DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 69 : Pesan Ancaman


__ADS_3

Dari kelas, kini Karen beranjak ke perpustakaan. Perempuan itu membaca buku-buku yang telah direkomendasikan suaminya sambil menunggu mata kuliah berikutnya. Pojok favoritnya bersama Darren menjadi tempat teraman baginya saat ini. Di mana ia tak perlu mendengar omongan negatif dan juga tatapan sinis yang terarah padanya.


Tiba-tiba beberapa mahasiswa mendekat ke deretan mejanya dan duduk di barisan yang berhadapan dengannya. Ternyata, mereka adalah mahasiswa bimbingan Darren yang baru saja selesai konsultasi di ruang dosen tadi. Kehadiran mereka membuat pojok ruang yang jarang ditempati pengunjung itu menjadi berisik seketika.


"Untung banget pak Darren yang jadi dosen pembimbing kita. Gak terlalu susah ditemuiin, terus gak perlu formal banget kalau lagi berhadapan," sahut satu di antara mahasiswa tersebut.


Mendengar nama Darren disebut, Karen yang tadinya merasa terganggu, kini malah sengaja menguping obrolan mereka.


"Eh, eh, tapi gue setuju loh sama yang dibilang Mr. Ribet tadi. Pak Darren cocok banget sama dosen baru. Siapa namanya, sih?" celetuk mahasiswa yang duduk di tempat yang biasa diduduki Darren.


"Bu Marsha. Dia lulusan LN juga, kan? Terus mereka kayak dekat banget, enggak, sih?" sambung temannya yang lain.


Mendengar mahasiswa itu menjodoh-jodohkan Darren dengan Marsha, sontak membuat telinga Karen memanas. Tangannya dengan cepat membuka lembaran demi lembaran buku tanpa ada yang dibaca.


"Kalau gue lihat, sih, Bu Marsha yang caper gitu. Pak Darren sih biasa aja!" imbuh teman sebelahnya.


Sunggingan tipis kini terbit di bibir Karen mendengar tanggapan berbeda yang baru saja terlontar. Ia pun meyakini suaminya sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Marsha dan kalaupun dekat hanya sebatas pekerjaan.


Salah satu dari mereka lantas mengubah topik obrolan. "Eh, eh, kalian udah dengar gosip tentang nih cewek enggak?" tanyanya sambil menunjukkan akun Instagram dengan satu juta pengikut.


"Ini anak semester tiga, kan?" tebak yang lainnya.


Jantung Karen mendadak terpukul. Entah kenapa, ia berfirasat kalau yang tengah mereka bicarakan itu adalah dirinya.


"Iya. Ada yang spill kalau dia tuh baby sugar-nya salah satu dosen kita. Terus, katanya mereka tuh sampai punya rumah buat dipakai ketemuan gitu."


"Hah? Dosen siapa, sih? Mr. Ribet? Pak Danu? Pak Gitit? Pak Ahmad?" tebak mereka lagi dengan menyebut semua dosen pria di fakultas ekonomi, kecuali nama Darren.


Sialan! Kenapa mereka malah nuduh aku jadi simpanan dosen tua! Emang aku pelakor apa?


Karen akhirnya mutuskan keluar dari perpustakaan meski harus berjalan mengendap-endap seperti maling. Baru saja merasa lega, ponselnya tiba-tiba membunyikan pemberitahuan pesan masuk dari nomor asing yang tak dikenalinya.


"Lo bakal lebih malu dari ini. Siap-siap aja!" Begitulah isi pesan yang baru dibacanya.


Bola mata Karen melebar seketika. Kepalanya memutar kiri dan kanan secara refleks. Ia merasa pergerakannya seperti ada yang mengawasi. Ini aneh! Apa motif orang ini? Kenapa terus menjelek-jelekkan dirinya? Padahal ia tak pernah bermusuhan pada siapapun.

__ADS_1


Karen mencoba mengabaikan pesan bernada ancaman itu dan berusaha tetap semangat seperti biasa.


...----------------...


Putaran waktu begitu cepat hingga tak terasa malam pun telah tiba. Karen tidur bermalas-malasan di sofa sambil melihat video-video lucu yang berseliweran di FYP instagramnya. Berharap hatinya yang gelisah mendapat sedikit hiburan. Sayangnya, bukannya terhibur, ia malah semakin suntuk.


Menengok jam dinding, tak terasa ia telah menghabiskan satu jam dengan kegiatan yang tak berfaedah itu. Hingga kini, Darren belum pulang kerja. Karena kesepian, ia pun mengirim pesan ke suaminya.


Karen: kamu masih sibuk, ya?


Tak sampai semenit, Darren langsung mengirimkan balasan.


Darren: nih lagi di jalan menuju rumah. Mau dibeliin apa, nih?


Karen yang tadinya tak bersemangat, langsung terduduk tegap begitu membaca balasan Darren. Ia buru-buru mengetik balasan.


"Aku pengen dibeliin pizza ...." Jari tangan Karen terhenti sesaat, kemudian dia menghapus kembali ketikan tersebut. Pikirnya, kalau menyuruh Darren membelikan sesuatu, hanya akan membuat pria itu pulang lebih lama. Sementara ia sudah sangat merindukan suaminya.


Karen: aku udah makan kok. Gak usah beliin apa-apa. Cepat pulang aja aku dah senang.


Membaca balasan chat tersebut, Karen lantas berjalan menuju ruang tamu. Begitu pintu rumah terbuka, ia terkesiap mendapati Darren telah berdiri di depannya sambil menunjukkan sekotak pizza yang dibawanya.


"Kok kamu tahu aku pengen makan pizza?"


"Kan semalam kamu bilang pengen makan pizza!"


Darren meletakkan pizza itu di atas meja makan, lalu membuka kameja yang dipakainya. Tepat saat kameja itu terlepas dari tubuhnya, Karen langsung memeluk dari belakang.


"Kenapa gak cepat makan pizza-nya? Entar dingin lagi!"


Karen malah makin mempererat pelukan. Tingkah manjanya yang menempel bagai cicak di punggung pria itu, membuat Darren kesulitan berjalan.


"Sayang, aku pengen istirahat sebentar aja. Capek banget, nih," pinta Darren ketika mereka telah masuk ke kamar.


"Sibuk banget, ya?"

__ADS_1


"Iya. Mau usahain publikasi penelitian Minggu ini," balas Darren dengan wajah yang telah menempel di bantal, "kamu sendiri gimana? Ada kesulitan gak di kampus?" tanyanya balik.


"Gak ada. Semuanya baik-baik aja," jawab Karen. Ia memahami kesibukan Darren. Oleh karena itu, ia tak ingin menambah beban dengan turut membagi masalah dan teror yang tengah dihadapinya.


Karen melepaskan sepasang tangannya yang melingkar penuh di pinggang Darren. Pria itu langsung berbalik untuk mengecup singkat kening istrinya, kemudian merebahkan tubuhnya ke ranjang dalam posisi telungkup disertai suara lenguhan kelelahan.


Karen melepaskan kaus kaki yang masih terpasang di kaki suaminya, kemudian ikut naik ke atas ranjang. Ia menduduki bokong suaminya, lalu mulai melakukan pijatan kecil.


Tindakan tak biasa ini tentu membuat Darren terhenyak sekaligus heran. Ia menengok ke belakang seraya mengambil tangan mungil itu dari punggungnya.


"Gak usah! Bobo di sampingku aja."


"Sekali-kali pijatin suami gak papa, kan?"


"Kamu pengen sesuatu? Bilang aja!"


Karren menggeleng. "Cuma mau mijitin kamu kok."


Dibanding meminta sesuatu seperti dugaan pria itu, ia hanya sedang mencari ketenangan dan kenyamanan. Di mana itu hanya bisa ia rasakan saat sedang bersama Darren.


Secara tak terduga, Darren berbalik cepat sehingga membuat posisi tubuh Karen berada di atas perutnya yang rata.


"Mau mijitin atau mau godain?" terka pria itu diiringi tatapan menawan yang mematikan.


"Emang kalau digodain ngefek, gitu? Lagi capek juga, kan?" balas Karen memberengut.


Karen semakin tersentak karena Darren membuat gerakan bangun spontan sehingga kembali mengubah posisinya menjadi duduk di pangkuan pria itu.


"Tenaga aku buat kamu selalu ada kok," ucap Darren sambil menyelipkan rambut Karen ke belakang telinga, "jadi, mau mulai godain aku dari mana, nih?" tanyanya sambil tersenyum miring.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2