DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 194 : Pria Menyebalkan


__ADS_3

Motivator unfaedah berkata bahwa perubahan perlu melewati banyak proses, karena yang banyak meses itu adalah martabak manis. Nikmatilah setiap proses karena waktu tak bisa diputar apalagi dijilat dan dicelupin. Di kampus, Feril masih dipusingkan dengan setumpuk tugas dari para dosen. Untuk tugas makalah masih bisa diakali, tapi tugas yang membutuhkan perhitungan sungguh membuatnya menyerah.


"Kalian udah kerjakan tugasnya pak Budi Luhur?" tanya Feril pada teman-temannya.


"Belom," jawab mereka serempak dengan mengekspresikan gaya santai masing-masing.


"Kerjain sono! Deadline-nya besok, tuh!" seru Feril layaknya emak-emak yang sedang memarahi anak-anaknya.


"Kita tunggu contekan aja, Bray!" jawab Jamet sambil bermain gim di ponsel.


"Gini nih jadinya kalau punya otak hasil tukar tambah!" cetus Feril.


"Lu sendiri ... emang bisa kerjakan tuh tugas? Paling juga malakin jawaban orang!" timpal kawannya.


"Eaa ... hidup ini udah sulit ngapain lagi mempersulit diri. Lagian ... tumben lu mikirin tugas!" sahut Jamet yang masih tak mengerti dengan sikap aneh Feril akhir-akhir ini.


"Tahu, nih, Feril, ganggu imajinasi gua aja. Mending gua lanjut berkhayal nikah sama anggota AKB48!" celetuk salah satu dari mereka yang merupakan seorang wibu garis keras.


"Muke lu ngomong kek gitu. Minimal mandilah!" cela Feril.


"Buat apa mandi, Bro. Ikan tiap hari kena air juga tetap amis," jawabnya sambil bersandar di badan Gimbal.


"Pantesan elu lebih amis dari ikan!" celetuk Feril.


Rasanya sulit mengajak teman-temannya untuk berubah sesuai dengan tantangan yang diberikan Darren. Jangan pun kawannya, dia saja tak sanggup untuk melakukannya. Namun, bukan Feril namanya jika menyerah begitu saja. Apalagi ia telah berkomitmen membuktikan pada Darren kalau dirinya bisa lulus semester dengan perolehan nilai minimal 3.00 apa pun caranya. Ingat, apa pun caranya!


Di waktu yang sama, Feril melihat Marsha yang baru saja memasuki gedung fakultas. Lantas, terbesit ide untuk meminta bantuan dosen cantik tersebut.


Feril langsung berdiri dan berkata pada kawan-kawannya. "Terserah kalian mau ngerjakan tugas atau kagak. Tapi jangan minta ke gua kalo gua berhasil ngerjain tugas!"


Feril pun berlari meninggalkan kawan-kawannya yang hanya bisa melongo sambil saling melirik satu sama lain.


"Dia bilang apa tadi?" tanya Jamet.


"Mau ngerjain tugas, Bro!" sahut kawan-kawannya dengan tatapan tak percaya.


"Berarti gua gak salah denger, kan?" Kawan-kawan Feril malah merasa aneh dengan sikap pria itu akhir-akhir ini.


Marsha yang hendak menuju ke ruang dosen tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan Feril di hadapannya. Kesal lantas menghinggapinya bahkan hanya dengan melihat tampang tengil pria itu.


"Mau ngapain lagi kamu?!" ketus Marsha. Ia masih kesal karena tadi pagi Feril mencoba mengingatkan hal memalukan yang ia lakukan di atap gedung. Karena hal itu, ia harus meladeni pria yang bahkan hampir tak pernah masuk di mata kuliahnya.


"Eits, jangan jutek-jutek dong! Saya cuma mau ngajak berdamai!" Feril menyandarkan sebelah tangan di tiang.


"Emangnya saya lagi perang sama kamu?"


"Kalo dipikir-pikir kita ini sekutu loh, Bu! Ibu kecewa karena pak Darren ternyata menikah dengan mahasiswanya, sementara saya juga kecewa gebetan saya ternyata dah jadi istri orang."


"Jangan sembarang ngomong kamu. Kamu aja yang kecewa, saya biasa aja tuh!" tangkasnya dengan memasang wajah sombong.

__ADS_1


"Oh, iya? Kalo biasa aja masa ngamuk-ngamuk di atap gedung."


Diingatkan kembali perihal kejadian itu membuat wajah Marsha memerah padam.


Feril sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Marsha. "Mau saya ingetin apa aja umpatan ibu sama Karen? Atau mau saya sampaikan langsung ke orangnya? Atau mau langsung ngasih tahu suaminya aja? Kayaknya lebih seru juga ngasih tahu ke teman-teman kalo ibu dosen yang diidolakan banyak mahasiswa ini ternyata gak seanggun yang kami kira."


"Siapa juga yang mau dengerin omongan mahasiswa kayak kamu!" Marsha melototkan mata.


"Ibu tahu, enggak, kenapa pak Darren tiba-tiba nge-spill siapa istrinya selama ini? Itu karena sebelumnya saya pergoki dia lagi mesra-mesraan di ruang penelitian. Kalo bukan karena saya bikin heboh, pasti dia kagak niat buat ngasih tahu siapa Karen sebenarnya. Itu bukti kalo omongan saya berpengaruh besar, sampai bikin seorang profesor kayak pak Darren repot-repot klarifikasi ke mahasiswa!" ujar Feril dengan bangga.


"Shake it off!" cetus Marsha mencoba tak mau ambil pusing. Baginya, cukup sekali meladeni Feril dan tak akan terulang lagi.


(Shake it off: bodoh amat)


Feril tersenyum miring sembari melengos sesaat, lalu menatap Marsha dengan sebelah tangan yang dimasukkan dalam saku celana. Ia kemudian menunjukkan ponsel miliknya yang membuat Marsha berpikir tingkahnya saat itu telah direkam.


"Kamu!" Sambil menahan geram, Marsha mencoba merampas ponsel Feril. Sayangnya, pria itu lebih dulu berbalik sambil mendekatkan bibirnya ke ponsel.


"Ok google, gimana caranya ngilangin muka saat sifat asli lu ketahuan," teriak Feril membuat perintah suara di ponselnya.


Ia melirik Marsha yang menatapnya dengan berapi-api. Cengiran jahil tersemat di bibirnya begitu melihat wajah angkuh Marsha berubah menjadi panik seketika.


"Apa mau kamu?" tanya Marsha.


"Bukan hal yang sulit, Bu! Bantu saja kerjakan setiap tugas mata kuliah. Gampang, kan?"


"Apa? Setiap tugas? Gila kamu, ya!"


"Oke-oke, tapi cuma bisa sore hari saat jam mata kuliah saya selesai."


"Tempatnya?" tanya Feril.


"Di tempat kemarin, atap gedung."


"Siip. Gitu dong!"


"Jangan salah paham, ya! Saya setuju cuma karena mempertimbangkan kamu yang terancam di-DO!" tekan Marsha yang enggan mengakui jika dirinya takut Feril memberitahukan keburukannya pada siapapun.


Feril tersenyum kecut sambil memandang kepergiaan Marsha. Tampaknya tantangan yang diberikan Darren akan sedikit lebih mudah karena terbantu oleh Marsha.


Usai membuat kesepakatan dengan Marsha, Feril pun keluar dari gedung fakultas. Namun, langkahnya mendadak terhenti begitu melihat Karen yang hendak memasuki gedung itu. Bertemu pertama kali ketika Feril telah mengetahui status Karen sebagai istri dari dosen PA-nya, tentu membuat dua orang itu menjadi canggung satu sama lain.


***


Di sisi lain, setelah berbicara dan berhasil memulangkan Oma Belle dengan damai, Chalvin pun balik ke tempat sebelumnya. Matanya langsung tertuju pada sebuah cup dengan merk kopi dari kafe Nadya. Ia lantas mengambil kopi tersebut sembari memerhatikan sekeliling untuk mencari keberadaan Nadya. Sayangnya, gadis itu sudah tak ada di sana


Sementara itu, Nadya yang telah balik ke stand-nya, kini kembali melayani pembeli. Sejenak, ia teringat kembali pada obrolan Chalvin dan Oma Belle yang sempat didengarnya.


Sungguh menyesakkan. Tidak ada kabar, baik lewat chat maupun telepon. Tidak ada interaksi dan komunikasi layaknya pasangan kekasih. Bahkan Chalvin hanya memosisikan diri sebagai pelanggan dengan memintanya datang membawakan kopi seperti hari-hari biasa. Ditambah lagi, Oma Belle akan kembali menjodohkan dengan gadis lain, membuatnya berpikir pernyataan cinta yang Chalvin utarakan semalam hanya buaian semata.

__ADS_1


Chalvin tiba-tiba muncul di saat keadaan stand kopi tersebut sepi. Dengan santai, pria itu mendekati Nadya. Namun, kehadirannya justru tak diacuhkan Nadya.


"Makan siang bareng, yuk?" ajak pria itu.


"Maaf, aku lagi sibuk!" balas Nadya tanpa menatapnya.


"Oh, gitu."


Chalvin memerhatikan kesibukan Nadya. Waktu yang senggang digunakan gadis itu untuk mengerjakan tugas kuliahnya.


"Kamu dah makan?" tanya Chalvin lagi.


"Udah."


"Makan apa?" tanyanya lagi.


"Nasi Padang."


"Gak mau makan lagi?" tawar Chalvin.


"Enggak!"


Jawaban singkat yang dilontarkan Nadya, membuat Chalvin bergumam seraya melengos. "Dingin amat."


"Apanya?" tanya Nadya sambil menoleh ke arah Chalvin.


Sempat kelabakan karena Nadya mendengar gumamannya, Chalvin lantas menyengir dengan tangan yang berpindah ke termos es. "Ini ... tesmosnya yang dingin."


Mata Nadya kembali tertuju pada laptop dengan jari-jemari yang bergerak lincah pada papan tombol. Dia benar-benar tak menghiraukan Chalvin yang masih berada di situ.


"Entar malam jalan-jalan, yuk!" ajak Chalvin.


Nadya tertegun sembari teringat ucapan Oma Belle yang meminta pria itu menghadiri makan malam keluarga, untuk memperkenalkannya dengan seorang wanita.


"Maaf aku juga gak bisa. Aku harus tetap stay di sini bantuin Andre," tolak Nadya kembali.


Chalvin hanya mengangguk-angguk diam. Namun, kini ia beralih mendekati Andre, satu-satunya barista yang berjaga di kafe tersebut.


"Lo mau gua kasih uang lima ratus ribu, gak?" bisik Chalvin pada Andre dengan tangan yang bersedekap.


"Mau lah, Kak!" jawab Andre cepat.


"Syaratnya ... gua pinjam manajer Lo entar malam. Boleh, kan?"


"Hah?" Sempat tercungap sesaat, Andre lantas berkata, "boleh banget, Kak!"


"Tapi Lo kerja yang bener di sini!"


Mendengar itu, Nadya lantas terbelalak. Ia menatap Chalvin dengan wajah penuh ketidaksetujuan. Sebaliknya, Chalvin malah melempar senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Jangan lupa tar malam kita nge-date!" bisik pria itu sembari mengedipkan mata ke arahnya.


Setelah mengatakan itu, Chalvin pun pergi. Entah ke mana, tapi sepertinya hendak mencari tempat makan siang. Nadya menatap punggung Chalvin yang perlahan menjauh. Entah kenapa ia merasa kesal karena pria itu masih seenaknya menentukan hal apa pun tanpa persetujuannya lebih dulu. Namun, di balik kekesalannya itu, juga tersimpan setitik kebahagiaan di hatinya. Apakah itu berarti Chalvin menolak permintaan Oma Belle? Entahlah ....


__ADS_2