
Warning! Agak sedikit uhuk!
.
.
Nadya tergemap saat Chalvin memegang pergelangan tangannya seraya merapatkan tubuhnya ke dinding. Ia lantas menarik ujung kaus itu ke bawah, berusaha menutupi daerah yang seharusnya tidak terlihat. Sungguh sangat memalukan jika dirinya ketahuan tak memakai dalaman apa pun di balik kaus itu. Namun, ada yang lebih membuatnya cemas dan takut saat ini, yaitu tindakan Chalvin yang mendadak menahannya. Sejenak, mata pria itu bergerak dari atas ke bawah.
"Tunggu di sini, aku ambilin celana buat kamu!" perintah Chalvin sambil melepas genggaman tangannya.
Chalvin masuk ke kamarnya lalu mengobok-obok isi lemarinya mencari celana yang pas untuk Nadya. Ia kembali menemui gadis itu dan memberikan celana pendek berwarna hitam yang mirip dengan celana boxer. Nadya masuk ke dalam toilet untuk memakai celana pendek yang diberikan Chalvin. Ya, meski celana itu juga tak bisa menutupi seluruh pahanya, tapi bukankah masih lebih baik dari pada tak memakai apa pun?
Begitu keluar dari toilet, matanya langsung tertuju pada Chalvin yang duduk di sofa sambil menyesap teh dengan tenang. Pria itu masih bertelanjang dada seolah tak peduli dengan dinginnya cuaca sore itu.
"Minum teh dulu biar tubuh kamu hangat!" Chalvin menunjuk satu cangkir teh yang tersedia di atas meja sofa.
Nadya mendekat dan duduk di sebelah Chalvin tapi masih menyisakan jarak di antara mereka. Ia langsung mengambil cangkir bermotif polkadot itu, lalu menyeruput teh beraroma mint dengan pelan.
Chalvin memandang rambut Nadya yang basah sampai terlihat menetes di beberapa bagian. Ia pun beranjak dari duduknya untuk mengambil sesuatu di dalam kamar. Hanya sebentar saja, pria itu datang kembali. Nadya terkesiap saat Chalvin tiba-tiba duduk merapat di sampingnya lalu mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Kalo rambut kamu basah kayak gini, baju kamu juga bakalan ikutan basah," ucap Chalvin.
"Biar aku aja," pinta Nadya dengan sungkan.
Permintaan Nadya tak diacuhkan. Chalvin malah melingkarkan tangan di lehernya hanya untuk memeras bagian belakang rambut dengan handuk. Setiap helaian tak luput dari usapan lembutnya. Ia juga menarik dagu ke samping ketika hendak mengeringkan rambutnya di sebelah kiri wajah. Nadya buru-buru menunduk ketika tak sengaja bersitatap dengan mata pria itu. Bersamaan dengan itu, ujung kaki mereka tak sengaja bersenggolan. Hanya seperti itu sudah membuat tubuh mereka menggeranyam.
__ADS_1
Untuk sesaat, tangan Chalvin yang memegang handuk berhenti bergerak. Sebaliknya, Nadya masih tertunduk dalam dan mencoba menyembunyikan rasa gugup dengan mengepalkan kedua tangannya. Kali ini Chalvin mengangkat dagu Nadya dengan ujung jari telunjuk sehingga mata mereka bersirobok lekat.
"Kamu kedinginan?" tanya Chalvin.
Nadya menggeleng cepat. Merasa mereka terlalu dekat, ia pun berusaha menggeser posisi duduknya. Namun, Chalvin malah meletakkan handuk itu ke punggung lehernya lalu menarik kedua sisi handuk, hingga wajahnya ikut tertarik mendekat ke wajah pria itu.
"Kenapa kamu terus-terusan canggung sama aku?" tanya Chalvin seraya menatap Lamat mata bening gadis itu, "tatapan kamu ke aku dari tadi kayak orang yang lagi ketemu sama predator anak," protesnya. Ya, sedari tadi Nadya memang terlihat takut untuk berdekatan dengannya. Bahkan kerap menghindari pandangannya.
"Aku ... cuma belum terbiasa menjalin hubungan dengan pria yang lebih tua dari aku," ucap Nadya sedikit gagap.
"Jadi kamu anggap aku dah tua?" Chalvin mengernyitkan kening.
"Bukan, maksud aku ...."
"Aku pengen ilangin rasa canggung kamu ke aku," ucap Chalvin dengan suara berbisik seraya menyematkan jari jemari mereka dalam satu genggaman.
Kontak mata mereka terputus begitu Chalvin memberi kecupan ringan di ujung hidungnya. Pria itu mengulas senyum, kemudian kembali menjatuhkan kecupannya di sudut bibir Nadya. Bibir maskulin itu bergeser sedikit demi sedikit menuju bibir bawah Nadya. Memagutnya dengan gerakan menggoda.
Detik itu juga, Nadya refleks memundurkan kepala. Tetapi sebelah tangan Chalvin lebih dulu meraih pinggangnya, sedangkan tangan satunya lagi berada di belakang kepala gadis itu. Nadya mencoba mendorong dada pria berkulit putih. Ciuman ringan itu terlepas. Chalvin mengunci tatapannya pada mata polos Nadya.
Mendapat tatapan maut seperti itu, tak ayal detak jantung Nadya berdegup kencang. Ia tak pernah punya kemampuan untuk menolak hal semacam ini. Bukan karena ia juga menginginkannya, tapi reaksi tubuhnya selalu lebih dulu membeku sehingga yang terlihat dirinya seolah pasrah.
Wajah Chalvin mendekat secara bertahap.
Tanpa bisa dihindari, bibirnya yang basah dan hangat kembali menemukan bibir Nadya. Menekan dengan lembut dan berperasaan. Bibirnya yang berpengalaman mulai bergerak bebas di atas bibir Nadya, membuat gesekan-gesekan yang bergairah. Setiap sudut bibir polos gadis itu tak lengang dari sapuan panas bibirnya. Mengisap, memaguut, mencicipi daging lembut itu secara bergantian atas dan bawah. Mereguk semua rasa manis yang ada di bibir ranum gadis itu dan menyalurkan kehangatan yang dimilikinya. Semua dilakukan dengan lembut dan tak tergesa-gesa.
__ADS_1
Suara deraian air hujan bagai musik romantis yang mengiringi peraduan bibir mereka. Nadya merasa tak berkuasa atas dirinya sendiri. Perlahan, tekanan halus dari permukaan milik pria itu mulai mampu membuatnya tersesat. Ia seakan terbuai oleh keahlian berciuman dari pria yang sudah sangat berpengalaman itu. Pikirannya kini hanya berpusat pada kontak fisik yang tengah dilakukan lelaki itu. Tanpa sadar ia membalas pagutan pria itu. Tubuhnya mulai melebur dalam gelombang panas yang Chalvin ciptakan. Jelas, ini adalah bagian dari keahlian Chalvin yang mampu membuat wanita terbuai dengan sentuhannya.
Nadya mendesis kecil tatkala Chalvin semakin menguasai mulutnya dengan liar. Lidah lelaki itu ingin menjelajahi kelembutan yang ada di dalam sana. Menggelitik, membelit, serta mengaduk lidahnya. Sejujurnya ia tak menyukai jenis ciuman seperti ini, tetapi Chalvin berhasil membawanya ke sensasi yang berbeda. Tentu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Nadya dapat merasakan napas kasar Chalvin di setiap sesapannya. Pria itu menempatkan sebelah tangan di perpotongan lehernya untuk memperdalam ciuman. Udara yang dingin dan syahdu seketika menjadi panas dan sesak. Hujan semakin bersorak ria berpadu bunyi decak dua bibir yang tak henti saling menerjang mengisi apartemen itu. Tak bisa berhenti. Sulit dihentikan. Atau mungkin mereka yang tak mau berhenti.
Bagi seorang Chalvin, hanya sekadar berciuman tentu saja tak cukup. Kebutuhan alami sebagai seorang pria seakan mendesaknya untuk menuntut hal yang lebih dan mematuk tembok pertahanannya. Belum lagi, sudah berbulan-bulan lamanya ia tak memenuhi hasrat biologisnya.
Bibirnya turun ke bawah, mencoba menyusuri cekungan leher Nadya yang terawat. Mencecapi setiap inci kulit kuning langsat khas gadis Sunda. Erangan halus yang keluar dari mulut Nadya, semakin membakar libidonya. Bibir Nadya yang setengah terbuka, membawanya kembali untuk meraup dan menjejali lidahnya di dalam sana. Tanpa melepaskan cumbuannya, ia mulai merebahkan Nadya di sofa yang mereka duduki.
Tangan Chalvin yang mencoba menyelusup masuk ke dalam kausnya, membuat Nadya menemukan kembali kesadarannya. Ia lantas mendorong pria itu dengan sangat kuat sambil berteriak ketakutan hingga menangis. Chalvin tersandar di sandaran sofa. Reaksi Nadya yang cukup berlebihan membuatnya tercengang. Ia lantas memeluk gadis itu seraya mencoba menenangkan.
"Nadya tenang ... rileks, Nad. Rileks!" Chalvin mengeratkan pelukan di saat Nadya berontak ingin melepaskan diri. "Maafin aku .... Aku gak akan ngelakuin hal yang lebih jauh. Aku janji!"
Sejujurnya, ia bingung apa yang membuat Nadya mengalami serangan panik. Setahunya, ini bukan pengalaman pertama gadis itu dan dia sama sekali tak mempermasalahkannya. Namun, melihat guncangan gadis itu, tampaknya ia memiliki trauma dalam berhubungan badan.
Chalvin membungkus Nadya yang duduk meringkuk di kursi sofa dengan selimut hangat. Di luar, hujan masih menumpahkan deraiannya. Ia pun membiarkan gadis itu menenangkan diri tanpa mengganggunya. Ia lalu masuk ke dalam toilet untuk membasuh wajahnya di wastafel. Sisa-sisa gejolak dalam tubuhnya masih berkobar. Apa boleh buat, terpaksa dia harus menyelesaikan dengan tangannya sendiri.
.
.
.
buset, cuma mendeskripsikan adegan civokkan aja udah ngabisin 1300an kata 😆🤣
__ADS_1