DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 179 : Cuma Modus?


__ADS_3

Setelah Nadya menyetujuinya, Chalvin langsung membawanya ke apartemen. Namun, sebelumnya mereka memutuskan untuk berbelanja telur dan beberapa persediaan bahan makanan lainnya ke mini market terdekat. Keduanya tampak seperti pasangan pada umumnya, di mana sang perempuan sibuk memilih bahan makanan, sementara sang pria mengekor sambil mendorong troli. Ya, Chalvin memang meminta Nadya memilihkan bahan makanan dan minuman untuk stok isi kulkasnya yang telah kosong.


Nadya terkejut mengetahui tempat tinggal Chalvin adalah salah satu apartemen mewah di Jakarta.


"Tinggi banget!" seru Nadya dengan kepala mendongak melihat puncak gedung tersebut.


"Di apartemen ini ada beberapa artis muda yang tinggal, loh!"


"Beneran, Kak? Siapa aja tuh. Ih, mau dong minta foto bareng."


"Salah satunya ada yang sering main di apartemen aku," ucap Chalvin sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri seolah meminta Nadya merahasiakannya.


Sikap Chalvin yang terlalu berterus terang, membuat Nadya terdiam sejenak.


Chalvin membuka pintu apartemennya lalu mempersilakan Nadya masuk. Mata gadis itu berkeliling dengan mulut ternganga begitu melihat tampilan ruangan yang didominasi warna putih berpadu cokelat kayu yang meninggalkan kesan nuansa klasik. Ia makin takjub melihat jendela lebar yang hampir memenuhi satu sisi dinding ruangan di mana mereka bisa melihat pemandangan hiruk pikuk jalanan ibukota di malam hari.


Chalvin memboyong barang belanjaan ke dapur. Nadya yang mengekornya dari belakang, lantas membantunya meletakkan barang-barang belanjaan ke dalam lemari pendingin. Keduanya sama-sama berdiri di masing-masing sisi kulkas. Chalvin bagian mengisi minuman, sementara Nadya bagian mengatur bahan makanan di dalam laci lemari es.


"Kak Chalvin cuma tinggal sendiri, ya?"


"Iya ..."


"Gak pake jasa ART?"


"Enggak ...."


"Terus, kalo makan dan beres-beres?"


"Ya, aku sendiri yang kerjakan. Keluarga Bratajaya dilatih mandiri sejak dini."


"Keren banget!"


"Apanya yang keren?"


"Ya, tumben aja cowok sibuk kayak Kak Chalvin masih sempat masak."


"Eh, tomat jangan dimasukin dalam kulkas," larang Chalvin tiba-tiba.


"Oh, sorry, gak tahu!"


Chalvin bermaksud mengambil tomat yang sudah ditata di dalam lemari pendingin, tapi itu malah membuat sisi kepala mereka saling berbenturan. Keduanya pun sama-sama meringis sambil berjongkok dengan memegang kepala masing-masing.


"Kamu gak papa?" tanya Chalvin.


Nadya menatap diam ke arahnya selama beberapa detik sebelum tawa halus menyembul di bibir gadis itu. "Ya, sakitlah!"


"Sorry ... sorry!" Chalvin memijat ringan kepala Nadya yang habis bertabrakan dengan kepalanya.


Sikap Chalvin membuat Nadya tertegun sebentar. Tak ingin kembali terlena dengan pria itu, ia pun segera berdiri sambil membelakanginya.


"Aku goreng telurnya sekarang, ya?" ucap Nadya sambil mengambil telur omega yang mereka beli tadi.


"Boleh juga!" Chalvin mengambil teflon yang tersimpan di kabinet atas.


"Kak Chalvin, nungguin di sana aja. Ini gak lama kok. Oh, iya, ini telurnya mau matang apa setengah matang?"


"Mana-mana aja, deh!"


"Terus telur ceploknya aku buatin kayak di warung yang lagi viral di sosmed, mau gak?"


"Nevermind! Gimana pun bentuk dan rasanya bakal aku makan."

__ADS_1


(Nevermind: gak masalah)


"Tapi agak berminyak, sih? Orang kaya kayaknya kurang suka makan yang berminyak, ya?"


"Ya, gak papa!" jawab Chalvin santai sambil membuka lemari yang berisi koleksian minuman favoritnya.


Chalvin lalu duduk di sofa sambil membuka botol minumannya lalu menuangkan cairan berwarna merah tua ke gelas bertangkai. Ia menyesap minuman tersebut dengan perlahan, sambil melirik ke arah Nadya. Gadis itu tampak begitu semangat membuatkan makan malam untuknya.


"Kamu dah punya pacar?" tanya Chalvin tiba-tiba.


Nadya terhentak atas pertanyaan Chalvin. "Gimana mau punya pacar, aku aja sibuk ngerjain tugas kuliah sama ngurus kafe."


"Oh, iya, gimana usaha kafe yang kamu kelola?"


"Puji syukur, ramai, Kak," jawab Nadya, Oh, iya, kabarnya Oma sekarang, gimana? Kangen juga sama Omanya Kak Chalvin."


Napas Chalvin berembus berat. "Terakhir, dia masih kenalin aku sama cewek baru! Aku pikir setelah Karen hamil dia berhenti mikirin aku."


Tawa renyah menyembul dari mulut Nadya. "Kenapa Kakak gak mau nikah?"


Chalvin menyesap minuman dengan perlahan, lalu berkata, "Bagiku pernikahan itu adalah sebuah pertaruhan. Kita mempertaruhkan hidup kita bersama orang lain untuk masa depan yang penuh dengan kebahagiaan ataukah penderitaan."


Setelah menyajikan nasi hangat dan telur ceplok lengkap dengan hiasan tomat yang dibentuk bunga. Sambil membawa nampan berisi nasi telur ceplok dan segelas air, Nadya pun menghampiri Chalvin yang telah menyesap minuman dengan perlahan sambil bersandar di sudut sofa.


"Ini Kak. Semoga suka, ya?" Nadya mengambil posisi duduk di ujung sofa hingga menyisakan jarak yang kosong di tengah-tengah mereka.


"Kamu sendiri gak buat masakan untuk kamu juga?" tanya Chalvin seraya memutar-mutar gelas tangkai yang dipegangnya hingga isi minuman itu ikut berputar.


"Enggak, Kak. Kebetulan udah kenyang."


Chalvin kemudian meletakkan gelasnya di atas meja. Namun, bukannya segera menyantap makanan itu, ia malah menggeser posisi duduknya agar berdekatan dengan Nadya. Semakin dekat, hingga keduanya duduk tanpa ada jarak.


Chalvin meletakkan satu tangannya di atas sandaran kursi lalu memandang Nadya dengan tatapan lamat. Menerima tatapan seperti itu membuat Nadya sedikit kikuk. Apalagi posisi mereka saat ini sungguh dekat, sampai-sampai ia kesulitan mengubah gaya duduk.


Kalimat Nadya mengambang begitu saja saat mulutnya dibungkam oleh bibir Chalvin yang menyambar seperti kilat. Ya, kecupan pria itu terlalu singkat dan tak terduga.


"Apa maksudnya ini?" tanya Nadya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jari lentiknya spontan memegang bibirnya yang baru saja terjamah oleh pria itu.


"Ciuman dari aku untuk kamu."


"Kenapa?" tanya Nadya dengan suara yang bergelombang.


"Gak ada alasan."


Nadya kembali tergugu. Lidahnya mendadak kelu. Dari raut wajahnya susah tampak jelas gadis itu begitu gugup dan gemetar. Bahkan hanya mampu meremas kedua tangannya saat pria itu mengunci tatapannya.


Satu detik, dua detik, tiga detik. Tak ada suara apa pun selain deru jarum dinding yang berdetak. Dua pasang mata yang saling memandang lekat dari jarak yang begitu dekat. Pada hitungan detik keempat, Chalvin kembali membenamkan bibirnya di bibir Nadya yang sedikit terbuka.


Mata Nadya membesar dengan refleks tepat saat bibir mereka resmi bersatu. Sama seperti sebelumnya, ciuman ini terjadi begitu saja tanpa bisa dihindari atau ditolak. Ia tak memiliki kemampuan melakukannya. Tubuhnya lebih dulu membeku tanpa bisa melakukan apa pun.


Ciuman kali ini lebih dalam dan lembut. Bahkan dia bisa merasakan manis cairan yang menempel di bibir lelaki itu, ketika bibir mereka saling bertautan.


Tak berlangsung lama, Chalvin melepas ciuman sejenak. "Kamu nervous banget!"


Nadya langsung tertunduk dengan bola mata yang bergerak tak menetap. Chalvin mengangkat dagu gadis itu dengan lembut, agar tatapan mereka bisa sejajar.


"Suka?" tanya Chalvin setelah berhasil mendaratkan ciuman untuk kedua kalinya, "Kalo suka, aku lanjut. Kalo enggak, aku berhenti."


Nadya terhenyak. Ia hendak menggeser posisi duduk, tetap sudah terlanjut tersudut di sofa putih itu. Seharusnya ciuman ini tidak terjadi. Apalagi mereka tidak memiliki hubungan khusus.


"Aku ...."

__ADS_1


"Mau lanjut atau berhenti?" tanya Chalvin kembali seolah mendesak Nadya memberi memberi jawaban atas opsinya.


"Aku rasa Kak Chalvin udah mabuk!"


"Enggak. Kamu kira itu minuman beralkohol?" Chalvin mengedikkan dagu ke arah botol dan gelas yang ada di atas meja.


"Seharusnya tidak begini, loh!" ucap Nadya yang semakin rikuh dan gugup.


"Lalu? Seharusnya bagaimana?" Chalvin malah memangku dagu.


Nadya langsung berdiri. "Kayaknya aku harus pulang!"


"Padahal aku sudah siap ditampar loh!" cetus Chalvin santai sambil bersandar dengan sebelah kaki yang berpangku.


Suara Chalvin menghentikan langkah Nadya. Ia memutar tubuhnya, seraya menatap pria itu dengan getir.


"Jadi Kak Chalvin lagi nguji aku?"


"Apa yang bisa diharapkan dari pria dan wanita berada di ruang yang sama tanpa ada siapapun? Apa kamu berharap kamu akan baik-baik aja di sini?"


"Maksud Kakak?"


Chalvin melengos seraya tersenyum ringkih. "Kamu enggak ngerti?"


"Tujuanku ke sini benar-benar cuma pengen buatin apa yang Kakak mau sebagai bentuk ucapan terima kasih aku selama ini," jelas Nadya.


Chalvin tersenyum masam. "Sebenarnya aku tidak suka telur ceplok. Tapi, berhubung telur ceplok paling mudah dibuat dan aku pikir sebodoh-bodohnya perempuan yang gak pintar masak, pasti tahulah bikinnya. Seharusnya kamu bisa membaca situasi itu. Tipu daya lelaki!"


Nadya mengerutkan kening. "Jadi ... maksud Kakak ...."


"Modus!" potong Chalvin cepat, "Beginilah cara pria memainkan psikologi wanita agar mau menuruti keinginan mereka dengan sukarela. Makanya, jangan mudah menerima ajakan pria untuk datang ke tempatnya," lanjut Chalvin sambil mengayunkan gelasnya.


"Kalo pria lain, mungkin iya. Tapi karena yang minta itu Kakak, aku percaya! Tapi, sepertinya aku udah salah nilai Kak Chalvin. Kupikir Kakak beda dengan laki-laki di luar sana yang selalu mandang rendah perempuan. Ternyata sama aja, ya? Apa karena Kakak tahu kebodohan aku sebelumnya, jadi Kakak pikir aku emang mudah diajak pria, gitu?" ucap Nadya dengan suara serak.


Chalvin mengubah cara duduknya ketika melihat mata Nadya mulai berkaca-kaca. "Enggak, aku cuma pengen ...."


"Selamat malam!" Nadya langsung berbalik dan beranjak.


Tepat saat Nadya keluar dari apartemennya, wajah sombong Chalvin berangsur-angsur hilang berganti dengan tatapan lemah. "Maaf kalo kata-kataku terlalu kasar buat kamu. Aku cuma gak mau kamu terlalu polos dan gampang percaya pria kayak aku," gumam pria itu.


Untuk ukuran pria metropolitan yang telah mengenal banyak karakter manusia perkotaan, Chalvin hanya tak ingin Nadya kembali terjerumus. Mungkin dengan orang lain atau dengan dirinya sendiri.


Pria itu lalu mengambil ponsel dan menghubungi satpam apartemen.


"Apa aku boleh minta tolong? Tolong carikan taksi untuk gadis muda yang memakai baju cream dan celana jeans. Sebentar lagi mungkin dia turun dari lift. Dia tamuku yang tadi datang bersamaku."


Chalvin menatap sajian nasi telur ceplok yang baru saja dimasak oleh Nadya. Ia lalu mengambil piring tersebut dan mulai memakannya. Sejujurnya, ini pertama kalinya ia mencoba menu sederhana tersebut.


.


.


.


Catatan author ✍️✍️✍️


Lihat kalimat yang diucapkan Chalvin di atas. "Mau atau gak? Kalo mau, aku lanjut. Kalo enggak, aku berhenti." Ini kalimat konsen ya (meminta persetujuan). Apabila cewek mengiyakan dan terjadi pernetnotan, itu masuk kategori suka sama suka.


Tapi kalau si cowok berusaha merayu, mengiming-imingi janji, seperti "kamu bakal jadi istri aku nanti", atau ngancem kayak "kalo kamu gak mau berarti kamu gak sayang karena kamu gak bisa kasih bukti ke aku." Apabila cewek mengiyakan, itu termasuk 'korban' manipulasi dan itu bisa terjadi terus menerus jika perempuannya gak berusaha keluar dari hubungan itu (berani putus dan tinggalkan pria itu). Modus-modus gini banyak terjadi saat pacaran, salah satunya yang dialami Nadya saat sama farel dulu ya.


Bagi ortu yang punya anak, jangan lupa untuk selalu ngasih s3x edukasi ke anaknya. Jaman sekarang, jangan anggap membahas tentang s3x ke anak hal yang tabu. Kalo gak kasih tahu, anak bakal cari tahu sendiri dengan cara yg sesat. Gua punya contoh kasus saat gua pernah jadi pengajar, ada satu siswi yg berkasus dengan pacarnya di sekolah. Lalu orangtua siswi tersebut ngotot kalo anaknya gak mungkin gitu karena anaknya ini dijaga baik-baik, bahkan ga diijinin pacaran dan gak pernah keluar malam meski kerja kelompok. Udah dikekang seperti itu aja, anaknya malah pacaran di sekolah sampe kelewat batas 🤕

__ADS_1


Beberapa bulan lalu gua sempat nyinggung soal grooming di novel ini. Dan beberapa hari terakhir ini, sosmed lagi gencar angkat issue grooming terkait berita perselingkuhan salah satu aktris, yang ternyata istrinya dulu dinikahi saat masih 18 tahun.


Oke ini aja sharing gua, sampai jumpa di sharing berikutnya. Dari chapter awal gua dah disclaimer kalo novel ini santuy, jadi jangan desak gua buat cepet-cepetin alurnya. Udah gua jelasin juga di bab bawah, alasannya kenapa. Kalo gua sih, pengennya cepat tamat, tapi sayangnya belom disetujui editor. semoga kalian gak bosan, ya.


__ADS_2