DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 98 : Ketika Darren Tahu


__ADS_3

"Karen kenapa, Pak?" tanya Nadya dengan mata terbelalak.


"Gak tahu. Tiba-tiba pingsan," ucap Darren tak kalah panik sambil membawa Karen.


Nadya dan Vera lantas mengekor Darren yang terburu-buru membawa Karen keluar gedung. Feril yang juga melihat itu, hanya diam dan terpaku hingga beberapa saat. Antara bingung dan tak tahu harus berbuat apa ketika perempuan incarannya pingsan dan digendong pria lain. Sebaliknya, teman-temannya justru ikut heboh melihat Karen yang dibawa dosen mereka dalam keadaan pingsan.


"Lah, tuh Karen pingsan kenapa?" Para MAHDI itu saling bertanya.


"Jangan-jangan ... dia cemburu lihat lu ciuman sama sahabatnya sendiri!" Si gimbal malah membuat asumsi sendiri.


"Ah, bener juga. Tadi dia kan jalan bareng sama dua kawannya itu. Terus lu malah salah target. Dia pasti terlalu syok lihat lu ciuman sampai pingsan gitu." Si Jamet menimpal, membenarkan dugaan konyol si gimbal.


Dugaan kawan-kawannya itu membuat Feril besar kepala dan meyakini Karen telah memiliki perasaan padanya.


Memandang lurus ke depan sambil mengulurkan tangan, Feril langsung berlari mengejar Darren, Nadya dan Vera. Sayangnya, begitu keluar gedung fakultas, ia sudah tak melihat siluet tubuh mereka alias kehilangan jejak.


Mengira Karen dibawa ke ruang kesehatan, Feril lalu bergegas ke sana. Namun, lagi-lagi dugaannya salah karena tak ada siapapun di tempat itu.


"Gimana, Bray?" tanya kawan-kawannya yang ikut menyusul.


"Karen gua dibawa lari sama tuh profesor!" Feril menendang botol kosong di depannya dengan kesal.


Ternyata, Darren memutuskan membawa Karen ke rumah sakit setelah berusaha menyadarkannya. Ia memilih rumah sakit swasta langganan keluarganya. Nadya dan Vera rupanya ikut masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di sana, Karen langsung dibawa ke ruang IGD dan mendapat penanganan cepat dari tenaga medis.


"Kenapa dengan istri saya?" tanya Darren cemas pada suster yang baru saja memasang infus.

__ADS_1


"Kayaknya istri Bapak mengalami perdarahan," kata suster tersebut.


Manik pria itu melebar. "Kok bisa? Apa penyebabnya?"


"Tunggu hasil tes darah, ya, Pak. Nanti biar dokter yang jelaskan," balas suster itu lalu pergi untuk mengambil beberapa peralatan medis lainnya.


"Jangan-jangan ... Karen keguguran!" sahut Nadya tiba-tiba, mengingat ia pernah mengalami hal serupa.


Darren menoleh cepat. Benarkah begitu? Jika ya, apakah Karen sebenarnya sedang mengandung? Mengingat, belakangan ini sikap Karen tak normal seperti biasa. Dugaan itu diperkuat saat penanganan Karen dialihkan ke dokter kandungan.


Setelah tiga puluh menit kemudian, Darren kini berhadapan dengan dokter kandungan subspesialis onkologi.


"Istri Bapak mengalami anemia akibat pendarahan."


"Apa istri saya keguguran, dok?" tanya Darren cepat.


"Tu–tumor?" Darren tergemap. Kursi yang didudukinya bahkan sampai mundur ke belakang.


"Ya, kami menyarankan istri Anda segera melakukan biopsi untuk mengambil sedikit jaringan dari dinding rahim. Hasil analisis nantinya bisa membuat kita mengetahui apakah yang ada di rahim istri Anda tumor jinak atau pun tumor ganas."


"Lalu, dok, setelah mengetahuinya ... apa tindakan yang harus kami diambil?"


"Melihat dari ukuran tumor, jika tumor ini jinak maka kami menyarankan untuk melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim."


"Pengangkatan rahim? Bukankah itu berarti istri saya tidak akan bisa hamil?" Darren tentu masih mengingat dengan baik saat Karen tiba-tiba memutuskan hendak memiliki anak setelah selesai pendidikan. Meski sebenarnya, ia tak pernah membujuk maupun memaksanya.


"Ya, histerektomi dapat menghilangkan peluang kehamilan. Jika Bapak dan istri berharap memiliki anak, mungkin bisa mencoba tindakan miomektomi sebagai alternatif lain. Tindakan ini hanya mengangkat sel dan jaringan tumor yang ada di rahim, tanpa perlu pengangkatan rahim. Hanya saja, tumor masih bisa tumbuh lagi sewaktu-waktu dan ada kemungkinan berkembang menjadi tumor ganas yang membentuk sel kanker. Apalagi untuk usia pasien yang masih muda seperti istri Anda."

__ADS_1


"Ini kalau tumor jinak, kan? Bagaimana kalau yang ada di rahim istri saya itu tumor ganas?


Dokter menghela napas sesaat. "Jika jenis tumor ini ganas, maka penanganannya tentu akan lebih serius. Pasien harus segera melakukan sejumlah prosedur pengobatan seperti kemoterapi untuk membunuh sel kanker tentunya sesuai dengan tingkat stadium yang diderita. Jika tidak segera ditangani, sel kanker akan menyebar ke organ lainnya dan berakibat kematian."


Darren tergugu seketika. Wajahnya menegang dengan rahang yang mengetat. Pandangannya mendadak berkunang-kunang. Tubuhnya seakan membeku. Tak bergerak sedikit pun.


Sebenarnya, tanpa perlu mendengar penjelasan dokter, ia sudah sangat paham. Benar-benar paham! Pasalnya, ini seperti mengulang kejadian yang sama saat ia menemani ibunya kontrol kesehatan, tapi malah mendapatkan vonis serupa. Setelah penyakit yang ditakuti seluruh wanita itu telah merenggut ibu kandungnya, apakah kisah kelam itu harus terulang pada istrinya?


"Jangan khawatir, Pak. Jaman sudah semakin canggih. Asal cepat dan tepat penanganan, semua pasti baik-baik saja," ucap dokter tersebut untuk menenangkan Darren.


"Berikan yang terbaik untuk istri saya, dok. Tapi, biarkan saya mendiskusikan hal ini lebih dulu dengannya. Dia pasti lebih terguncang kalau tahu."


Darren berjalan limbung seraya menatap nanar ke tempat Karen terbaring saat ini. Mami Valen datang tergesa-gesa dari arah yang berlawanan. Ia langsung menghampiri Darren dan menanyakan keadaan Karen dengan wajah panik.


"Gimana keadaan Karen? Dokter bilang apa? Apa dia harus dioperasi?" Mami Valen menyerbu anak mantunya dengan pertanyaan.


"Jadi Mami sudah tahu tentang keadaan Karen? Karen juga tahu? Apa itu berarti cuma aku aja yang enggak tahu?" tanya Darren kaget.


.


.


.


jejak kaki 🦶🦶


Dokter kandungan subspesialis onkologi adalah dokter ahli yang dikhususkan menangani tumor dan kanker pada organ reproduksi wanita.

__ADS_1


FYI, ternyata penyakit-penyakit yang ada di organ wanita khususnya rahim, hampir tidak memiliki gejala apa pun di awal. Kebanyakan penyakit-penyakit itu terdeteksi tanpa sengaja saat melakukan USG, tes darah, CT scan dll. So, be aware!


__ADS_2