
Kutipan dari orang yang tak bijak mengatakan, "Seberat apa pun masalahmu, bukan masalah kami. Meski begitu, tetaplah hidup walau tak berguna". Terdengar ironis sebenarnya. Namun, kalimat ini cocok untuk orang-orang yang sama sekali tak mengerti makna kehidupan. Bahwasanya, jangan berputus asa meski hidup belum memberi manfaat bagi banyak orang. Jangan memaksa diri untuk melakukan hal yang melampaui kemampuan.
Mungkin, kutipan itu cocok untuk Feril dan kawan-kawannya. Mereka tetap semangat ke kampus meskipun terancam mengulang semester. Ya, sebentar lagi semester ganjil akan menutup. Jika beberapa orang dipusingkan dengan nilai yang tidak memenuhi standar kelulusan, maka pria berkulit putih yang sering memakai headband di kepala itu malah pusing memikirkan taruhan yang hampir mendekati batas waktu.
Ia dan kawan-kawannya sampai mengejar Nadya dan Vera yang kebetulan melintas di tempat tongkrongan mereka.
"Heh, tumben kalian gak jalan bareng Karen?" Dia lagi di mana, sih? Kok gue cari-cari gak nemu?" tegur Feril menghampiri dua sahabat Karen.
Nadya tampak bermalas-malasan menjawab pertanyaan dari saudara mantan pacarnya itu. Sementara, Vera masih kesal atas insiden yang membuatnya tak sengaja berciuman dengan seniornya itu. Keduanya pun terus berjalan dan tak mau pedulikan teguran Feril. Dengan gigihnya, Feril terus mengejar dan menanyakan keberadaan Karen. Hal itu membuat dua kawan Karen kesal.
"Bukannya kak Feril sendiri lihat kemarin Karen pingsan dan dibawa ke rumah sakit?" ketus Nadya setengah geram.
"Asal kak Feril tahu, ya? Karen itu gak bakal terima kak Feril, karena dia tuh udah—" Vera hampir saja keceplosan jika Nadya tak segera menutup mulutnya.
"Karen udah punya tunangan!" imbuh Nadya yang masih menutup mulut Vera.
Teman-teman Feril terkejut seketika. "Waduh, Ril, doi dah punya tunangan!"
"Gak papa. Bakal gua rebut! Jangan pun tunangan, janur kuning udah melengkung aja gua patahin," ucap Feril yang sebenarnya juga merasa kaget sekaligus panas.
"Asal kak Feril tahu, tunangan Karen tuh bukan orang sembarang. Dia tuh cendekiawan!" sambung Vera dengan ekspresi mengejek.
"Keknya bakal susah Ril buat rebut dia dari tunangannya, kita ini kaum colikiawan gak bisa dibandingkan sama kaum cendekiawan," sahut temannya yang tampangnya mirip artis Arie Kriting.
Berbeda dengan temannya, si gimbal malah punya pendapat lain. "Jangan percaya, Ril. Mereka pasti bo'ongin lu. Heh, Cewek, kalian sengaja bilang kek gitu, kan?"
__ADS_1
"Ngapain kita boong!" sergah Vera.
"Ya, bisa aja karena kalian gak terima Karen dikejar-kejar senior ganteng kek Feril. Iya ... kan? Ngaku aja! Bidadari makan bakwan, iri ... bilang kawan!" cela si gimbal.
"Ngapain gue iri sama bidadari yang makan bakwan, masih elit gue yang makan pizza," cetus Vera.
"Gak percaya gua. Emang siapa yang jadi tunangannya? Yang mana? Tunjukin ke gua!" tantang Feril.
"Yang pasti pacarnya tuh super ganteng, super pintar, super kaya!" jawab Nadya sambil menggandeng Vera untuk segera pergi.
"Ril, jangan-jangan ... tunangan Karen tuh cowok yang waktu itu hajar dua teman sodara lu!" Si Jamet mulai menduga-duga.
"Oh, yang kek oppa-oppa Korea itu?" sahut lainnya.
Wajah Chalvin mendadak terlintas di benak Feril. Bersamaan dengan itu pula, ia teringat akan Darren yang juga dekat dengan pria itu.
Di rumah sakit, Darren tengah menguncir rambut Karen. Keduanya tampak berbincang-bincang kecil seperti biasa. Tak lama kemudian, dokter masuk untuk melakukan pemeriksaan.
"Sebaiknya kita segera melakukan operasi sebelum ukuran tumornya semakin membesar," tutur dokter setelah selesai memeriksa Karen.
"Setelah operasi, apa istri saya akan kembali pulih seperti dulu?" tanya Darren.
"Tergantung hasil biopsi. Ketika hasil biopsi yang keluar nanti ditemukan sel-sel ganas, maka pengangkatan rahim tidak bisa ditawar-menawar lagi. Selain itu, akan ada pemeriksaan PET scan untuk mengetahui apakah ditemukan penyebaran kanker," jelas dokter.
Darren melirik sejenak pada Karen. Tak ada respon apa pun dari perempuan berwajah oval itu.
__ADS_1
"Boleh enggak kami pertimbangkan sampai besok?" tanya Darren.
"Dokter, saya enggak mau melakukan operasi, baik operasi miomektomi atau pun histerektomi." Karen tiba-tiba berkata dengan suara yang terasa hambar.
Ucapan Karen membuat Darren melebarkan matanya. Tentu ia terkejut dengan pilihan istrinya itu. Pasalnya, sebelumnya Karen mengatakan bersedia menjalani operasi dan pemeriksaan biopsi.
Dokter tersenyum simpul. Tampaknya, bukan kali ini saja ia mendapati pasien yang bimbang mengambil keputusan atas pengobatan penyakit tumor dalam kandungan.
"Untuk penyakit tumor rahim yang belum menjadi kanker sebenarnya masih bisa sembuh total jika tepat penanganan. Hanya saja, kebanyakan dari pasien menunda operasi dan memilih pengobatan alternatif atau ramuan-ramuan herbal sebagai solusi. Sayangnya, masih banyak yang kurang memahami pengobatan yang tidak tepat sasaran hanya akan memperparah pasien, seperti membuat tumor semakin membesar dan malah mengaktifkan sel-sel kanker. Dan bukan tidak mungkin pasien ternyata memiliki lebih dari satu tumor ketika pembedahan dilakukan nantinya," jelas dokter.
"Saya ngerti, dok. Tapi ... saya ingin pertahankan rahim saya. Jika Tuhan mengizinkan, saya ingin suatu saat nanti melahirkan anak dari hasil buah cinta kami. Operasi histerektomi membuat rahim saya terambil, dan operasi miomektomi ... meski hanya mengangkat tumor, tapi bekas operasi itu mungkin akan ada pengaruhnya saat saya hamil nantinya. Beberapa orang yang terserang penyakit ini, mungkin mudah mengambil keputusan. Karena seperti yang dokter bilang, rata-rata pasien yang punya penyakit sama seperti saya itu adalah wanita yang telah menjelang menopause bahkan lanjut usia. Hanya sedikit pasien dengan usia muda seperti saya. Mereka telah menjadi istri dan ibu selama bertahun-tahun. Ketakutan mereka mungkin hanya sebatas kematian, sementara saya ...." Karen menjeda kalimatnya hanya untuk menarik napas, matanya sudah berkabut sedari tadi. "Usia saya dua puluh tahun. Saya baru empat bulan menjalani status seorang istri. Saya ingin memberi keturunan untuk suami. Jika harus ada tanda bekas goresan bedah di perut, saya harap itu karena operasi untuk mengeluarkan anak dalam rahim saya," ucapnya dengan bibir yang bergetar. Keputusan ini tampaknya telah dipertimbangkan Karen dengan matang.
"Aku gak masalah meski tanpa anak di pernikahan kita. Bahkan sejak awal bukannya kita udah sepakat buat childfree?" bisik Darren mencoba menghapus kegusaran Karen tentang persoalan anak.
"Aku pikir ... ini cara Tuhan negur aku. Aku nolak punya anak karena takut bentuk tubuhku rusak. Tuhan enggak mengirimkan janin ke dalam perutku, tapi menggantinya dengan sebuah tumor mematikan," balas Karen dengan lelehan bening yang tak sengaja keluar dari sudut matanya.
Darren menggeleng sambil menggenggam tangan Karen. "Tuhan tidak sejahat itu. Jangan berburuk sangka seperti itu! Ini hanya ujian untuk menaikkan level kita di mata-Nya. Apa kita bisa melewati atau menyerah begitu saja."
Di sisi lain, Oma yang sedang menuju perusahaan, meminta supir untuk singgah ke rumah Darren. Ini karena tak biasanya ia menelepon Karen berkali-kali, tapi tak dijawab atau pun tak ditelepon balik. Begitu juga saat menghubungi Darren. Setibanya di kediaman cucunya, suasana sepi dan kosong terasa begitu kental di mana lampu teras belum dimatikan dan gorden jendela pun masih tertutup rapat.
"Masa masih tidur jam segini?" pikir Oma yang merasakan keanehan pada sepasang suami istri itu.
.
.
__ADS_1
.