DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 150 : Kehadiran Darren


__ADS_3

"Gak gitu, Oma," bantah Chalvin cepat. Chalvin menoleh ke arah sekretarisnya sambil memberi kode agar segera keluar dari ruangan itu. Sekretarisnya pun dengan patuh meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


"Gak gitu bagaimana? Ngapain kamu temani Karen ke dokter kandungan kalo gitu? Tega-teganya melakukan itu sama istri sepupu kamu sendiri." Oma Belle bagaikan gunung Merapi yang meletus dan siap mengeluarkan laharnya.


"Makanya Oma denger dulu, jangan cerocos mulu kek knalpot racing." Kali ini giliran Chalvin yang geram karena tak diberi kesempatan untuk menjelaskan.


Oma Belle kembali tenang. "Ya, udah, mau ngomong apa kamu?"


"Tarik napas dulu dong, Oma!" Chalvin malah mengintruksikan Omanya untuk mengolah pernapasan setelah sempat emosi.


Oma Belle mengikuti perintah Chalvin dengan bernapas dalam-dalam.


"Ya ... tarik napas, tahan ... hembuskan perlahan, tarik lagi ...."


"Heh, kamu mau ngejelasin atau mau jadi instruksi senam?!" sambar Oma Belle dengan nada kesal.


"Ya, gimana mau jelasin, kalo Oma masih dalam keadaan emosi kek gini. Makanya aku bantu rilekskan pikiran dulu, biar gak meledak-ledak kek tadi dan bisa mencerna penjelasanku."


"Ya, sudah, biar Oma sendiri yang merilekskan diri. Gak usah dipandu-pandu kayak anak kecil!"


"Ya, ampun, susah amat taklukin oma-oma. Umur segini emang lagi aktif-aktifnya kali, ya?" Chalvin bergumam kecil sambil menyeringai.


Berbeda dengan Oma Belle yang belum tahu tentang duduk perkaranya, kakek Aswono malah lebih santai menghadapi gosip yang menimpa cucunya itu. Setelah orang kepercayaannya merekomendasikan beberapa wedding organizer untuknya, ia pun menelepon Darren.


"Halo, Darren. Kamu sibuk, gak?"


"Ya, enggak terlalu, sih, Kek."


"Kalo gitu, bisa gak sempetin ke kantor. Ada yang pengen kakek bicarain sama kamu."


Darren melihat jam, lalu berkata, "Ya, udah dikit lagi aku ke sana. Kebetulan aku juga mau ngajakin Karen makan siang bareng."


Darren tiba di perusahaan tepat satu jam setelahnya. Meski jarang ke sana, tapi cukup banyak yang mengetahuinya sebagai anak tunggal ayah Barack dan cucu kakek Aswono. Buktinya, beberapa kepala devisi yang bertemu dengannya langsung menyapa dengan penuh hormat.


"Ah, Darren, sini. Ada yang kakek mau usulkan sama kamu." Kakek Aswono menyambut Darren begitu memasuki ruangannya.

__ADS_1


Baru saja duduk di sofa, mata Darren terarah pada album referensi beberapa pesta pernikahan yang terpampang di atas meja.


"Kamu sama Karen kan udah nikah, tapi belum sempat adain pestanya. Gimana kalau kalian adain pesta pernikahan dalam waktu dekat. Istri kamu model ambassador di perusahaan ini, tapi masih banyak yang belum tahu kalau dia bagian dari keluarga Bratajaya. Pesta resepsi ini untuk memperkenalkan dia secara resmi di keluarga ini. Gimana menurut kamu?"


"Saya setuju!" Oma Belle tiba-tiba datang menyerobot masuk ke ruangan itu. "Kalo perlu pesta pernikahan mereka digabung dengan pesta pernikahan Chalvin. Kita bikin yang mewah sekalian!" serunya penuh semangat. Tampaknya, Chalvin telah berhasil menjelaskan kejadian sebenarnya tentang gosip yang beredar di lingkungan kantor.


"Kamu ini datang-datang ngagetin aja!" Kakek Aswono terkejut dengan kedatangan Oma Belle.


"Kenapa kamu gak ngasih tahu aku soal ini, Mas? Masalah WO, biar aku yang milih. Cari yang bisa kasih diskon," ucap Oma Belle dengan semangat berapi-api.


"Nah, ini yang bikin aku males ngasih tahu kamu lebih dulu. Kamu selalu minta diskon sama penjual jasa. Gak kasihan apa sama mereka," ketus kakek Aswono sambil menggeleng-geleng kepala.


Darren yang sedari tadi diam, kini berkata, "Soal pesta, aku setuju-setuju aja, Kek. Tapi, aku perlu diskusikan dulu sama Karen. Sampai detik ini kami masih sepakat buat nutupin pernikahan kami, makanya aku perlu persetujuannya dulu. Lagian, adain pesta pernikahan di waktu dekat terlalu kepepet. Karen udah mau masuk kampus lagi. Akan ada banyak kesibukan kami di awal semester."


"Ya, sudah, memang sebaiknya kamu diskusikan dulu sama Karen. Tapi kakek menyarankan ini supaya hubungan kalian tidak menimbulkan fitnah nantinya."


Di sisi lain, Karen kembali ke studio setelah berbicara dengan ayah Barack. Sepanjang pemotretan produk, ia dapat merasakan tatapan sinis dan tingkah ketus beberapa staf yang melayaninya. Mereka lebih memilih melayani model lain yang juga ada di ruangan itu. Ya, bukan hal baru lagi terdapat perbedaan kasta di dunia model. Apalagi, sudah tidak ada Chalvin yang selalu menjaga Karen dan mengawasi para staf dan kru yang suka memilih-milih dalam melayani Brand Ambassador mereka.


Bahkan di antara mereka banyak yang tak segan bergosip terang-terangan. Ya, ini semua karena mereka kesal dengan kepindahan Chalvin setelah diterpa gosip menghamili Karen.


"Ini semua gara-gara SEKUTER yang pengen naik kasta jadi istri pak manajer dengan ambil jalan pintas tekdung duluan." Salah satu staf ikut menimpal dengan suara besar. Sengaja dilakukan agar didengar semua orang termasuk Karen.


(SEKUTER: selebritis kurang terkenal)


"Pantesan, ya, it is what it is ... Chalvin lagi kena apes kali, ya, hamili selebgram ecek-ecek," sambung model itu diiringi tawa yang mengejek.


(it is what it is\= ya, mau gimana lagi)


Karen mengepalkan kedua tangannya. Ia yang tidak tahan, hendak melabrak sang model dan beberapa staf yang tengah bergosip. Sayangnya, sekretaris pribadi pak Barack langsung menyuruhnya bersiap-siap untuk pemotretan.


Setelah keluar dari ruangan kakek Aswono, Darren berinisiatif melihat Karen yang tengah sibuk syuting. Tiba-tiba pria itu teringat dengan chat yang dikirimkan Chalvin pada Karen. Ya, kemarin, Chalvin sempat mengingatkan agar Karen tidak ke kantor seiring adanya gosip tentang mereka berdua.


Begitu memasuki studio khusus perusahaan itu, kehadiran Darren langsung mengundang banyak pasang mata. Orang-orang yang berada disitu tentu saja terkesima melihat Lelaki jangkung dengan tinggi 190 sentimeter. Wajah rupawannya ditunjang penampilannya yang berkemeja putih dengan lengan baju yang sengaja sedikit di gulung, mengalihkan perhatian semua wanita yang ada di ruangan itu. Mereka semakin ternganga ketika Darren mengibaskan bagian depan rambutnya menutupi sebagian kening.


"Siapa, tuh? Ganteng banget?" tanya model yang baru saja menyindir Karen.

__ADS_1


"Dia anak tunggal pak Barack. Sepupu pak Chalvin dan tentunya cucu pak Aswono," jawab MUA yang tengah memoles wajahnya.


Sekretaris ayah Barack lantas datang mendekatinya. "Pak Darren, tumben datang ke sini? Pasti cari pak Barack, ya? Pak Barack kebetulan lagi keluar."


"Enggak, saya enggak cari ayah saya. Saya cuma mau cari istri," ucap Darren sambil menatap Karen yang tengah dipotret bersama beberapa produk.


Para wanita yang mendengar ucapan Darren lantas berdecit kegirangan. Tampaknya kalimat Darren disalahartikan mereka. Wajar saja, tak ada yang tahu jika pria berwajah blasteran itu telah menikah. Mereka memperbaiki penampilan masing-masing. Termasuk model dan staf yang sempat meremehkan Karen. Ia langsung berdiri dan berjalan cepat menghampiri Darren.


"Wah, pak Darren jarang datang ke perusahaan. Sekali datang, ternyata mau cari calon pendamping. Tahu aja kalau di sini banyak cewek-cewek cantik," ucap sekretaris ayah Barack.


Darren tersenyum simpul lalu berkata, "Kamu salah paham. Saya memang ke sini untuk menemui istri saya. Bukan pencari calon istri."


Setelah berkata, Darren pun berjalan lurus melewati model dan beberapa staf yang mengaguminya, lalu menghampiri Karen yang baru saja selesai melakukan pemotretan. Karen tentu saja terperanjat melihat kehadiran suaminya di tempat itu untuk pertama kali.


"Udah selesai, Sayang?" tanya Darren sambil meletakkan telapak tangannya di atas kepala Karen, lalu mengelusnya dengan lembut.


Karen mengangguk kaku. "Kok kamu bisa ada di sini?"


"Tadi kakek manggil aku ke sini. Dia berencana ngadain pesta pernikahan kita yang sempat tertunda. Katanya biar semua orang tahu kalau kamu istri aku sekaligus menantu keluarga Bratajaya," ucap Darren di depan semua orang yang ada di sana. Pria itu lalu menoleh pada sekretaris pribadi ayahnya sambil berkata, "Pak Surya, tolong jaga istri saya selama kerja. Dia baru saja selesai jalani terapi rahim, jangan sampai dia terlalu lelah bekerja, apalagi bikin dia tertekan karena mendengar mulut-mulut berisik."


Orang-orang yang mendengar ucapan Darren lantas hanya bisa melongo sambil saling menatap. "Ja–jadi ... dia ... menantu keluarga Bratajaya?" ucap mereka dengan ekspresi tercengang.


.


.


.


catatan author ✍️✍️


Gays, novel ini genrenya slice of life ya. Jadi emang ceritanya tentang kehidupan sehari-hari. Tolong perhatikan timing cerita ini ya. 1 bab di novel ini, bukan berarti 1 hari berlalu. Aku nulis novel apa pun selalu detail, untuk setting satu hari di novel bisa menghabiskan 1-5 bab. Bahkan ada scene 1 hari di novel ini yang aku habiskan sampai 9 bab, itu part saat masuknya tokoh Sheila (pasti banyak yang enggak nyadar). Jadi kalo kalian bilang masalahnya gak kelar2, lama banget penyelesaiannya, lihat dulu setting waktunya. Yang kalian baca itu dalam beberapa bab itu masih dalam hari yang sama. Gua emang kurang suka bikin cerita yg lompat2 waktu.


Gua selalu perhatiin banyak kalian yang gak sabaran banget dengan konflik di cerita ini, bahkan setiap ada konflik pasti ada yang ngasih rating 1 dengan alasan berbelit2, terlalu banyak konflik, etc. Padahal dari banyaknya konflik yang ada di novel ini, semua clear dan gak ada yang tumpang tindih. konflik di novel ini masih kategori ringan, cuma ngambil apa yang sering terjadi di keseharian. seperti plus minus tinggal serumah sama ortu dan ipar, tuntutan menghadirkan keturunan yang hanya diberatkan ke perempuan.


Gua ngerti kalian ngomong gitu karena greget dan karena novel ini juga updatenya lama jadi ceritanya terkesan diam di tempat. Sebenarnya gua udah ajuin ke editor buat namatin novel ini sejak di chapter 90-an, tapi pengajuan gua ditolak. Jangan lupa novel ini bukan milik gua sepenuhnya, ini novel misi meskipun gua gak ikut skrip yang dikasih.

__ADS_1


Karena gua udah gak ikutin alur cerita yang dikasih editor per chapter sejak 50-an chapter, jadi gua mesti putar otak gimana caranya supaya novel ini tetap lanjut sepanjang chapter yang ditetapkan editor. Salah duanya dengan memberi konflik dan memasukkan selipan cerita tokoh pendukung. Ok itu aja yang pengen gua sampaikan. Bacanya jangan dengan nada ngegas, karena gua nulisnya santai.


__ADS_2