
Darren menuntun Karen yang tengah mengalami serangan pusing mendadak, untuk beringsut duduk di sofa. Ia mengambil air mineral lalu membantu istrinya itu untuk meneguknya.
"Akhir-akhir ini kesehatan kamu mulai menurun. Ingat, loh, kamu tuh baru masa pemulihan!"
"Aku gak papa, kok! Mungkin cuma capek aja!"
Karen yang masih merebahkan kepalanya di sandaran sofa sembari memejamkan mata, lantas mendadak berdiri bersikap seolah tidak ada yang salah dengan kesehatannya. Sebab, jika dia tampak sakit, maka kemungkinan Darren tak akan memutuskan pindah. Sialnya, baru saja mencoba kuat, ia malah kembali limbung dan hampir terjatuh.
Darren segera menangkapnya dengan memegangi kedua pundak Karen. "Udah, istirahat aja! Habis ini kita pulang ke rumah Oma. Bersihin rumah besok-besok aja."
Kalimat dengan nada perintah keluar dari mulut Darren. Karen terkesiap, tentu tak setuju jika harus kembali ke rumah Oma Belle. Pulang ke rumah Oma Belle berarti harus kembali bertemu dengan Chalvin. Sementara, itu hal yang dihindarinya saat ini karena dia merasa canggung setelah mengetahui pria itu memendam perasaan padanya.
"Aku gak mau pulang! Aku mau tidur di sini malam ini! Kita gak usah pulang, ya?" bujuk Karen.
"Kamu lihat sendiri, kondisi kamu lemah gini. Kalo besok aku di kampus, gak ada yang jaga kamu, gimana?"
Karen terdiam, tetapi menampakkan raut cemberut. Darren menempatkan tangannya di belakang kepala Karen, lalu mengusap acak rambut perempuan itu.
"Atau kita ke dokter aja tar malam."
"Aku gak papa, kok. Gak perlu ke dokter," tolak Karen. Sejak kontrol ke dokter kandungan waktu itu, ia tampak malas untuk datang lagi meskipun disarankan dokter untuk melakukan pengecekan kembali. Padahal, ia pun merasa ada yang aneh dengan dirinya selama beberapa pekan ini, seperti mudah lelah dan sering pusing.
"Kalo gitu dengerin dong kata suami! Kamu terlalu maksain diri sibuk kerja. Terima endorsan banyak, makanya gampang kelelahan. Mulai sekarang stop terima endorsan dulu, harus mulai fokus jaga kesehatan. Ingat, perkuliahan dah mulai aktif, loh!"
"Iya ...." Tak seperti biasanya, kali ini Karen tak berani membantah suaminya. Setelah kejadian hari ini, ia menyesal karena tak mengindahkan nasihat Darren dan selalu merasa dirinya benar sendiri.
Darren memerhatikan wajah pucat istrinya serta keringat dingin yang keluar dari telapak tangan mungilnya.
"Kamu kenapa tiba-tiba pengen cepat-cepat keluar dari rumah Oma? Bertengkar sama Sheila?" duga Darren curiga.
"Enggak."
"Ada kata-kata Oma yang bikin kamu tersinggung?"
__ADS_1
"Enggak, kok."
"Terus?"
"Ya, enggak. Pengen berduaan ma kamu aja kayak dulu," balas Karen sambil menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
Darren tersenyum kecil. "Kan juga kita tetap bakal pindah ke sini sebelum masuk perkuliahan."
Melihat Karen yang masih memasang wajah cemberut, ia pun menjepit bibir perempuan itu hingga tampak seperti mulut bebek.
"Mau aku beliin dessert, gak?"
Karen mengangguk cepat mengiyakan. Darren lalu mengambil ponselnya, memesan dessert favorit istrinya dari toko kue langganannya melalui aplikasi.
Matahari sebentar lagi akan terbenam dengan ditandai semburat cahaya kuning keemasan. Chalvin tengah mengendarai mobilnya menuju kafe andalannya. Begitu tiba, ia bisa melihat Nadya tengah duduk menunggunya di tempat biasa. Gadis seumuran Karen itu mengenakan kaus putih lengan pendek dan celana jeans panjang dengan rambut yang terurai tanpa tambahan aksesoris.
Ya, kedatangannya ke sini atas permintaan gadis itu. Setelah tak mendapatkan balasan telepon dan chat selama seharian penuh, gadis itu akhirnya menghubunginya lewat DM instagram dan langsung meminta untuk bertemu.
Sebelum menghampiri gadis itu, Chalvin menyempatkan melihat penampilannya di jendela dengan memperbaiki gaya rambutnya. Chalvin lalu menghampiri Nadya dan memosisikan duduk berhadapan dengannya. Tanpa basa-basi, Nadya langsung menyodorkan sebuah amplop cokelat yang tampak tebal.
"Ini sisa uang yang pernah kak Chalvin kirim ke rekeningku. Jumlah yang tersisa tinggal 33 juta karena udah aku pakai buat bayar semester."
"Terus, kenapa dipulangin? Ini kan dah jadi uang kamu!" Chalvin mendorong kembali amplop tersebut ke arah Nadya, tetapi segera ditahan oleh tangan gadis itu.
"Setelah aku pikir-pikir, uang ini too much untuk aku yang cuma berperan sebagai pacar palsu. Aku sadar, waktu itu aku terlalu kilap terima uang sebanyak ini dari Kakak. Kalo Kak Chalvin berkenan, uang yang dah terpakai bakal aku cicil per bulan."
"Kenapa? Apa kamu takut dengan penilaian orang saat tahu kamu terima uang banyak cuma untuk jadi pacar palsu?" tebak Chalvin dengan alis yang terangkat sebelah.
"Anggaplah kayak gitu!" balas Nadya seadanya, "seandainya ada yang tahu kalo aku bantuin Kak Chalvin karena uang ini, yang dapat jeleknya tetap aku, kan?" ucapnya sambil tertawa miris.
Chalvin melengos sambil mengembuskan napas kasar. "Gak perlu hidup berdasarkan penilaian orang lain! Kamu terlalu takut dengan omongan orang."
Nadya bergeming, hanya menatap Chalvin dengan sendu. Tidak terlalu banyak berbicara, membuatnya terlihat berbeda dari biasanya. Sebenarnya, dia hanya sedang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas diri. Meskipun pernah salah melangkah di masa lalu, bukankah masih ada harapan untuk memperbaiki diri di masa depan? Mungkin, inilah yang sedang ingin dilakukan Nadya.
__ADS_1
Chalvin mengangguk-angguk kecil. "Sebenarnya, aku juga dah bilang sama kakek dan Oma kalo kita dah putus. Aku ... minta maaf kalau ...."
"Gak papa, kok, Kak. Ungkapan hati aku kemarin, gak perlu dipikirin," potong Nadya cepat sambil tertawa bodoh, "Oh, iya, aku pulang dulu, ya? Masih ada kerjaan," ucapnya kembali sambil mengambil tas selempangnya dari atas meja.
Saat Nadya hendak beranjak, Chalvin malah menahan tangannya. "Tapi ... kita masih bisa berteman, kan?" tanya Chalvin dengan ekspresi penuh harap.
"Tentu saja!" jawab Nadya mengangguk.
*****
Di kediaman Bratajaya, Oma Belle tengah memerintahkan ART-nya untuk merebus bahan-bahan herbal dan memasukkannya ke dalam botol kaca. Ia bahkan ikut turun tangan dalam meracik ramuan herbal khusus cucu menantunya itu. Ya, kecintaan Oma Belle pada ramuan herbal alami sudah begitu mendarah daging. Bahkan perusahaan kosmetiknya pun dulu pernah mengeluarkan produk khusus ramuan herbal wanita untuk kecantikan dari dalam dan luar. Sayangnya, kurang laris di pasaran karena dengan perkembangan teknologi, orang-orang lebih tergiur produk dan perawatan yang serba instan.
"Ini buat stok minuman Karen. Minggu depan mereka dah balik ke rumahnya. Mana bisa dia bikin jamu kayak gini, jadi harus dibuatin memang banyak-banyak. Jangan lupa dikasih tanda biar gak bingung. Yang ini jamu sehat datang bulan, biar perutnya gak nyeri. Yang ini, jamu untuk menghilangkan bau-bau tak sedap. Nah, kalo yang ini, harus dibuat banyak soalnya ini jamu yang bisa bikin laki-laki tergila-gila sama kita," tutur Oma Belle Belle menjelaskan satu per satu pada ART-nya.
"Emang ini jamu apaan, Bu? Ada jampi-jampinya, ya?" tanya salah satu ART.
"Hussh ... kamu ini! Ini jamu perapat. Kalau minum ini secara rutin, bikin jepitan kita semakin sempit, tahu! Kalian harus tahu, cara menyenangkan suami itu cuma dengan dua titik, yaitu perutnya dan bawah perutnya. Perutnya dikenyangin, bawah perutnya dipuasin," jelas Oma sambil cekikikan bersama ART.
Tampaknya, wanita tua itu telah mengizinkan Darren dan Karen meninggalkan rumah ini. Itu bisa terlihat dari segala bekal yang dia siapkan pada pasangan muda itu.
Ponsel Oma Belle mendadak berdering sehingga membuatnya menghentikan aktivitas sesaat. Apalagi saat mengetahui yang meneleponnya itu adalah karyawan yang diperintahkan sebagai mata-mata di perusahaan.
"Ada info terbaru apa lagi?" tanya Oma Belle.
Mata Oma Belle terbelalak seketika begitu mendengar berita dari sang mata-mata kantor.
.
.
.
FYI, kutipan dialog dan kata2 bijak yang ada di novel ini sudah rilis dalam bentuk foto. Untuk yang mau repost, bisa cek trendingku dan save. Ini dibuat dengan untuk mengatasi comot kutipan/dialog tanpa menyertakan keterangan novel 😉
__ADS_1