DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 127 : Dua Kubu


__ADS_3

"Sheila, kamu gak sopan ngomong kayak gitu ke orangtua. Kalo kamu mau tinggal di sini harus ijin dulu sama kakek dan Oma," tegur darren dengan tegas.


"Gak aku ijinin!" tegas Oma dengan suara yang menyerupai letusan gunung Merapi.


Di saat yang bersamaan, kakek Aswono malah muncul dan menyambut kehadiran Sheila dengan ramah.


"Kamu udah gede, ya, sekarang! Kok gak pernah main ke rumah sini?"


"Makanya itu, Kek, aku mau numpang di sini selama beberapa hari. Soalnya di rumah boring gak bisa ngapa-ngapain," balas Sheila.


"Oh, boleh ... boleh ...."


Oma Belle tercungap seketika. "Tidak boleh!"


"Boleh kok! Oma, cuma bercanda," kata kakek sambil menyengir.


"Aku serius, Mas. Kamar kita sudah penuh, gak ada tempat untuk dia!"


"Lah, kan ada kamar tamu."


"Kamar tamu mau kupakai buat naruh hasil lukisan yang menumpuk," tampik Oma Belle beralasan.


"Belum ditaruh juga, kan?" tanya Kakek.


"Mau ditaruh sekarang!" Oma Belle lantas memanggil salah satu asisten rumah tangga. "Tarjo! Tarjo!"


Pria yang dipanggil segera menghadap. "Ada apa, ya, Nyah?"


"Yang saya suruh sudah kamu kerjakan, belum?"


"Suruh apa, Nyah?" tanya ART bengong.


"Itu ... yang nyuruh pindahin semua hasil lukisan ke kamar tamu. Kamu pasti lupa, ya?"

__ADS_1


Dengan masih memasang wajah bodoh, ART itu hanya mengangguk lalu berbalik sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Ngeselin banget sih nini-nini peyot ini. Kalo bukan Kak Darren yang baik sama gue, ngapain juga numpang di sini!" gumam Sheila seraya menatap oma Belle dengan geram.


Sheila lalu berkata pada kakek dan Darren. "Kayaknya Sheila gak diterima di rumah ini. Sheila mau nginep sama teman aja, deh! Gak ada tempat juga, 'kan?"


"Bagus kalo nyadar!" gumam oma Belle sambil bersedekap.


Darren lantas berbisik pada oma Belle. "Oma, sekali ini aja Oma terima Sheila. Siapa tahu aja dengan tinggal di sini dia bisa berubah."


"Mau berubah jadi power rangers kek, jadi Ultraman, jadi Spiderman, kera sakti sekalipun bukan urusan kita! Dia masih punya orangtua!" ketus oma Belle.


Di saat bersamaan, kakek Aswono malah berkata, "Oh, iya, kan masih ada satu kamar kosong di atas."


"Itu kamar Chalvin!" sambar oma Belle dengan cepat.


"Yo, kan chalvin gak di sini. Lagian, dia jarang nginep, kan?" balas kakek Aswono, "Ya, sudah ... Darren kamu angkatin koper Sheila. Bawa ke samping kamar kamu."


Darren segera menuruti titah kakek Aswono. Sheila tersenyum penuh kemenangan dengan pandangan penuh provokasi yang sengaja ia lemparkan pada oma Belle dan Karen. Ia mengekor darren yang lebih dulu menaiki tangga sambil membawa kopernya. Saat berjalan, ia malah dengan sengaja menabrak lengan Karen.


Karen membalas tatapan remeh Sheila dengan senyum. "Kayaknya kamu perlu aku antar ke dokter mata, deh. Soalnya mata kamu bermasalah mulu penglihatannya, pas di rumah aku juga gak bisa bedain kamar tamu sama kamar tuan rumah, kan?"


"Ups, baru ingat kalo kamu kakak ipar aku yang kek preman. Pasti awal kenalan sama Kak Darren di pasar Senen, ya? Pas lagi malakin orang mungkin. Ih, jadi takut kena jambak lagi," ucap gadis itu dengan nada mengejek.


Sementara, oma Belle yang geram tak bisa tinggal diam melihat adik tiri Darren tinggal di rumah itu. Ia masih tak mengerti kenapa suaminya mau menampung anak itu. Bukan tanpa sebab ia tak menyukai Sheila, selain karena tak tahu adab dan sopan santun, ia berfirasat anak itu akan membawa aura negatif di rumah.


Oma belle mengambil ponselnya dan tampak menghubungi seseorang. "Hallo, Chalvin, dengerin Oma, ini perintah darurat! Kamu kemas-kemas barang kamu dan pindah ke rumah oma sekarang juga!"


Chalvin tentu saja terkejut mendengar titah dadakan omanya. "Oma, ada apa, sih? Datang-datang langsung main perintah kek komandan perang."


"Oma gak mau kamar kamu di tempati sama si Daki itu," balas oma Belle dengan nada kesal.


Chalvin malah semakin bingung dengan ucapan oma Belle. "Siapa sih yang oma maksud?"

__ADS_1


"Udah ... gak usah banyak ngomong. Ikuti aja kata oma. Kalo kamu gak pindah, tak kawinin kamu besok!"


Telinga Chalvin serasa hendak meledak mendengar suara oma Belle yang mirip dengan orator demo. Namun, begitu telepon terputus, ia langsung ingat dengan kalimat terakhir yang dilontarkan omanya.


"Kalo aku pindah ke sana, kayaknya oma gak bakal desak aku nikah, deh." Chalvin malah membuat kesimpulan sendiri dengan ekpresi senang.


****


Karen duduk di sisi ranjang dengan tampilan wajah merengut. Meski sudah tahu kalau Sheila ternyata adik tiri Darren, tetap saja ia kurang senang harus tinggal seatap dengannya. Apalagi pertemuan pertama mereka sudah meninggalkan kesan yang tak bagus bagi dirinya dan tentu saja Sheila.


"Kamu kenapa? Masih marah ya sama aku?" tanya Darren yang baru saja masuk.


Karen memegang ujung jari suaminya. "Kita pulang ke rumah, yuk! Kita tinggal di sana lagi," pintanya tiba-tiba.


"Loh, kok mendadak mau balik?" tanya Darren sesaat, "kamu gak senang karena ada Sheila, ya?"


Karen tak menjawab, malah langsung melengos.


Darren tersenyum simpul, lalu berjongkok di hadapan Karen sambil memegang kedua tangannya.


"Maaf bikin kamu gak nyaman. Dia juga masih keluarga aku meski enggak satu darah. Waktu ayah menikah dengan ibunya, dia masih sangat kecil. Aku tahu, pasti gak mudah bagi dia waktu itu. Apalagi cara mendidik ayah sama seperti oma."


"Tapi dia tuh ngeselin. Dia ke sini kayak sengaja mau balas dendam ma aku. Gini yah rasanya punya ipar. Pantas banyak orang yang sering ngomong kalo yang namanya ipar tuh pasti nyebelin."


"Kalo kamu nganggap dia ipar yang ngeselin, dia juga bisa anggap kamu sama, loh. Karena kedudukan kalian itu sama, dia ipar bagi kamu, kamu juga ipar bagi dia. Dulu, sebelum kita nikah, aku sempat mikir apa istri aku nanti bisa betah hadapi oma yang suka nge-dikte, apa calon istriku bisa sabar hadapi oma yang suka ngomel, ternyata prasangka aku bisa kamu tepis. Kamu bisa beradaptasi sama oma. Bahkan betah temani dia ngelukis dan ngobrol. Aku yakin kali ini kamu juga bisa hadapi Sheila. Yang harus kamu ingat, kamu lebih dewasa dibanding dia," ucap Darren sambil menautkan jari-jari mereka.


Menjelang makan malam, semua berkumpul di meja makan tak terkecuali Sheila. Ia langsung menyisip masuk ke sisi Darren dan sengaja menyikut Karen agar menjauh dari mereka.


"Aku mau makan di samping kak Darren aja," kata Sheila sambil menarik kursi yang berada di sebelah Darren.


Karen mengepalkan tangannya dengan kesal. Namun, itu tak berlangsung lama ketika oma Belle memanggil dan meminta untuk duduk di sampingnya. Ini membuat posisinya saling berhadapan dengan gadis yang masih duduk di bangku SMA itu.


"Karen, kamu harus berada di kubu Oma karena Darren dan kakek pasti berpihak sama si Daki itu," bisik oma Belle.

__ADS_1


"Tapi, Oma keknya kita bakalan kalah, deh. Soalnya Darren dan kakek tuh cerdas. Yang satu profesor yang satu bisnisman," ucap Karen khawatir.


"Tenang saja! Kita ini perempuan, kita pasti menang karena perempuan itu gak pernah salah! Lagipula sebentar lagi Chalvin datang, oma yakin dia bakal ada di pihak kita."


__ADS_2