
Matahari mulai menjelajah di kaki langit, tanda lembaran hari baru siap terisi dengan segala aktivitas. Di kediaman Bratajaya, para penghuninya diwajibkan bangun sebelum fajar. Di mana ini adalah hal yang paling berat untuk Karen lakukan. Dengan malas, ia turun dari ranjang lalu beringsut pelan keluar dari kamar yang telah ditinggalkan Darren terlebih dahulu. Rambut perempuan itu seperti disasak setengah jadi dan matanya masih meredup.
Di waktu yang sama, Chalvin yang baru saja keluar dari kamarnya malah bertemu dengan Karen di depan pintu. Bertatapan dengan jarak yang cukup dekat, membuat jantung Chalvin berdegup kencang. Sialnya lagi, ia merasa suara-suara desahann semalam kembali mengalir di pendengarannya saat ini.
Chalvin refleks masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kencang, hingga membuat mata Karen yang sempat terkulai menjadi terbuka lebar.
Bersandar di daun pintu, Chalvin malah menutup telinga rapat-rapat. "Gua gak boleh ingat-ingat suara itu! Gua gak boleh berpikiran negatif! Karen itu adik ipar gua, oke?" Chalvin malah bergumam sendiri seolah sedang memberi wejangan pada dirinya sendiri.
Chalvin membuka pintu kamar setelah merasa jantungnya mulai normal kembali. Namun, ia malah terpekik kaget saat melihat Karen berdiri bengong di pintu kamarnya. Sontak, ia pun kembali masuk sambil menutup pintu dengan kencang.
"Tenangin diri lu, Vin!" Chalvin kembali menghela napas.
"Chalvin, kamu kenapa? Are you Okey?" tanya Karen dari balik pintu.
Terkejut mendengar pertanyaan Karen, lagi-lagi Chalvin malah membayangkan suara lenguhan perempuan itu. Hanya sebentar, kepalanya langsung bergeleng cepat agar suara-suara itu bisa tertepis dari benaknya.
"Gua ... gua lagi mules. Mau ke kamar kecil dulu," teriak Chalvin yang tak berani keluar.
Waktu sarapan telah tiba. Para ART tengah sibuk menata meja mekan. Kakek Aswono dan oma Belle telah lebih dulu berada di sana.
Chalvin datang dengan wajah kusut dan duduk di samping oma Belle. Tak lama kemudian, Darren dan Karen datang menyapa mereka dengan wajah semringah. Chalvin yang sedang meneguk air, lantas tersedak begitu melihat Karen yang mengambil posisi duduk di hadapannya, bersebelahan dengan Darren. Entah kenapa suara perempuan itu lagi-lagi terngiang di pendengarannya.
Oma Belle memerhatikan wajah Chalvin yang tak secerah mentari pagi ini. Jika biasanya pria itu kerap tampil perfeksionis, kali ini justru terlihat semrawut. Belum lagi lingkaran gelap bawah matanya terlihat jelas. Ini karena semalaman ia tak bisa tidur. Bahkan meskipun penghuni kamar sebelahnya telah senyap, ia masih belum bisa menepis pergulatan hatinya.
"Chalvin, kamu begadang, ya?"
Chalvin tersentak dengan teguran oma Belle. "Iya, Oma," jawabnya sedikit terbata.
"Kamu harusnya jaga kondisi. Apalagi sebentar lagi menikah! Oma pesankan ginseng, ya? Sekalian juga untuk pacar kamu biar kalian dalam kondisi prima kalau nikah nanti. Apalagi khasiat ginseng bagus untuk kesuburan juga," kata oma Belle penuh antusias.
__ADS_1
"Emang Kak Chalvin mau nikah dalam waktu dekat?" tanya Karen dengan nada terkejut.
"Iya ... dia kan mau nikah sama teman kamu," jawab oma Belle.
Karen terhenyak. Sebab, Nadya tak menceritakan apa pun terkait pernikahan itu. Ia dan Chalvin saling beradu pandang. Tak sampai sedetik, pria itu langsung memalingkan wajahnya. Entah kenapa ia mendadak kikuk setiap bertatapan dengan Karen.
"Mana Sheila? Kenapa dia belum muncul?" tanya kakek Aswono.
"Jangan bilang dia masih molor jam segini, dari tadi juga gak kelihatan. Anak sekolahan kok telat bangun!"
"Dia udah bangun dari subuh kok, Oma. Mungkin lagi siap-siap," bela Darren.
Tak lama kemudian Sheila datang dengan wajah semringah. Namun, penampilannya yang memakai seragam sekolah malah mengalihkan perhatian oma Belle.
"Kamu ini siswa atau SPG? Ke sekolah kok dandan kek gitu, udah gitu roknya pendek banget." Oma Belle mengomentari tampilan Sheila yang lebih dewasa dari anak seusianya.
"Duh, oma dari abad ke berapa, sih?" cela Sheila sambil mengibas rambutnya yang dibuat bergelombang.
Bukannya segera duduk, Sheila malah mendatangi kursi Darren dan melingkarkan tangannya di bahu pria itu. "Kak Darren yang anterin aku ke sekolah, ya? Biar teman-temanku tahu aku punya kakak yang cakep," bujuk Sheila.
Karen lantas melengos malas sambil bergumam kecil. "Dasar attention seeker!"
(N: Attention seeker \= tukang caper)
"Sheila, aku mesti ke kampus pagi ini. Sekolah kamu dan kampus aku beda jalur. Entar aku bisa kena macet, loh!"
Penolakan Darren membuat Karen serasa memenangkan undian berhadiah. Sebaliknya, Sheila malah memberengut seraya mengangkat bibirnya. Ia pun berpindah posisi ke kursi kosong di sebelah Chalvin.
"Gimana kalo Kakak aja yang anterin aku. Keknya teman-teman aku bakalan heboh juga, deh," pinta Sheila pada Chalvin.
__ADS_1
"Gak terima tumpangan," tolak Chalvin tanpa basa-basi.
Sheila yang tak terima ditolak sepert itu, lantas berkata, "Asal Kak Chalvin tahu aja, ya, aku ini primadona sekolah. Banyak cowok-cowok di luar sana yang ngantri buat jadi pacar aku!" ungkap Sheila penuh kebanggaan.
"Dan aku bukan salah satu dari cowok-cowok itu," imbuh Chalvin tanpa menoleh ke arah gadis itu.
Sheila semakin termegap-megap. "Jadi pengen tahu sehebat apa sih tipe cewek Kakak? Asal jangan kek seleranya Kak Darren aja," singgung Sheila sambil melirik ke arah Karen.
"Udah ... udah ...Kakek udah sediain supir buat antar jemput kamu. Tapi sebelumnya, kamu harus ganti seragam dulu. Ingat, harus patuhi peraturan di rumah ini, termasuk cara berbusana," perintah kakek Aswono dengan tegas.
Sebenarnya, ada persamaan antara Sheila dan Karen. Mereka masih muda dan sama-sama fashionable. Hanya saja, Karen lebih bisa menyesuaikan gaya berpakaian yang lebih sopan sejak menikah dengan Darren. Selain itu, Karen tak pernah membantah oma Belle sekalipun ia sering tak sependapat dengan nenek dari suaminya itu.
Selesai sarapan, Karen menghampiri Darren yang tengah bersiap ke kampus. Ia duduk di pinggiran ranjang sambil melihat bayangan Suaminya dalam cermin.
"Oma kok tiba-tiba pingin nikahin Chalvin, apa mungkin karena kita gak bisa kasih oma cucu dalam waktu dekat?"
Darren mengangkat bahu. "Gak tahu. Tapi, sebenarnya oma udah berencana mau cariin Chalvin jodoh."
"Sejak aku selesai berobat, oma gak pernah lagi desak aku untuk hamil. Terus, gak pernah nyinggung masalah anak seperti dulu," ucap Karen tertunduk lesuh. Ini lucu, dulunya ia paling kesal saat oma Belle mengungkit soal kehamilan dan anak. Namun sekarang, ia malah merindukan hal itu.
Darren melirik ke arah istrinya yang mendadak murung. Ia berbalik, mendekap Karen dengan lembut. "Bukannya itu bagus? Artinya ... oma ngertiin kondisi kita." Darren membungkuk lalu mengecup singkat kening istrinya, "Aku pergi dulu, ya?"
Selepas kepergian Darren, Karen buru-buru mengambil ponselnya lalu menelusuri internet untuk mencari dokter kandungan terbaik di Jakarta.
.
.
.
__ADS_1
sibuk banget akhir tahun gays.