DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 97 : Mengikis Rindu


__ADS_3

Beberapa malam berlalu, Karen yang tinggal di rumah orangtuanya, terpaksa harus menahan rindu. Meski selama beberapa hari mereka berada di universitas yang sama, keduanya tetap tak saling bertemu. Karen fokus mengikuti ujian, sedangkan Darren sibuk memeriksa hasil ujian mahasiswa lalu memasukkan ke dalam data. Kadang-kadang harus pulang dini hari. Meski begitu mereka tetap berkomunikasi sambil saling mengirim flirty texts.


(Flirty texts: pesan menggoda, pesan nakal)


Langit semakin bernuansa gelap. Karen yang baru saja selesai belajar, bersiap tidur lebih cepat. Baru saja merebahkan tubuh, ia terperanjat mendengar deru ponsel yang mendadak berdering. Ia membangunkan dirinya ke posisi duduk sambil cepat-cepat menerima panggilan telepon dari Darren.


"Lagi ngapain?"


"Hhmm ... lagi belajar."


"Malam ini aku nginap di sana, ya? Mumpung aku pulang cepat! Kemarin-kemarin mau singgah bermalam, gak enak pulang larut."


Sedikit terkejut, mulut Karen refleks menolak. "Enggak boleh!"


"Loh, kok gak boleh."


"Soalnya ... aku lagi fokus belajar." Karen beralasan.


"Ya, Apa kamu gak kangen sama aku?"


Karen menipiskan bibirnya seraya menahan senyum. Semburat merah merebak di pipinya. Tentu saja ia merindukan suaminya. Namun, akhir-akhir ini hatinya berdebar-debar jika sedang berbicara dengan Darren meski hanya melalui telepon. Mungkin karena ada hal yang masih ia sembunyikan dari suaminya itu.


"Pokoknya gak boleh. Lagian besok juga hari terakhir UAS, kan?"


"Aku sudah di depan rumah."


"Hah?" Karen terkesiap. Ia buru-buru menyingkap gorden kamarnya. Ya, di bawah sana tepatnya di luar pagar, Darren berdiri dengan ponsel yang masih melekat di telinga.


"Kamu masih gak ngijinin aku nginap?" tanya Darren penuh bujukan.


Senyap. Tak ada suara balasan dari Karen.


"Halo ...." panggil Darren karena Karen tak kunjung bersuara.


Karen masih bergeming seraya menatap Darren yang terus memanggilnya lewat sambungan telepon. Ada perasaan senang karena Darren menyusulnya ke sini. Namun, kekhawatiran dan kegugupan pun seakan mengikuti.


Darren menadahkan sebelah tangan ketika titik-titik air yang turun tiba-tiba dari atas langit. Melihat lelaki itu masuk ke mobil karena guyuran hujan, Karen pun panik dan segera keluar dari kamarnya.


"Wait a minute, jangan pergi dulu! Aku mau panggil penjaga rumah buat buka pintu pagarnya. Kamu enggak boleh pergi, oke?" Perkataan dengan nada penuh perintah keluar dari mulut Karen.


(Wait a minute: tunggu sebentar)


Tak sampai sepuluh menit, Darren tiba di depan pintu rumah. Karen langsung meletakkan handuk di kepalanya yang sedikit basah. Darren menahan kedua tangan Karen yang sibuk mengeringkan rambutnya.


Mami Valen dan suaminya menyambut anak mantu mereka dengan tak kalah senang. Apalagi ini kali pertama Darren menginap di sini. Sejenak, kedua orangtua Karen itu saling melirik dengan wajah sendu. Setelah mengetahui penyakit Karen, mami Valen dan suaminya mulai berkonsultasi dengan beberapa dokter kenalan mereka. Mereka hanya bisa berharap rumah tangga anaknya ke depan akan baik-baik saja.


Sesampainya di kamar, Darren langsung memeluk erat Karen dari arah belakang. "Akhir-akhir ini kok kamu kayak nyuekin aku?" tanyanya sambil mencium rambut Karen yang harum.


"Masa, sih?" Karen memegang tangan suaminya yang melingkar penuh di dadanya.


"Ya, biasanya kamu ngotot datang di ruang penelitian."

__ADS_1


"Kamu mau kita kepergok lagi kayak waktu itu?"


"Biasanya kamu juga sering mondar-mandir di depan ruang dosen."


Mata karen spontan melotot. Siapa sangka, Darren mengetahui kebiasaan konyolnya yang sering melewati ruang dosen hanya untuk melihat aktivitas pria itu. Apalagi meja kerja suaminya sejajar dengan pintu sehingga dulunya ia bisa leluasa melihat Darren.


Karen terhenyak ketika Darren tiba-tiba mengangkatnya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menyerangnya dengan kecupan-kecupan ringan nan berulang di bibirnya.


"Bibir kamu kering, pasti karena udah hampir seminggu gak dicium!" ucap Darren sambil terus mengecupnya.


Karen iseng menutup bibirnya agar tak bisa dicium suaminya. Namun, Darren malah mengecup punggung tangannya dengan terus menerus.


"Darren, udah!"


Darren menghentikan serangan kecupannya. Dua pasang mata itu saling menatap lekat tanpa ada yang bersuara. Hanya terdengar gemericik air yang terdengar syahdu. Karen mengalungkan tangannya di leher kokoh suaminya, kemudian memajukan wajahnya secara bertahap. Lembut. Kedua bibir itu saling bertemu. Tubuh Darren seperti aroma petrikor yang dihasilkan oleh hujan saat bercumbu dengan tanah yang kering. Nyaman. Sejuk. Menenangkan.


Hujan malam ini, seolah menjadi nyanyian pengiring percintaan kedua insan yang sedang mengikis rindu.


...----------------...


Tak terasa, hari ini menjadi hari terakhir pelaksanaan UAS. Liburan akhir semester yang dinantikan para mahasiswa pun semakin dekat. Meski begitu, selesai UAS mahasiswa masih was-was menanti nilai semester yang keluar.


"Broskie, gimana nih perkembangannya? Jadi lu dah berhasil taklukkin tuh cewek, enggak?" Sang penantang Feril datang mengingatkan kembali taruhan mereka.


"Sabar dikit Napa, sih? Gua lagi fokus ujian! Bentar lagi juga dia bakal jadi pacar gua!" Feril mencari alasan.


"Lu dah mirip politikus yang lagi kampanye aja, janji doang, tapi kagak terealisasi!" Pria itu berkata penuh cibiran, lalu pergi.


"Woi, bantuin gua mikir gimana caranya biar Karen bisa jadi pacar gua sebelum semester berakhir." Feril kesal bercampur cemas.


"Gua punya ide." Si Jamet tiba-tiba membersit sehingga membuat semua mata terarah padanya. "Lu cuma ditantang buat naklukkin Karen, kan? Kalo gitu gak mesti lu beneran pacaran sama dia. Cukup lu kasih bukti kalo lu benar-benar dah dapetin Karen."


"Apa bedanya, Tulul!"


"Beda! Sini ... sini! Gua bisikin!" Si Jamet memintanya mendekat.


Kini, Feril dan kawan-kawan bersembunyi di samping tangga untuk menjalankan aksi mereka. Dari jauh, terpantau Karen dan dua sahabatnya tengah berjalan ke arah mereka.


"Ingat, Ngab, pas kakinya dah melangkah ke sini, lu langsung pura-pura nubruk dia. Di situ kesempatan lu peluk dia. Kalau perlu dicium biar lebih mantap! Kek di film-film gitu. Entar gua fotoin. Jadi, fotonya bisa lu jadiin bukti kalo lu dah dapatin Karen," jelas si Jamet sebagai pencetus ide.


Feril mengangguk-angguk seraya mematahkan jari-jarinya.


"Gaya lu dah kayak mau adu gelut tahu!" cengir si gimbal.


"Gak sabar gua," ucap Feril seraya mengintip sekali lagi.


Karen, Nadya dan Vera tampak hampir mendekati mereka. Posisi Karen yang berjalan di ujung, seolah memudahkan Feril menjalankan aksinya. Sialnya, sebelum Karen melewati mereka, ia lebih dulu ditarik oleh seseorang ke sebuah ruangan yang sepi.


"Darren!" Karen yang terkejut, secara tak sadar meneriakkan nama suaminya. Untungnya, Darren sigap menutup mulut perempuan itu sambil menyandarkannya ke belakang pintu yang tertutup.


"Ssttt ...." Darren menurunkan tangannya dari mulut Karen secara perlahan. "Hari ini kamu pulang ke rumah, kan?"

__ADS_1


Mendelikkan mata sambil tersenyum, Karen malah berkata, "Kayaknya aku mau ngabisin liburan semester di rumah mami."


"Kok gitu! Mami kamu sendiri bilang cuma sampai selesai UAS," protes Darren kesal.


Di sisi lain, Nadya dan Vera terus berjalan sambil membaca gosip terpanas dari di dunia selebritis. Saking serius membaca postingan di ponsel, mereka tak sadar jika Karen menghilang. Sementara Feril bersama gengnya tengah bersembunyi di balik tangga, bersiap untuk menjalankan skenario mereka.


Saat terdengar langkah kaki yang semakin dekat, si Jamet langsung mendorong Feril sehingga pria itu keluar dari persembunyiannya. Sialnya, ia malah menubruk tubuh Vera hingga keduanya sama-sama jatuh dalam posisi Feril berada di atas tubuhnya. Nadya yang juga berada di situ lantas terkejut melihat adegan yang tak seharusnya terjadi di antara Feril dan Vera.


Feril dan Vera saling memandang dalam jarak yang sangat dekat. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Keduanya pun baru menyadari bibir mereka saling menempel.


"Aaarrrgght!" Vera menjerit sambil mendorong kasar tubuh Feril yang berada di tubuhnya.


"Dasar brengsek! Anjreet! Berani-beraninya lu nyium gue!" geram Vera seraya memukul-mukul Feril hingga membuat pria itu tersudut di dinding.


"Kagak usah kege'eran! Sapa juga yang mau nyium lu. Mending gua nyium batu nisan! Lagian bibir lu kagak ada rasa!" bantah Feril tak kalau sengit.


"Dasar mesum! Udah gitu gak tahu diri! Lo kira semua cewek mau lu gituin!" ketus Vera sambil meringis pada Nadya. "Duh, Nad, bibir yang gue jaga buat ahjussi Lee min ho malah tercemar sama si tukang mesum."


Tak terima dikatakan seperti itu, Feril tetap membela diri. "Enak aja lu katain gua mesum. Lu pikir gua cowok yang doyan nyari kesempatan dalam kesempitan!"


"Semua cowok emang sama aja, kan!"


"Kalau semua cowok sama aja, berarti gua sama kek Lee Min Ho dong!" Feril mengibas rambutnya ke belakang.


"What? Enak aja lu samain diri lu dengan idola gue! Maksud gue sifatnya!"


"Berarti ... sifat Lee min ho sama kek gue dong!"


"Maksud gue cowok itu gak ada yang baik."


"Berarti Lee min ho gak baik, dong!"


"Maksud gua, cowok selain Lee min ho, Jiir!" tekan Vera dengan mata melotot kesal.


"Berarti ustadz, pendeta, pastur, biksu gak ada yang baik dong!"


"Tau, ah, gelap!"


"Lu, keren, Cuy! Bisa menang debat lawan cewek! Udah gitu dapat cipook gratis lagi!" bisik kawan-kawannya yang juga turut mendukungnya.


Mendengar keributan di luar, membuat fokus Darren dan Karen teralihkan. Karen pun mengenali suara dua orang yang sedang berdebat itu. Baru saja hendak keluar, tiba-tiba perempuan itu malah merasakan nyeri di perutnya. Ia membungkuk seraya meringis kesakitan.


"Duh, sakit banget!" keluhnya nyaris berjongkok sambil memegang perut.


"Karen, kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Darren yang juga ikut membungkuk seraya menyentuh pundak istrinya, "Karen! Karen!"


Suara panik Darren terdengar sampai luar ruangan. Nadya, Vera, Feril dan anggota gengnya serempak menoleh ke belakang. Di waktu yang sama, Darren keluar dari ruangan sambil menggendong Karen yang sudah tak sadarkan diri.


.


.

__ADS_1


.


gays gua lagi sibuk pol, kalo ada tipo, kalimat rancu, kata berulang spill aja ya ntar gua revisi


__ADS_2