
"Karen anak semester 3, Pak. Digosipin jadi simpanan dosen," sahut salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Darren sebelumnya.
"Siapa yang pertama kali ngomong kayak gitu?" selidik Darren dengan sorot mata tajam.
"Gak tahu, Pak! Gosipnya dah beredar di WA grup beberapa hari ini. Bahkan sempat dipajang di papan pengumuman juga," sahut mereka.
Darren terkesiap karena baru mengetahui istrinya menjadi bahan pergunjingan beberapa hari ini. Ia langsung teringat dengan sikap aneh Karen yang beralasan sakit karena tak mau ke kampus.
Melihat Darren, Feril sontak teringat hubungan antara Karen dan pria itu yang masih menjadi tanda tanya. Ia melangkah ke depan sambil menggeser kursi yang menghalangi jalannya. Ia berdiri tepat di hadapan Darren dengan dagu yang sengaja dinaikkan.
"Dosen yang dimaksud itu Pak Profesor, bukan?" tanya Feril hendak mengonfirmasi langsung sekaligus mencari tahu jawaban dari rasa penasarannya selama ini.
"Ya, gak mungkinlah! Palingan juga tuh cewek simpanan dosen tua yang beristri," imbuh cewek-cewek yang ada di kelas itu diikuti gelak tawa.
"Kenapa kalian senang mengurusi dan mencari tahu kehidupan orang lain?" tanya Darren dengan pandangan yang tertuju pada Feril, "kenapa juga kalian suka membicarakan kehidupan orang lain? Apa hidup kalian kurang menarik sehingga lebih senang membicarakan orang lain?" tanyanya kembali sambil melempar pandangan ke seluruh mahasiswa yang ada di kelas itu.
Feril maju selangkah lagi, semakin mendekati Darren yang masih berdiri di tiang pintu. "Prof, Karen itu calon pacar aku, jadi aku harus selalu tahu apa yang terjadi sama dia. Aku harus selalu mantau aktivitas dia! Aku bakal selalu siaga buat cari tahu siapa yang ngusik dia, siapa yang ganggu dia dan siapa yang ngegosipin dia! Pokoknya aku siap kawal dia selalu! Gak peduli siapapun yang jalin hubungan sama dia saat ini, aku ... tetap bakal rebut hati Karen dari pria itu!" tekan Feril panjang lebar dengan penuh penegasan.
"Apa kamu enggak lelah?" tanya Darren dengan datar.
"Enggaklah! Aku kan suka sama Karen, jadi aku bakal selalu jaga dia!"
Darren menggeleng. "Tidak, maksud saya .... apa kamu enggak lelah mengoceh terus dari tadi?"
Alis Feril yang sempat terangkat tinggi-tinggi, sontak balik ke tempat semula bersamaan dengan ekspresi masam yang tercetak di wajahnya.
"Silakan duduk! Mata kuliah akan dimulai. Kamu menghalangi jalan saya dan membuang tiga menit berharga di mata kuliah ini!" pungkas Darren yang kemudian berjalan menuju mejanya.
Feril berbalik pelan, menatap heran ke arah Darren yang tampak tak acuh dengan pemberitaan tentang Karen. Sebaliknya, Darren kembali menoleh pada Feril yang baru saja duduk. Ia benar-benar tak menyangka ada seseorang yang mengatakan menyukai istrinya di hadapannya langsung.
Darren merenungi kembali ucapan Feril yang mengatakan harus selalu tahu apa yang terjadi pada Karen. Harus selalu memantau aktivitasnya, serta mencari tahu siapa yang mengusik dan mengganggunya. Entah kenapa, kata-kata yang tak bermaksud menyinggungnya itu, justru malah menjadi sebuah tamparan baginya.
Apa yang aku lakuin akhir-akhir ini? Kenapa aku benar-benar enggak tahu ada gosip jelek tentang istriku? Pantas aja dia enggak mau ke kampus!
__ADS_1
Darren berusaha menutupi kegusarannya di depan mahasiswa. Ia harus tetap profesional dengan tidak membawa urusan pribadinya saat sedang mengajar.
Teman Feril menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengannya. "Gila bener, lu! Lu kayak lagi nantangin dia, tahu! Kalau tuh dosen beneran keluarganya Karen gimana? Yang ada Karen gak bakal selamanya lo miliki!"
Feril kembali menatap Darren yang telah memulai materi. "Kayaknya dia bukan siapa-siapanya Karen. Cuma kebetulan aja kali ada di rumah itu. Mungkin temenan sama pacarnya Karen yg sultan itu. Lagian pacarnya udah gak pernah kelihatan batangnya di kampus!"
Sohib Feril lantas terbelalak. "Emang lo dah liat batangnya tuh laki?"
Feril meringis kesal. "Batang hidungnya maksud gua!" desisnya sambil mengangkat cuping hidungnya tinggi-tinggi mirip Cu Pat Kai.
Temannya kembali menyengir bodoh. "Ngomong yang lengkap, dong! By the way, lu kok akhir-akhir ini kek getol banget ngebelain Karen?"
Bola mata Feril bergerak liar seketika. "Kan gua lagi taruhan! Jadi gua harus berusaha dapatin dia biar menang!" tampiknya seraya berusaha menyembunyikan ekspresi yang sebenarnya.
"Lo beneran ngejar dia cuma gara-gara taruhan motor, kan? Soalnya tuh cewek gak pantas buat lo! Pantasnya buat gue!" cengir temannya seraya mengangkat alis dan menyisir rambutnya ke belakang dengan jari.
"Dream on?! Muke lu diformalin sana! Biar awet!" ketus Feril kesal.
...----------------...
Nadya akhirnya kembali kuliah setelah beberapa hari beristirahat di rumah pasca keguguran. Begitu masuk di kelas, ia langsung menghampiri Vera yang sibuk bergosip lalu menariknya secara paksa keluar dari kelas.
"Nad, apaan sih datang-datang narik gue kayak kebo!" Vera melepaskan genggaman tangan Nadya dari lengannya.
Dengan mata yang penuh curiga, Nadya berkata, "Lo pasti yang sebar gosip tentang Karen simpanan dosen, kan?"
Meski tak ke kampus selama beberapa hari, tak lantas membuat Nadya ketinggalan gosip yang telah santer dikirimkan ke tiap-tiap WA grup mahasiswa.
"What?! Gak salah lo nuduh gue?!"
"Ngaku aja, Ra. Yang tau Karen dah nikah sama pak Darren cuma kita berdua. Lu jealous kan Karen dinikahi dosen idola lo!"
"Gue berbuat kayak gitu? Gue akui gue emang jealous pas tahu Karen ternyata istrinya pak Darren, tapi buat apa gue ngelakuin hal rendah kek gitu? Karen itu masih teman gue!" Vera membela diri dari tuduhan Nadya. "Oh ... jangan-jangan justru lo yang diam-diam nusuk Karen dari belakang! Gue baru ingat, gosip itu beredar bertepatan saat lo gak datang-datang ke kampus!" Vera kini balik menuduh Nadya sebagai dalang semua ini.
__ADS_1
"Sembarangan banget lo nuduh gue! Gue gak punya alasan buat ngelakuin itu ke Karen. Gak kayak lo yang tergila-gila sama pak Darren!"
"Terus, ke mana lo selama beberapa hari ini?"
Nadya terbungkam seketika. Ia tak mungkin menceritakan pada Vera bahwa dirinya baru saja mengalami keguguran.
Melihat Nadya yang diam saja, membuat Vera semakin yakin. "Nah, kan ... sok-sokan nuduh gue padahal lo sendiri yang jadi ularnya!"
"Apa lo bilang?!"
Nadya dan Vera kini malah saling adu mulut, dorong-mendorong, jambak-jambakkan dan cakar-cakaran sebagaimana ciri khas perkelahian para perempuan. Perkelahian mereka ternyata tak sengaja dilihat oleh Marsha yang baru saja keluar dari kelas. Ia lantas segera melerai keduanya.
"Kenapa kalian bertengkar?" Marsha menengahi keduanya.
Seolah tak peduli dengan Marsha, Nadya dan Vera masih saling menuduh.
"Lo pasti kesal banget sama Karen karena dia ternyata istrinya pak Darren, makanya Lo nyebarin fitnah biar semua orang pada gosipin dia!" serang Nadya sambil mendorong Vera.
"Kalau gue yang ngelakuin itu, sekalian aja gue speak-up ke orang-orang kalau Karen ternyata udah nikah sama pak Darren biar makin heboh!" Vera balas mendorong Nadya.
(N: speak-up\=ngasih tahu)
Marsha yang berada di antara Nadya dan Vera, sontak terkejut mendengar perdebatan mereka. "Tunggu, jadi kalian tahu pak Darren sudah menikah dengan teman kalian?"
Seketika, Nadya dan Vera terdiam sambil menutup mulut. Mereka baru sadar telah keceplosan berbicara tentang pernikahan rahasia Darren dan Karen di depan Marsha.
Melihat reaksi keduanya, Marsha tersenyum sambil berkata, "Tenang, aku udah lebih dulu tahu kok kalau Darren udah nikah sama mahasiswanya."
Nadya dan Vera saling menatap, kemudian melempar pandangan penuh curiga ke arah Marsha.
"Jangan-jangan, Bu Marsha yang nyebarin gosip ini!" tuduh keduanya tanpa sungkan.
Marsha terbelalak, kemudian menggeleng pelan. "Bu–bukan! Bukan aku!" tampiknya cepat.
__ADS_1