
"Jadi orangtua?" tanya Karen dengan memasang ekspresi tak percaya. Ia lalu menatap ke monitor dan mendengar penjelasan dokter.
"Karena usia kandungannya masih terbilang sangat muda, maka penting bagi Ibu untuk tetap rileks dan beristirahat yang cukup. Hindari faktor pemicu stress dan jalani pola hidup yang sehat." Dokter mulai meresepkan vitamin untuk Karen dan juga memberikan jadwal kontrol rutin.
Karen membalas genggaman hangat tangan Darren. Sebelah tangannya mulai meraba perut. Sungguh tak terbayangkan sama sekali, di dalam perutnya kini telah ada sebuah kehidupan. Setelah dulunya sempat berprinsip tak akan melahirkan anak. Setelah sebuah tumor sempat tumbuh dalam rahimnya dan setelah ia sempat pesimis untuk bisa hamil seperti wanita pada umumnya.
Sepulangnya dari klinik praktek dokter kandungan, mereka memutuskan langsung kembali ke kediaman Bratajaya. Ternyata, di ruang tamu mereka telah ditunggu Oma Belle layaknya seorang satpam rumah.
"Kalian dari mana aja? Tumben keluar gak bilang-bilang! Kita kan jadi nunggu kalian pas makan malam tadi," serang Oma.
"Maaf, Oma tadi kami ...."
Baru saja Darren hendak menjelaskan, Oma Belle kemudian menatap ke arah Karen, "Kamu Karen, katanya lagi gak enak badan. Kok malah keluyuran malam-malam? Mana pulang selarut ini!" ketusnya terlihat kesal.
"Aku dan mas Darren baru aja pulang dari ...."
"Di mana-mana kalo lagi sakit itu banyak istirahat di rumah bukan keluyuran malam-malam," potong Oma Belle lagi.
"Aku yang ajak Karen ke dokter untuk periksa," jelas Darren sambil merangkul istrinya.
Oma Belle tersentak seketika. "Terus gimana? Sakit apa emang?"
Darren dan Karen saling melirik dengan wajah berseri-seri.
"Oma, kita berdua punya kejutan untuk Oma." Karen lalu memberikan sebuah kertas kecil yang terlipat dua.
"Apa ini?" tanya Oma sambil membuka kertas yang ternyata merupakan hasil USG. Keningnya makin berkerut karena tak paham melihat gambar pemeriksaan tersebut.
"Itu hasil USG, Oma. Udah lima mingguan," jawab Karen dengan perasaan senang.
"Apanya yang lima mingguan. Ngomong yang jelas dong!" Oma Belle mendadak telat mikir alias tulalit.
"Janinnya. Janin yang dikandung Karen," balas Darren.
Mata Oma Belle melotot seketika. "A—apa? Ka–Karen hamil? Karen istri kamu, kan?" tanya Oma dengan ekspresi terperanjat sambil menunjuk ke arah Karen.
"Ya, iyalah Oma. Emang Karen siapa lagi."
__ADS_1
"Kenapa gak ngomong dari tadi? Berita sebahagia ini seharusnya kalian sampaikan begitu datang!" Setelah sempat mengomel tak jelas, kini Oma malah bersikap heboh layaknya anak kecil yang terpenuhi keinginannya.
"Gimana mau ngomong kalo dari tadi di-cut mulu sama Oma!" balas Darren.
"Terus dokter bilang apa? Calon cicit Oma sehat-sehat, kan? Yang mana dia kok gak kelihatan," ucap Oma sambil memerhatikan hasil USG.
"Iya kan usianya masih lima Minggu, baru kelihatan kantongnya doang. Makanya dokter bilang Karen harus jaga kondisi dan pola makan karena hamil muda itu masih rentan.
Oma Belle langsung menghampiri Karen, lalu memegang pergelangan tangannya. "Kamu mau apa, Nak? Mulai sekarang kalo ada yang kepengen kamu makan atau kamu idam-idamkan, ngomong aja sama kita-kita. Asal jangan yang mahal-mahal. Ingat, kita harus ngajarin anak untuk berhemat sejak dari dalam kandungan!"
"Makasih, Oma. Tapi ... untuk saat ini Karen gak lagi mau apa pun."
"Ya, udah, kalo gitu cepet istirahat sana! Jangan begadang! Kamu harus jaga janin dalam kandunganmu," cetus Oma. Ia lalu menoleh ke arah Darren, "Darren, jaga istri kamu baik-baik."
"Iya Oma."
Oma Belle bergegas masuk ke kamarnya, menghampiri kakek Aswono yang sibuk membaca tabloid.
"Mas, Mas, kita dapat rejeki besar. Tuhan mengabulkan doa-doaku!" teriak Oma Belle.
"Ada apa? Kok teriak-teriak gini!" tanya kakek kebingungan melihat mimik wajah Oma Belle yang begitu senang, tapi di sisi lain matanya malah memerah dan berkaca-kaca.
"Iya kenapa dengan Darren? Udah pulang belom? Kamu dari tadi cemasin mereka berdua."
Oma Belle malah duduk di sisi ranjang dengan kedua tangan yang memegang pergelangan suaminya. "Akhirnya keluarga kita punya penerus baru!"
Kening Kakek Aswono mengerut bingung.
"Karen hamil, Mas. Mereka baru saja pulang dari dokter. Kita udah mau punya cicit, Mas!" Kini Oma Belle menggoyang-goyang bahu suaminya.
Mata kakek Aswono membesar dua kali lipat mendengar kabar membahagiakan itu. Namun, dirinya masih berusaha bersikap tenang.
"Gitu aja kamu senangnya selangit! Kirain ada apa!" kata kakek sambil melepas kacamata dan beranjak dari ranjang.
"Loh, Mas kamu mau ke mana?"
"Ke kamar mandi!"
__ADS_1
"Kok kamu biasa aja denger cucu kita hamil?"
"Emangnya saya harus loncat-loncat sambil berteriak pake toa umumkan ke satu RT, gitu?"
"Ya, enggaklah! Tapi paling tidak muka kamu itu kelihatan seneng gak datar-datar gitu!" protes Oma Belle.
"Aku kan gak se-lebay kamu!" kata kakek sambil menggulung sarungnya sedikit naik ke atas mata kaki.
Begitu masuk ke kamar mandi, kakek Aswono menutup rapat pintu sambil mengambil napas sejenak. Ia menurunkan bokongnya dengan satu tangan yang mengepal ke depan layaknya Superman.
"Yuhuuui, aku sudah mau jadi kakek buyut! Bentar lagi dah mau punya cicit!"
Setelah bergaya ala Superman, kini ia membuka lilitan sarungnya kemudian berjoget-joget sambil memainkan dua sisi ujung sarung. Karena terlalu bersemangat, tulangnya tiba-tiba berbunyi 'krek'.
"Aduh, aduh, pinggulku sakit! Kayaknya mesti rutin minum jamu biar kuat gendong cicit nanti." ringisnya.
Di sisi lain, Oma Belle yang masih merasakan euforia dengan kehadiran penerus keluarga Bratajaya, saat ini tengah mengumpulkan seluruh ART di rumahnya.
"Kalian yang kerja di sini, saya kasih bonus gaji sampai Karen melahirkan bayinya dengan selamat."
Pernyataan Oma Belle langsung disambut suka cita para ART keluarga Bratajaya.
"Dengan catatan, kalian harus layani Karen sebaik mungkin. Cepat tanggap untuk semua kebutuhannya. Jangan lupa tiap hari bersihkan rumah, semprot semua perabotan yang akan bersentuhan dengannya pakai cairan antiseptik. Untuk yang ngurus bagian dapur, penuhi semua yang menjadi keinginannya, jangan sampai bayinya nanti ngeces. Hindari makanan yang bikin dia mual dan gak berselera. Kalo dia mual dan gak napsu makan, berat badannya bakal merosot dan bobot bayi dalam perutnya juga ikut mengecil. Untuk yang bertugas bagian membersihkan toilet utama maupun toilet umum, jangan lupa tiap pagi pastiin lantainya kering dan kesat bebas lumut biar gak bikin Karen tergelincir. Ngerti?"
"Ngerti, Bu," sahut para ART beramai-ramai."
Di kamar, Darren membaringkan Karen dengan penuh hati-hati. Dua orang itu juga tak lepas dari rasa syukur mereka atas pemberian Tuhan yang tak disangka-sangka.
"Udah boleh minum vitamin gak, sih?" tanya Karen yang tak sabaran. Meski ada banyak kekhawatiran yang melandanya saat ini, tapi ia pun tak sabar untuk memberi asupan untuk janinnya.
"Kalo kata dokter vitamin lebih tepat dikomsumsi setelah sarapan karena vitamin khusus ibu hamil bersifat kumulatif yang cocok diminum setelah makan. Makanya mulai sekarang kamu gak boleh lewatin sarapan, gak boleh telat makan, dan gak boleh sembarang makan."
Karen mengangguk patuh. Keduanya sama-sama tersenyum dengan mata yang terbingkai keharuan.
Darren memosisikan duduk di samping Karen yang berbaring. "Yang betah di dalam sana, ya! Kami akan mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang baik selagi kamu di sana. Tumbuh yang sehat, ya?" ucap Darren sambil mengelus perut istrinya.
.
__ADS_1
.
.