
Hendak menuju kos Nadya untuk mencari istrinya, Darren malah memilih menerima telepon dari adik tirinya terlebih dahulu.
"Kak Darren, aku lapar, nih! Mana gak ada apa-apa di rumah, terus gak ada uang juga. Pesanin makanan dong!" rengek manja suara Sheila terdengar dari saluran telepon.
"Hum ..." jawab Darren dengan dehaman seadanya karena pikirannya sedang tertuju pada Karen.
"Oh, iya, satu lagi ... aku boleh ajak teman-teman ke sini, gak? Suntuk banget nih, diam diri di rumah. Daripada aku keluyuran. Boleh, yah, yah?" bujuk gadis itu.
Darren menghela napas. "Sheila, aku udah nelepon supir buat jemput kamu pulang ke rumah. Tunggu aja!"
"Ih, Kak Darren gimana, sih? Kan aku dah bilang gak mau pulang! Kalo aku pulang yang ada bokap sama nyokap ngekang kebebasan aku! Aku udah gak bisa happy-happy lagi bareng teman
"Sheila, semakin dewasa nanti kamu bakal tahu yang dibutuhkan seseorang itu ketenangan bukan kesenangan."
"Halah ... Kak Darren sama aja kayak bokap. Tukang ceramah! Ngeselin!" Sheila langsung menutup telepon.
Di sisi lain, Chalvin tersenyum ringkih setelah mengirimkan lokasi kos Nadya pada Darren. Meski memiliki perasaan terpendam pada istri sepupunya itu, tapi ia sama sekali tak senang mendengar pertengkaran suami istri tersebut.
"Kak Chalvin kok ngasih tahu sama pak Darren kalo Karen ada di kos aku?" protes Nadya kesal.
"Emangnya kamu mau mereka berantem terus? Lagian, berantem terus keluar dari rumah itu childish banget. Seharusnya kamu bisa nasehatin Karen biar pulang dan selesaikan masalahnya."
"Itu karena pak Darren itu dah kelewatan! Gimana Karen gak ketrigger!" bela Nadya.
(N: trigger slank word yang artinya terpancing emosi)
"Kelewatan gimana?" tanya Chalvin tak paham.
Nadya terdiam. Ia merasa tak ada gunanya menceritakan masalah yang dialami kawannya itu, selain karena tak mendapat izin dari Karen, Chalvin juga pasti akan membela Darren karena mereka bersaudara.
"Oke, apa pun permasalahan mereka, kita gak perlu ikut campur. Ini juga nih yang bikin aku malas nikah. Kalo sendiri aja udah bisa bikin kita bahagia, ngapain harus dengan orang lain? Ya, enggak?"
"Kalo soal itu aku enggak sependapat sama Kakak. Soalnya, menikah dan membentuk keluarga bersama dengan orang yang tulus terima aku apa adanya itu jadi goals aku."
Chalvin tersenyum ringkih. "Yang tadi itu mantan pacar kamu, ya?" Pria itu tiba-tiba membahas lelaki yang dilihatnya bersama Nadya di depan pintu gedung.
Nadya mendadak bungkam dan mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin membicarakan hal tersebut karena tak ingin mengingat kebodohan yang pernah dilakukan bersama pria itu. Diamnya Nadya, sudah menjadi jawaban bagi Chalvin.
"Sorry," ucap Chalvin begitu melihat mimik tak nyaman yang terlihat di wajah Nadya.
Suasana mendadak canggung dan mereka saling diam sampai tiba di restoran. Ternyata, Oma Belle sudah lebih dulu ada di sana. Keduanya lalu menghampiri Oma yang terlihat sedang menelepon. Melihat kehadiran Chalvin dan Nadya, Oma Belle langsung menutup telepon sambil menggerutu.
"Tuh, Darren berantem sama Karen gara-gara adik tirinya. Dari pagi Karen gak pulang gara-gara mikir Darren nyimpan selingkuhan di rumah mereka."
__ADS_1
"Maksud Oma ... si anak dari ibu tirinya itu? Udah gede, ya?" Chalvin tampak berusaha mengingat nama adik tiri Darren.
"Iya, siapa lagi? Anak nakal itu selalu membawa masalah dan mamanya selalu saja minta tolong ke Darren," omel Oma Belle.
"Hah? Jadi perempuan yang ada di rumah Karen itu adik tirinya pak Darren?"gumam Nadya dalam hati.
Oma Belle beralih menatap Nadya, lalu tersenyum lembut. "Nak Nadya, gimana ... kamu udah kasih tahu orangtua belum kalo keluarga Chalvin akan datang melamar?"
DEG! Jantung keduanya seolah mendadak hendak meloncat keluar dari rongga saat Oma Belle kembali membicarakan masalah lamaran pernikahan. Mereka pun saling melirik sambil menahan napas.
"Be-belum, Oma." Suara Nadya tampak bergelombang karena takut. Maklum, hari ini Oma Belle terlihat suram.
"Loh, kok belom?"
"Soalnya ...." Nadya mendadak bingung memberi alasan.
"Nadya gak mau bikin kaget orangtuanya. Soalnya menikah muda gak pernah masuk dalam perencanaannya."
"Loh, kan bagus cepat nikah. Orangtua kamu pasti setuju dan gak ngijinin kalian berlama-lama pacaran."
"Oma mikir-mikir dulu deh mau nikahin kita. Kita aja yang ngejalaninnya masih mikir."
"Ngapain dipikir lagi? Tekad Oma untuk nikahi kalian sudah bukan bulat lagi! Tapi segi panjang, siku-siku, sama kaki, trapesium, jajar genjang dan teman-temannya yang lain!" cetus Oma Belle dengan nada tegas.
Karen yang kini sendiri, hanya bisa menatap ponselnya yang dimatikan selama berjam-jam. Ia mengulurkan tangan, hendak menggapai ponselnya. Namun, ketika telah menyentuhnya, malah tangannya ditarik kembali. Ya, sudah hampir lima jam lamanya ia meninggalkan rumah tanpa pamit ke siapapun. Ia penasaran apakah suaminya mengkhawatirkan dirinya atau malah tak peduli dengan kepergiaannya.
"Karen, buka pintunya. Yuk, kita pulang dan bicarain ini di rumah!" bujuk Darren sambil menatap nanar mata istrinya lewat celah pintu.
Karen malah meninju jari-jari tangan Darren sampai membuatnya terlepas dari pegangan pintu. Tak tinggal diam, pria itu menggunakan kaki kirinya sebagai ganjalan agar pintu tak bisa tertutup. Merasa geram, Karen malah menginjak kakinya hingga refleks terangkat.
"Aww!" jerit Darren yang merasa kesakitan karena diinjak Karen.
Baru sedetik merasakan sakit di kakinya, kini ia kembali berteriak saat ujung jarinya terjepit pintu. Kali ini teriakannya lebih keras hingga membuat Karen terkejut dan buru-buru membuka pintu
"Maaf, maaf, tangan kamu luka, ya? Berdarah, enggak?" tanya Karen penuh kekhawatiran sambil memegang tangan Darren dan memeriksa jari-jarinya yang baru saja terjepit.
Darren menggenggam tangan Karen yang memegang jari-jarinya, lalu menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukan. Sempat membeku beberapa saat, Karen pun tersadar jika dirinya sedang kesal dengan pria itu. Telapak tangannya mendorong dada Darren, berusaha melepaskan diri dari kungkungannya.
Darren malah semakin mengeratkan pelukannya. "Maafin aku, aku cuma ingin kamu bisa mengelola emosi dengan baik."
Ucapan Darren malah semakin menyulut amarah Karen. "Gila kamu! Jadi maunya kamu aku diam kalo kamu selingkuhin, gitu! Aku welcome sama selingkuhan kamu, gitu! Kalo perlu aku ijinin kamu nikah lagi, gitu?!" geram Karen sambil memukul-mukul dada Darren.
"Siapa yang selingkuh?" Darren menahan kedua tangan Karen. "Gadis yang kamu temui pagi tadi adik tiri aku."
__ADS_1
Karen yang masih berontak dan melepaskan diri mendadak terdiam. "Hah? Adik tiri?"
"Iya. Dia adik tiri aku. Pas ayah nikah, dia masih kecil banget. Maaf aku gak pernah cerita ini ke kamu," ucap Darren menunduk penuh dengan rasa bersalah.
Ya, selama menikah, Darren memang tertutup untuk urusan kehidupan keluarganya. Bahkan Karen mengetahui penyebab kematian ibu Darren dan pernikahan kedua ayah Barack dari Chalvin.
Darren lalu menjelaskan alasan kepergiannya yang mendadak semalam hingga terpaksa memberi tempat tinggal sementara untuk adiknya. Ia harus berkeliling mencari adiknya, mendatangi tempat-tempat yang biasa didatangi adiknya, dan menghubungi orang-orang terdekat adiknya. Itulah yang menyebabkan ponselnya mati karena kehabisan daya.
"Ayah sedang di luar negeri selama beberapa hari. Jadi, sebagai kakak aku bertanggung jawab atas dia."
"Jadi kamu gak selingkuh? Kamu gak khianati aku? Kamu gak pelihara pelakor?"
Darren membungkuk agar bisa sejajar dengan tinggi badan Karen. "Tatap aku baik-baik!" pintanya dengan pelan, "apa aku seperti itu di matamu?"
Karen memberanikan diri menatap netra lembut pria itu dengan lekat. Cukup lama. Tak terasa setetes kristal jatuh membasahi pipinya. Ia langsung mengalungkan tangannya di leher pria itu.
"Maafin aku udah salah paham sama kamu. Tuduh kamu yang bukan-bukan. Maafin aku juga dah bertindak kasar sama adik kamu. Aku cuma takut kamu direbut pelakor," ucap Karen terisak dan sedikit malu.
Darren meletakkan telapak tangannya di punggung Karen sembari mengelus rambutnya yang mulai memanjang. Kalimat terakhir yang Karen ucapkan membuatnya tersenyum geli.
"Sayang, kita harus ubah mindset kita kalo menikah itu bukan untuk membuat seseorang menjadi milik kita atau kita menjadi milik seseorang. Pria bukan properti yang menjadi hak milik, dan wanita bukan objek yang bebas diperlakukan semaunya. Kamu gak perlu jaga aku, aku juga gak perlu jaga kamu. Karena ada yang lebih penting dari itu, yaitu menjaga komitmen," ucap Darren dengan pelan.
Setiap rumah tangga pasti memiliki permasalahan yang mereka hadapi. Meski begitu, yang perlu diselesaikan adalah masalahnya bukan rumah tangganya. Emosi dan kemarahan yang meledak, sering membuat seseorang lupa hingga bertindak impulsif yang bisa menjadi bumerang pada dirinya sendiri.
Setelah kesalahpahaman antara mereka terurai, Karen dan Darren kembali ke kediaman Bratajaya. Kepulangan Karen disambut riang Oma Belle yang juga baru pulang dari makan siang bersama Chalvin dan Nadya.
"Karen, kamu udah makan belum? Kamu itu abis sakit gak boleh telat makan. Tunggu, Oma suruh bi Iyam buatin kamu makanan."
"Enggak usah, Oma. Karen udah makan kok tadi."
Tiba-tiba terdengar keributan di teras rumah yang membuat Darren, Karen dan Oma Belle kompak menoleh. Bertepatan dengan itu, Sheila masuk melenggang sambil menarik kopernya. Di belakangnya, tampak supir pribadinya datang menyusul.
"Ada apa ini?" tanya Darren.
"Ini, Den. Non Sheila gak mau pulang ke rumah. Malah minta dianterin ke sini katanya mau tinggal sama Den Darren," jelas supir dengan nada sungkan.
Sheila melebarkan senyum seolah membenarkan perkataan supirnya. Pandangannya lalu terarah pada Oma Belle yang menatapnya bagai hewan bermoncong yang siap menyeruduk
"Hai, Oma! Kok makin tua aja?" sapa Sheila sambil melambaikan tangan.
.
.
__ADS_1
.
aku nulis ini lagi di perjalanan keluar kota. kalo ada tipo, paragraf terbolak-balik, kalimat rancu spill aja ya