DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Ch. 139 : Mengejar Cinta Chalvin


__ADS_3

Motivator yang tak bisa memotivasi dirinya pernah berkata bahwa cara agar tidak lelah dalam melakukan pekerjaan adalah dengan tidak mengerjakannya. Terdengar konyol, tapi sebenarnya itu sebuah sarkasme untuk orang-orang yang sering mengeluh tentang pekerjaan mereka.


Mulai hari ini, Darren memutuskan mengantar istrinya ke perusahaan kosmetik keluarganya. Kendati pun ia harus menyesuaikan jadwal istrinya dan menggeser jadwalnya ke kampus.


Darren menghentikan mobilnya tepat di halaman perusahaan. "Kalo dah mau pulang langsung chat aku aja, ya?"


"Oke." Karen membuka sabuk pengaman. Ia melirik suaminya sambil berkata, "Gak mau ngasih aku sesuatu nih sebelum pergi?"


Darren mengambil dompet di saku celana, lalu membuka isinya. "Kamu butuh berapa buat jajan?"


Karen langsung menyeringai. "Aku mau di-kiss!" ucapnya sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Darren menarik kepala Karen dengan lembut ke sisinya, lalu mengecup dengan singkat. "Udah, di situ aja, ya?"


"Ih, gak mau! Maunya di sini," rengek Karen sambil menunjuk bibirnya sendiri.


Darren melihat area parkiran yang tampak sepi, ia lalu memiringkan kepalanya dengan perlahan. Sementara Karen telah memejamkan mata dengan bibir yang sedikit dimajukan seolah siap menyambut ciuman suaminya.


Tiba-tiba seseorang mengetuk jendela samping pengemudi yang membuat keduanya tersentak. Darren langsung menurunkan kaca mobil. Dari luar, terlihat Chalvin berdiri dengan tubuh setengah menunjuk menyesuaikan tinggi mobil Darren.


"Lama amat sih keluar dari mobil. Gua tungguin dari tadi," protes Chalvin menggerutu.


Ternyata, mobil Darren dan Chalvin beriringan saat menuju ke tempat itu. Karen pun langsung keluar dari mobil.


"Ngapain juga nungguin aku," ketus Karen memasang mimik cemberut karena Chalvin datang mengganggu kemesraannya dengan Darren.


Dari dalam mobil, Darren memandang Karen dan Chalvin yang berjalan beriringan menuju gedung. Di waktu yang sama, Farel yang juga baru tiba di perusahaan itu, tak sengaja melihat Karen masuk ke dalam lift bersama Chalvin.


"Itu bukannya temannya Nadya, cewek yang dikejar-kejar Feril, kan?" gumam Farel dengan mata memicing, lalu tersenyum miring, "asyik juga nih kantor. Orang-orang gak terduga muncul di sini, habis ini siapa lagi, ya?"


Selama proses syuting iklan, mata Chalvin tak lepas memandang Karen. Sungguh, ia tak mengerti dengan dirinya sekarang. Sejak menyadari perasaannya, pandangannya seolah terus tertuju pada Karen. Ia bahkan tak tertarik untuk bermain-main dengan wanita seperti biasa. Namun, meskipun memiliki perasaan pada istri sepupunya itu, ia sama sekali tak berniat untuk melangkah jauh.


Di siang yang lumayan panas, Chalvin keluar dari gedung lalu berjalan beberapa meter dengan mata yang berpendar ke sekeliling halaman. Tangan pria itu tampak memegang ponsel. Ia melihat Nadya yang berdiri tak jauh dari pos keamanan, lalu menghampirinya.


"Ada perlu apa nih tiba-tiba ke sini dan ngajak ketemuan?" tanya Chalvin.


Nadya memandang Chalvin dengan wajah gugup dan kedua tangan yang disembunyikan di belakang punggung.

__ADS_1


Melihat gadis itu diam saja dan hanya memandangnya, Chalvin lantas berkata kembali. "Kalo kamu butuh sesuatu, atau mau minta tolong spill aja! Gak usah sungkan gitu."


Nadya langsung menyerahkan sebuah kotak segi empat berwarna pink yang cukup lama disembunyikan di balik punggungnya. "Ini untuk kak Chalvin."


"Apa itu?" tanya Chalvin sambil melihat kotak itu.


"Ini cokelat. Ke-kebetulan tadi aku ... beli ini di dekat sini. Ja-jadi aku beli dua dan ngasih satu ke kak Chalvin," ucap Nadya terbata-bata. Entah kenapa dia menjadi gagap seperti ini ketika berhadapan dengan pria itu. Ia bahkan tak berani menatap mata Chalvin.


Chalvin mengulurkan tangannya ke depan, bukan untuk mengambil cokelat yang disodorkan padanya, melainkan menolaknya seraya mendorong kotak ke arah Nadya. "Sorry banget, gua gak suka cokelat, kalorinya tinggi. Daripada kuambil tapi ujung-ujungnya gak kemakan, mending cokelatnya kamu makan aja. Oh, iya, aku masih ada urusan. Aku tinggal, ya!"


Setelah Chalvin melangkah pergi meninggalkannya, Nadya pun mengangkat wajahnya seraya menatap punggung pria itu dengan raut kecewa. Ia berbalik lemah menghampiri Karen yang ternyata memantau mereka dari balik pos keamanan.


"Kamu lihat sendiri, kan, Kar. Bahkan dia gak tertarik dengan barang yang aku kasih."


"Enggak. Kita yang salah. Seharusnya kita enggak ngasih dia cokelat. Aku lupa, Chalvin bukan cowok ABG, dia cowok matang. Tapi kita malah memperlakukan dia kek seumuran kita dengan ngasih cokelat." Karen mengusap poninya ke belakang sambil mengembuskan napas kasar.


Tak terasa, waktu telah beranjak menuju sore hari. Chalvin menghampiri Karen yang sedang mengemas barang-barangnya usai proses syuting selesai.


"Kar, kamu diantar pulang supir kantor dulu, ya? Aku masih nunggu orang, nih!"


"Oh, iya, syukurlah kalo gitu!"


Saat Chalvin hendak pergi, Karen malah menahannya. "Eh, eh, kamu mau lembur atau gimana?"


"Enggak, gua pulang sore ini juga kok."


"Oh, iya." Karen tersenyum simpul. Artinya, ia bisa menjalankan aksi kedua untuk membuat Nadya dan Chalvin menjadi lebih dekat.


Sesuai yang diharapkan Karen, Chalvin memang pulang ke rumah satu jam setelah itu. Baru saja hendak menaiki tangga, ia tersentak melihat kehadiran Nadya yang berada di rumah itu. Ia pun segera menghampirinya.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" bisik Chalvin dengan ekspresi kurang senang.


"Oma yang minta. Dia nelepon aku pakai ponselnya Karen." Nadya beralasan. Ya, memang benar Oma Belle yang meneleponnya. Tapi itu semua direncanakan Karen dan dia sendiri pun tahu.


"Kenapa kamu gak nolak? Kamu udah tahu sendiri, kan, Oma bakal bahas terus soal lamaran. Dan kita gak mungkin kasih jawaban yang sama."


Nadya terdiam menunduk dan hanya bisa mengulum bibir bawahnya. Melihatnya seperti itu, Chalvin seperti bisa memaklumi posisinya yang serba salah.

__ADS_1


"Sorry, aku yang salah terus-terusan libatin lu. Ya, udah, kamu ngobrol bareng Oma dan Karen aja. Hati-hati, jangan ngomong yang bikin mereka curiga!"


"Kak Chalvin tunggu!" tahan Nadya sewaktu Chalvin hendak bergegas pergi.


Chalvin berbalik kembali ke arahnya. Nadya mengeluarkan sesuatu dari saku celana jins yang dipakainya. Ternyata itu adalah dua tiket menonton film.


"Kak Chalvin punya waktu gak malam ini? Aku punya dua tiket nonton film, nih. Aku enggak tahu mau ngajak siapa. Tadinya mau ngajak Karen, tapi dia gak bisa karena harus temani suaminya di rumah."


Chalvin menatap datar tangan Nadya yang menyodorkan tiket film. "Sorry, aku gak terlalu suka nonton. Apalagi nonton film romance. Wasting time menurutku."


(Wasting time: membuang-buang waktu)


Setelah berkata, Chalvin langsung meninggalkan Nadya. Karen bergegas menghampiri sahabatnya itu. Nadya memandang Karen dengan lirih, tetapi sudut bibirnya masih memaksa untuk tersenyum.


"Dari awal aku udah sadar diri. Mana mungkin kak Chalvin bakal tertarik sama aku." Nadya tertunduk lemah.


Karen memegang tangan Nadya sambil berkata, "Enggak, semua orang pantas dicintai siapapun apa pun statusnya. Tenang, aku bakal cari tahu apa aja yang disukai Chalvin!"


Karen menyadari telah salah strategi. Oleh karena itu, ia perlu mengenal Chalvin lebih jauh agar bisa membantu Nadya memenangkan hati pria itu. Karen lalu masuk ke kamar menghampiri Darren yang tengah mengetik jurnal. Ia mengambil posisi duduk di pangkuan sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Bermanja-manja kek gini bikin aku mengendus sesuatu tahu gak," ucap Darren dengan mata yang terus fokus di layar laptop.


"Ngendus apa coba?"


"Bau-bau ... orang ada maunya gitu," sindir Darren dengan senyum tertahan, "udah, langsung aja ke intinya."


Karena Darren sudah mengetahui tujuannya, Karen pun langsung blak-blakan. "Sayang, kamu tahu enggak, kira-kira apa yang paling disukai Chalvin?"


Aura wajah Darren mendadak berubah. Bahkan jari-jarinya berhenti mengetik seketika. "Kenapa kamu pengen tahu?"


"Hmmm ... bukan aku yang pengen tahu, tapi Nadya. Dia pengen tahu apa aja yang disukai Chalvin."


Darren memicingkan curiga. Setahunya, hubungan Chalvin dan Nadya hanya fiktif belaka. Chalvin malah tak mengelak saat ia mencoba bertanya semalam. Jika seperti itu, apa benar Nadya yang hendak mencari tahu itu?


.


.

__ADS_1


__ADS_2