
Pagi telah menyambut semua orang yang bersiap-siap memulai aktivitas mereka. Di meja makan panjang kayu jati yang penuh ukiran ini, keluarga Bratajaya telah duduk melakukan sarapan bersama. Namun, kursi yang diduduki Darren dan Karen masih kosong hingga kini.
"Mana Darren sama Karen?" tanya Oma Belle pada ART.
"Belum keluar kamar, Bu. Kayaknya semalem mas Darren masak. Soalnya di rice cooker ada sisa bubur," ucap ART.
Chalvin yang duduk tenang sedari tadi, mendadak teringat hal yang seharusnya tak dilihatnya semalam. Bertepatan dengan itu, Karen dan Darren turun dari tangga menuju meja makan.
"Pagi semua," sapa Darren sambil menarik kursi yang akan diduduki istrinya.
"Karen, kamu udah baikan belum?" tanya Oma penuh rasa khawatir.
"Udah Oma," jawab Karen yang tampak bersiap-siap ke kampus.
Seperti yang dikatakan Darren semalam, hari ini Sheila akan pulang ke rumahnya setelah hampir dua bulan tinggal di kediaman Bratajaya.
"Kamu kalo di rumah sana gak ada kerjaan, mending datang ke sini aja," ucap Oma Belle pada Sheila.
"Ngapain emang, Oma?" tanya Sheila sambil mengambil menu yang tersaji di hadapannya.
"Ya, biar bisa bantu-bantu orang di rumah sini. Daripada bengong doang di sana. Main game mulu juga pasti bosan, kan?"
"Yaelah, kirain bakal diajak makan-makan, ternyata cuma disuruh ngebabu." Sheila memasang raut masam.
"Kamu itu Sheila ... masa gak bisa ngerti maksud tersirat Oma. Dia pengen kamu sering nengokin dia. Cuma gengsi ngomongnya," ucap kakek menyengir dengan lirikan mata yang menggoda ke arah Oma Belle. Ya, meskipun tak suka mengurusi orang dan tampak tak acuh dengan yang terjadi di rumah ini, bukan berarti lelaki tua itu tak bisa melihat istri dan cucu tirinya itu mulai akrab. Walau kadang-kadang seperti Tom dan Jerry.
"Siapa juga yang kepengen ditengokin. Toh di sini masih ada Darren, Karen sama Chalvin," elak Oma Belle.
"Oh, iya, by the way, aku pengen ngasih tahu ke kalian semua. Aku juga bakalan balik ke apartemen aku hari ini," cetus Chalvin tiba-tiba.
Oma Belle tentu saja terkejut. "Kamu mau pulang ke apartemen? Gak bisa! Kamu pasti mau bebas-bebasan bawa perempuan di sana, kan? Makanya kamu pengen pulang ke sana!" tuduh Oma.
Chalvin menghela napas sesaat. "Jangan sembarangan nuduh deh Oma! Kalo gitu ... sekalian aja Oma ikut pindah ke apartemen aku. Biar bisa kontrol aku dua puluh lima jam di sana." Tentu ia tak senang dengan tuduhan itu. Pasalnya, sudah cukup lama ia tidak melakukan ritual "kesenangan" batin dengan para FWB-nya.
"Udah-udah ...." Kakek melerai keduanya.
"Kasih tahu tuh cucu kamu yang satu itu, Mas!" Oma Belle memalingkan muka sambil menggerutu kesal.
Kakek Aswono lantas memandang Chalvin. "Chalvin, menurut kakek ... kamu emang mesti pindah dan pulang ke apartemen kamu."
Oma belle sontak menatap kakek dengan mata melotot tajam. "Ini lagi satu ... malah ngedukung mulu kerjanya!"
"Orang luar negeri, umur dua puluh satu tahun langsung dilepas orangtuanya, mereka merantau, survive sendiri, keliling dunia menambah pengalaman dan bekal hidup. Nah, orang kita, udah usia matang, punya anak pun masih nyaman di ketiak orangtua! Gimana bisa mandiri, semua keputusan atas hidupnya aja masih dikendalikan orangtua? Gak heran kalo sampai tua pun masih bergantung sama orang lain!"
__ADS_1
Sekalipun kakek Aswono telah memberi pengertian, tak lantas membuat Oma Belle sepaham. Kekesalannya bahkan berlanjutnya setelah sarapan selesai. Di dalam kamar, ia kembali bersungut-sungut atas keputusan Chalvin yang hendak pindah dari rumah itu.
"Sepertinya saya harus kembali mencarikan Chalvin jodoh yang tepat. Biar dia gak melajang terus!" pikir Oma sambil mondar mandir layaknya mandor.
Di sisi lain, Karen merasa keputusan Chalvin pindah mendadak disebabkan oleh dirinya. Sejak saat itu, hubungan antara mereka memang merenggang bahkan hampir tak bertegur sapa. Tak hanya itu, bahkan Chalvin selalu menolak berpapasan langsung dengannya. Ia pun mulai berpikir, Chalvin sengaja tak mendatangi acara pembukaan coffee shop Nadya karena keikutsertaan dirinya di sana.
****
Di kampus, Feril tengah menghadap pak Budi Luhur untuk mengurus pergantian dosen PA sebelum diajukan ke tata usaha.
"Kenapa kamu mau pindah dosen PA?" tanya pak Budi Luhur sambil menurunkan kacamatanya.
"Untuk meringankan beban Bapak. Saya pengertian, kan, Pak?"
"Pengertian matamu! Kamu itu seharusnya udah nyusun skripsi di tahun ini!"
"Skripsi itu bukan perlombaan, Pak!" kata Feril berlagak bijak.
"Memang bukan perlombaan. Tapi bukan sesuatu yang diulur-ulur juga. Punya cita-cita gak, sih, kamu ini?"
"Cita-cita saya gak muluk-muluk, sih, Pak. Cuma pengen jadi menantu dari orang kaya!" Feril mengusap-usap punggung lehernya sambil menyengir bodoh. Bahkan dosen killer sekelas pak Budi Luhur pun tak sanggup menghadapinya. Ya, hanya Feril yang berani menyela ucapan pak Budi.
Pak Budi Lantas mengacungkan jari telunjuk. "Ini, nih ... ciri-ciri laki-laki yang menjadikan istrinya sebagai tulang punggung keluarga, tapi kamu sendiri seperti tulang nyangkut di tenggorokan! Otak kamu itu kalo dijual di market place internasional, pasti ditawari dengan harga tertinggi!"
"Iya, saking jarangnya dipakai mikir dan gak terisi apa pun."
Sialan! Gua kira lagi muji gua!
"Punya otak jangan kayak segitiga Bermuda. Mau informasi apa pun yang masuk, ilang gitu aja!"
Feril hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil menginjak-injak kakinya secara bergantian. Bagaimana tidak, maksud hati ingin cepat-cepat berurusan dengan dekan ekonomi yang terkenal galak itu, yang ada ia malah mendapat ceramah panjang lebar.
Begitu keluar dari ruang dosen, Feril lantas mengejar Karen yang kebetulan lewat di depan gedung fakultas ekonomi bersama teman-temannya.
"Kar, lu ada mata kuliah ya siang ini?"
"Iya, Kak," jawab Karen sambil menahan napas karena bau rokok yang melekat kuat di tubuh pria itu.
"Yah, kirain free. Padahal mau ngajakin makan siang bareng."
"Duh, maaf nih, Kak." Karen buru-buru pergi dengan mengambil jurus kaki seribu.
"Kar, tunggu dulu! Kar, apa gua harus jadi kurir dulu biar selalu lo tunggu?"
__ADS_1
Feril yang hendak mengejarnya, lantas harus berhadapan dengan Vera yang langsung menghadang jalannya.
"Kalo lo mau dekati Karen, minimal mandi biar gak bikin dia mual!" cetus Vera yang kemudian segera menyusul Karen.
Dikatakan seperti itu, Feril lantas mengendus aroma badannya sendiri. "Eh, emang gua bau, ya?"
Si Gimbal lantas ikut mengendus aroma tubuh Feril. "Iya, sih!"
"Serius lo? Emang gua bau apaan, sih?"
"Bau aroma kemiskinan, Bro!"
"Kira-kira gua ini kurang apa sih? Kok dia sampai sekarang gak mau sama gua."
"Kurang garam sama micin kali."
"Lu kira gua cilok!"
"Lu BPJS, Ril. Budget Pas-pasan, Jarang Stylish!" timpal Jamet dengan kata-kata yang selalu menohok.
"Gak stylish aja banyak yang ngejar gua!"
"Makanya Ril, cari cewek yang biasa-biasa aja. Jangan yang spek tinggi kek doi. Tuh masih banyak adik junior yang tergila-gila sama elo, tapi lo stuck di Karen doang!" Jamet mulai bersabda layaknya orang bijak.
"Adik junior gak ada yang secantik dan sebohay Karen!" elak Feril sambil berkacak pinggang.
"Jangan mandang fisik, Bray!"
"Ya jelaslah mesti mandang fisik duluan, emang mau mandang rohnya?" ketus Feril.
"Maksud orang-orang tuh mandang hatinya, Cuy." Kawan lainnya ikut membenarkan.
"Lah, gimana caranya mandang hati? Hati itu ada di mana coba?"
"Deket jantung keknya!" jawab Gimbal.
"Kita lihat ke area dadanya yang ada kita digampar!" tandas Feril.
"Bukan gitu juga konsepnya, Malih! Udah, ah, keikut bego kita-kita ngomong sama lu!"
"Woi, perasaan bego gua menular dari kalian, deh!" teriak Feril kesal.
"Beda, Ril! begonya elu terlalu alami!" ketus kawan-kawannya sambil meninggalkannya.
__ADS_1