
"Chalvin?" tegur Karen ketika melihat Chalvin mendadak membelakanginya hingga mematung beberapa saat.
Masih tak paham dengan debaran jantung yang ia rasakan saat ini, Chalvin mencoba memutar tubuhnya tanpa melihat ke arah perempuan itu.
"Kamu udah lega kan sekarang? Darren tetap dampingi kamu, enggak seperti dugaan awal kamu," ucap Chalvin yang masih berusaha menetralkan suasana hatinya.
Karen mengangguk dengan wajah tersipu malu. "Aku harap kedepannya bakal baik-baik aja. Aku bakal berusaha jadi istri yang lebih baik lagi."
"Jika aku Darren ... aku pasti sangat senang karena bisa miliki kamu! Tidak masalah seperti apa kamu yang sekarang, selama kamu memilih berada di sampingku, itu sudah cukup!" ucap Chalvin secara tiba-tiba. Namun, sedetik kemudian ia malah terkesiap dengan perkataannya sendiri. Kalimat itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya.
Mencoba meralat ucapannya, Chalvin buru-buru berkata, "Maksud aku ...."
"Justru aku yang senang bisa miliki pria seperti Darren," potong Karen sambil tersenyum semringah, "aku sangat bersyukur terpilih menjadi pasangannya. Dari awal, dia perlakukan aku sangat baik meskipun kami dinikahkan secara paksa."
Mendengar balasan Karen, Chalvin berusaha menghadirkan senyum di bibirnya. Pintu ruangan itu mendadak terbuka. Keduanya terkesiap saat Nadya datang kembali.
"Sorry, Kar, hp aku ketinggalan. Mana sadarnya pas mau naik grab lagi!" Nadya buru-buru mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Terus, Vera mana?" tanya Karen.
"Udah duluan dengan babang grabnya. Babang grabnya gak mau nungguin. Salty banget!" gerutu Nadya.
Kehadiran Nadya, membuat Chalvin makin salah tingkah hingga terdiam bodoh beberapa saat.
"Aku balik lagi, ya! Cepet sembuh biar kita bisa hangout bareng lagi." Nadya kembali menyemangati Karen.
"Kamu mau pulang ke mana? Kalo mau, sekalian aja nebeng sama aku," tawar Chalvin pada Nadya.
"Ah, pas banget! Kosnya Nadya juga searah kok," sambung Karen.
"Apa gak masalah?" tanya Nadya canggung.
"Enggak. Ayo!" ajak Chalvin yang kemudian menoleh pada Karen, "Ren, aku balik dulu, ya! Gak bisa lama-lama, entar dicariin Oma sama kakek."
__ADS_1
Napas gusar berembus dari mulut Chalvin begitu keluar dari ruang rawat Karen. Ia melangkah cepat dengan tatapan lurus ke depan tanpa memedulikan Nadya yang mengekornya. Tampaknya, ia mulai menyadari perasaan salah yang muncul dalam dirinya.
Aku enggak ngerti ... aku dan Darren memiliki karakter, hobi, dan minat yang berbeda. Tapi kenapa ... kami selalu menyukai wanita yang sama. Yang pasti ... entah aku yang lebih dulu datang atau pun terlambat datang, hasilnya tetap sama. Aku yang harus memendam.
Dahulu, ia menepis perasaannya karena wanita yang disukainya ternyata memilih sepupunya sendiri. Sekarang, ia harus mengubur perasaannya yang menguar pada sosok yang telah dimiliki orang yang sama. Miris memang, tapi di dunia ini ada hal-hal yang muncul secara tiba-tiba tanpa bisa diatasi lebih dulu, termasuk soal perasaan.
Hal ini berlaku pula untuk Feril yang bersikeras mengejar Karen di masa tenggang taruhan yang semakin dekat. Feril dan kawan-kawannya berdiri depan pintu ruang dosen sambil mengamati sekeliling ruangan. Rupanya, mereka sedang mencari Darren untuk mencari tahu siapa sosok tunangan Karen yang disebutkan Nadya dan Vera. Sebab, dalam pemahamannya, dosen bergelar profesor itu memiliki hubungan dengan pacar yang dikenalkan Karen padanya tempo hari.
"Pokoknya gak bakal gua biarin Karen dimiliki pria lain!"
"Ril, udahlah ... nyerah aja. Waktu lu tinggal tiga hari." Salah satu temannya mencoba mengingatkan Feril agar mundur dan mengakui kekalahannya.
"Bener, Ril. Meski gak bisa taklukkin Karen, semua juga tahu lu tuh pesonanya kuat di kampus. Anggap aja tuh cewek kena saraf mata karena gak tertarik sama lu. Masalah duit taruhan, entar kita-kita bakal patungan buat lu," kata si Jamet.
Teman-teman lainnya pun sepakat untuk membantu Feril membayar uang taruhan atas kekalahannya. Meski kumpulan para MAHDI dan berandalan kampus, tapi soal persahabatan mereka sangat solid.
"Ini bukan lagi soal taruhan, tapi soal perasaan! Dia udah tertancap di hati gua," tegas Feril seraya sibuk mengintip.
Teman-temannya tercengang seketika. "Serius lu? Lu ... beneran suka sama tuh gadis?"
"Serius! Kalian pikir gua betah jomlo selama enam bulan cuma karena demi taruhan? Iya, mungkin awalnya kek gitu, tapi belakangan ini gua merasa benar-benar suka ma doi." Feril memilih mengaku dan tak mau menutup-nutupi perasaannya dari teman-temannya.
Belum reda rasa terkejut mereka, kini teman-teman Feril itu malah melongo.
"Kok lu bisa jadi beneran suka doi? Bukannya lu bilang dia bukan tipe lu?" tanya temannya masih tak percaya.
"Yang namanya perasaan kan bisa datang tiba-tiba kek jerawat. Ibarat kalau lihat dia bawaannya kek pengen bangun Rumah Tangga," balas Feril sok bijak.
"Gaya lu bangun rumah tangga, bangun tidur aja susah!" celetuk si Jamet.
"Ehem ...." Suara dehaman keras seorang pria mengejutkan mereka semua. Saat berbalik, salah seorang dosen ekonomi yang berkepala plontos berdiri sambil melempar tatapan sangar ke arah mereka. Bagaimana tak kesal, ia tak bisa masuk karena para MAHDI itu mengepung pintu ruang dosen. Sontak, mereka pun segera membuka jalan sambil menyengir bodoh.
"Silakan lewat, Pak!" ucap gerombolan Mahdi.
__ADS_1
"Ngapain kalian berdiri di sini! Halangi orang lewat tahu! Pasti mau perbaiki nilai, kan Udah telat!" ketus dosen tersebut.
"Sapa juga yang mau perbaiki nilai, Pak? Kita mah orang-orang LEGAL ... LEgowo GAk Lulus," ucap Feril menampik terkaan dosen tersebut.
Dosen itu lantas berdecak kesal. "Begini, nih, kalo gagang sapu dikasih nyawa! Otak dan pikirannya tersapu bersih!" hardik dosen tersebut, "di usia seperti kalian saat ini seharusnya kejar kesuksesan! Minimal bikin mantan kalian mohon-mohon ngajak balikan," timpalnya lagi.
"Saya JOBAIDAH, Pak! Jomlo banyak ibadah. Gak bakal ada yang ngajak balikan. Naksir orang aja malah diajak ngaca, Pak!" sahut si gimbal.
"Oh, pantes. Ya, gak papa. Kasihan juga kalo kamu punya pasangan. Kasihan sama pasangan kamu maksud saya!" ketus dosen itu, kemudian memilih segera masuk dari pada berlama-lama dengan mereka.
"Pak, Pak, tunggu dulu!" Feril malah menahannya
"Apa lagi?"
"Lihat pak Darren, gak, Pak?"
"Pak Darren udah libur duluan. Istrinya lagi sakit!" Setelah berkata, dosen tersebut langsung pergi meninggalkan Feril yang sebenarnya masih ingin bertanya.
...----------------...
Setelah mengetahui kabar Karen lewat sekretaris Chalvin, Oma Belle langsung menelepon Darren. Untung saja kali ini teleponnya langsung dijawab.
"Halo, Oma ...."
"Darren, kenapa kamu enggak kasih tahu Oma kalau Karen lagi dirawat di rumah sakit?" Serangan pertanyaan langsung menyembur dari mulut Oma Belle.
"Maaf, Oma. Aku gak sempat. Ini aja aku harus urus ini itu," balas Darren.
"Pantes aja kemarin gak ada yang jawab telepon oma. Udah gitu pagi tadi juga Oma ke rumah kalian, malah gak ada siapa-siapa. Emangnya Karen sakit apa? Kok akhir-akhir ini dia gampang sakit?"
Terdiam sesaat, Darren menjawab pelan, "Karen ... punya tumor rahim, Oma."
.
__ADS_1
.
.