
"Siapa yang berani-beraninya fitnah Karen gua?!" seru Feril yang sontak berdiri setelah membaca berita miring tersebut.
Temannya menariknya duduk kembali sambil berkata, "Sadar, Bray, tuh cewek bukan milik lu. Lu dah ditolak sembilan kali."
"Ya, kali aja tuh gosip emang beneran. Di sini kan emang banyak cewek-cewek bergaya elit padahal open BO atau enggak jadi sugar baby," sahut temannya yang memiliki banyak tindikan di telinga.
"Jadi penasaran gua berapa tarif doi. Kali aja ramah di kantong gua," cengir si gimbal.
"Jangan-jangan dosen yang dimaksud itu, profesor Darren!" duga teman lainnya.
"Sepaket eh sepakat! Gua juga mikirnya kek gitu!" Si rambut gimbal ikut menimpali.
"Kalau menurut gua mah kagak. Si Darren masih muda, belom nikah. Ngapain punya cewek simpanan? Paling juga tuh cewek simpanan dosen tua." Salah satu temannya mengemukakan pendapat berbeda.
"Wah, pelakor dong!"
Tanpa memedulikan apa yang dikatakan kawan-kawannya, Feril malah beranjak.
"Woi, Fer, mau ke mana?" tanya kawan-kawannya.
"Mau yasinan. Doain kalian cepat tenang, biar gak berisik!" gerutunya dengan nada ketus. Entah kenapa, kupingnya pun ikut panas mendengar tuduhan teman-temannya tentang Karen.
Di sisi lain, Karen tak menyangka ada seseorang yang mengambil fotonya kemarin siang. Ia khawatir karena mungkin sebentar lagi orang-orang akan mengetahui hubungannya dengan Darren. Sejak foto-fotonya di parkiran dosen beredar, ia menjadi was-was ketika hendak bertemu dengan Darren.
Karen menarik napas seraya melirik ke kiri dan kanan sebelum membuka pintu perpustakaan. Ia berjalan menuju meja pojokan yang menjadi tempat favoritnya. Ternyata Darren sudah lebih dulu berada di sana. Hingga kini, suaminya itu belum mengetahui gosip yang beredar luas di kalangan mahasiswa. Ia berusaha memperbaiki raut wajahnya sebelum menemui pria itu.
"Kenapa lambat?" tanya Darren tanpa berbalik. Pria itu sudah bisa mengenali Karen dari aroma parfum yang dipakainya.
__ADS_1
"Baru selesai makan."
Karen mengernyit melihat tumpukan buku di atas mejanya. Pasalnya, buku-buku tersebut berjenis sastra klasik, falsafat, budaya, seni bahkan psikologi yang sama sekali tak ada hubungan dengan mata kuliahnya.
"Nih tempat ada yang duduki, ya?" tanya Karen bingung.
"Gak ada," sahut Darren dari balik sekat triplek yang menghalangi mereka, "buku-buku itu sengaja aku letakkan di situ buat kamu baca."
"Hah? Baca semua ini?"
"Iya, itu tugas kamu hari ini dan dua hari ke depan. Kalau punya pemahaman membaca yang baik, kamu mampu meningkatkan level di setiap mata kuliah."
"Ta–tapi kok buku bacaannya kayak gini. Apa sih ini, disuruh baca prosa emang aku anak sastra apa. Ini lagi bacaan filsafat!" protes Karen memberengut.
"Menjadi mahasiswa bukan berarti enggak boleh membaca buku yang bukan jurusannya. Bacaan sastra terdapat banyak kosakata baku yang bantu kamu menulis essai dan skripsi. Bacaan falsafat membantu kamu menganalisis materi kuliah. Bacaan seni, budaya dan psikologi bantu kamu memperlancar public speaking. Pengen berada di level terbaik diri kamu, kan? Mulai sekarang baca jenis-jenis buku kayak gitu!"
Karen hanya dapat meneguk ludah menatap tumpukan buku-buku tebal di hadapannya.
Karen bersandar di kursi seraya mengembuskan napas kasar. Memikirkan gosip buruk tentang dirinya sudah bikin sakit kepala, apalagi harus membaca buku-buku tebal seperti ini. Terdiam cukup lama tanpa ada pergerakan, ia kembali melirik buku-buku itu.
Aku gak boleh kalah dari siapapun yang ngejatuhin aku! Mental aku gak boleh lemah cuma gara-gara pandangan negatif orang-orang! Aku gak boleh nyerah sampai suatu saat nanti pernikahanku terungkap dan mereka akui kalau aku pantas dampingi Darren!
Sayangnya, sekuat-kuatnya tekad Karen, masih lebih kuat lagi masalah yang menerpanya. Terbukti, gosip miring tentangnya masih terus berembus di hari-hari berikutnya. Malah semakin menjadi-jadi. Ia kini digosipkan sering bermalam di rumah dosen tersebut. Bahkan pernah berbuat mesum di lingkungan kampus.
Gosip itu membuat namanya semakin populer di kalangan mahasiswa ekonomi pada jurusan yang berbeda. Di grup-grup mahasiswa, ia terus menjadi bahan pergunjingan. Mereka yang tak mengenalnya, tampak penasaran dan saling bertanya-tanya. Tak sedikit juga yang mempertanyakan oknum dosen yang dimaksud.
Karen duduk di pojok kelas sambil menggenggam erat ponselnya. Kunjungan terhadap akun instagramnya sejak kemarin, terpantau mengalami peningkatan. Tanda beberapa mahasiswa lainnya banyak yang penasaran dengan sosoknya.
__ADS_1
"Udah, Kar. Privat aja Instagram lo!" sahut Vera yang sedari tadi duduk di sisinya.
"Gak bisa. Aku BA produk Belleria dan juga meng-endorse beberapa produk. Gak boleh sembarang privat akun gitu aja."
"Terus, pak Darren tahu engga lo digosipin kek gini?"
Karen menggeleng dengan raut murung.
"Kok kamu gak cerita, sih? Lagian, masa status kalian masih disembunyiin juga? Kalau lo tiba-tiba hamil gimana? Apa lo mau digosipin hamil duluan?"
Karen terdiam. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Vera ada benarnya. Jika tiba-tiba dirinya hamil dalam waktu dekat, bukankah akan semakin memperburuk dugaan orang-orang tentangnya?
"Ren, beneran gak sih lo jadi simpanan dosen?" tanya beberapa teman sekelasnya dengan tatapan sinis.
"Ya, enggaklah! Kok kalian percaya banget sama hoaks kayak gitu!" jawab Karen berusaha tak terpengaruh dengan pemberitaan buruk tentangnya.
"Masa, sih? Tapi nilai tugas lo akhir-akhir ini bagus-bagus di beberapa mata kuliah. Jangan-jangan emang bener lagi!" sambung yang lainnya dengan kalimat tuduhan yang kalah sengit.
"Ya, karena gue rajin belajar aja akhir-akhir ini," jawab Karen seadanya.
"Terus, kenapa lo tertangkap kamera lagi ada di parkiran dosen? Lo bukan mahasiswa akhir yang ngejar-ngejar dosen, 'kan?" serang temannya yang lain dengan nada mengejek.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Feril di kelas. Dengan napas yang tersengal-sengal, pria berambut landak itu berkata, "Kar, lo tenang aja! Gua barusan minta BEM buat take down tuh berita gak mutu dan cari siapa yang ngirim tuh berita!" Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil menunjuk, "denger, ya, siapapun yang ngejelek-jelekin Karen, bakal berhadapan langsung sama gua!"
Kali ini, tindakan yang dilakukan Feril tanpa modus apa pun dan tidak disponsori siapapun. Ia benar-benar membela perempuan itu dari berita tak sedap yang beredar di kalangan mahasiswa.
.
__ADS_1
.
.