalo saya yang atur kadang malah semakin berantakan hidup saya."
Darren mendenguskan napas kasar. "Hidup itu pilihan."
"Tapi saya golput, Prof! Udahlah, Prof. Otak saya ini sudah terlalu terang gara-gara terlalu banyak dapat pencerahan sana-sini. Profesor jangan bikin otak saya jadi tambah silau."
Darren kembali mendengus. Tampaknya dia harus sabar menghadapi mahasiswa yang satu ini. Namun, sebagai seorang pendidik ia pun tertantang untuk membimbing Feril agar bisa menyelesaikan program kuliahnya.
Sore hari, Darren yang baru saja pulang, mendapati istrinya tengah duduk di meja rias sambil menyisir rambut. Berjalan masuk perlahan, Darren langsung merangkul leher Karen sambil menyandarkan dagu di pundaknya.
"Tebak aku bawa apa buat kamu?" tanya Darren sambil menyembunyikan sesuatu dari balik punggungnya.
"Hhmm ... bawa apa, ya?" pikir Karen sambil mengelus pipi suaminya.
Darren lantas menunjukkan sekotak box dessert. "Tiramisu."
"Wuah, kebetulan banget mulut aku lagi pahit nih! Makasih ...." Karen mengecup singkat bibir suaminya.
Darren tentu sangat tahu selera istrinya yang menyukai dessert manis dan legit. Tak sabar, Karen langsung membuka kotak mewah tersebut dan mengambil dessert khas Italia yang diletakkan dalam jar kaca. Sayangnya, baru sesendok masuk ke mulutnya, ia sudah merasa mual. Ternyata lidah Karen tak cocok dengan cita rasa kopi yang terlalu kuat dalam dessert tersebut.
"Gak suka!" Karen menyodorkan tiramisu itu pada Darren dengan sebelah tangan yang menutup mulut.
__ADS_1
"Kenapa?" Darren mencoba sesendok tiramisu tersebut, "Enak kok. Ini non alkohol."
"Iya, tapi gak suka, bikin mual." Karen masih menutup mulutnya.
"Terus, bumilku sayang mau makan apa?" Darren menarik kedua pipi Karen dengan gemas.
"Aku pengennya yang seger-seger!" ucap perempuan itu dengan kepala yang menengadah. "Oh, iya, Nadya kan sekarang lagi ngurusin coffee shop milik pamannya, terus dia minta tolong ke aku buat bantuin dia manage kedainya. Soalnya dia belom punya pengalaman ngurus kek gitu. Boleh, gak? Kan aku dah belajar banyak tentang manajemen keuangan dari kamu, sayangkan kalo ilmunya gak dipraktekkin."
"Hum ... boleh-boleh aja."
"Terus besok kan launching coffee shop-nya, rencananya aku sama Vera mau bagi-bagi pamflet promo di kampus biar banyak yang tertarik datang ke tempat Nadya. Oh, iya, kamu juga bantuin promosi ke dosen-dosen dong!" pinta Karen dengan penuh semangat.
"Sayang, kamu itu lagi hamil muda loh. Jangan terlalu capek!"
"Emangnya kalo hamil udah gak bisa ngapa-ngapain?" Karen memperlihatkan wajah cemberutnya dalam pantulan cermin.
"Dokter bilang tiga bulan pertama sangat rawan. Kamu harus hati-hati jangan sampai kelelahan. Apalagi usia kandungan kamu baru lima Minggu."
"Tapi aku gak mau jadi ibu hamil yang cuma bisa terbaring lemah di atas ranjang."
Darren memutar kursi yang diduduki Karen agar berbalik ke arahnya. Ia berjongkok di hadapan perempuan itu sambil menggenggam kedua tangannya.
Pandangan pria itu lalu beralih ke perut istrinya. "Udah gak sabar lihat kamu tumbuh gede di perut mama," ucapnya sambil mengelus lembut perut Karen yang masih rata.
Di saat keduanya bermesraan, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu kamar mereka. Darren berdiri untuk menengok sosok di luar sana. Rupanya itu adalah Oma Belle yang datang dengan wajah semringah sambil membawa beberapa potong pakaian wanita.
"Karen, coba lihat ini ... Oma belikan kamu daster buat dipakai hari-hari. Ini daster sultan, bukan sembarang daster." Oma Belle menunjukkan satu per satu daster bercorak batik dan bunga dengan warna-warna yang mencolok.
"Duh, Oma ... Karen gak biasa pakai daster. Udah gitu tampilannya bikin kelihatan emak-emak banget!" tolak Karen spontan. Sebagai perempuan muda yang gaul, wajar saja kalau ia tidak suka memakai pakaian andalan para ibu-ibu kebanyakan.
"Hah? Kamu kan emang bakalan jadi emak-emak, bukan jadi model atau pramugari! Lagian Oma perhatiin baju sehari-hari kamu tuh pada ketat-ketat. Apa gak sesak kalo nanti perut kamu dah buncit," celoteh Oma sambil memasangkan ke badan Karen satu dari sebagian daster yang dibawanya.
Melihat wajah suram istrinya, Darren pun berkata, "Kamu pakai baju apa aja cantik kok. Lagian Oma bener, pakai daster lebih terasa nyaman dibanding kaus. Kan gak dipakai keluar juga."
"Oh, iya, Oma hampir lupa. Oma juga beliin kamu baju yang cocok untuk dipakai di luar. Terutama kalo kamu lagi ngampus." Oma Belle lalu menunjukkan beberapa busana model terusan semata kaki mirip gamis dengan model yang klasik. "Gimana ... cantik, 'kan? Simple, elegan dan tertutup."
"Apanya yang cantik? Yang bener aja aku disuruh pakai baju beginian!" omel Karen dalam hati. Wajahnya terlihat pasrah meski hatinya kian berontak karena semakin ke sini, Oma Belle semakin mengatur hidupnya.
__ADS_1
Tak terasa, semester baru yang telah dinanti telah datang. Memasuki awal perkuliahan mahasiswa tampak bersemangat mendatangi kampus. Apalagi untuk para mahasiswa baru. Kesempatan ini digunakan Nadya untuk pembukaan coffee shop-nya sekaligus melakukan promosi sebagai pengenalan minuman yang ditawarkan.
Karen dan Vera secara sukarela membantunya dalam melakukan promosi. Berdiri di depan gedung fakultas, keduanya membagikan brosur minuman pada setiap mahasiswa yang lewat. Di waktu yang sama, Feril dan para Mahdi datang dengan gaya mereka yang khas bak preman kampus.
"Kak Feril, singgah ke coffee shop-nya Nadya dong! Ada promo minuman beli satu gratis satu," tawar Karen sambil membagi-bagikan brosur pada Feril dan kawan-kawannya.
"Ini punyanya Nadya mantannya Farel?" tanya Feril sedikit tak percaya.
Karen mengangguk. "Datang dan ramaikan, ya, Kak launching-nya. Ada tersedia beberapa minuman non kopi sama makanan hits kekinian juga."
"Ada jual steik Wahyu gak?" tanya Gimbal.
"Wagyu, Ngab. Wagyu!" Jamet membenarkan.
"Gayaan Lo cari steik wagyu. Beli ayam geprek di kedai sebelah aja kalian pada ngutang," ketus Vera dengan nada mengejek.
"Eh, meskipun mampu beli steak wagyu, bukan selera gua juga. Asal lo tahu kita tuh sehari-hari makan rendang, kari, soto ayam, tongseng, ya ... walaupun dalam bentuk mie instan, sih!" balas Gimbal menyengir.
"Kita gak jual makanan berat. Di sini cuma ada aneka cemilan dengan harga ekonomis, Kak," jelas Karen.
"Jangan hiraukan dia, Ren. Pasien RSJ rawat jalan emang gitu kalo ngomong suka ngelantur!" ucap Feril senyam-senyum sambil mengambil brosur promo minuman dari tangan Karen. "Tenang aja. Bakalan gua borong semua minuman yang ada di sana!"
"Serius lu, Ril? Bukannya tadi lu ngaku bokek?" Feril langsung membungkam mulut salah satu kawannya. Dua bulan tak bertemu, nyatanya ia semakin terpesona dengan Karen yang notabene telah menjadi istri dosen PA-nya.
Darren yang baru saja keluar dari gedung fakultas, tak sengaja melihat Feril dan Karen yang saling berhadap-hadapan. Melihat istrinya didekati mahasiswanya, tentu saja Darren langsung bereaksi kesal.
"Feril!" panggilnya sambil berjalan menuju ke arah mereka.
"Ya, Prof!" jawab Feril dengan cepat.
"Kamu dari tadi saya nunggu buat konsul mata kuliah kok enggak datang-datang?"
"Emang kapan Profesor nyuruh gitu?" tanya Feril bengong.
Darren menggeleng-geleng kepala sambil berdecak. "Pokoknya saya tunggu di ruangan sekarang!" ucapnya berbalik lalu pergi. Namun, setelah beberapa langkah, ia kembali berbalik dan tetap melihat Feril berdiam diri sambil terus memandang Karen. "Feril, ngapain masih di situ?" tegurnya kembali.
"Iya, Prof. Nih baru mau ke sana!" ucap Feril yang kemudian mengomel dengan nada suara kecil. "Nih, dosen kok rewel amat!"
__ADS_1