DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 66 : Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Karen merobek kertas yang tertempel di papan pengumuman, lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia bergegas pergi tanpa memedulikan beberapa junior yang melihat ke arahnya dengan tatapan tajam ala-ala ibu kompleks.


Vera segera menyusul Karen yang melangkah cepat. "Ulah siapa, sih, itu? Chicken banget!"


(N: chicken\=pengecut. Ini slang word dari Amerika yang mengibaratkan orang pengecut itu seperti sifat ayam)


"Gak tahu. Orang iseng paling," jawab Karen sambil terus berjalan.


"Kok lo bisa santai gini? Kalau gue yang digituin dah gue cari tuh orang yang ngefitnah!"


"Gak penting ngurusin gosip kayak gitu. Yang penting kalian udah tahu hidupku yang sebenarnya kayak gimana," balas Karen santai.


Karen menuju tempat parkiran khusus dosen. Rupanya Darren telah menunggunya di dalam mobil. Mereka memang berencana menjenguk Nadya kembali setelah menyelesaikan mata kuliah. Tanpa ia sadari, seseorang memotretnya diam-diam ketika ia berkeliaran di sekitar mobil para dosen ekonomi yang berjejer.


"Kok lama?" tanya Darren.


"Tunggu sepi dululah! Kalau ada yang lihat aku naik mobil kamu kan gawat!" Tampaknya Karen tak mengadu ke suaminya tentang gosip yang baru saja menerpanya.


Darren mulai mengendarai mobil melewati beberapa mahasiswa yang sedang berlalu lalang kemudian keluar dari gerbang kampus. Untungnya, kaca mobil pria itu gelap sehingga tak ada yang bisa melihat keduanya.


Darren melirik istrinya yang hanya berdiam diri dan tak seceria seperti biasa.


"Kamu kenapa? Something's wrong?"


Karen menggeleng seraya menipiskan bibir. Tak bisa ditampik, ia sedikit memikirkan tentang poster di papan pengumuman. Meski tetap bersikap 'stay cool' di depan semua orang termasuk Vera.


"Bener, gak ada masalah?"


"Gimana dengan tugasku tadi?" Karen malah mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya, no bad, tapi gak bisa dibilang exactly juga!"


"Maklum lagi gak bisa konsentrasi, hihi."


"Emang sejak kapan juga kamu bisa fokus belajar? Kamu tuh terlalu sering lewatkan makan malam. Makanya kamu kurang bisa konsentrasi belajar."


"Apa hubungannya coba!"


"Ya, iyalah, saat perut kamu kosong selama beberapa jam, kadar gula darah bakal menurun drastis. Dan itu yang menyebabkan kamu jadi kurang fokus, gampang tersinggung dan sering cemas."


...----------------...


Di waktu yang sama, Chalvin yang sedang berada di ruangannya mendadak mendapat panggilan telepon dari pihak Rumah Sakit tempat Nadya dirawat. Karena mengaku sebagai keluarga Nadya, Chalvin pun diminta untuk melunasi tagihan pembayaran. Apalagi ia memilih pembayaran umum tanpa tanggungan asuransi atau BPJS.

__ADS_1


"Totalin aja, ya, Mbak, biar saya transfer pelunasannya," pinta Chalvin.


"Maaf, kalau bisa Bapak datang langsung ke sini untuk menandatangani bukti pembayaran. Lagian pasien juga sudah pulang hari ini."


Chalvin menghela napas kasar seraya mengusap wajahnya. "Oke, saya ke situ."


"Nyusahin banget, sih!" gumam Chalvin kesal karena dia harus berurusan dengan hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Ia menekan tombol panggilan pada bawahannya, meminta tolong mewakilinya melakukan pelunasan di Rumah Sakit. Namun, mengingat keguguran yang dialami Nadya mungkin karena wine yang ditawarkannya, Chalvin pun memilih untuk datang langsung ke sana.


Jarak rumah sakit yang tak terlalu jauh dari kantor perusahaan, membuat Chalvin lebih dulu tiba di sana. Pria itu menuju kamar tempat Nadya dirawat dengan membawa aneka buah-buahan. Di sana, ia mendapati Nadya tengah berkemas-kemas seorang diri.


Nadya tersentak ketika tas yang akan dibawanya, tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Saat menoleh, ia semakin terperanjat melihat Chalvin tersenyum tipis ke arahnya.


"Kak Chalvin!" sebut Nadya terkejut.


"Biar gue bawain. Gue minta maaf udah ngajak lu minum. Gue benar-benar gak tahu—"


"Bukan salah kak Chalvin kok," potong Nadya sambil tertunduk dalam. Jelas, ia sangat malu karena ketahuan hamil oleh laki-laki yang ditaksirnya.


Karen dan Darren yang baru saja tiba di Rumah Sakit, mendapati ranjang yang seharusnya ditempati Nadya telah kosong. Saat hendak bertanya pada perawat, mereka malah bertemu dengan Chalvin dan Nadya yang tengah mengurus pembayaran.


"Nad, gimana keadaan kamu sekarang?"


"Udah baikan kok. Dokter suruh datang check up Minggu depan." Nadya menarik Karen menepi, lalu berbisik, "kamu gak kasih tahu siapa-siapa kan tentang ini?"


"Tenang aja. Gak ada yang tahu kok."


"Boleh juga. Sorry, nih, kemarin gak bisa ikut gabung. Lagi sibuk banget." Darren menyetujui tawaran Chalvin.


"Yuk, Nad, ikut!"


"Enggak, deh, Kar. Aku mau istirahat aja. Dokter suruh aku bed rest," tolak Nadya.


"Kalau gitu biar kami antar aja," tawar Karen kembali.


"Gak usah ... gak usah. Aku udah pesan taksi. Makasih, ya, Kar. Makasih kak Chalvin, pak Darren," ucap Nadya penuh rasa sungkan.


Setelah memastikan kepergian Nadya, mereka pun meluncur ke restoran Thailand yang direkomendasikan Chalvin. Aneka hidangan seafood yang disajikan bersama kuah tomyam menjadi jamuan makan siang mereka kali ini.


"Ini restoran Thailand terenak yang pernah aku kunjungi," ucap Karen.


"Pokoknya kalau soal rekomended, kamu tanya aja sama aku. Lidahku gak pernah salah," sahut Chalvin.


Secara bersamaan, mereka bertiga menyumpitkan sajian cumi-cumi yang tinggal sepotong. Dua pria itu mengalah dengan menarik sumpit mereka kembali dan membiarkan sepotong cumi itu diambil Karen.

__ADS_1


Mata Karen terbelalak diikuti mulut terbuka dan tangan yang mengibas-ngibas, begitu merasakan sensasi pedas dari olahan seafood itu. Dua pria itu refleks memberikan minuman mereka pada Karen.


Karen memilih untuk meneguk minumannya sendiri. Darren mengambil sebutir nasi yang menempel di ujung bibir Karen lalu memakannya. Sebaliknya Karen mengambil tisu kemudian mengelap bibir Darren. Ia juga menyuapkan sepotong cumi yang sempat digigitnya itu pada suaminya.


"Nikah itu kayak gimana rasanya, sih? Kalau lihat kalian keknya nikah itu asyik." Suara Chalvin tiba-tiba membubarkan kemesraan keduanya.


"Nikah itu cuma 1% doang enaknya.


"Ah, masa?"


"Serius!"


Darren lalu berbisik pelan, "99% enak banget!" ucapnya sambil menyengir.


"Bisa aja lu!"


"Kalau mau tahu tentang kehidupan pernikahan jangan tanya sama kita, tanya sama orang yang dah berkeluarga belasan sampai puluhan tahun. Mungkin kamu bakal temukan jawaban yang beragam," sahut Darren.


"Belasan sampai puluhan tahun? Apa bisa pernikahanku awet selama itu," batin Karen berucap seraya menatap suaminya, "semoga saja ... semoga saja hubunganku dan Darren terus seperti ini. Aku ingin menua dengannya."


...----------------...


Waktu yang bergulir dan hari yang terus berganti mengingatkan kita bahwa dunia ini sudah semakin tua, itu kata para ahli sains. Berbeda dengan orang-orang biasa yang malah sibuk memikirkan cucian mereka yang menumpuk dari hari ke hari.


Karen membuka pintu saat mendengar suara bel. Di depannya saat ini ada wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Tampaknya, Karen sudah tak asing dengan orang itu. Ya, dia adalah salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


"Bi, Narti? Ada apa?" tanyanya sambil mempersilakan masuk.


"Anu, Mba Karen. Saya disuruh ibu buat bantuin mba Karen beres-beres rumah dan cuci baju," ucap Bi Narti.


Napas Karen mengembus pelan. Ia sudah bisa menebak misi terselubung mami Valen yang hendak memperkerjakan asisten rumah tangganya itu. Pasti ingin memata-matai Rumah Tangga mereka, seperti saat ia meminta tetangga apartemen sebelumnya untuk menanyakan keseharian anaknya.


"Aduh, Bi, bilang aja sama mami aku udah berlangganan laundry antar-jemput. Dan untuk beres-beres rumah, aku bisa sendiri kok," tolak Karen secara halus. Sebab, dari awal pernikahan, Darren memang menolak memakai jasa ART. Pria itu sudah terbiasa mandiri tanpa bantuan orang lain.


"Kalau gitu Mba Karen ngomong langsung, ya, sama ibu. Biar ibu percaya."


"Iya, entar aku telepon."


Setelah kepergian bi Narti, Karen pun mengendarai mobilnya sendiri menuju kampus. Rupanya, gosip tentang dirinya yang menjadi simpanan salah satu dosen ekonomi masih merebak di kalangan mahasiswa. Malah semakin menjadi dengan adanya bukti jepretan foto perempuan itu tengah berada di sekitar lahan parkir dosen. Bahkan ada isu yang berembus jika dirinya bisa menjadi brand ambassador produk ternama karena bantuan dosen tersebut.


Gosip itu telah sampai ke telinga Feril dan kawan-kawannya. Feril terlonjak membaca artikel yang beredar di website resmi BEM ekonomi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2