DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 61 : Tak Bisa Mengelak?


__ADS_3

Darren mengernyit seraya menatap dua gadis yang tengah memandangnya tak berkedip. Bagaimana tak berkedip, jika yang di hadapan mereka saat ini adalah dosen mereka sendiri. Apalagi tampilan Darren sangat berbeda 180% derajat. Jika biasanya pria itu tampil kasual dan rapi, sekarang malah hanya bertelanjang dada dengan rambut yang teracak-acak. Namun, justru menambah level ketampanannya.


"Siapa, ya?" tanya Darren memunculkan setengah badannya dari balik pintu.


Sebagai seorang dosen yang mengajar lebih dari seratus mahasiswa per hari, wajar jika dia tak mengenal keduanya. Apalagi Nadya dan Vera bukan tipe mahasiswa "KUTU KUPRET" (KUliah TUgas, KUliah PREsTasi). Mereka tergolong mahasiswa biasa-biasa saja yang kehadirannya tak berpengaruh di dalam kelas.


"Ada perlu apa?" tanya Darren kembali karena dua perempuan itu masih melongo ke arahnya.


Tersadar, keduanya pun saling memandang, lalu menyengir bodoh.


"Kayaknya kita salah alamat, deh!" ucap Vera menggaruk-garuk kepala.


"Iya, ya. Hehe ... rumahnya di sebelah kali, yak!" Nadya menunjuk ke samping rumah tersebut.


"Iya, nih. Kok kita bisa nyasar ke sini, ya. Kan jadi mengganggu pak Darren. Kita pulang dulu, ya, Pak. Maaf banget, nih, dah ganggu!" ucap Vera yang terpana melihat dosen idolanya itu.


Nadya dan Vera kompak berbalik dan berjalan kaku karena masih tak menyangka akan bertemu Darren di sini. Di lain sisi, mereka bingung karena rumah yang seharusnya sesuai dengan alamat yang diberikan Karen, ternyata merupakan kediaman dosen ganteng itu.


Sebaliknya, Darren memicing heran saat mereka menyebut namanya dengan panggilan formal. Ditambah lagi, ia sedikit familiar dengan wajah Nadya yang notabene selalu bersama Karen.


"Hei, kalian!"


Nadya dan Vera terentak, kemudian berbalik pelan kembali berhadapan dengan Darren.


"Kalian cari siapa?" tanya Darren.


"Karen, Pak! Dia ngasih alamat sini. Kayaknya dia salah nulis, deh!" jawab Vera cepat sambil menunjukkan sikap manis.


"Iya, nomor rumahnya pasti tipo, nih," sambung Nadya. Namun, saat memalingkan muka, ia malah kembali melihat mobil Karen yang terparkir di rumah itu. "Tapi, itu kok ...." Nadya yang bengong hanya bisa menunjuk mobil Karen yang terparkir di halaman rumah itu.


"Oh, jadi kalian temannya Karen. Dia lagi mandi, tuh. Tunggu aja di dalam." Darren membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan keduanya masuk.


Bukannya segera masuk, Nadya dan Vera malah hampir terhuyung ke belakang saat mendengar ucapan pria itu.


"Nad, gua salah dengar, gak, sih?" tanya Vera yang shock dan tampak oleng jika tak segera berpegangan pada Nadya.


"Nope," jawab Nadya tak kalah syok.


(N: Nope antonim dari slang word Yass)


"Lu dengar pak Darren barusan bilang apa?" tanya Vera kembali.

__ADS_1


"Karen lagi mandi!" jawab Nadya sambil bertukar pandang dengan Vera.


Bertepatan dengan itu, Karen keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk. Ia terkejut ketika melihat kameja yang dipakai suaminya hari ini telah berada di atas ranjang.


"Gawat! Darren dah datang!"


Karen buru-buru mencari suaminya yang tak terlihat di ruangan itu. Baru saja keluar kamar, tubuh perempuan itu mendadak membeku melihat dua kawannya juga tak kalah kaget menatap ke arahnya yang hanya memakai handuk. Tak ayal, ketiganya lantas terpaku diam layaknya patung manekin.


"Kar, mereka teman kamu, kan?" tanya Darren santai sambil menghampirinya.


"I–iya," jawab Karen dengan mata menyipit bagai menelan makanan keasinan.


"Kok bisa lo tinggal serumah sama pak Darren?" Vera memberanikan diri bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.


Darren menarik Karen ke sisinya, lalu berkata dengan santai, "soalnya teman kalian itu istri aku."


"Apa?!" Mata Vera dan Nadya terbelalak seketika seolah meloncat keluar dari rongganya.


Karen pun tak kalah tercengang karena Darren malah blak-blakan dengan status pernikahan mereka.


...----------------...


Ketiga orang itu kini nongkrong di salah satu kafe yang ada di Grand Indonesia. Vera terisak karena baru mengetahui jika Darren telah menikah. Lebih tragisnya lagi, istri dosen idolanya itu adalah kawannya sendiri.


"Huaaa ... kok bisa gue idolain suami orang which is itu suami teman gue sendiri. Malah gue sering ngehaluin dia di depan lo. Malu banget, gue!" ringis Vera sambil mengambil tisu.


"Gak nyangka! Bener-bener gak nyangka!" Nadya bersedekap seraya menatap penuh ke arah Karen, "Tampar pipi aku, Kar! Aku masih gak percaya kamu dah nikah!" ucapnya setelah Karen menceritakan dengan jujur kenapa pernikahan itu bisa terjadi.


"Please ... rahasiain pernikahan aku dari orang-orang kampus! Belum ada yang tahu tentang pernikahan kami."


"Loh, kenapa harus disembunyiin?" tanya Nadya.


"Kalau gue jadi lo malah gue deklarasikan ke setiap fakultas! Kalau perlu umumkan pakai toa," imbuh Vera menggebu-gebu.


Karen mengerucutkan bibirnya. "Aku ... aku insecure. Pas awal-awal nikah, rasanya juga pingin kasih tahu ke orang-orang kalau aku tuh istrinya. Biar cewek-cewek berhenti deketin dia gitu, tapi makin ke sini ... ada banyak pertimbangan yang bikin aku belum siap ungkap status pernikahan kami."


"Oh, aku ngerti sekarang! Pantas aja pak Darren sering manggil kamu ke ruangannya pakai modus buat bantuin dia. Terus kamu juga sering gak senang waktu kita bahas soal pak Darren sama bu Marsha." Nadya menyimpulkan kejadian selama tiga bulan terakhir ini.


"Eh, eh, kalian kan dah nikah. Terus, gimana sikap pak Darren sama kamu? Romantis, gak? Soalnya kalau di kampus kan doi kayak jutek-jutek gitu sama cewek. Terus, kalian dah gituan, gak? Berapa kali seminggu? Gimana dengan malam pertama kalian? Doi perkasa, enggak? Lu dah ada isi, belom?" tanya Vera penasaran.


Pertanyaan borongan itu membuat pipi Karen memerah bagai tomat. Baru saja hendak menjawab pertanyaan Vera, ponselnya mendadak membunyikan pemberitahuan chat yang masuk. Ternyata itu dari Darren.

__ADS_1


Darren: jangan pulang sampai malam.


Karen tersenyum tipis mendapat pesan singkat itu. Pikirnya, Darren pasti kesepian di rumah. Sontak, ia teringat kalau malam ini Darren akan menyerahkan seluruh waktunya seperti yang dijanjikan siang tadi. Memikirkan hal itu, membuatnya semakin senyam-senyum tak jelas sampai lupa jika Nadya dan Vera tengah menatap penuh ke arahnya.


"Hayo ... pasti lagi chattingan sama ayang Darren, ya?" goda Nadya.


Karen mendadak berdiri lalu berkata, "Aku mau ke toilet dulu!"


Nadya menatap Karen yang meninggalkan meja itu sambil tertawa. "Barusan aku lihat Karen jadi salting gitu."


Vera memasang wajah cemberut seraya berkata, "Kenapa harus Karen sih yang punya keberuntungan buat nikah sama pak Darren!"


Karen berjalan cepat menuju toilet. Sebenarnya ia hanya menghindari cecaran pertanyaan dari Nadya dan Vera. Entah kebetulan atau Jakarta mendadak sempit, ia malah melihat Chalvin tengah berdiri di depan koridor menuju arah toilet. Pria itu terlihat sedang berbicara dengan gadis muda berpenampilan seksi yang memakai setelan blouse merah di atas pusat dipadu dengan hot pants jeans.


"Tadi kan aku dah bilang, aku gak bisa lanjutin lagi hubungan ini," tekan Chalvin pada gadis di hadapannya.


"Gak bisa! Kamu gak boleh mutusin aku gitu aja, dong! Setidaknya kasih aku alasan jelas!" tandas gadis itu. Jika dilihat dari wajahnya, ia tampak seumuran dengan Karen. Gadis itu tak terima diputuskan Chalvin setelah baru saja mengajaknya berbelanja sepuas hati.


"Oke, kamu minta alasan yang jelas, kan? Gimana aku bisa nyaman sama kamu, baru seminggu jadian aja kamu dah kayak ketua RT. Aku wajib lapor 24 jam. Maksa ketemuan tiap hari, kamu pikir aku pengangguran? Atau anak sekolahan, gitu? Belum lagi tiap ketemu, kamu nyerang aku dengan rentetan pertanyaan ngalahin penyidik KPK. Dan ternyata kamu juga kayak anggota intelejen, diam-diam sadap WhatsApp aku cuma buat ngintai siapa-siapa yang nge-chat sama aku," keluh Chalvin pada gadis yang ternyata menjalin hubungan dengannya.


Rupanya, setelah merasakan hal aneh pada dirinya saat bertemu Karen, pria itu lantas mencari gadis muda yang sebaya dengan Karen untuk dijadikan pacar. Apesnya, bukan kesenangan yang didapatkannya, ia malah terikat dengan hubungan yang toxic. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya berpacaran dengan gadis muda dengan jarak yang cukup jauh darinya setelah sebelumnya berkelana dengan wanita dewasa.


"Gak mau! Aku gak mau putus sama kamu!" Gadis itu malah mulai menitikkan air mata. "Emangnya aku kurang apa, sih? Masa kamu ninggalin aku pas lagi sayang-sayangnya."


Chalvin hanya bisa mengusap kasar wajahnya melihat gadis itu mulai berdrama.


Ya, ampun! Kapok gue pacaran sama bocah.


"Kamu gak kurang, kok. Justru kamu terlalu kelebihan buat aku. Kamu tuh masih muda, bisa dapat yang seumuran dan yang selalu ada untuk kamu. Aku gak bisa menyesuaikan gaya berpacaran anak muda yang jalan bareng mulu."


"Aku gak mau! Aku gak mau cari yang lain. Aku dah klop sama kamu," isak gadis itu.


Damn! Nih cewek kok maksa banget!


Chalvin berkacak pinggang sambil melengos. Namun, itu justru membuatnya bertatapan dengan Karen yang berdiri tak jauh dari mereka. Kehadiran Karen di tempat itu, bagaikan Dewi penolong untuknya. Ia melebarkan senyum seraya berjalan ke arah Karen, lalu menariknya ke hadapan gadis itu.


"Nih, pacar baru aku. Jadi, mau gak mau kita harus putus!" ucap Chalvin sambil merangkul Karen.


Mata Karen terbelalak seketika. Tak hanya dia, gadis itu pun turut terperanjat. Tatapan sadis nan bengis ala NAZI langsung tertuju padanya. Tak terima Chalvin memiliki kekasih baru, gadis itu lantas menyiram wajah Karen dengan minuman ice coffee yang dipegangnya. Tak sampai di situ, ia juga langsung menjambak rambut Karen.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2