DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 177 : Pahlawan Sesungguhnya


__ADS_3

Tak mau orang-orang berasumsi dan saling menuduh, Karen lantas berdiri sambil berkata, "Itu punyaku!"


Pengakuan Karen tentang vitamin ibu hamil yang terjatuh itu, sontak membuat seisi kelas terkejut, tak terkecuali Feril. Mata pria itu seolah hendak melompat keluar dari rongganya.


"What?" teriak Feril tepat di samping Karen.


Vera ikut berdiri sambil mengambil vitamin itu dari tangan Gimbal, lalu menyerahkannya pada Nadya yang baru saja datang.


"Nad, ini yang lu suruh beli kita, kan, buat kakak lu yang hamil," ucap Vera di hadapan semua kawan-kawannya.


Nadya yang tak mengerti lantas mengernyitkan dahi. Namun, ia buru-buru mengonfirmasi saat Vera berusaha melakukan kontak mata padanya.


"Oh, iya, thanks, ya, gak sempat beli soalnya sibuk di kafe terus!" ucap Nadya sambil menyimpan vitamin itu ke dalam tasnya.


"Kakak lu yang hamil atau elu? Ngaku aja!" Cerocos Feril.


"Apa urusannya sama lu? Laki kok mulutnya nyablak!" sambar Vera kesal.


"Ya, urusanlah! Kali aja dia hamil anak Kakak gua!" sahut Feril.


Ucapan Feril membuat hati Nadya meringis. Meski yang dituduhkan Feril saat ini tak benar, tetap saja tak menutupi fakta kalau ia pernah dihamili Farel.


"Gila, lu Nadya dan Farel kan dah lumayan lama putusnya!" imbuh Jamet.


"Heleh, sok polos lu! Kek gak tahu aja ada istilah jatah mantan. Jaman sekarang tuh hubungan mah boleh putus, tapi urusan ranjang bisa aja jalan terus!" cetus Feril.


Tak terima Nadya mendapat tuduhan seperti itu, Karen pun lantas pasang badan. "Kak Feril kok bisa ngomong kek gini? Emang Kak Feril tahu apa tentang kehidupan orang?"


Melihat Karen yang geram padanya, Feril lantas menciut. "Bukan gitu, Yang. Maksud aku di luar sana tuh ...."


Karen mengambil tasnya lalu berpindah tempat sambil mengajak Vera dan juga Nadya.


"Eh, mau ke mana?" Feril semakin kelabakan begitu Karen yang menjauhinya.


"Kena lo! Apa lo lupa Nadya bestie-nya Karen? Eh elu malah ngomong tanpa filter."


"Waduh, gimana, nih! Keknya Karen marah sama gua!"


"Makanya punya mulut jangan kek WC umum!" bisik Jamet sambil berdecak prihatin.


Karen, Vera dan Nadya mengambil tempat duduk paling depan. Meski masalah vitamin tadi telah selesai, tetap saja seisi kelas sibuk bergosip. Terutama tentang apa yang diucapkan Feril. Hal ini membuat Karen merasa sungkan pada Nadya.

__ADS_1


"Nad, maaf, ya, gara-gara kecerobohan aku ... kamu malah diomongin yang tidak-tidak sama Feril," ucap Karen.


"Gua juga minta maaf soal yang tadi. Habisnya Karen mau ngaku kalo dia hamil, kan bikin makin runyam nantinya!" sambung Vera penuh kekhawatiran.


"Iya aku ngerti kok," balas Nadya.


Sejujurnya, bukan kali ini saja ia mendapatkan pelecehan verbal setelah dijadikan perisai demi menolong Karen. Seolah, orang-orang terdekatnya tak begitu memikirkan perasaannya.


Beberapa wanita yang duduk di sudut paling belakang, malah sibuk bergosip sambil menatap ke arah Karen.


"Eh, gua curiga sama Karen. Kayaknya dia hamil, deh! Beberapa hari yang lalu, Bu Marsha nanyain kenapa dia gak ambil cuti aja. Terus, Bu Marsha kek keceplosan gitu!"


"Iya, iya, aku juga denger!"


"Nah, kan! Gak masuk akal banget hari gini, masih nitipin sesuatu ke teman, kan bisa beli online!"


"Kalo aku sih perhatiin gaya dia yang beda akhir-akhir ini. Lihat, deh, dia sekarang doyan pakai flat shoes. Dulu mana pernah, kan?"


"Denger-denger dari teman aku yang jadi BA Belleria, dia gak jadi model produk itu lagi," sambung lainnya.


Darren memasuki ruang kelas yang tengah sibuk bergosip hingga membentuk beberapa kelompok. Saking berisiknya, tak ada satu pun yang menyadari kehadiran dosen tampan itu.


"Ehem ...." Dehaman keras dari Darren membuat kelas itu menghening seketika.


"Apa gak ada yang bisa kalian lakukan selain bergosip?"


"Maklum, Prof. Kita semua kan tinggal di zona WIB alias waktu Indonesia berghibah," sahutnya lagi.


Pandangan Darren tertuju pada Karen yang duduk sejajar tepat di hadapannya. Ia lalu memantau Feril yang duduk tepat di belakang istrinya. Rupanya pria itu tak hilang akal untuk bisa terus dekat dengan Karen. Namun, itu sedikit lebih baik dibanding melihat pria itu duduk tepat di samping istrinya.


Begitu mata kuliah berakhir, semua mahasiswa pun membubarkan diri dan keluar kelas. Beberapa gerombolan mahasiswi yang tadinya bergosip tentang Karen, kini menghampirinya.


"Ren, tumben akhir-akhir ini lo tampil biasa aja. Enggak makeupan sama gak pake sepatu hak tinggi?" Celetukan nyinyir keluar dari mulut salah satu para gadis itu.


"Lagi gak mood aja," ucap Karen sambil buru-buru hendak pergi. Namun, salah satu dari mereka menghadangnya.


"Masa' sih? Live lima menit di Instagram aja lu gak berani tampil dengan wajah polos tanpa makeup," serang salah satu mahasiswa dengan nada sedikit mengejek.


"Terus masalah di kalian apa? Gua mau makeupan kek, mau pake sepatu jenis apa pun ya hak-hak gua, badan-badan gua kok! Kenapa kalian yang repot, mau beliin gitu?" Karen mulai terpancing emosi setelah berusaha menanggapi dengan santai.


"Ada apa ini? Ada apa?" Tanpa diundang, Feril dan gerombolan Mahdi muncul bak pahlawan bertopeng.

__ADS_1


"Kalian ada urusan apa sama Karen, hah? Karen itu mau makeupan atau gak, tetap cantik. Gak kayak kalian yang cantiknya dibantu filter!" bela Feril dengan suara meledak-ledak.


Kehadiran Feril dan kawan-kawan, membuat keadaan sekitar menjadi pengap dan bising. Belum lagi, mereka datang dengan membawa bermacam-macam aroma yang membuat Karen pusing hingga penglihatannya penuh dengan bayangan. Di waktu yang sama, seseorang langsung menahan tubuhnya yang hampir jatuh. Saat menoleh ke samping, wajah tampan Darren menguasai penglihatannya.


"Kamu gak papa?" tanya Darren tanpa melepaskan rangkulannya.


"Enggak, Pak, makasih," ucap Karen sedikit gugup.


"Gak mungkin gak papa. Wajah kamu pucat banget. Aku anterin ke UKS, ya?" Tak butuh persetujuan dari Karen, Darren lantas menyelipkan kedua tangannya di belakang lekukan paha dan punggung Karen.


Karen terhenyak ketika tubuhnya terangkat dalam pelukan Darren. Ini terlalu tiba-tiba hingga membuat jantungnya terpukul, dan berdentam keras. Lebihnya lagi, aksi pria itu dilakukan di hadapan teman-teman sekelasnya, termasuk di depan Feril dan gerombolan Mahdi. Tak peduli berapa banyak pasang mata yang terkejut, Darren langsung berbalik dan membawa Karen pergi dari kerumunan, bak seorang pangeran yang menggendong tuan putri menuju istana.


Reaksi mereka tentu berbeda-beda. Ada yang kaget dan tak percaya Darren bisa seperhatian itu pada salah satu mahasiswanya. Ada yang hanya diam melongo tanpa berkata apa pun. Bahkan tak terima Karen mendapat perhatian istimewa dari sang dosen pujaan mereka. Namun, yang paling bereaksi kaget sudah pasti adalah Feril. Sempat membatu beberapa saat, pria itu berusaha mengejar Darren yang membawa Karen menuju ruang UKS. Tak pelak teman-temannya pun segera menahannya.


"Woi, yayank Karen gua mau dibawa ke mana?" teriak Feril tak terima.


"Kok gua ngerasa mereka berdua cocok, ya?" gumam Gimbal.


"Cocok apaan? Lu seharusnya ada dipihak gua!" gerutu Feril, "kapan sih gua dan Karen bisa samyang bareng?"


"Hah, samyang?" ulang kawan-kawannya dengan nada heran.


"Maksud gua SAMa-sama saYANG!" jelas Feril.


"Gak ada istilah samyang buat lu, adanya Kamsa!" cela Jamet.


"Kamsa apaan?" tanya Feril.


"Kalo Mimpi, SAdar!"


(N: Kamsa bahasa Korea yang artinya terima kasih dalam bentuk pengucapan sederhana.)


Di koridor yang sepi, Darren terus menggendong Karen tanpa berniat melepasnya. Tangan Karen kini tak sungkan untuk melingkar di leher kokoh pria itu. Matanya pun tak lepas memandang wajah suaminya.


"Kenapa natap aku mulu dari tadi?" tanya Darren sambil memandang lurus ke depan.


"Suka aja, suka lihatin kamu yang tampan," puji Karen dengan senyum halus yang bertengger di bibirnya.


"Coba ulang?" bisik Darren.


"Suka lihat wajah kamu yang tampan."

__ADS_1


"Tumben gombalin aku!"


Karen menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Jujur, ia senang dengan tindakan romantis yang dilakukan suaminya di hadapan teman-temannya. Meski begitu, hubungan mereka yang masih dirahasiakan ditambah dengan kehamilannya, membuatnya merasa khawatir.


__ADS_2