
Oma Belle yang baru saja berganti pakaian untuk bersiap ke rumah Darren, lantas mengambil parfum. Namun, baru saja hendak menyemprot ke salah satu bagian tubuhnya, ia langsung teringat dengan asumsinya tentang kehamilan Karen.
"Jangan pakai parfum, nanti Karen bisa mual-mual cium baunya." Oma Belle meletakkan kembali parfum kesayangannya.
Oma Belle lalu masuk ke mobil dan memerintahkan supirnya untuk singgah ke apotek terlebih dahulu.
Usai mencuci mangkok bekas makan Karen, Darren pun kembali ke kamar. Ia menghampiri Karen yang tengah terpejam, lalu membuka laci nakas untuk mengambil termometer. Mata pria itu malah tertuju pada botol permen karet yang membuat dahinya sontak membentuk lipatan halus. Aneh, empat bulan menikah, ia tak pernah melihat Karen mengunyah permen karet.
Darren kembali menutup laci nakas saat mendengar suara bel. Saat membuka pintu, ia terkejut dengan kedatangan Oma Belle secara tiba-tiba.
"Oma ngapain ke sini?"
"Kamu dah bawa Karen ke dokter?"
"Belum, tadi mau aku bawa ke dokter tapi dia gak mau."
Kamu ini gimana, sih, istri lagi sakit, masa lelet gini!" Oma Belle masuk dan langsung duduk di sofa.
"Dianya yang gak mau! Mungkin dia cuma kelelahan. Seminggu ini dia rajin banget belajar, beres-beres rumah, belum lagi temani oma ke sana kemari. Biasanya kan cuma main hp doang sambil baring-baring."
"Etts ... kamu yakin cuma demam doang? Bisa jadi istri kamu tuh lagi ngidam. Soalnya, Oma dulu juga gitu pas pertama kali hamil. Tahu-tahu, pagi dah sakit sampai gak bisa bangun." Tawa gelitik bercampur rasa senang tercetak jelas di wajah perempuan tua itu.
Darren tercenung seraya bersandar di dinding dengan tangan yang bersedekap. Ia kembali mengingat kalau mereka pernah kebobolan berhubungan tanpa pengaman. Jujur, ia juga sempat menduga istrinya hamil.
"Dia udah pernah testpack, belom?" tanya Oma Belle penasaran.
__ADS_1
Darren menggeleng.
"Nih, Oma bawa testpack dari berbagai merek. Bisa suruh Karen tes sekarang!" Oma Belle mengeluarkan beberapa alat tes kehamilan yang dibelinya sebelum ke rumah itu.
Darren menggaruk-garuk kepala sambil berkata, "Oma, Karen tuh lagi lemah. Nanti aja tesnya."
Berbanding terbalik dengan Oma Belle yang tak sabaran, Darren malah khawatir kalau Karen tak siap dengan kehamilannya jika itu benar-benar terjadi. Meskipun sebenarnya ia senang jika memang istrinya tengah mengandung anaknya.
"Terus gimana Karen sekarang?"
"Tuh lagi istirahat di kamar."
Ponsel Oma Belle mendadak berdering dan memunculkan nama Chalvin di layar panggilan. Perempuan tua itu hampir lupa kalau dia menyuruh Chalvin untuk menjemput seorang gadis yang direkomendasikannya.
"Oma, aku dah di stasiun, nih! Coba Oma kirimin fotonya! Aku pingin lihat, beneran cantik, gak? Jangan sampai salah lagi!" Chalvin berdiri seraya mengedarkan pandangannya.
"Gak usah pake kirim-kirim foto. Pokoknya percaya aja sama Oma. Namanya Tasya. Wajahnya cantik kayak model ambassador bedak kita si Tasya Farasya."
"Bener nih mirip Tasya Farasya? Atau cuma nama doang yang mirip!" Chalvin seperti menyangsikan omongan Omanya.
"Bener! Pokoknya kali ini gak akan salah. Dulunya, neneknya bertetangga sama oma. Jadi Oma tahu betul gimana dia. Anaknya kalem, gak neko-neko dan yang penting ... dia berbeda dari perempuan-perempuan di luar sana! Dia sampai bela-belain datang ke Jakarta buat ketemu kamu, loh!" ucap Oma Belle menggebu-gebu.
Di waktu yang sama, seorang perempuan bertubuh gempal tampak menatapnya lalu berjalan dengan raut penuh keraguan. Perempuan itu menatap ponselnya, kemudian melihat ke arah Chalvin seperti sedang mencocokkan dengan foto yang ada di ponselnya.
"Permisi, Mas yang namanya Chalvin, ya?" tanya perempuan itu.
__ADS_1
Chalvin terhenyak. Matanya seakan hampir jatuh ke tanah. "Kamu ...."
"Tasya, Mas," ucap gadis itu dengan suara yang indah bagaikan tarikan mesin ATM.
Chalvin memerhatikan gadis itu dari atas hingga bawah. Sungguh berbeda dari yang dideskripsikan Omanya! Dandanan gadis itu sangat menakutkan. Mulai dari alas bedak yang tebal dan berbeda dengan warna kulit leher, polesan lipstik berwarna pucat yang keluar dari garis bibir, hingga ukiran alis yang setinggi cita-cita.
Belum lagi, gadis itu memiliki selera berpakaian yang nyentrik, memakai atasan kaus berwarna kuning, rok payung warna-warni dan sepatu hak tinggi berwarna merah. Sangat bertolak belakang dengan gaya Chalvin yang betul-betul menampilkan figur seorang pria berkelas.
Chalvin berbalik cepat seraya menahan napas. "Ini sih bukan mirip Tasya Farasya, tapi Tasya ParahSyangat! Mana gaya fashion-nya udah kek bendera umbul-umbul di pinggir jalan lagi!"
Suara perempuan itu ternyata terdengar oleh Oma Belle. Dia pun berkata dengan penuh percaya diri, "Gimana Chalvin, kali ini gadis pilihan Oma sudah tepat, kan?"
Chalvin mengangguk kaku lalu berkata dengan gigi yang menggeretak, "Iya, Oma, tepat banget. Tepat bikin jantungku syok!"
Chalvin menutup telepon dengan kesal. Rasanya seperti hanya membuang-buang waktu menuruti keinginan Oma Belle datang ke sini.
"Mas, kamu ya yang namanya Chalvin?" tanya gadis itu.
Chalvin kembali berbalik seraya menggeleng. "A ... a–ku Chandra, saudara kembarnya Chalvin. Chalvin-nya lagi di toilet. Lagi mules katanya," ucap Chalvin sambil menunjuk toilet yang letaknya tak jauh dari mereka.
Begitu gadis itu menoleh ke arah toilet umum, Chalvin langsung melangkah mundur dan kabur bak dikejar rentenir.
.
.
__ADS_1
.