DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 120 : Saling Membatin


__ADS_3

"Chalvin!" panggil Oma Belle begitu melihat tatapan pria itu tertuju pada Karen.


Chalvin terhenyak dan langsung melarikan pandangannya pada Oma. "Ya, Oma."


"Ambilin dong makanan untuk Nadya. Kamu ini gimana, sih!" perintah Oma.


Chalvin lalu bertanya pada Nadya. "Kamu mau coba yang mana?"


"Gak papa, aku bisa ambil sendiri," ucap Nadya. Ternyata, ia juga memerhatikan pandangan Chalvin yang tertuju pada Karen.


"Ternyata, Kak Chalvin memang punya perasaan spesial sama Karen," gumam Nadya.


Sama seperti yang lainnya, Karen pun tak sabar untuk segera mencicipi aneka menu yang menggiurkan. Apalagi selama di rumah sakit sampai seminggu setelah terapi, ia tersiksa karena harus pantangan.


Saat hendak mengambil kuah gulai, Oma Belle malah menahan sendoknya. "Eh, Ren, kamu gak boleh makan masakan bersantan. Ingat, kamu tuh baru habis sakit."


Karen lalu mengambil hidangan dendeng sapi balado. Namun, Oma Belle langsung menggeser hidangan itu ke arahnya.


"Kamu juga belum boleh makan yang pedas-pedas. Nanti kalo perut kamu kenapa-kenapa gimana?"


Memberengutkan wajah, Karen lalu mengambil udang kriuk yang berada di hadapan Oma Belle.


"Gorengan juga gak boleh!" larang Oma Belle.


"Ih, Oma! Terus Karen makan apa dong? Masa semua gak boleh!"


"Tenang aja, Oma sudah request ke Bibi makanan khusus buat kamu."


Bertepatan dengan itu, seorang ART membawakan semangkok besar berisi masakan sayur bening lengkap dengan potongan jagung manis.


"Nah, tuh makanan kamu!" seru Oma Belle.


Mata Karen melebar seketika. "Cuma makan sayur doang, Oma?"


"Itu menyehatkan kamu!" tandas Oma Belle sambil tersenyum.


"Ya, ampun, gak cucu gak Omanya sama-sama sadis kalo udah berurusan dengan makanan. Masa iya aku cuma boleh makan sayur doang! Dikira aku kambing apa," gumam Karen membatin.


Oma belle malah menyodorkan menu-menu yang ada di hadapan Karen ke Nadya dan Chalvin.

__ADS_1


"Nak Nadya ayo makan yang banyak. Jangan sungkan-sungkan," ucap Oma Belle.


Chalvin turut mengambilkan sajian menu ke piring Nadya. Karen kembali memerhatikan Chalvin dan Nadya. Sungguh, ia masih tak percaya mereka berdua sedang berpacaran. Ia bahkan penasaran dan bertanya-tanya bagaimana awal mula hubungan itu terjadi.


"Nadya emang pernah nyuruh aku comblangin dia sama Chalvin biar bisa move on dari Farel. Terus, gak lama kemudian Nadya jadi menutup diri gara-gara keguguran. Chalvin tahu soal ini! Ya, dia tahu semua yang terjadi pada Nadya. Berarti, dia bisa terima Nadya apa adanya," pikir Karen dalam hati dengan tatapan lurus ke arah Chalvin.


Tampaknya Oma Belle masih mengeluarkan radarnya. Setelah Chalvin, kini giliran Karen yang tak lepas dari pengawasannya. Melihat Karen yang terus memerhatikan Chalvin, membuat Oma Belle buru-buru mengambil air lalu meneguknya seiring dadanya terasa berat dan tenggorokannya seakan tercekat.


"Loh, kenapa ekspresi Karen kayak gak terima kalo Chalvin punya pacar?" Batin Oma bertanya-tanya, "Gak benar, nih! Chalvin ... Karen ... jangan-jangan diam-diam mereka saling memendam perasaan. Gak bisa dibiarkan ini, bisa-bisa mereka main serong di belakang Darren. Pantas saja Chalvin belum bersedia menikah, pacarnya yang sekarang pasti cuma buat selingan aja seperti yang sudah-sudah," gumam Oma Belle yang makin tenggelam dalam pemikirannya yang tidak-tidak.


Setelah makan malam, Chalvin mengantar Nadya pulang. Hari ini cukup melelahkan bagi mereka karena harus berakting sebagai pasangan palsu. Meski hanya berpura-pura, tapi Nadya sangat senang. Apalagi dia diterima dengan hangat di keluarga Bratajaya.


"Akhirnya selesai juga!" Nadya bersandar seraya mengembuskan napas lega.


"Oma aku konyol banget, kan?"


"Enggak, kok. Menurutku justru Omanya Kak Chalvin terlihat care banget sama Kakak."


"Care apaan? Tukang ngatur, iya! Dia pikir gua kek Darren yang serba nurut kemauannya." Chalvin mendadak menggerutu.


"Sebenarnya aku malu sama Karen. Soalnya dia yang paling tahu aku orangnya kek gimana. Pasti dia mikir aku fake banget di depan Oma."


"Ya ... ngapain malu? Orang bisa berubah kalo lagi jatuh cinta, kan? Kalo kata gua sih, pacaran emang penuh kepalsuan. Mereka akan berusaha menunjukkan sisi terbaik mereka, meski cuma dibuat-buat. Ada teman aku yang udah pacaran bertahun-tahun, pas nikah malah syok karena pasangannya jadi beda dari masa pacaran. Jadi anggap aja kamu berubah, karena emang lagi jatuh cinta sama aku." Chalvin terkekeh, "oh, iya, thanks, ya, untuk hari ini. Untuk uang yang aku janjiin—"


"Kita gak berhasil, kan?" potong Nadya, "jadi, Kak Chalvin gak perlu bayar aku."


"Siapa bilang gak berhasil? Justru kamu sukses besar mempresentasikan calon istri idaman Oma. Buktinya dia langsung minta aku lamar kamu," ucap Chalvin memasang wajah masam sambil tertawa ringkih.


Nadya ikut tertawa kecil. "Tapi ... bukannya ini jadi masalah baru?"


Chalvin tersenyum miring. "Iya, sih."


"Terus gimana dong?" Nadya pun tampak ikut memikirkan persoalan lamaran.


"Untuk selanjutnya biar aku pikirkan cara tangani Oma. Ini masalah aku, bukan masalah kamu. Jadi kamu gak perlu ikut pusing. Aku gak mau libatkan kamu terlalu jauh. Yang pasti, kita gak mungkin nikah, kan?"


Nadia menipiskan bibirnya seraya mengangguk pelan. Jika Chalvin berkata demikian, artinya ia tak ada urusan lagi dengan pria itu. Ya, hubungan mereka hanya sebatas hari ini saja. Namun, waktu yang singkat ini sudah memberi banyak momen manis baginya. Terutama saat Chalvin benar-benar memperlakukannya sebagai seorang kekasih. Meski itu hanya semu.


"Makasih, ya, atas bantuan kamu hari ini. Udah malam banget, apa mau aku antar sampai depan kos?" tanya Chalvin begitu mobilnya berhenti di depan gang tempat tinggal Nadya.

__ADS_1


"Gak usah, Kak. Kos aku dekat kok. Lagian di sini aman. Gak ada begal!" Nadya melepas sabuk pengaman, lalu turun dari mobil.


Melangkahkan kaki dengan berat meninggalkan mobil itu, tiba-tiba Nadya berbalik cepat lalu menoleh pada Chalvin yang masih mengawasinya.


"Kak Chalvin!" panggil Nadya saat jendela kaca mobil hampir tertutup.


Chalvin kembali menurunkan kaca mobilnya.


"Aa ... kalo Kakak masih butuh bantuan aku, hubungi aja aku."


"Oh, ok!" jawab Chalvin pendek dengan sudut bibir yang terangkat kecil.


Nadya masuk terburu-buru dalam gang. Namun, beberapa saat kemudian ia berlari keluar sambil menatap mobil Chalvin yang perlahan menjauh. Ia mendengus seraya memukul-mukul kepalanya.


"Kenapa aku malah nawarin bantuan lagi?" gumamnya.


Usai makan malam bersama, Oma Belle malah berjalan ke sana-kemari di dalam kamarnya dengan pikiran yang semakin berkecamuk.


"Kamu kenapa, sih? Mondar-mandir kayak mandor!" tegur kakek Aswono.


"Cucu kita yang satu itu benar-benar meresahkan kalo gak cepat-cepat kita nikahkan dengan pacarnya. Seharusnya dulu aku lebih dulu carikan jodohnya ketimbang Darren. Bisa-bisa dia putus duluan sama perempuan yang sekarang ini jadi pacarnya. Kamu tahu sendiri kan, dia itu gampang banget gonta-ganti pasangan!" omel Oma Belle.


"Kalo ada laki-laki yang terkenal playboy gampang cari cewek ya ... gak usah heran. Yang perlu diherankan itu perempuannya. Kenapa bisa mau sama lelaki modelan begitu," sanggah kakek Aswono.


Oma Belle mendadak teringat Darren. "Oh, iya, Darren ke mana, ya? Sudah pulang, belum? Ini udah mulai larut, loh!"


"Kamu itu kok kayak satpam. Cucu yang udah menikah pun, masih kamu urus!" ketus kakek Aswono menggeleng-geleng.


Sementara, Karen mempersiapkan dirinya dengan memakai pakaian pelemah iman kaum lelaki dan menyemprotkan parfum beraroma sensual ke seluruh tubuhnya. Tentu saja sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran yang ia janjikan pagi tadi.


Karen mengambil ponselnya, bermaksud menghubungi Darren. Ia mengernyit ketika ponselnya hanya meninggalkan suara operator. Kontak WhatsApp miliknya pun tidak online terhitung sejak pergi meninggalkan rumah ini.


Karen menatap jam digital yang terpajang di atas laci nakas. Waktu terus bergulir hingga tak terasa sudah memasuki pukul dua belas malam. Namun, kenapa Darren belum juga pulang?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2