
...Warning!...
...Full🍍🍍🍍🍍...
...Yang tak nyaman silakan skip...
...----------------...
Seseorang mengatakan bahwa wanita membutuhkan alasan untuk bercinta, sementara lelaki hanya membutuhkan tempat. Masih dengan suasana yang gelap di tengah suara decap bibir yang saling bertemu, Karen bisa merasakan Darren tengah berlumur hasrat saat ini. Itu bisa terlihat dengan ciumannya yang berapi-api. Embusan napas kasar pria itu bahkan begitu terasa di setiap pagutan bibirnya. Jelas, ini adalah jenis ciuman pembuka untuk kegiatan yang lebih intim.
Mendapat serangan dadakan seperti ini, tentu membuat Karen terperanjat karena ia benar-benar tak siap. Tangannya memegang bahu Darren berusaha mendorongnya. Gagal! Tubuh pria itu bahkan tak bergeser sama sekali. Ia lantas menepuk-nepuk dada Darren sehingga ciuman panas mereka terhenti sesaat.
"Darren, kita enggak boleh dulu, loh!" Karen mengingatkan Darren untuk tak melakukan hubungan intim di trimester awal kehamilan. Sejujurnya, ia juga menginginkan suaminya malam ini, tapi kehadiran janin di rahimnya membuatnya merasa was-was dan tak nyaman.
"Enggak papa kok. Aku bakal lebih lembut," bisik pria itu dengan suara yang penuh gairah dengan sedikit menjauhkan bibirnya dari bibir Karen.
Bibir Darren kembali menyapa permukaan bibir Karen. Bergerak lembut dengan penuh perasaan. Tak sampai semenit melakukan sesapan sensuall, Karen malah kembali menepuk dada suaminya.
"Darren, nyalain dulu lampunya! Aku gak nyaman gelap-gelapan."
Darren kembali melepas ciuman mereka. Ia merogoh ponsel dalam saku celananya. Dengan cahaya ponselnya, ia bisa melihat Karen yang tersandar pasrah dalam rengkuhannya.
"Saklar lampu kita di mana, ya?" tanyanya mendadak lupa.
__ADS_1
"Di sebelah sana!"
Darren berjalan beberapa langkah untuk menemukan saklar. Begitu ruangan ini menjadi terang, ia kembali pada Karen yang masih berdiri di belakang pintu masuk rumah. Karen terhenyak tatkala lengan suaminya menyusup masuk ke belakang bahu dan lututnya, membopongnya dalam dekapan kemudian mendudukkannya pada meja hias yang berdekatan dengan saklar lampu.
Bibir Darren yang hangat kembali bergerak di atas bibir Karen yang lembab. Menyesap dengan penuh kelembutan. Karen terbuai menikmati setiap tekanan halus dari bibir Darren yang basah. Ciuman itu justru membuatnya tenggelam dalam kehangatan yang ditransfer oleh pria itu.
Karen melingkarkan tangannya di leher Darren dan mencoba mengimbangi pergerakan bibir Darren. Ia malah menekan lembut kepala Darren, seolah meminta bibirnya untuk masuk lebih dalam ke mulutnya. Hidung mereka saling bersinggungan, kening mereka saling menempel, dan napas mereka berbaur satu sama lain seiring bibir keduanya saling bertautan dan bertabrakan kasar.
Bibir Darren turun ke dagu dan mulai menyulut lahar panas di leher jenjang Karen. Kepala Karen menengadah seolah memberi akses bibir pria itu untuk memperluas daerah dominasinya.
Tangan Darren mulai beraksi membuka cardigan panjang yang dipakai Karen. Meski begitu, bibirnya tak menganggur begitu saja, malah meraba masuk ke cekungan leher dan lekukan bahu mulus istrinya. Karen menahan tangan Darren yang tengah menarik tali kecil dress di kedua pundaknya. Ia menggeleng, tak mengizinkan suaminya membuka dress longgar sebatas lutut itu. Tidak melepas seluruh busana di badan adalah salah satu trik bercinta yang baru dipelajarinya. Secara psikologis, tetap menyisakan satu busana di tubuh entah itu hanya atasan, dapat membuat lelaki semakin penasaran dan bergairah.
Benar saja, tindakan Karen yang melarangnya menanggalkan dress, membuat Darren semakin buas. Kepalanya masuk ke dalam dress longgar tersebut.
Setiap sentuhan pria itu, mendatangkan senyar yang merambati seluruh pembuluh darahnya. Darren memang selalu hot. Spesialnya lagi, sisi buas pria yang berprofesi dosen itu hanya diketahui olehnya seorang.
"Kenapa?"
"Aman, gak, oral saat hamil?" tanya Karen cemas.
"Aman kok," balas Darren yang tampak tak sabaran.
Karen menekan tombol off pada saklar lampu saat pria itu berhasil masuk di antara pahanya. Sontak, ruangan pun kembali menggelap.
__ADS_1
"Kenapa dimatiin lampunya?" tanya Darren.
"Malu ...."
"Malu kenapa?"
Karen tak menjawab. Tangan Darren terulur ke atas, meraba-raba dinding untuk menemukan saklar. Ruangan kembali terang. Namun, baru saja kembali membungkuk, Karen malah kembali mematikan lampu.
"Aku belum waxing," ucap Karen malu-malu sambil menggigit ujung bibirnya. Kehamilan membuatnya tak terlalu memperhatikan penampilan tubuhnya, termasuk organ intim yang selalu menjadi kebanggaannya. Tentu hal itu membuatnya kurang percaya diri.
"Gak papa."
"Aku gak mau dilihatin kamu. Itunya udah lumayan lebat dan gak rapi."
Balasan Karen mengundang tawa ringan di bibir Darren. Pria itu mengelus poni Karen ke belakang, serta menjatuhkan kecupan ringan di kening.
"Kamu gak harus selalu tampil perfect untuk aku. Berhenti menerapkan beauty standar yang toxic tentang bagaimana seharusnya wanita itu terlihat," ucap Darren di tengah kegelapan yang menguasai mereka. Ia hanya tak ingin Karen terlalu memikirkan penampilannya. Apalagi, kehamilan akan membawa banyak perubahan di tubuh perempuan itu.
Darren menyalakan kembali lampu ruangan. Namun, Karen masih enggan membuka pahanya. Darren malah tersenyum tipis sembari menunduk untuk mengecup lembut setiap inci kulit paha. Pelan dan lembut. Tanpa disadari, Karen pun membuka diri secara sukarela.
Karen tergeletak pasrah di atas ranjang setelah Darren membawanya ke kamar mereka. Ekor matanya terkulai dan bibirnya sedikit membengkak akibat gigitan-gigitan kecil nan nakal yang dilakukan suaminya.
Darren membuka kaus di badannya lalu membuangnya ke lantai. Ia kembali mempertemukan bibir mereka. Lagi dan lagi. Karen mulai merayapi wajah suaminya. Ujung jarinya yang lentik mulai menyisir alis pria itu, seolah tengah menghitung setiap helaiannya. Lanjut menyentuh hidungnya yang bak perosotan, bibir penuh, dan dagunya yang terbelah kemudian beralih ke rahang yang tegas, lengan yang kekar, dada yang bidang, perut rata dengan sedikit tonjolan otot hingga menyentuh bagian terbawah. Ia meraih milik Darren yang telah membesar sehingga terasa tak cukup memegangnya hanya dengan satu tangan.
__ADS_1
Darren mulai menumpahkan diri ke dalam tubuhnya dengan sangat hati-hati. Mata Karen terpejam erat, membiarkan pria itu berdenyut dalam dirinya. Tubuhnya mendadak memproduksi hormon oksitosin yang menghadirkan rasa bahagia dalam dirinya. Mereka mulai menyatu dalam peluh. Melebur dalam kehangatan. Menikmati setiap ritme yang mereka bangun. Saling mendamba dan mengais kepuasan bersama.
Meski bukan hal yang utama, hubungan intim dalam pernikahan salah satu komponen penting yang selalu disepelekan orang-orang. Terkadang kita terlalu fokus pada raga pasangan, tapi lupa dengan kebutuhan jiwa mereka.