DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 143 : Hasil USG


__ADS_3

Farel dan gimbal masih mengawasi Karen dan Chalvin dari jauh. Terlihat Chalvin yang memegang pundak Karen saat perempuan itu muntah berkali-kali.


"Wah, siapa tuh cowok! Berani-beraninya deketin yayangnya Feril. Ini gak bisa dibiarin!" kata gimbal sambil menarik sebelah lengannya hingga ke atas.


Farel menatap Gimbal dengan wajah masam. "Tuh lengan baju kalo gak ada tato dan otot gak usah dinaikin. Lu mau pamer apa? Bekas suntik imunisasi?" ketus Farel sambil menarik ke bawah lengan Gimbal.


Mereka kembali memantau keduanya. Saat Chalvin berbalik, Gimbal terperanjat karena mengenal wajahnya dengan baik.


"Yah, ternyata itu pacarnya!"


"Pacar siapa yang lo maksud?"


"Ya, pacar Karen lah!"


"Tuh cowok?" tanya Farel lagi sambil mengernyit.


"Iya, masa gua!"


"Tahu dari mana lo? Asbun bener, dia tuh manajer umum perusahaan ini!"


"Ya, elah, tanya aja Feril, noh! Karen sendiri yang pernah kenalin di kampus. Eh, lu masih ingat gak waktu teman-teman lu babak belur karena bantu ngelancarin ide lu yang di kelab? Itu dipukuli sama tuh cowok!"


Farel pun langsung sadar. "Oh, iya, ya? Gua masih ingat, tuh!"


Farel memicingkan mata ke arah Karen dan Chalvin. Masih teringat jelas, saat para karyawan bergosip tentang hubungan Chalvin dan Nadya yang diduga hanya untuk menghindari perjodohan.


"Menarik banget!"


"Heh? Lu bilang tuh cowok menarik? Jangan bilang lu pindah haluan jadi suka terong!" Si Gimbal.malah bergidik ngeri.


"Bukan itu maksud gua! Cepetan lu pergi sono! Sebelum gua tarik kembali tuh duit yang gua kasih!" Farel malah mengusir gimbal.


Di sisi lain, melihat Karen yang terus mual hingga muntah, Chalvin pun memintanya pulang beristirahat.


"Aku telepon Darren suruh jemput kamu, ya?" kaya Chalvin sambil mengambil ponselnya.


"Gak usah!" tahan Karen. Ia terdiam sejenak sambil mengingat kalau bulan ini dia belum menstruasi, meski memang sebenarnya jadwal menstruasinya tidak teratur sejak sakit.


"Aku ... mau ke dokter aja, siapa tahu ...." Karen tersenyum tipis sambil memegang perutnya.


Wajah Chalvin menghitam seketika. "Kamu hamil?"


"Gak tahu juga. Makanya aku mau periksa," ucap Karen pelan.


Masih memasang wajah kelam, Chalvin berkata, "Kalau gitu aku hubungi Darren suruh anterin kamu ke rumah sakit."

__ADS_1


"Jangan! Aku mau pergi sendiri aja!"


"Loh, kenapa?"


Karen menunduk. "Aku cuma takut andaikan gak sesuai harapan. Aku gak siap dengar tanggapan Darren. Gak siap lihat ekspresi Darren."


"Kalo gitu biar aku yang temani!"


"Gak usah, Vin. Aku bisa pergi sendiri."


"Kamu gak lihat keadaan kamu sekarang? Jalan aja lunglai gini! Kalo kenapa-kenapa gimana? Aku juga entar yang disalahin Oma sama Darren."


Karena Chalvin kekeh hendak menemaninya melakukan check up, Karen pun tak bisa melarang. Mereka sama-sama menaiki mobil dan meluncur ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, hati Chalvin seakan berkecamuk. Sejujurnya, alasannya memaksa menemani Karen, karena ia ingin memastikan kehamilan perempuan itu.


Telah berada di Rumah Sakit, Chalvin menunggu Karen yang tengah melakukan pemeriksaan di poli OBGYN. Tak lama kemudian, Karen keluar dengan wajah yang terlihat tak bersemangat.


"Dokter bilang apa?" tanya Chalvin yang langsung berdiri menghampiri Karen.


Karen menggeleng pelan dengan tatapan lurus ke bawah. "Udah di-USG tapi gak ada apa-apa. Gak ada kantung bayi juga. Dokter cuma suruh datang periksa lagi dua Minggu depan."


"Ya, udah, datang lagi aja sama Darren."


"Gak, ah! Ini paling juga cuma masuk angin! Tapi yang bikin aku lega, tumor di rahim aku udah benar-benar gak ada."


Chalvin mengekor Karen yang berjalan bak siput meninggalkan rumah sakit. Sambil memandang punggung Karen, Chalvin membatin dalam hati. "Pertama kalinya, aku merasa menjadi orang yang egois dan enggak tahu malu."


Dari Rumah Sakit, Chalvin langsung mengantar Karen pulang ke rumah. Karen merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Suasana hatinya sedang buruk pasca melakukan pemeriksaan dokter. Wajar saja, sempat berharap akan hamil ternyata tidak. Meski dokter menyarankannya untuk datang kembali dua Minggu depan berikutnya, ia seakan patah semangat lebih dulu.


Ponselnya mendadak berderu. Terlihat di layar pemanggil ada nama Suaminya. Karen menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo ...."


"Kamu dah pulang rumah, ya? Kata Chalvin kamu sakit."


"Cuma pusing doang. Kelelahan mungkin. Tadi kan aku duduk empat jam, dah gitu dipasangin aksesoris adat di kepala yang berat banget."


"Tuh, kan, aku dah bilang gak usah maksa jadi model MUA. Ingat, kamu itu baru sembuh. Ya, udah istirahat aja!"


"Kamu pulang sore ini, kan?"


"Aku usahain."


Membiarkan ponsel dari telinganya, entah kenapa ia benar-benar kehilangan semangat. Ia merasa keputusan untuk tak meminta Darren menemaninya ke sini sudah tepat. Sebab, hasilnya pun tidak sesuai dengan yang ia harapkan.


Tak terasa waktu telah memasuki sore hari. Karen yang tengah terlelap, seketika terbangun saat sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Saat membuka mata, wajah tampan Darren memenuhi seluruh penglihatannya.

__ADS_1


"Sorry, ngebangunin kamu. Masih sakit, enggak?"


"Yang mana sakit?"


Karen menunjuk pelipisnya. Tubuhnya terasa lemah. Entah karena benar-benar sakit atau karena kecewa dengan hasil pemeriksaan dokter.


"Aku pijatin, ya?"


Darren membuka kameja yang dipakainya, kemudian duduk dengan bertelanjang dada di sisi ranjang. Ia menuntun Karen untuk duduk di pangkuannya dan bersandar di dadanya yang bidang. Setelah itu, dia mulai memijat dengan perlahan, menggerakkan kedua jempol di pelipis istrinya dengan gerakan memutar.


"Besok gak usah kerja dulu, ya! Kamu harus jaga kesehatan," pinta Darren, "Akhir-akhir ini kamu jauh lebih sibuk sampai gak ada waktu, kan, buat balas chat aku," keluhnya lagi.


"Aku cuma kelelahan doang kok hari ini. Dikasih vitamin D sama kamu juga pasti dah sembuh," ucap Karen sambil memindahkan kedua tangan Darren ke bahunya.


Darren melingkarkan tangannya di dada Karen, semakin mendekap istrinya dengan erat. Karen menoleh dengan dagu yang sedikit terangkat. Di saat yang bersamaan, Darren mengecup bibir merah alami itu dengan lembut. Hanya sesaat, langsung dilepaskan. Tak sampai semenit, ia kembali mematuk bibir Karen. Sekali, dua kali, hingga yang ketiga kalinya Karen langsung menahan kepala pria itu hingga membuat bibir mereka menempel lama.


Dengan mata terpejam, Karen menggerakkan bibirnya, menyesap lembut bibir Darren yang penuh. Darren terkesiap atas inisiatif istrinya yang tiba-tiba memimpin ciuman itu dengan agresif. Lebihnya, tangan perempuan itu bertindak nakal dengan mulai merayap ke pangkal pahanya.


"Sayang, kamu terlalu bersemangat!" ucap Darren di sela-sela ciuman mereka yang membara.


Karen melepaskan ciuman mereka sesaat, "pengen, gak?" tanyanya memberi kode sambil mengelus-elus dada pria itu.


Darren tertawa kecil sekaligus heran. "Bukannya kamu lagi capek? Istirahat, gih!" balasnya sambil menjepit gemas hidung Karen yang minimalis.


Karen kembali berguling membelakangi Darren yang telah beranjak dan bersiap mandi. Perempuan itu menghela napas sesaat. Ia merasa seperti orang yang frustrasi ketika mengajak suaminya bercinta di sore hari hanya karena ingin segera hamil. Berbanding terbalik dengan dirinya dulu yang selalu berprinsip untuk tidak memiliki anak dalam pernikahan.


***


Tak terasa hari begitu cepat berganti. Namun, orang-orang tetap pada aktivitas yang sama. Chalvin berjalan santai memasuki gedung perusahaan. Sepanjang jalan menuju lift, ia merasakan keanehan terjadi pada beberapa karyawan yang dilewatinya. Keganjilan tetap berlanjut hingga saat ia menuju ruangannya. Ia merasa seperti sedang diawasi para karyawan. Bahkan ketika matanya diam-diam mencoba menoleh ke belakang, karyawan-karyawan wanita seperti tengah bergosip tentang dirinya.


Begitu masuk ke ruangannya, sekretarisnya datang membawakan beberapa berkas di atas meja kerjanya. Chalvin memerhatikan ekspresi masam sang sekretaris tapi tak mencoba bertanya.


"Pacar kamu yang asli mana, sih? Apa jangan-jangan ... yang jadi model ambassador itu, ya?"


"Apaan, sih!" sahut Chalvin yang tampak menyibukkan dirinya.


"Emangnya kamu gak tahu, ya, kabar kamu jalani hubungan dengan model muda itu dah kesebar segedung ini. Bahkan ada yang nge-share foto kamu tungguin dia di poli kandungan."


Mata Chalvin terbelalak seketika. Bahkan hampir meloncat keluar saat sekretarisnya itu menunjukkan bukti foto dan juga chattingan para karyawan yang bergosip tentang dirinya dan juga Karen.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2