DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 65 : Gosip di Kampus


__ADS_3

Perawat itu lantas menoleh ke arah Chalvin dan berkata, "Silakan melakukan registrasi terlebih dahulu, ya!'


Chalvin menarik lengan Karen ke sisinya seraya berkata dengan suara tertahan, "Maksud lo apa bilang gua suaminya?"


"Anggap aja kita impas," ucap Karen menyengir dengan tangan yang menunjukkan dua jari yang membentuk huruf V.


"Terus yang hamili dia mana? Dia tuh punya pasangan enggak, sih?" bisik Chalvin.


"Cowok yang menghamili Nadya tuh brengsek dan mereka dah putus. Terus aku gak mungkin hubungi keluarganya ngasih tahu kalau dia keguguran. Aku tahu keluarga Nadya kayak gimana."


"Ya, terus hubungannya sama gua apa?"


Chalvin menghela napas sambil mengusap tengkuk lehernya. Baru saja beranjak menuju tempat pendaftaran, ia malah melihat Darren berlari tergesa-gesa ke arah mereka kemudian menghampiri Karen yang berada di sampingnya.


"Kamu kenapa?" tanya Darren dengan raut panik sambil menangkup wajah Karen.


"Aku gak papa, kok."


Karen teringat saat menuju Rumah Sakit, Darren sempat menelepon untuk menawarkan jemputan. Namun, dirinya malah mengatakan sedang menuju Rumah Sakit tanpa menjelaskan apa pun lagi pada suaminya itu.


Terkejut mendengar itu, Darren lantas menelepon Chalvin untuk mencari tahu. Sayangnya, Chalvin yang juga sibuk membantu Nadya menaiki brankar pasien, hanya mengatakan alamat Rumah Sakit mereka sekarang. Jawaban tak lengkap dari mereka, membuat Darren menyangka sesuatu telah terjadi pada istrinya.


"Beneran gak papa?" Darren melihat dari atas ke bawah seakan hendak memastikan bahwa istrinya memang baik-baik saja.


"Iya. Aku cuma nganterin Nadya." Karen tertawa kecil seraya menyentuh sisi wajah Darren yang basah karena keringat.


Darren mengambil tangan Karen lalu mengecup punggung tangan mungil itu. "Syukurlah kamu gak kenapa-kenapa!"


Chalvin memerhatikan kehangatan pasangan itu. Namun, saat keduanya menoleh ke arahnya, ia segera mengalihkan pandangan seraya berkata, "Wah, gak ada akhlak, nih! Mesra-mesraan di depan orang jomlo!"


"Kamu sih bilangnya temani Karen ke Rumah Sakit."


"Ya, gak salah kan aku ngomong gitu. Emang benar, kok. Lu aja yang berlebihan nangkapnya," ketus Chalvin lalu pergi.


Karen menghampiri Nadya yang terbaring lemah. Melihatnya, Nadya malah membuang muka sambil menahan tangis. Sama seperti Karen dan Chalvin, Nadya pun terperanjat mengetahui kehamilan sekaligus keguguran yang dialaminya.


"Aku malu banget sama kalian," ucap Nadya sambil menggigit bibirnya.


"Apaan, sih! Kayak orang lain aja." Karen berusaha merespon santai.


"Aku benar-benar enggak tahu kalau lagi hamil. Tiga hari lalu, Vera ngajakin aku nge-gym bareng, terus tadi aku malah keenakan minum wine. Aku benar-benar bodoh!"


"Itu bukan salah kamu, Nad. Janinnya gak bisa bertahan mungkin karena belum takdirnya untuk dilahirkan. Berhenti nyalahin diri sendiri!" Karen memeluk Nadya yang tengah terisak.


"Tapi aku dah rusak banget. Apa masih ada cowok yang mau sama aku?" Nadya semakin terisak di pundak Karen.


"Pasti ada kok. Yang harus kamu ingat, kita itu perempuan, bukan barang," tegas Karen.

__ADS_1


"Hidup aku berantakan banget, Kar. Aku udah ngasih virgin aku sama cowok brengsek. Aku bilang sama kamu aku yang putusin dia, yang sebenarnya itu dia yang selingkuh dan tinggalin aku. Kalau papa sama Mama aku tahu aku hamil dan keguguran, bakal habis aku, Kar! Mereka tahunya aku kuliah baik-baik di sini." Nadya terus menyesali semua yang telah terjadi.


Karen mengusap-usap punggung Nadya. Kali ini dia memilih diam dan mendengarkan semua yang diungkapkan Nadya. Sebab, ia sangat mengerti yang dibutuhkan Nadya saat ini bukanlah nasihat bijak, penghakiman atas kekhilafannya, atau pun sekadar ucapan "sabar, ya." Akan tetapi, seseorang yang mau mendengar dan menampung keluh kesahnya.


Nadya terentak tiba-tiba ketika arah pandangnya sejajar dengan pintu. Pasalnya, ia baru menyadari jika Darren dan Chalvin ada di sana. Ia lantas mendorong tubuh Karen dengan cepat.


"Pak Darren dan kak Chalvin tahu aku keguguran?"


Karen mengangguk kecil dengan bibir yang terkatup rapat.


"Aku pasti udah dicap buruk sama mereka!" Nadya semakin menunjukkan sisi terpuruknya.


"Kenapa harus pusingin penilaian orang, sih!"


Nadya kembali berbaring dan langsung membelakangi Karen. "Kamu pulang aja, Kar. Kak Chalvin juga suruh pulang aja. Maaf udah repotin kalian."


"Loh, kok ...."


"Please, Kar ...."


Karen menatap punggung Nadya dengan sendu. Kakinya terasa berat melangkah meninggalkan sahabatnya itu. Ia menghampiri Darren dan Chalvin yang sedang mengobrol ringan.


"Nadya suruh aku pulang," ucap Karen lemah.


"Ya, biarin aja dulu dia istirahat. Besok kamu ke sini lagi," balas Darren.


Darren langsung merangkul Karen dan mengajaknya pulang. Chalvin mencoba mengintip ke dalam ruangan, sebelum akhirnya ikut menyusul Darren dan Karen.


Karen berdiri di luar gedung sambil menunggu Darren yang mengambil mobilnya.


"Untung aja bukan kamu yang keguguran. Gua bisa bayangin gimana tampangnya Darren," ucap Chalvin yang mendadak berada di samping Karen.


"Aku sama Darren nunda punya anak."


"Oh, ya? Emang kakek sama Oma setuju kalian nunda punya anak? Mereka dah pingin punya cicit, loh. Mereka nikahin Darren kan salah satu tujuannya biar kalian bisa lahirkan generasi penerus ayah Darren. Apalagi Darren tuh suka sama anak kecil."


Karen terkejut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Chalvin. "Hah? Darren suka anak kecil?" gumamnya dalam hati.


"Ah, aku lupa. Kamu kan masih mahasiswa, ya? Emang cocok sih kalau nunda punya anak dulu," lanjut Chalvin sambil berlalu.


Selama perjalanan pulang, Karen masih mengkhawatirkan Nadya. Bersandar manja di lengan Darren seperti biasa, ia tiba-tiba teringat dengan perkataan Chalvin beberapa saat yang lalu.


"Darren," panggilnya lemah.


"Hum ...."


"Kalau seandainya tadi aku yang keguguran gimana?"

__ADS_1


"Ya, sedihlah!"


"Sedih kenapa?"


"Gak ada calon orangtua yang gak sedih kehilangan calon buah hati mereka. Kecuali yang dari awal gak niat punya anak."


...----------------...


Waktu berganti begitu cepat hingga tak terasa pagi telah menyapa dan memaksa orang-orang melakukan rutinitas. Karen memasuki kelas bersiap untuk menerima mata kuliah yang akan dibawakan Darren. Ia menatap layar ponselnya sesaat, mengecek pesan yang baru saja ia kirimkan pada Nadya. Pesan itu dibaca tapi tak dibalas.


"Ren, Nadya mana, ya? Tumben belom datang!" tanya Vera yang mengambil posisi duduk di samping Karen.


"Ah, aku juga gak tahu, nih!" jawab Karen yang sengaja menyembunyikan kejadian semalam dari Vera.


Tak lama kemudian, Darren masuk kelas dengan pesona yang memikat para mahasiswi.


"Ra, tumben lu gak foto pak Darren diam-diam seperti biasa?" tanya teman Vera yang duduk di sebelahnya.


Vera menoleh sesaat ke arah Karen, lalu berkata, "Gue udah berhenti idolain pak Darren. Gue sadar kalau dia gak bisa dimiliki. Ya, gak, Ren?" Vera menyenggol lengan Karen seraya mengangkat kening.


Materi telah berlangsung selama sejam. Anehnya, mahasiswa tetap antusias mendengar pemaparan dari dosen yang wajah dan penampilannya memanjakan mata mereka.


"Setiap pergantian tahun, akan melahirkan teknologi baru. Akan ada masanya tenaga manusia tidak terpakai lagi karena telah diganti oleh tenaga mesin. Bagi perusahaan, tenaga mesin lebih efisien dari tenaga manusia. Mesin lebih cekatan, tidak membuang banyak waktu dan tidak perlu dibayar. Tapi, ada satu hal yang tak dimiliki mesin dan menjadi keunggulan manusia."


Semua terdiam seakan menanti kalimat berjeda yang dilontarkan Darren.


Jari telunjuk Darren bergerak perlahan, menunjuk kepalanya sendiri. "Otak. Ya, hal yang tidak bisa mesin tandingi dari manusia adalah otak. Di mana dalam otak itu terdapat kreatifitas dan imajinasi. Maka mulai sekarang, persiapkan diri kalian untuk bertanding dengan mesin. Gunakan kreatifitas dan imajinasi kalian dalam bekerja. Sebab, jika mesin rusak, dia tak dapat memperbaiki dirinya sendiri. Sebaliknya, manusia masih bisa mengandalkan akal jika terjadi sebuah permasalahan atau kesalahan dalam bekerja."


Setelah mata kuliah yang diisi Darren berakhir, Karen mengemas cepat barang-barangnya. Ia berencana menjenguk Nadya. Vera yang lebih dulu keluar kelas, tiba-tiba masuk kembali dengan wajah panik.


"Ren, lo dah lihat papan pengumuman, belom?"


"Emang ada apa?" tanya Karen tenang.


"Ada foto lo dipampang besar-besar!"


Karen melebarkan mata. Ia dan Vera segera berlari menuju papan pengumuman yang berada tepat di depan gedung fakultas. Matanya semakin membeliak saat melihat fotonya terpampang lengkap dengan sebuah tulisan.


"Karen Aurellia simpanan salah satu dosen ekonomi."


.


.


.


Kalau ada kalimat rancu, tipo, kata berulang, spill aja, ya. Entar aku revisi. Soalnya aku baru pulang dari luar kota, nulisnya mode ngantuk. jangan lupa like dan komen

__ADS_1


__ADS_2