DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 154 : Reaksi Oma Belle


__ADS_3

"Apa?! Kalian berdua mau minggat dari rumah ini?" Wajah kaget Oma Belle disertai suara dengan nada tinggi melengking sudah tak bisa dibendung.


"Iya, Oma. Aku rasa udah waktunya buat balik. Karen butuh konsentrasi untuk mengerjakan tugas kuliahnya nanti," balas Darren dengan tenang.


"Emangnya kalo di sini gak bisa konsentrasi, apa?" Oma Belle mulai menunjukkan cerminan kebanyakan orangtua yang kerap tidak menghormati keputusan anak yang telah berumah tangga. Jelas saja alasannya karena tak ingin kehilangan kontrol dari anak cucunya.


"Bukan gitu, Oma ...."


Oma Belle malah beralih ke Karen. "Karen, kamu gak suka, ya, tinggal di sini? Apa rumah ini kurang nyaman buat kalian?Sejak kamu di sini, apa pernah Oma nyuruh-nyuruh kerja ini itu? Enggak, kan! Gak kasihan apa sama Oma yang dah tua kayak gini tapi malah pisah dari cucu-cucunya?!"


Karen hanya bisa diam. Menghadapi Oma Belle, tentu tidak bisa konfrontatif. Posisinya sebagai cucu mantu membuatnya serba salah. Takutnya, Oma Belle mengira Darren kekeh pindah karena untuk memenuhi keinginannya. Padahal, rencana kepindahan mereka itu diusulkan suaminya sendiri.


"Oma, kita ini cuma pindah rumah, loh. Bukan pindah kota. Rumah kita, kan, tidak jauh dari rumah ini. Masih bisa datang ke sini tiap Minggu. Lagian, Oma gak mungkin kesepian, kan? Masih ada Chalvin dan Sheila juga," balas Darren lagi.


Oma Belle langsung menoleh ke arah Sheila yang juga menatapnya dengan bibir yang maju ke depan seperti mulut bebek.


"Kamu juga sekalian pindah alam, sana!" cetus Oma bernada sengit.


"Ih, Oma habis manis pahit dibuang. Gak ingat apa seminggu ini Sheila yang temani Oma ngelukis. Mana rewelnya ngalahin balita!" ketus Sheila dengan bibir yang mencebik ke bawah. Ya, akhir-akhir ini Sheila dan Oma Belle memang cukup dekat walau tak bisa dikatakan akrab. Namun, dibanding waktu itu, Oma Belle mulai menerima keberadaan cucu tirinya itu.


"Sssttt ... udah-udah!" Seperti biasa, Kakek Aswono berusaha menengahi perdebatan yang terjadi antara istri dan cucu-cucunya.


"Tuh, Mas, kasih tahu sama mereka! Udah baik-baik ngumpul semua di sini, biar rame ... eh mereka mau sok-sokan mandiri," Oma Belle mulai meminta pembelaan dari kakek.


"Daren, Karen, memang sudah seharusnya kalian balik ke rumah sendiri," kata kakek Aswono.


Mata Oma Belle terbelalak seketika. Alih-alih mendapat pembelaan dari suaminya, kakek Aswono malah mendukung keputusan Darren dan Karen.


"Loh, kamu ini gimana, sih, Mas?"


"Darren itu bukan seperti Chalvin. Dia udah nikah. Butuh privasi. Biarkan mereka hidup mandiri tanpa intervensi dari kita," bela kakek Aswono.

__ADS_1


"Gak kamu, gak anak kamu, gak cucu kamu ... semua ngeselin!" geram Oma Belle sambil melepas sendoknya, "tuh, kan, gak jadi napsu makan saya!" cerocosnya kesal.


"Gak napsu makan tapi makanan yang ada di piring udah habis lebih dulu," gumam Sheila dengan suara nyaris berbisik.


"Biasanya Oma nambah dua kali!" sambar Oma Belle yang ternyata mendengar gumaman Sheila.


"Kamu ini, Dek, dari tadi marah-marah mulu. Kita semua lagi makan, loh!" tegur kakek sambil bergeleng-geleng kepala.


"Gimana gak kesel, mereka mau ninggalin kita. Belum lagi tadi siang aja Chalvin ngasih tahu dah putus sama pacarnya. Mana kabar dia mau nikah udah santer di perusahaan! Teman-teman aku yang sebelumnya mau ngenalin anak mereka ke Chalvin juga dah pada tahu. Mau taruh di mana muka aku, Mas."


"Ya, taruh di situ aja. Emang bisa simpan di laci," cetus kakek santai, "makanya jangan ambil keputusan sepihak tanpa persetujuan dari anak."


Karen terperanjat mendengar kabar putusnya Chalvin dan Nadya. Meski dia tahu hubungan itu hanya pura-pura semata, tetapi dia juga tak menutup mata kalau sahabatnya itu benar-benar menyukai Chalvin.


"Jangan-jangan ... tadi siang itu, Nadya ...."


Karen malah menyangka sikap Nadya yang tampak berbeda tadi akibat Chalvin yang hendak mengakhiri status palsu mereka secara sepihak.


Di dalam kamar, Oma Belle masih menumpahkan kekesalannya pada kakek Aswono. Apalagi, kakek Aswono telah memberi izin Darren dan karen untuk kembali ke rumahnya.


"Kita tidak boleh menempatkan anak laki-laki yang sudah menikah ke dalam posisi yang serba salah, apalagi sampai harus membuat mereka memilih antara menunaikan bakti mereka ke orangtua atau memenuhi tanggung jawab mereka sebagai seorang suami. Jadilah orangtua yang mendukung anak lelakinya untuk mengutamakan keluarganya lebih dulu," ujar kakek sambil memperbaiki sarungnya yang hampir melorot.


"Emangnya saya suruh mereka cerai? Saya kan cuma kepengen mereka tinggal di sini. Susah seneng bareng kita."


Oma Belle duduk di tepi ranjang dengan wajah kusut. Ketika kakek duduk mendekat, perempuan tua itu lantas membelakanginya sambil melengos. Tak menyerah, kakek menempatkan kedua tangannya di bahu istrinya lalu memijat dengan lembut.


"Kamu ini kayak gak pernah muda aja. Mereka berdua itu baru hitungan bulan menikah. Yang awalnya tadi ogah-ogahan, sekarang lengket bukan main. Siapa tahu saja di sana mereka mau mencoba berbagai atraksi yang tidak bisa dilakukan di sini. Seperti main di sofa misalnya, atau main di dapur." Tawa gelitik menyembul dari mulut kakek Aswono.


Oma Belle yang masih membelakangi kakek Aswono, turut tergelitik. "Kayak kita masih muda dulu, ya, Mas."


"Nah, kan, kamu sendiri tahu gimana gejolak pasangan muda yang baru nikah."

__ADS_1


Sekeras apa pun sifat dan karakter Oma Belle, pasti akan melunak dan luluh jika bersama kakek Aswono. Ya, hanya kakek yang bisa menaklukkan kerasnya hati Oma Belle.


Sebaliknya, Karen malah menjadi gusar dan bimbang dengan keputusan mereka yang hendak hengkang dari rumah ini. Melihat respon Oma Belle tadi, membuatnya berpikir dua kali untuk balik ke rumah lama mereka.


"Kamu kenapa?" tanya Darren yang melihat istrinya tepekur di sisi ranjang.


"Ren, kita jangan dulu balik, gak, sih? Aku gak enakan sama Oma."


Darren tersenyum simpul kemudian berjongkok tepat di depan Karen. Sambil menggenggam tangan istrinya, dia berkata, "Kadang-kadang kita gak perlu terlalu gak enakan sama orang lain, kita gak perlu terlalu mikirin perasaan orang lain, kita gak perlu terlalu sering memaklumi sekitar. Kenapa? Biar diri kita gak selalu tertekan!"


"Iya, tapi kamu gak akan ngerti kalo gak berada di posisi aku. Gimana kalo Oma nyangka aku yang hasut kamu buat keluar dari rumah ini."


Darren menipiskan bibir sambil meminggirkan beberapa helai rambut Karen ke belakang telinganya. "Aku yakin Oma cuma kaget dengar keputusan kita. Biarin aja dulu sampai dia tenang. Entar kita ngomong lagi baik-baik sama oma."


"Aduh, kok hari ini runyam banget! Mana Chalvin mutusin Nadya. Pokoknya aku bakal bicara sama Chalvin. Enak aja dia giniin Nadya!" Karen malah kini membicarakan tentang Chalvin dan Nadya.


"Gak usah ikut campur di bagian yang seharusnya bukan jadi ranah kamu!"


"Nadya itu teman aku! Aku gak terima diginiin sama Chalvin! Jangan mentang-mentang Chalvin sepupu kamu, terus kamu bela dia. Itu namanya gak fair."


"Kamu sendiri belain Nadya karena teman, kan? Kamu belum tahu, kan, alasan hubungan mereka berhenti? Gak fair juga kalo kamu langsung salahkan Chalvin."


"Terus ... mau salahin Nadya, gitu?"


"Ya, enggak. Makanya tadi aku bilang gak usah ikut campur karena kita gak tahu kejadian sebenarnya." Darren menghela napas sejenak. "Ini yang jadi cucunya Oma aku siapa, sih? Kok jadi dia yg nurunin sifat gak mau kalah dari Oma!" gerutu pria itu.


"Chalvin aja udah bilang gak mau nikah. Terus kamu lihat sendiri kan tadi siang Nadya itu berbeda banget!" tandas Karen kembali.


"Udah, ya, udah ... aku gak mau berdebat! Entar malah kita yang bertengkar gara-gara masalah orang!" Darren langsung menyudahi obrolan mereka dengan masuk ke kamar mandi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2