DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 152 : Sandiwara Berakhir?


__ADS_3

Begitu turun ke lantai dasar, Nadya malah bertemu dengan Karen dan Darren yang juga baru saja keluar dari lift samping tempatnya.


"Nadya? Kok kamu ada di sini?" tegur Karen menampakkan wajah kaget.


Nadya berusaha menyembunyikan raut sedihnya setelah dirundung habis-habisan oleh Farel. Sejenak, ia melirik Darren yang menggenggam tangan Karen dengan erat, seolah tak sungkan menunjukkan pada orang-orang kalau mereka adalah pasangan.


"Karen, kamu gak papa? Kamu baik-baik aja di kantor ini, kan?" tanya Nadya.


Karen mengangguk gagu. Ia bingung kenapa tiba-tiba Nadya tampak mengkhawatirkannya.


"Karen kok biasa-biasa aja. Gak kayak orang tertekan. Padahal biasanya kalau ada gosip, pasti dia bakal murung. Apa mungkin kak Chalvin yang berlebihan dan terlalu khawatirin dia?" gumam Nadya dengan wajah skeptis.


Nadya lalu kembali berkata, "Kirain kamu kenapa-kenapa. Soalnya pak Darren tiba-tiba ada di sini juga. Tadi, aku mau ketemu Kak Chalvin, tapi kayaknya dia gak ada, deh."


Karen langsung menarik Nadya untuk menepi dan sedikit menjauh dari Darren. "Aku tahu kamu lagi berjuang buat dapatin hatinya Chalvin, tapi ya ... gak usah ngejar dia sampai di kantornya juga. Yang ada dia malah merasa terganggu dan bakalan ilfil."


Karen menyangka kedatangan Nadya adalah bagian dari usahanya mendapatkan hati Chalvin. Padahal, tujuan Nadya datang ke tempat itu untuk membantunya menepis gosip yang beredar selama dua hari ini.


Saran dari Karen ternyata tak mendapat tanggapan baik dari Nadya. "Jadi kamu kira aku ke sini buat caper sama kak Chalvin?"


"Bukan gitu juga maksud aku." Karen tiba-tiba mengernyit heran melihat ekspresi tak biasa dari sahabat akrabnya itu.


"Enak, ya, jadi kamu. Udah punya suami, tapi masih dapatin perhatian dari pria lain." Kalimat dengan nada suara yang tak menyenangkan keluar dari mulut Nadya.


Karen kembali mengernyit. "Maksud kamu apa? Kok kamu jadi sensian gini?"


Nadya tak berkata apa-apa lagi. Ia malah segera pergi meninggalkan Karen yang tampak kebingungan.


"Nad, Nad ...." Karen berusaha memanggil kawannya. Namun, Nadya terus berlalu tanpa berbalik.


Suasana hati Nadya saat ini benar-benar campur aduk. Ada rasa malu, sedih dan juga sedikit kesal. Ia merasa sia-sia datang ke tempat ini. Ternyata kedatangannya di sini hanya untuk mempermalukan diri sendiri.


"Padahal, aku sudah tahu Kak Chalvin cuma jadiin aku perisai buat lindungi Karen. Tapi aku bersedia ngelakuin itu demi dia." Nadya membatin dalam kekecewaan.

__ADS_1


Darren menghampiri Karen yang masih menatap punggung Nadya dengan kening berlipat.


"Teman kamu kenapa?"


"Gak tahu! Gak biasanya Nadya sensian gini!"


"Apa kamu gak salah ngomong? Kali aja ada kata-kata yang menyinggung dia tanpa kamu sadari."


"Nadya bukan orang yang gampang tersinggung kok," tampik Karen.


"Hanya karena dia gak pernah nampakin dan gak pernah ngomong, terus kamu bisa nyimpulin gitu? Hanya karena dia sahabat kamu, terus kamu merasa sudah paling tahu isi hatinya? Mana tahu kata-kata yang selama ini kita keluarkan, ternyata udah bikin orang sakit hati. Cuma beberapa orang lebih memilih diam dan memendam."


Karen bergeming. Jika benar seperti itu, tentu saja ia merasa bersalah pada Nadya.


"Terus, aku harus gimana kalo Nadya beneran tersinggung sama kata-kata aku?"


"Yang pasti kamu harus minta maaf sama dia."


"Kamu kenapa sih, dari tadi muter-muter kek penari balet," tegur kakek Aswono. Tampaknya pria tua itu mulai pusing melihat gelagat istrinya.


"Emangnya kamu lihat saya jinjit sambil naikin tangan ke atas, Mas?" sambar Oma Belle dengan nada kesal.


"Makanya jangan mondar mandir mulu. Pening aku lihatnya!"


"Ya, udah tutup mata aja. Aku nih penasaran, Chalvin mau gak nikah dan dirayain bareng Darren dan Karen! Awas aja kalo dia banyak alasan!"


Nadya berjalan terburu-buru begitu keluar dari gedung perusahaan Belleria kosmetik. Di waktu yang sama, mobil yang membawa Chalvin baru saja tiba. Melihat Nadya yang berjalan tergesa-gesa sambil menyeka pipi, Chalvin pun meminta supir untuk langsung berhenti. Ia mengejar Nadya lalu menahan pergelangan tangannya.


"Nadya, kamu dah mau pulang?"


"Sorry, Kak Chalvin, kali ini aku gak bisa bantuin Kakak. Aku gak ketemu Karen. Dan kayaknya aku gak bisa nerusin jadi pacar bohongan Kakak lagi." Nadya berkata tanpa mau menatap wajah Chalvin.


"Kenapa?" tanya Chalvin yang tampak tak terima dengan keputusan Nadya.

__ADS_1


"Ya, gak papa. Aku cuma gak mau lagi." Nadya masih memalingkan wajahnya. Pilu yang dia rasakan sudah terlalu perih.


"Enggak! Kasih aku alasan yang jelas! Bukannya kamu sendiri yang sudi bantuin aku?"


Dengan terbata-bata, Nadya berkata, "Aku gak cocok jadi pacar Kak Chalvin meskipun itu cuma bohongan. Gambaran bibit, bebet, bobot aku yang Kak Chalvin jelaskan sama Oma beda jauh dengan aku yang asli. Aku bukan gadis baik-baik yang datang dari keluarga terhormat. Aku bukan gadis suci dengan track record yang bagus. Kak Chalvin tahu sendiri, kan?"


"Nadya, kamu ngomong apa, sih!"


Nadya menarik napas panjang seraya menunjukkan telapak tangannya di hadapan Chalvin untuk menahan pria itu berbicara.


"Aku bukan seperti Karen yang disukai Kakak dan juga Oma Belle atau mungkin semua orang di keluarga besar Kakak. Dari segi apa pun, aku gak sebanding dengan Karen. Kalau suatu saat nanti kebohongan kita terbongkar, Oma pasti bakal kecewa berat sama Kakak." Suara Nadya bergetar karena menyembunyikan keresahan dan kesedihan yang menghinggapi ruang hatinya.


"Kamu terlalu berpikir jauh. Lagian, gak perlu bandingin diri kamu dengan Karen."


"Benar." Nadya mengangguk-angguk dalam kepahitan. "Jujur, aku pernah bermimpi untuk jadi pacar sungguhan Kakak. Terus seperti ini, cuma bikin aku sulit bangun dari mimpi."


Chalvin tergemap seketika. Untuk sejenak, tak ada kata yang bisa dia ucapkan.


"Alasan yang aku kasih, susah cukup jelas, kan? Aku harap, Kak Chalvin mau mengakhiri sandiwara kita." Nadya berbalik, tapi lagi-lagi Chalvin kembali menahannya.


"Kalau kamu mau mengakhiri sandiwara kita, gimana kalau kita coba saja untuk pacaran sungguhan?" ucap Chalvin tiba-tiba dengan guratan wajah yang begitu serius, "ini yang kamu inginkan, kan? Aku bakal perlakukan kamu layaknya kekasih aku. Aku akan berikan semua yang bisa kuberikan seperti seorang pria yang selalu berusaha nyenengin pacarnya. Aku juga bakal berusaha mencintai kamu, menjaga dan melindungi kamu. Tapi ... untuk menikahi kamu, aku gak bisa." Chalvin menggeleng pelan.


Ya, Chalvin memang hanya perlu seorang kekasih untuk membuat Oma Belle berhenti menjodohkannya. Bahkan meskipun didesak untuk segera menikahi wanita yang dipacari, ia bisa menggunakan berbagai alasan untuk menunda. Lebih tepatnya, dia hanya butuh status sebagai pria yang memiliki pacar.


Nadya terdiam beberapa saat dengan bola mata yang tertancap di manik Chalvin. Menipiskan bibirnya, ia kembali berkata, "Sama kayak kak Chalvin, aku juga punya aturan yang aku buat sendiri di hidup aku. Aku gak bisa nerima pria yang datang ke kehidupan aku cuma karena terdesak oleh keadaan. Cukup sekali aku dibodohi laki-laki, selanjutnya gak akan ada lagi."


Nadya melepaskan tangan Chalvin yang masih menahan pergelangannya, kemudian melangkah pergi meninggalkannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2