
Membalas perkataan Darren, Karen pun mengencangkan pelukan seraya berkata, "Aku ... cuma takut kamu ninggalin aku atau selingkuhin aku suatu saat."
"Ya, enggaklah! Aku gak punya bakat mendua. Bakatku cuma bisa cinta sama satu wanita aja."
"Gombal, ya?" Karen menyeringai, tapi sebenarnya menyukai kata-kata itu.
"Emang aku kelihatan bad egg gitu?"
(Bad egg: orang yang gak bisa dipercaya. Ini frasa ya, jangan diartikan per kata)
Karen terdiam dengan wajah yang mendadak sendu.
Tapi, kalau diagnosis dokter benar ... apa kamu tetap berkata kayak gitu?
"Darren, aku tadi ...."
"Ssttt ...." Darren meletakkan jari telunjuknya di bibir Karen, "jangan merusak momen dengan pikiran yang enggak-enggak!"
Karen terhenyak ketika Darren membuat gerakan spontan dengan langsung mengangkat tubuhnya untuk didudukkan di atas meja wastafel. Pria itu mengambil sabun cair, kemudian mulai membaluri tubuhnya dengan busa beraroma bunga.
Seperti yang sudah mereka rencanakan, malam ini sepasang suami istri itu memutuskan makan malam di luar. Keduanya kini berada di area street food untuk mencari makan malam dengan nuansa yang berbeda dari biasanya. Sambil bergandengan tangan, mereka melirik ke kiri dan kanan untuk melihat-lihat menu-menu yang ditawarkan sepanjang stand.
"Kamu mau makan apa?"
"Terserah kamu aja!" jawab Karen yang tengah sibuk merekam sekeliling untuk unggahan instastory-nya.
"Kalau aku bilang minum air putih doank, mau?" ketus Darren.
"Ih, jauh-jauh ke sini kok gak makan!" gerutu Karen.
"Makanya jangan bilang terserah! Putusin aja kita mau makan apa, soalnya dah tiga kali mutar nih tempat tapi kamu cuma sibuk main hp. Kalau kita makan di tempat biasa, pasti dari tadi dah selesai makan, nih," protes Darren yang sebenarnya mulai lapar.
"Ih, bawel banget! aku juga bingung, soalnya makanan di sini tuh banyak yang direview para vlogger food," Otak Karen yang minimalis, tiba-tiba menyembulkan ide. "Gimana kalau kita nge-date challenge?"
"Kayak gimana?"
"Jadi kita berdua suten, yang kalah harus ikuti kemauan yang menang. Entah ikutin ke tempat favoritnya, makan makanan favoritnya atau ikut main ke tempat favoritnya. Gimana?" jelas Karen penuh semangat.
"Oke, deal." Darren menyetujui usul istrinya.
__ADS_1
Mereka lalu melakukan suten jari untuk menentukan pemenang. Tantangan pertama dimenangkan oleh Karen yang berarti Darren harus mengikutinya.
"Aku pengen makan ayam penyet sambal ijo!" Karen menunjuk stand booth yang ramai dengan antrian.
Darren mengangguk, menyetujui tantangan istrinya. Meski baru pertama kali menyantap makanan yang tengah menjadi primadona di kalangan anak kuliner. Tiga puluh menit kemudian, mereka keluar dari kedai itu dengan keringat yang bercucuran, mata yang memerah dan bibir yang mendadak seksi seperti habis disengat tawon. Tampaknya, soal makanan pedas, Karen lebih tahan dibanding Darren. Terbukti, pria itu terus mengipas-ngipas mulutnya yang seperti hendak terbakar.
"Susu! Kita beli susu sekarang! Susu mengandung protein kasein yang bisa netralin rasa pedas dari cabe," jelas pria itu terbata-bata dengan mata berkeliling mencari penjual minuman.
"That's so lame!" ejek Karen sembari menahan tawa melihat bibir Darren yang termegap-megap bagai mulut ikan fugu.
(That's so lame\= payah banget)
Saat mata pria itu menemukan minuman susu yang dicarinya, Karen malah mencegat langkahnya.
"Eittss ... nge-date challenge dulu, dong! Kalau kamu menang, kamu boleh beli susu, kalau kalah kamu harus beli apa yang aku mau," ucap Karen sambil cekikikan.
"Ya, udah." Darren yang pasrah, langsung mengayunkan tangannya. Sayangnya, dia harus menerima kekalahan lagi.
"Batu lawan kertas. Yes, aku menang!" seru Karen.
Darren berkacak sebelah pinggang seraya menunjukkan wajah masam. "Kamu mau apa lagi?"
Kali ini mereka mencoba kaloci yaitu camilan khas Pontianak yang dibaluri dengan cincangan kacang tanah sangrai dan gula pasir. Karen menyuapi Darren dengan kaloci yang telah ditusuk menggunakan lidi.
"Hhmm ... enak! Kayak mochi, tapi ini rasanya gurih dan manis," ucap Darren sambil menggoyangkan lidahnya.
Selain menyantap kaloci, mereka juga mencoba jajanan Pontianak lainnya seperti kwe chai, mie tiaw, hingga pisang gorengnya yang terkenal renyah. Karen terus mengabadikan momen santap kuliner itu di Instagramnya, meski hanya menampakkan bagian tangan dan punggung suaminya. Pasangan beda umur itu terlihat romantis saat saling menyuapi makanan.
Tantangan ketiga, kembali dimenangkan Karen. Kali ini, Karen tidak lagi menantang Darren untuk mencoba makanan. Melainkan mengajaknya bermain komidi putar yang berada di ujung area stand booth.
Karen bergegas menunggangi salah satu kuda di Komidi putar. Baru saja hendak naik, ia menyadari suaminya tak berada di sampingnya. Menengok ke kiri dan kanan dengan mata yang berkeliling, ia mendapati Darren tengah memanjat pohon rindang yang dililit lampu warna-warni. Rupanya, ia mengambil balon gas yang lepas dan tersangkut di dahan pohon. Di bawahnya, ada anak kecil yang sedang menantinya dan tersenyum riang saat balon itu berhasil diambil.
Darren mengikat ujung tali balon dengan batu kecil sebelum menyerahkannya pada bocah lelaki.
"Ini balon kamu."
"Makasih, Om."
"Tosh dulu, dong!" Darren memberikan lima jarinya pada anak kecil itu dan langsung disambut dengan tepukan riang. Ia berjongkok sembari menepuk lembut kepala bocah itu.
__ADS_1
Berdiri di belakang Darren, Karen tersenyum lemah saat ingatannya mengilas balik perkataan Chalvin kalau sebenarnya Darren sangat akrab dengan anak kecil. Itu juga yang menjadi alasan pria itu sangat memanjakannya.
Darren berbalik, kemudian terkejut melihat istrinya mematung. "Katanya mau naik komidi putar?" Dagu pria itu bergidik ke samping.
"Aku tunggu kamu."
Darren berjalan ke arahnya dan langsung menggenggam hangat tangan putih mulus itu. Keduanya pun menaiki kuda yang saling berdampingan sambil mengabadikan foto bersama.
Saat kuda Darren bergerak maju mendahuluinya, Karen menatap punggung suaminya dengan sendu.
Mulai detik ini, aku akan membuat waktu kita seakan melambat.
Puas bermain komidi putar, Mereka kembali mengadu jari untuk tantangan berikutnya. Kali ini, keberuntungan berada pada Darren.
"Oke, karena kamu yang menang, kamu bebas request apa aja!"
"Bener, nih, bebas request?" tanya Darren.
Karen mengangguk-angguk cepat.
"Kalau gitu ... aku mau pulang!"
"Hah?" Karen terkesiap. "Masa mau pulang, sih!"
Darren memperlihatkan arloji di tangannya yang menunjukkan jarum pendek di angka sebelas. "Udah malam! Besok mau ngampus, kan?" tegasnya.
Wajah Karen membeku seketika. Pasalnya, ia langsung teringat saran dokter yang memintanya melakukan sejumlah tes untuk meneliti lebih lanjut.
Di sisi lain, mami Vallen yang baru tiba di Paris, terkejut kala melihat lima panggilan tak terjawab dari Karen pagi tadi saat berada di Rumah Sakit. Merasa tak biasa anaknya menelepon secara beruntun, ia pun menelepon balik. Sialnya, kini gantian teleponnya yang tak kunjung dijawab.
"Kenapa Karen nelepon, ya?" pikir mami Vallen. Detik berikutnya, matanya malah membuntang saat pikiran negatif menggerogotinya. "Jangan-jangan ... dia bertengkar sama Darren, terus diusir dari rumah!"
.
.
.
sorry banget lambat update, gua drop semalam 🙏
__ADS_1