
Karena masih mendapat tatapan curiga dari keduanya, Marsha lantas kembali membela diri. "Gosipnya aja aku kurang tahu seperti apa?"
Vera dan Nadya saling memandang, lalu menyengir secara bersamaan. "Astaga, kok kita jadi nuduh Bu Marsha, sih? Kan Bu Marsha gak punya hubungan apa pun sama pak Darren selain rekan sesama dosen."
"Iya, ya? Kok kita jadi suudzon gini. Maaf banget, nih, Bu."
Nadya dan Vera kompak beranjak meninggalkan Marsha yang tengah bengong.
"Memangnya gosip seperti apa yang beredar?" gumam mantan kekasih Darren itu dengan penasaran.
Sebaliknya, Nadya dan Vera telah kembali akrab seolah lupa dengan pertengkaran mereka barusan. Keduanya sama-sama berpikir keras untuk mencari tahu siapa dalang penyebar gosip. Bertepatan dengan itu, Feril dan kawan-kawannya melintas tak jauh dari mereka hingga membuat Nadya dan Vera saling melirik.
"Lo punya pikiran yang sama kayak gue gak?" tanya Vera dengan bola mata yang mengikuti siluet Feril.
"Jangan-jangan ... ini ulahnya kak Feril!" balas Vera dengan membulat.
"Nah, bener! Dia kan ngejar-ngejar Karen selama ini!" timpal Nadya sambil mengacungkan jari telunjuk.
Keduanya pun langsung menghampiri Feril dan kawan-kawannya. Tanpa basa-basi, Vera dan Nadya langsung menyerang Feril dengan tuduhan tentang Karen.
"Ngaku aja, pasti kak Feril kan yang nyebar fitnah itu, kan?!" sergah Vera sambil berkacak pinggang.
"Iya, kak Feril pasti kesal kan karena ditolak mulu sama Karen!" sambung Nadya dengan alis yang terangkat.
Si rambut gimbal lantas pasang badan untuk Feril. "Eett ... apa-apaan nih ... datang-datang main suudzon aja lu pada. Mentang-mentang bertampang kriminal kek gini, terus kalian sangka dia yang ngelakuin itu!"
Feril membeliak kaget mendengar pembelaan temannya itu, bukannya senang ia malah tersinggung. "Apa lo bilang? Gua bertampang kriminal?"
Si gimbal menyengir lalu berkata. "Maksud gua tampang lu mirip bang napi, makanya mereka kira elu yang berbuat jahat ke Karen."
"Apa?! Gue mirip napi?" Feril semakin tak terima disamakan dengan napi.
"Perumpamaan, Ril! Perumpamaan!"
"Perumpamaan lu jelek banget, Ijuk! Tuh sumbu kain pel jangan ditaruh di kepala!" ketus Feril menunjuk rambut gimbal temannya.
"Sadis banget rambut gimbal gue lu samain dengan sumbu pel!"
"Perumpamaan!" tandas Feril. Ia lalu menoleh ke arah Vera dan Nadya. "Bukan gua yang nyebarin gosip itu! Gua aja penasaran cari pelakunya! Gosip itu juga dimuat di laman BEM, sedangkan gue bukan anak BEM mana mungkin punya akses buat masukin berita ke sana!"
"Bener juga, ya?" pikir Nadya dan Vera secara bersamaan.
__ADS_1
...----------------...
Di rumah, Karen memasukkan pizza yang dibeli Darren semalam ke dalam microwave untuk dipanaskan. Ternyata berdiam diri di rumah cukup menyenangkan baginya. Ia duduk selonjoran di kursi malas sambil membuka aplikasi go-food untuk memesan makan siang. Baru saja selesai memesan, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
"Cepat amat sampainya?" gumam Karen sambil beranjak.
Karen membuka pintu rumah dan terkejut melihat kehadiran Oma Belle. "Eh, Oma, apa kabar? Tumben main ke sini!"
"Tumben apa? Tiap hari Oma ke sini kalian gak ada! Kakek sengaja beliin kalian rumah yang gak jauh dari rumah kami biar Oma bisa sering mampir ke sini. Eh, gak tahunya kalian sering keluyuran," ketus Oma sambil berlenggang masuk ke rumah.
Karen menggaruk-garuk kepalanya sambil menyengir. "Terus, Oma tahu dari mana aku ada di rumah?"
"Darren nelepon Oma. Suruh temani kamu di sini, katanya biar gak kesepian."
Bibir Karen mengerucut seketika. "Ih, Darren nyebelin! Ngapain juga ditemani sama Oma! Yang ada rusuh!" gumamnya dalam hati.
"Coba kalau kalian punya anak, kamu gak bakal kesepian karena ada yang harus diurusin. Oma juga bisa bantuin ngurusin anak kalian! Padahal harapan oma nikahin kalian berdua, agar cepat nimang cicit." Oma Belle kembali mengungkit soal anak.
Karen yang dulunya anti membicarakan tentang anak, kini malah merangkul nenek dari suaminya itu sambil berkata, "Tenang aja Oma, aku dan Darren bakal program anak, kok!"
Mata Oma Belle sontak berbinar cerah. "Yang bener? Kalian ... benar-benar pengen program anak? Darren dan kamu pengen punya anak?" tanyanya sambil memegang tangan Karen dengan raut senang yang tak bisa disembunyikan.
Senyum yang mengembang sempurna di bibir Oma Belle ternyata tak bertahan lama dan langsung raib seketika, berganti dengan mata membeliak kaget. "Hah? Gak salah nungguin kamu selesai kuliah dan berkarir? Iya kalau umur Oma masih panjang, kalau keburu meninggal gimana?"
"Tenang aja, Oma. Entar Karen bakal doain Oma biar panjang umur dan sehat selalu."
"Anak itu rejeki. Nunda anak sama dengan nunda rejeki!"
Ih ... serba salah, deh! Gak mau punya anak salah, nunda anak juga salah. Jangan-jangan entar pas punya anak tambah salah!
...----------------...
Darren masuk ke ruang penelitian setelah selesai mengajar. Ia terduduk sembari mengingat kembali apa yang dikatakan para mahasiswa tentang istrinya. Ya, ini memang salahnya dari awal karena menyembunyikan status pernikahan mereka.
Baru saja mengambil ponsel untuk menghubungi istrinya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan penelitiannya. Darren menyimpan kembali ponselnya, lalu mempersilakan orang itu masuk.
Sesosok mahasiswa berkacamata datang menghampirinya. Ternyata, itu adalah mahasiswa bimbingannya yang tempo hari mengatakan ingin menyerah karena skripsinya dianggap sampah oleh dosen penguji.
"Maaf, Bapak punya waktu, enggak? Saya mau konsul."
"Ya, boleh aja." Darren mempersilakan mahasiswinya duduk. "Jadi, gimana setelah beberapa hari tenangkan diri? Gak jadi menyerah, kan?"
__ADS_1
Gadis berkacamata itu tersenyum cerah lalu berkata, "Iya, Pak. Saya mencoba ganti metode ke penelitian kualitatif."
Gadis itu menyerahkan draft skripsi miliknya untuk dikoreksi.
"Kita bertemu minggu depan di konsultasi berikutnya, ya!" ucap Darren setelah selesai mengoreksi dan memberi arahan.
"Gimana kalau saya ke rumah Bapak aja? Saya tahu rumah Bapak, kok."
Darren memicing seketika. "Tahu dari mana rumah saya?"
"Jangankan rumah, apa pun tentang Bapak saya tahu semua kok. Apa cuma Karen yang boleh mampir dan bermalam di rumah Bapak?"
Darren tersentak hingga bergeming selama beberapa detik.
"Saya tahu Bapak lagi jalin hubungan sama mahasiswa semester 3 yang bernama Karen. Bapak dan dia diam-diam sering ketemuan di perpustakaan, kan? Dia juga sering nemuin Bapak di ruangan ini, kan? Sejak Bapak jadi dosen pembimbing saya, saya selalu perhatiin Bapak diam-diam," lanjut gadis itu sambil tersenyum.
Darren langsung menatap lurus ke arah mahasiswa bimbingannya itu. "Apa kamu yang nyebarin gosip tentang Karen?"
Sudut bibir gadis itu tertarik ke samping. Ia memundurkan ingatannya tepat di hari dirinya terisak di ruangan itu dan mengeluhkan kritikan yang dilayangkan pak Budi Luhur pada skripsinya. Saat pandangannya ke bawah, ia tak sengaja melihat kaki seorang perempuan yang berbalut sepatu cantik nan mahal di kolong meja kerja Darren. Ya, sosok yang berada di kolong meja itu adalah Karen yang memang bersembunyi tepat saat ia masuk. Hal itu diketahuinya saat melihat Karen keluar dari ruang penelitian hanya berselang beberapa menit setelahnya.
Sebelumnya, ia pun teringat sering melihat Darren dan Karen berada di perpustakaan. Bahkan ia tak kalah syok ketika memantau Karen sering berada di rumah dosen pembimbingnya itu. Tak terima dosen pembimbingnya dimiliki juniornya, ia lalu mengambil nomor ponsel Karen yang tertulis di buku kunjungan perpustakaan, lalu mulai menyebar gosip dan melakukan teror.
Tak perlu menunggu jawaban dari gadis itu, Darren kembali bertanya, "Kenapa kamu ngelakuin itu sama Karen?"
"Karena saya suka sama Pak Profesor. Selama jadi pembimbing, Bapak selalu ngasih semangat, perhatian dan nasehat yang baik sehingga saya jadi lebih termotivasi. Jujur, enggak ada sebelumnya yang ngasih perhatian spesial seperti itu ke saya. Bahkan orangtua saya juga enggak peduli."
Ungkapan jujur mahasiswi bimbingannya itu, justru membuat Darren menjadi tak nyaman. "Saya kira kamu sedang salah paham. Saya memperlakukan semua mahasiswa bimbingan saya seperti itu, baik perempuan maupun laki-laki."
"Tapi kenapa Bapak malah punya hubungan sama junior aku?" ucapnya dengan mengubah gaya bicara yang formal menjadi tak formal, "ya, emang benar aku yang nyebarin gosip itu biar dia enggak masuk-masuk kampus lagi dan segera akhiri hubungannya dengan, Pak Prof."
"Yang kamu lakuin cuma sia-sia. Karena hubungan kami gak akan berakhir semudah itu. Saya tunggu klarifikasi dan permintaan maaf kamu buat Karen secara terbuka."
"Kenapa aku harus minta maaf? Justru aku pengen buat semua ini lebih heboh. Aku punya bukti kalau Karen sering bermalam di rumah Bapak. Aku juga punya bukti kalau kalian sering bermesraan di ruangan ini. Selama ini aku tahan cuma karena pertimbangkan nama baik Bapak aja."
"Silakan sebarkan bukti-bukti yang kamu miliki tentang hubungan yang saya jalani dengan Karen. Enggak ada masalah buat saya!" tandas Darren tanpa rasa khawatir, "Oh, iya, mulai sekarang kamu cukup konsul via e-mail. Kalau kamu enggak terima, bisa ajuin pergantian dosen pembimbing!" lanjut Darren sambil mengarahkan tangannya ke pintu, seolah meminta gadis berkacamata itu keluar dari ruangannya.
.
.
.
__ADS_1