
Nadya menggenggam erat-erat tali tas Selempangnya sambil mengembuskan napas. Tentu saja hatinya tak hanya bergetar, tapi juga meronta-ronta mendengar penawaran terakhir Chalvin. Uang sebanyak itu belum pernah dilihatnya apalagi dimilikinya.
Lima puluh juta? Serius, nih, lima puluh juta?
Ia berbalik perlahan ke arah Chalvin yang menatapnya dengan mata berbinar dan senyum cerah.
Berjalan cepat menghampiri Chalvin, ia kemudian berkata, "Jadi Kakak pikir, segalanya bisa diatur dengan uang?"
"A ... bukan gitu. Gua cuma pengen ada semacam simbiosis mutualisme antara kita. Biar sama-sama enjoy!" Chalvin mencoba menjelaskan agar Nadya tak tersinggung atas penawarannya.
"Gak papa, sih, dengan tawaran Kakak karena itu bikin aku sepakat. Lima puluh juta kan?"
Chalvin yang tadinya mengira Nadya akan kembali menolak tawarannya, mendadak terhenyak dengan persetujuan gadis itu.
"Yaelah ... kirain gak doyan duit," gumam pria itu dalam hati sambil tersenyum ringkih.
"Jadi bener nih kamu mau nolongin aku?" tanya Chalvin memastikan kembali.
"Cuma jadi pacar boongan, kan?"
Chalvin mengangguk mengiyakan.
"Cuma sehari doang, kan?"
Chalvin kembali mengangguk cepat.
"Oke, deal!" Nadya mengulurkan tangannya ke depan dengan sudut bibir yang tertarik lebar.
Tangan mereka saling berjabatan sebagai tanda kesepakatan. Senyum pun terulur dari wajah masing-masing.
"Tapi ... dengan catatan kamu harus benar-benar bikin Oma aku percaya kalo kamu itu pacar aku," tegas Chalvin.
Kali ini giliran Nadya yang mengangguk sambil mengacungkan jempol. Chalvin memerhatikan ekspresi Nadya yang mendadak penuh semangat.
"Taklukin manusia itu gampang, ya, cuma dengan duit aja!" celetuknya sambil duduk bersedekap dengan memangku sebelah kaki.
"Ya, iyalah, aku bukan kuntilanak yang cuma butuh paku doang!" balas Nadya dengan santai.
Balasan terang-terangan Nadya malah membuat Chalvin tertawa. Ya, ia memang lebih suka perempuan yang mempunyai sifat blak-blakan daripada perempuan yang terlalu mencitrakan dirinya agar terlihat baik dan sempurna.
"By the way, ini gak segampang yang kamu pikir. Oma aku bukan tipe orangtua yang mudah ditipu. Instingnya lebih tajam dari detektif dan penerawangannya bisa lebih tepat dari peramal. Dia juga pengingat yang baik, satu kali aja kita bikin kesalahan, bakal diingat terus dan diungkit sewaktu-waktu. Terus, hati-hati ... kalo Oma sampai ngamuk, bakalan lebih nakutin dari serigala."
__ADS_1
Mendengar hal itu, membuat Nadya bergidik ngeri. Ia sampai membayangkan sosok Oma Belle seperti Mak lampir. Apalagi Karen pernah memakai ringtone lingsir wengi sebagai tanda panggilan telepon dari Oma Belle.
"Berarti Karen hebat dong bisa betah sama Oma kamu."
Chalvin tersenyum miring. "Jangan khawatir! Oma aku tuh, kalo sekali suka sama seseorang, dia bakalan sayang banget sama orang itu. Makanya, kamu harus jadi tipe calon cucu mantu idealnya dulu. Pertama, kamu harus jaga penampilan dan juga perilaku di depan Oma. Kedua, kamu gak boleh lebih banyak bicara dari dia. Soalnya Oma aku tuh suka ngoceh dan dia lebih suka didengarkan daripada ditanggapi. Dan terakhir, kamu harus terlihat tulus di depan dia."
"Oh, kalo cuma kayak gitu mah gampang!" kata Nadya, "kalo Kak Chalvin sendiri suka cewek seperti apa?" lanjutnya bertanya.
"Aku gak punya standarisasi, sih. Selagi enak dipandang, terus kita sama-sama konek ... ya udah! Tapi aku gak suka tipe cewek yang selalu merasa dirinya lebih baik dibanding cewek-cewek lainnya. Istilahnya tuh pick me girl¹."
"Emang ada yang kayak gitu."
"Ada. Ada banyak. Bikin ilfeel, tahu!"
Chalvin mulai memberi arahan apa saja yang harus dilakukan Nadya nanti. Seperti cara berpakaian dan tingkah lakunya selama berhadapan dengan Oma Belle. Termasuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diberikan untuknya.
Di sisi lain, Oma Belle ternyata tengah melakukan panggilan video Dengan Karen dan juga Darren yang masih berada di Kuala Lumpur.
"Karen, gimana kabar kamu? Kalian kok gak ada kabarin Oma, sih!"
"Baik-baik aja kok, Oma. Kan kemarin udah dikabarin."
"Terus, kapan kalian pulang? Oma kangen banget sama kalian. Rencananya Oma mau ajak kalian menyantuni anak yatim di beberapa yayasan. Ini syukuran atas kesembuhan kamu."
"Gak perlu bawain Oma oleh-oleh. Cukup kamu pulang dalam keadaan sehat seperti semula aja udah bikin Oma senang," ucap Oma Belle, "oh, iya, pulang ke Jakarta nanti kalian harus pindah ke rumah sini, ya! Oma sudah siapkan kamar yang lebih luas untuk kalian tempati." Oma Belle mulai mengeluarkan perintah yang bersifat otoriter.
Karen tercengang seketika. "A–apa? Pindah ke rumah Oma?"
"Iya! Kamu kan baru saja habis sakit dan dalam masa pemulihan. Gak boleh ngerjain pekerjaan rumah tangga sendiri."
Darren yang mendengar obrolan tersebut, langsung memunculkan wajahnya di layar video call sambil menimpal, "kalo soal itu aku juga udah kepikiran ngambil asisten rumah tangga buat bantu-bantu kami kok Oma."
"Hah? Ambil asisten rumah tangga? Uang kalian itu baru saja habis-habisan buat berobat. Kemarin kamu sok gak mau terima bantuan dana dari kakek. Kalian harus berhemat lagi untuk menstabilkan keuangan rumah tangga kalian. Daripada cari asisten rumah tangga untuk sementara waktu, mending tinggal sama Oma aja dulu. Di sini apa aja sudah tersedia. Mau ini mau itu tinggal suruh aja. Jadinya kalian juga gak perlu mikir bayar listrik dan air di rumah kalian untuk sementara. Hemat, kan?"
"Seharusnya bapak presiden pilih Oma jadi menteri keuangan biar negara kita bisa lebih menghemat anggaran." Karen kembali bergumam dalam hati.
Tak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan Oma ada benarnya dan menjadi pertimbangannya saat ini. Penyakit yang diderita dan pilihan pengobatan yang diambilnya, telah menghabiskan tabungan dana darurat mereka. Untung saja, mereka masih memiliki tabungan investasi jangka panjang walau dengan nominal yang tak banyak.
"Oke, Oma. Kita bakalan tinggal di rumah Oma sementara waktu. Asal gak repotin Oma aja," ucap Karen memutuskan menuruti permintaan Oma.
Darren tentu saja terkesiap dengan keputusan Karen. Pasalnya, ia tahu betul Karen tak pernah betah dan tidak bisa mengikuti kedisiplinan yang diterapkan di rumah itu.
__ADS_1
"Kamu yakin kita pindah ke rumah Oma?" tanya Darren setelah panggilan video mereka dengan Oma Belle terputus.
"Iya," jawab Karen sambil berdiri di pinggir jendela hotel.
"Kamu gak terpaksa, kan?" tanya Darren sambil memeluk dari belakang dan menyandarkan dagu di pundak Karen. Ia khawatir Karen hanya merasa tak enakan untuk menolak permintaan Omanya.
"Enggak. Aku justru senang banget dapat sambutan yang hangat di keluarga kamu. Mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk kepulangan kita, jadi kita gak boleh mengecewakan mereka."
Setelah menelepon Karen dan Darren, Oma Belle langsung melihat tanggal di kalender.
"Aku udah gak sabar pengen cepet-cepet hari Minggu. Soalnya Darren sama Karen pulang di hari itu, terus Chalvin juga mau kenalin calonnya! Hhmm ... jadi penasaran aku, perempuan seperti apa lagi yang bakalan dikenalkan Chalvin? Awas aja kalo bukan perempuan baik-baik!" ucap Oma Belle pada kakek Aswono yang tengah menikmati teh sambil membaca majalah bisnis terbitan bulan ini.
"Kalo gitu kamu suruh aja pacarnya Chalvin tuh bikin surat SKCK sebelum datang ke sini!" kelakar kakek Aswono.
"Apaan sih kamu nih, Mas?" sambar Oma Belle melihat kakek Aswono terkekeh. "Apa Chalvin juga perlu diajak tinggal di sini sementara waktu, ya? Biar aku bisa lebih kontrol dia. Terus, kita semua bisa ngumpul bareng. Pasti rumah ini bakalan ramai!" pikir Oma sesaat dengan mata yang bercahaya.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
'pick me girl' istilah yang diberikan kepada perempuan yang senang mengklaim dirinya berbeda dengan perempuan pada umumnya dengan tujuan ingin menarik perhatian lawan jenis. Para pick me girl biasanya merasa paling spesial sehingga terkesan merendahkan wanita lain.
Contoh bahasa-bahasa pick me girl yang sering kita lihat di sosmed itu kek gini: "apa cuma aku di sini yang kalo keluar gak pernah makeup-an. Lebih suka tampil natural."
Terus ada juga yang kek gini. "Alhamdulillah, gua gak pernah jerawatan padahal muka gua gak pake apa-apa. Gak pernah perawatan, dll." Dilihat dari kalimat itu saja, udah ada nada ingin terlihat 'lebih' dibanding yang lain. Gak sopan + gak respek ketika kita berkomentar seperti di atas ketika melihat konten wanita yang lagi dandan atau lagi share tentang masalah jerawat, gays.
Kalimat-kalimat yang diawali dengan bahasa "apa cuma aku ...." Ini sebenarnya udah jadi pick me line. "Apa cuma aku yang gak suka nonton film romantis, apa cuma aku yang gak suka cewek manja menye-menye, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat pick me yang sering terlontar di sosial media.
Dan kata psikolog, ini termasuk sindrom karena ini didorong oleh perilaku misoginis. Apa itu? Perilaku membenci wanita, baik laki-laki yang benci perempuan atau perempuan yang benci sesama perempuan.
Selain pick me girl, ada juga pick me boy, gays. Apa itu? pick me boy pria yang suka menggunakan cara manipulatif dengan merendahkan dirinya agar mendapat perhatian dan rasa iba dari wanita. Misalnya kek gini, "saya cuma orang biasa, lahir dari keluarga sederhana. Apa ada yang mau sama saya?" Nah, kalimat sakti ini, biasa digunakan para pick me boy di depan cewek yang mereka sukai. Tujuannya biar mereka terlihat rendah hati dan tentu saja memancing rasa iba wanita. Hati-hati, kenapa perempuan banyak yang terjerat pria-pria pengangguran yang nolep? Karena modelan kayak mereka pintar memainkan kata-kata seperti ini.
Aku share tentang ini supaya kita semua bisa lebih punya manner dalam bersosial media. Mau terima atau tidak, kembali ke diri masing-masing 😉
__ADS_1
oke, itu aja kumur-kumur gua kali ini. buat ngobatin kalian yang udah rindu catatan kaki aku.