
Karen mengambil teflon kecil, menuang minyak lalu memecahkan telur omega untuk membuat sarapan telur mata sapi. Namun, sesaat kemudian ia mengernyit bingung sambil memanggil suaminya.
"Ren, Ren, bantuin aku dong. Kok telurnya kayak terendam."
Darren langsung menghampirinya dan melihat apa yang terjadi. "Ya, ampun, ini sih minyaknya kebanyakan. Terus belum panas, udah kamu cemplungin telur."
"Terus gimana dong? Masih bisa jadi enggak, nih?"
"Ya, tungguin aja sampai minyaknya panas. Jangan lupa kecilin apinya biar gak gosong!" Darren kembali ke meja makan untuk membuat dua gelas susu.
Selang beberapa menit kemudian, Karen memanggilnya kembali dengan nada panik. "Ren, Ren, ini gimana cara baliknya, kok susah banget! Buruan ke sini!"
Darren kembali menghampirinya. "Ini sih langsung angkat aja, gak perlu dibalik!"
"Aku gak suka telur setengah matang, seleraku tuh yang tingkat kematangannya full."
"Oh, itu namanya over hard, telur digoreng bolak balik sampai kuningnya matang. Kalau sunny side up tanpa dibolak-balik, kuningnya dibiarin masih encer. Ada lagi yang istilahnya runny, telurnya dibalik sekali tapi kuningnya masih setengah matang," tutur Darren sambil mengambil alih sutil di tangan Karen.
"Pintar banget, Suamiku. Dah kayak koki aja!" puji Karen seraya mengelus-elus pundak suaminya.
"Makanya banyak membaca biar wawasannya luas. Jangan cuma scroll sosmed sama aplikasi belanja online," singgung Darren.
"Nyindir, nih?"
"Baguslah kalau tersindir," ketus Darren sambil menyajikan telur mata sapi di atas piring.
Keduanya pun sarapan bersama dengan saling berhadapan. Sejenak, Karen kembali mengingat aktivitas intim yang mereka lakukan semalam. Tiba-tiba matanya terbelalak saat menyadari sesuatu.
"Ren, yang semalam itu ...."
"Udah gak usah dibahas lagi. Gak usah diingat-ingat!"
"Bukan ... maksud aku, semalam kamu pakai itu, gak?" tanya Karen sedikit cemas.
Darren yang langsung mengerti istrinya tengah membicarakan soal sarung pelindung anti bocor, lantas menggeleng, "Enggak?"
"Kok enggak pakai? Kalau aku hamil gimana?" Karen menghentakkan kakinya sambil meringis.
"Ya, waktu itu ... kan kamu minta gak usah pakai, jadi aku pikir semalam juga gak perlu," jawab Darren sedikit terbata-bata.
"Waktu itu karena aku lagi dalam masa enggak subur menurut aplikasi ovulation calender!" tandas Karen panik.
"Kamu gak bilang, sih! Aku pikir udah gak perlu pakai itu lagi." Darren menggaruk-garuk kepalanya.
"Pokoknya selama sebulan kita gak usah gituan dulu!"
__ADS_1
Darren melebarkan mata, tetapi tak mampu berkutik atau menyela seperti biasa. Untuk pertama kali ia tak bisa menenangkan istrinya yang tengah uring-uringan.
...----------------...
Di kampus, Karen menceritakan pada Nadya tentang apa yang dialaminya semalam. Sahabatnya itu masih tak percaya kalau pesan tersebut dikirim dari akunnya. Pasalnya, tidak ada jejak chat yang tersimpan di akun miliknya. Untung saja Karen memiliki bukti tangkapan layar yang langsung ditunjukkan pada Nadya.
"Kok bisa, sih, mereka pakai akun aku buat ngejebak kamu!"
"Mungkin ini kejahatan phising¹ doang. Mending kamu buruan ganti password, deh. Sebelum makan korban lain," ucap Karen sambil menyedot es jeruk.
"Untung banget kamu gak sampai mental breakdance," ucap Nadya memandang Karen dengan lega.
(N: Mental breakdance slang word/inggris gaul dari kata mental breakdown yang artinya stres, kepikiran atau kalau di kita lebih dikenal dengan istilah "Kena mental")
"Yang pasti aku gak bakal bisa lupa dan jadi trauma ke tempat gituan."
Nadya melototkan matanya seketika saat terlintas akan sesuatu. "Jangan-jangan semua ini ulah si Brengsekk!"
"Hah? Siapa?"
"Itu mantan aku yang brengsekk. Aku lupa kalau pernah login Instagram di ponselnya, terus kayaknya aku lupa logout lagi. Mungkin dia yang ngelakuin ini sama kamu! " jelas Nadya sambil mengusap rambutnya ke belakang telinga.
"Maksud kamu Farel?"
Karen tertegun sesaat. Seingatnya, saat dua pria itu hendak membuka pakaiannya, Feril langsung datang untuk menolongnya. Anehnya, kejadian ini seolah terskenario, di mana Feril tiba-tiba muncul di tengah sesaknya orang-orang yang tak saling memedulikan satu sama lain. Belum lagi suasana tempat itu terlalu gelap untuk bisa mengenali orang-orang.
Karen dan Nadya menyudahi obrolan mereka kemudian ke tempat ke kasir untuk membayar minuman.
"Berapa semua, Bu?" tanya Karen sambil membuka dompet dengan merek kremes.
Melihat dompet bermerek yang dipakai Karen, ibu pemilik kedai pun langsung mematok harga. "Tiga puluh ribu, Neng."
Mata Nadya terbelalak seketika. "Buset! Mahal banget! Cuma es jeruk doang bukan jus atau minuman ala kafe! Makan Untung banget, sih, Bu!"
Ibu bergincu merah lantas berkata dengan tak kalah ketus, "Heh, di mana-mana orang jualan ya cari untung. Bukan cari pahala!"
Karen langsung membayar pesanan dua gelas minuman, kemudian segera menarik Nadya keluar dari kedai itu agar tidak adu mulut dengan pemilik kedai.
"Aku bilang juga apa, kan? Gak usah nongkrong di situ. Owner-nya matok harga sesuai penampilan mahasiswa," cerocos Nadya.
"Udah gak papa. Udah rezekinya," Karen berbalik ke arah kampus.
"Eh, kok balik kampus lagi? Kamu gak pulang dulu? Bukannya mata kuliah selanjutnya entar sore?" tanya Nadya heran.
"Ee ... aku mau ke perpus dulu. Ada buku yang mau aku pinjam." Karen beralasan dan langsung pergi terburu-buru. Ia memang telah janjian dengan Darren untuk bertemu di sana.
__ADS_1
"Hah, tumben dia minjem buku di perpus? Dia gak demam, kan?" gumam Nadya bengong.
Usai nongkrong di kedai samping kampus mereka, Karen berjalan menuju perpustakaan kampus. Namun, entah muncul dari arah mana, tiba-tiba saja Feril sudah berada di samping sambil ikut menyesuaikan langkah kaki perempuan itu.
"Hai, Kar, gimana kabarnya hari ini?" tanya Feril yang hari itu tampak lebih rapi dari biasanya.
"Baik, Kak," jawab Karen singkat, kemudian langsung memalingkan muka.
Nih, orang mahasiswa atau dept collector, sih? Kerjaannya nyamperin orang mulu!
"Semalam kamu gak kenapa-kenapa, kan? Tenang aja, dua bekicot itu dah aku beresin! Berani-beraninya mereka ngelakuin itu ke kamu!" kata Feril berapi-api sembari unjuk jago di hadapan Karen.
Karen terdiam sesaat, lalu tersenyum pelit sambil berkata, "Iya, Kak. Thanks, ya, udah bantuin aku!"
"Pokoknya kalau ada apa-apa jangan sungkan kasih tahu aku. Coba kamu jadi pacar aku, yakin gak ada yang berani macam-macam sama kamu. Apalagi kalau hubungan kita awet sampai jenjang pernikahan. Aku pastiin kamu bakal sering dapat KDRT dari aku, alias Keseruan Dalam Rumah Tangga," cerocos Feril dengan gaya percaya diri sambil mengangkat kedua keningnya.
"Aduh, maaf, nih, Kak. Karen lagi buru-buru. Bye," Karen segera meninggalkan Feril dengan memakai jurus kaki seribu.
"Kar ...." Feril hanya mampu melongo seraya mengulurkan tangannya ke depan. Lagi-lagi, Karen mengabaikan dirinya.
Dua Jamet yang merupakan kawan Feril lantas mendekat.
(N: Jamet or menjamet : istilah jaman now untuk orang yang bergaya norak dan alay)
"Kasihan banget lu, Ngab. Padahal banyak banget cewek yang klepek-klepek sama lu, tapi cewek yang lu jadiin taruhan malah ogah mandang lu!" sahut pria berambut merah dengan gaya ala-ala rocker.
"Mana semalam udah keren ala-ala superhiro lagi! Tapi tetap aja tuh cewek gak terpikat. Ibarat kacang lupa dimakan, udah sok-sokan ditolongin malah dia biasa aja ke elo!" imbuh teman satunya lagi sambil mengejek.
"Berisik! Manas-manasin gua lagi!Kalian pikir gua sayur lodeh apa," cetus Feril kesal. Ia kemudian menatap jauh, seraya bergumam, "Songong banget tuh cewek! Tahu gitu gua biarin aja tadi malam dia digilir. Lihat aja apa yang bakal gua lakuin buat balas kesombongan lu!"
.
.
.
Istilah phising, ternyata kemarin udah lebih dulu aku jelasin ya 🤣. Maklum ngelag gara-gara lagi di perjalanan keluar kota kemarin, jadi obrolan Nadya sama Karen berasa dah muncul di chapter itu 🙏
Gak terasa udah 50 chapter aja nih. Bisa juga ya ternyata aku nulis cerita full romance kek gini, wkwkk. Ceritanya emang ringan kayak gini ya, Ders. Namanya juga tema slice of life jadi ceritanya cuma tentang kehidupan sehari-hari seputar rumah tangga Darren dan Karen dengan konflik-konflik yang mereka hadapi bersama. Bukan tema ala-ala drama kumenangissss ....
Kalau dalam outline yang dikasih editor sama aku, sifat Darren ini kek posesif gitu, tipical komik-komik CEO-lah. Mungkin karena banyak pembaca yang menyukai tokoh pria posesif, terus dianggap romantis gitu, ngekkk. Padahal di real life, sifat posesif pasangan itu gak banget. Salah satu pemicu toxic relationship. So, sifat Darren yang seharusnya posesif aku ganti jadi protektif.
Posesif dan protektif jelas beda. kalau posesif itu lebih mendikte karena menganggap pasangan itu seperti barang milik dia. Gak boleh ini, gak boleh itu. Di contoh kasus yang sering terjadi banyak suami/istri yang ngelarang/sengaja menghambat pasangannya untuk tunaikan baktinya orangtua. Hati-hati, itu bagian dari posesif ya, Ders. Sedangkan protektif lebih ke mengarahkan pasangannya ke hal positif.
So, tetap tunggu kelanjutan novel ini. Jangan lupa jempolnya ditancepin, tinggalkan Komeng juga. jangan jadi pembaca ghoib.
__ADS_1