
Setelah mengetahui kalau Karen adalah istri Darren alias cucu menantu pemilik perusahaan itu, para staf yang sempat menggunjingnya kini malah tercengang bahkan enggan menampakkan wajah mereka. Para kru yang memilih melayani model tadi pun, bergegas meninggalkan model itu dan beralih mengambil hati Karen.
Para penjilat ini tentu membuat Karen risi. Ya, sewaktu Chalvin masih mengurus mereka, ia memang disejajarkan dengan model-model BA yang lebih senior dan terkenal darinya. Namun, kehadiran Darren kini malah membuatnya lebih diistimewakan dari model-model lainnya.
"Belum selesai, ya, pemotretannya? Masih berapa lama lagi kira-kira? Kalau aku nunggu di sini gak papa, kan?" tanya Darren yang melihat istrinya dikerumuni para kru.
Salah satu kru menjawab, "Pak Darren dan istri mau keluar, ya? Kalau Pak Darren mau ajak istri Bapak sekarang enggak masalah. Waktu bisa kita atur, kok."
"Iya, daripada nunggu di sini. Lagian, kita di sini menyesuaikan mood Nyonya. Kalau Nyonya lelah dan mau istirahat, pemotretannya kita tunda dulu!" timpal lainnya sambil menyengir.
Karen menatap kesal wajah para kru yang mendadak ramah padanya. "Dasar cari muka! Bukannya tadi mereka ngomel-ngomel gak jelas waktu aku tiba-tiba ngilang karena dipanggil ayahnya Darren!" gumam Karen dalam hati.
"Kalo gitu aku mau ajak istri aku makan siang dulu. Gak papa, kan?"
"Gak papa, dong!" jawab mereka serentak.
Begitu Darren dan Karen keluar dari studio, para staf yang tadinya sibuk bergosip kini harap-harap cemas.
"Duh, tadi kita ghibahin dia, didengar enggak, ya?" Para staf yang menggosipkan Karen tadi mulai cemas.
"Mampus, deh! Sekelas pak Chalvin aja bisa ditendang ke pabrik, apalagi kita?"
Begitu keluar dari studio, Karen melepaskan seluruh keluhan yang ia tahan sedari tadi. Terutama tentang perubahan sikap orang-orang yang terkesan cari muka begitu tahu dirinya adalah menantu dari pemilik perusahaan ini.
"Mereka itu munafik banget, tahu, enggak? Sebelum kamu datang, mereka tuh bener-bener cuekin aku! Eh, sekarang malah berlagak baik-baikin aku!" ketus Karen dengan wajah cemberut.
Darren tersenyum simpul, lalu menautkan jari-jari tangan mereka. "Ya ... begitulah dunia kerja. Beberapa orang suka memuji, ada yang terlihat antusias dengar kita bercerita dan bahkan ada yang berpura-pura bodoh di depan kita. Padahal itu semua cuma sekadar bikin kita senang. Makanya, jangan gampang tersanjung!"
***
Sementara itu, Nadya yang hendak menuju ke ruangan Chalvin, malah tersesat di perusahaan ini. Ia kebingungan dan tak tahu harus menuju lantai mana. Mau bertanya pada para karyawan yang tengah berlalu lalang pun sungkan baginya. Sebab, mereka semua tampak sibuk dan tidak saling pedulikan. Ia lalu mengambil ponselnya, bermaksud menghubungi Chalvin.
"Hallo ...." Suara Chalvin terdengar dari balik sambungan telepon. Ternyata pria itu sedang dalam perjalanan menuju pabrik pembuatan produk. Tampaknya pria itu lupa jika Nadya masih berada di sana hanya untuk membantunya menepis kabar miring yang beredar.
Di waktu yang sama, seseorang menyapa Nadya dari belakang.
__ADS_1
"Nadya!"
Mengira yang memanggilnya adalah Chalvin, Nadya pun berbalik cepat. Wajahnya menggelap seketika begitu melihat Farel dan beberapa staf muda lainnya datang menghampirinya.
"Eh, beneran, elo? Ngapain ke sini?" tanya Farel sok akrab.
"Lu kenal, nih, cewek, Bro?" Salah satu staf pria menatap Nadya dengan mata yang jelalatan.
"Mantan gua, Bro!" jawab Farel penuh kebanggaan. Ia melirik Nadya lalu berkata, "Denger-denger lo pacaran sama pak Chalvin, ya?"
"Seriusan? Pak Chalvin seleranya mudaan gini?" imbuh staf itu dengan pandangan tak percaya. Wajar saja, dari segi penampilan, Nadya memang lebih terlihat seperti ABG.
"Iya, Bro. Udah gitu, bekasan gua lagi! Lu tahu, kan, maksud gua?" Seringai remeh terbit di mulut pria itu.
Mendapat penghinaan seperti itu, Nadya berbalik dengan cepat dan bergegas pergi. Namun, Farel bergerak cepat mencegatnya.
"Lu kok hindari gua mulu? Sok banget! Enggak ingat apa gua dulu sering nginap di kos-kosan lu. Atau jangan-jangan ... lu takut ya ketahuan pernah pacaran sama gua? Takut keluarga pacar lu yang tajir itu tahu kalo lu gak sepolos penampilan lu. Eh, pak Chalvin suka minta jatah juga gak sama lu?Tapi itu ... pacaran beneran enggak, sih? Jangan-jangan cuma settingan?" Farel tak berhenti merisak Nadya dengan kata-kata yang frontal.
"Lepasin aku!" Nadya menginjak kaki Farel sehingga membuat pria itu spontan melepaskan tangannya. "Kita udah enggak ada urusan. Jadi, jangan ganggu aku lagi. Aku mau pacaran sama siapa pun, bukan urusan kamu!"
"Halo, Nadya ... kamu dengar aku, gak? Kamu di mana sekarang?"
Chalvin menatap layar ponselnya Ternyata, telepon mereka sudah terputus sedari tadi. Ia lalu meminta supir untuk berbalik arah.
"Tolong putar balik lagi ke perusahaan."
"Loh, kenapa?" tanya sekretarisnya yang duduk di samping.
"Ada yang harus aku urus."
Bertepatan dengan itu, ponsel Chalvin kembali berdering. Melihat nama Oma Belle di layar ponsel, Chalvin mendenguskan napas kasar sebelum menjawab telepon tersebut.
"Ya, Oma ...."
"Kamu di mana? Oma lagi di kantor, nih. Coba kamu ke ruangannya kakek sekarang! Kita mau merundingkan resepsi pernikahan Darren sama Karen, tapi rencananya digabung sama pesta pernikahan kamu dan pacar kamu."
__ADS_1
Mata Chalvin melebar sempurna diikuti rahang yang mengetat. "Oma ....."
"Eettss ... Oma, tahu kamu pasti mau ngasih 1001 alasan lagi. Kali ini kamu gak bisa nolak! Pernikahan kamu akan Oma atur dalam waktu dekat. Kasih tahu orangtua pacar kamu kalau kita mau datang melamar di rumahnya," tandas Oma Belle penuh ultimatum.
Chalvin menggeretakkan gigi dengan kesal, lalu berkata, "Oma sebenarnya tahu enggak kenapa aku gak mau nikah?"
"Karena kamu masih mau tebar pesona sama perempuan-perempuan di luar sana!"
"Bukan, Oma. Karena cukup Oma aja yang suka ngoceh dan ngatur aku, jadi gak perlu nambah orang lagi!" geram Chalvin yang langsung menutup telepon.
"Pak, kita jadi balik ke kantor, enggak?" tanya supir perusahaan.
Chalvin tampak berpikir. Beberapa kali ia terlihat menarik napas sekaligus mengembuskannya. Saat ini, Nadya masih berada di sana dan sedang menunggunya. Namun, jika ia balik ke perusahaan, maka ia akan bertemu Oma Belle dan tak bisa menghindari pembicaraan tentang pernikahan.
"Gak jadi. Terus aja!"
Baru saja mobil berjalan kembali, Chalvin yang tengah menopang dagu, kembali berkata, "Putar balik. Kita kembali ke kantor."
Supir dan sekretarisnya lantas hanya bisa mengernyit karena Chalvin terus berubah pikiran. Ya, pria itu merasa kedatangan Nadya di perusahaan atas permintaannya dan juga kepentingannya. Ada rasa tanggung jawab untuk tidak membiarkan gadis itu sendirian di perusahaan, apalagi sampai diganggu oleh staf pria.
Di sisi lain, Nadya berlari masuk ke dalam lift dan menekan lantai dasar. Semua kata-kata penuh intimidasi yang terlontar dari mantan pacarnya itu, sukses membuatnya rendah diri dan kembali merasa menjadi gadis yang tak ada harganya di mata lelaki mana pun. Dia pikir, setelah putus dengan Farel, semua akan kembali normal. Nyatanya, sebulan setelah putus, ia hamil dan keguguran tanpa sepengetahuan lelaki itu.
Dan kini, farel terus mengusiknya seakan tak ingin membiarkannya membangun hubungan baru dengan pria lain. Pria itu tidak hanya merusak apa yang telah dijaganya tapi juga berhasil menghancurkan mentalnya. Jika waktu bisa diputar kembali, ia tak mau berkenalan dengan Farel yang membawanya masuk ke jurang kehancuran seperti ini.
Nadya menyeka air mata yang terlanjur keluar tanpa bisa ditahan. Padahal, ia ke sini hanya untuk membantu Chalvin dan Karen dari gosip yang menghantam keduanya. Sialnya, bukannya bertemu dengan salah satu di antara mereka, ia justru harus berhadapan kembali dengan mantan pacarnya yang toxic.
Puas merundung Nadya, Farel pun kembali ke tempat kerjanya. Tak berselang lama kemudian, kepala divisi Humas yang merupakan mata-mata Oma Belle di kantor itu keluar dari persembunyiannya. Ternyata, ia menguping pembicaraan antara Nadya dan Farel.
"Yang tadi itu beneran calonnya pak Chalvin, gak, sih? Wah ... wah ... ternyata dia bukan gadis baik-baik. Perlu eike ngasih tahu ke madam Belle, gak, ya, semua ini?" pikirnya penuh pertimbangan.
.
.
.
__ADS_1