DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 53 : Tak Ingin Melepaskan Pelukan


__ADS_3

Chalvin keluar dari ruangan kakek Aswono, setelah sempat berdebat soal pergantian Brand Ambassador. Namun, wajahnya mendadak kaku ketika melihat Karen berdiri sekitar dua meter dari ruangan kakek Aswono. Untuk beberapa saat, mata mereka bersirobok dalam kebisuan.


Chalvin menggaruk-garuk kepalanya seraya berpikir untuk mencari alasan yang tepat, agar Karen tak mengetahui dirinya dikeluarkan sebagai Brand Ambassador. Entah kenapa, rasa ibanya mendadak muncul pada perempuan itu. Pasalnya, baru beberapa jam yang lalu ia melihat senyum semringah yang merekah di wajah Karen saat mengetahui iklannya akan tampil di mana-mana. Kini, kakek Aswono dengan keputusannya yang bulat, telah memerintahkan ia untuk segera mengganti Karen. Bagaimana ia harus menjelaskan ini pada istri sepupunya itu?


"Ah, gini, kakek bilang dia mau meninjau lagi iklan yang bakal beredar. Kayaknya konsep yang kita buat enggak sesuai sama keinginannya. Jadi untuk beberapa hari ini, kamu gak usah syuting dulu," ucap Chalvin berasalan atas syuting yang mendadak dihentikan.


Karen menggeleng pelan. "Aku udah tahu, kok," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan, "maaf, gara-gara aku ... semuanya jadi kacau," lanjutnya sambil menggigit bibir bawah.


Sepasang matanya telah berkabut sedari tadi sejak mendengar bagaimana murkanya kakek Aswono hingga ingin memulangkan dirinya ke rumah orangtuanya. Suara kakek Aswono yang meledak-ledak bagai halilintar ternyata menembus ruang sehingga seluruh obrolan masuk ke telinganya.


Chalvin memalingkan wajah sesaat, lalu mengangguk-angguk. "Udah gak usah dipikirin. Kakek paling juga cuma marah sesaat doang. Namanya juga orangtua, lihat kayak gitu udah overthinking duluan. Dipikir kita ini hidup di jaman Majapahit kali, ya? Anak ibukota ke kelab malam itu dah biasa, kan? Aku juga kadang suka clubbing kalau lagi suntuk," ucap pria itu berupaya menghiburnya. Chalvin lalu mengelus-elus perutnya sendiri, "ah, laper banget! Kita makan bareng, yuk!" ajaknya sambil berjalan santai melewati Karen. Namun, langkahnya terhenti ketika perempuan itu masih mematung.


(N: overthinking\= khawatir berlebihan. Ini Inggres ala Jaksel)


"Aku enggak tahu seperti apa foto-foto yang membuat kakek marah banget, yang pasti ... itu enggak seperti yang terlihat. Aku enggak begitu," ucap Karen lirih dengan suara nyaris tak terdengar.


Chalvin kembali menghampiri Karen, lalu berkata, "Aku tahu, kok. Dan aku juga percaya kamu enggak gitu."


Karen langsung menaikkan pandangan, menatap Chalvin yang mengulas senyum hangat padanya.


"Aku dah tahu cerita yang sebenarnya. Makanya, kamu enggak usah khawatir, aku ada di pihak kamu. Tunggu aja sampai emosi kakek mereda, baru kita jelasin baik-baik, oke?" Chalvin sedikit menunduk untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Karen.


Bertepatan dengan itu, kembali terdengar adu mulut antara Oma Belle dan kakek Aswono di dalam sana.


"Kan sudah kubilang sebelumnya, seharusnya Darren dipasangkan sama yang lebih dewasa, jangan sama anak kuliahan. Ya ... kayak gini! pikirannya masih mau senang-senang, gak ingat jaga nama baik suami dan jaga martabatnya sebagai seorang istri," geram kakek Aswono yang masih marah terkait foto-foto Karen.


Chalvin yang masih membungkuk seraya bertatapan dengan Karen, bergegas menutup telinga perempuan di hadapannya.


"Gak usah didengar!" ucap Chalvin sambil mendorong Karen pergi dari tempat itu.


Begitu keluar dari gedung, mereka baru tersadar jika langit telah menggelap yang menjadi pertanda malam hari. Chalvin bersiap mengantar Karen pulang ke apartemen setelah perempuan itu menolak ajakan makan bersama. Namun, baru saja hendak menghidupkan mobil, pandangannya lantas tertuju ke arah Karen yang terisak sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Sudah bertahan untuk tidak menangis, ternyata sulit baginya. Mana mungkin ia bisa terus bersikap baik-baik saja setelah mendengar semua perkataan kakek Aswono. Pada akhirnya, inilah batas kerapuhannya.


"Aku dah berusaha buat lupain kejadian semalam biar Darren enggak khawatirin aku, ternyata masalah lebih besar malah muncul gara-gara kejadian itu. Gimana cara ngejelasin sama kakek dan Oma, kalau untuk ingat kejadian itu aja dah bikin aku trauma. Gimana kalau udah diceritain, tapi mereka tetap gak percaya dan tetap nuntut Darren buat ninggalin aku? Aku enggak mau pisah sama Darren," isak Karen dengan suara terputus-putus.

__ADS_1


Mendengar tangisan Karen, Chalvin hanya bergeming sambil mengembuskan napasnya. Namun, detik berikutnya, ia menginjak pedal gas lalu melaju kencang di atas kecepatan rata-rata sehingga membuat Karen tersentak. Perempuan itu makin melebarkan matanya, ketika mobil Chalvin berhenti tepat di kelab malam yang didatanginya semalam.


"Kalau aku lihat dari foto itu, ini kelab malam yang kamu datangi, kan?" tanya Chalvin.


Bingung bercampur takut karena mengingat kembali peristiwa semalam, Karen lantas mengangguk sambil bertanya, "Iya, tapi buat apa kamu bawa aku ke sini lagi?"


"Mereka pasti sering nongkrong di sini. Kamu masih ingat orangnya, kan? Ayo, kita cari mereka!" Chalvin langsung membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil dengan mata yang seperti singa kelaparan.


Karen bergegas menyusul Chalvin, lalu menarik tangannya. "Kamu mau ngapain ketemu mereka?" tanyanya dengan raut takut.


"Bakal aku habisin! Mereka gak cuma jebak dan lecehin kamu, tapi juga mencemarkan nama baik kamu dengan ngirim foto-foto yang menggiring orang berpendapat negatif tentang kamu," sahut Chalvin dengan ekspresi tak main-main dan kembali berjalan cepat ke arah pintu masuk.


Karen kembali mencegat Chalvin. "Kamu jangan gini! Aku gak mau ke tempat itu lagi, aku gak mau ketemu orang-orang itu lagi. Dan aku ... juga gak mau kamu terlibat masalah gara-gara aku. Please ...."


"Ta—tapi ...."


"Please ...." Karen memohon seraya menunduk penuh.


Melihat wajah Karen yang memelas padanya, Chalvin hanya mampu menengadah sambil mengembuskan napasnya. Padahal ia ingin sekali mencari orang yang telah melakukan itu pada istri sepupunya. Mereka pun kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan ke apartemen.


Karen membuka pintu apartemennya. Baru saja melangkah, aroma menggiurkan yang membangkitkan rasa lapar menyenggol indra penciumannya. Ketika matanya menyapu ruang dapur, terlihat sosok jangkung tengah sibuk di dapur dengan celemek yang terpasang di badannya.


"Udah pulang?" Darren menyambutnya dengan sedikit kaget.


"Hum ...." Karen mengangguk sambil berjalan mendekati Darren yang tengah mengaduk sup berisi beberapa sayuran dan jamur. Ada juga ayam goreng mentega yang tampak baru selesai dimasak. Tatapannya beralih pada pakaian kerja yang masih dikenakan suaminya. Artinya, Darren baru saja pulang, tapi langsung memasak makan malam untuk mereka.


"Tumben kamu masak malam-malam?" tanya Karen.


"Ini hadiah buat kamu karena tadi dah mulai belajar sungguh-sungguh," ucap Darren sambil mencicipi kuah sup dari sendok aduk.


Rasa haru seketika memenuhi hati Karen. Ia langsung memeluk erat suaminya dari belakang. Darren terhenyak menerima serangan pelukan dadakan istrinya, sampai-sampai kuah sup yang ada di sendok tumpah dan hampir terkena tangannya.


"Lepas dulu dong! Supnya mau aku taruh di mangkok, nih!" pinta Darren.


"Gak mau!" Karen yang menyandarkan kepalanya di punggung Darren, kini malah semakin mempererat pelukannya, seolah takut kehilangannya.

__ADS_1


Darren menggeleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang manja. Ia menggeser kakinya sedikit demi sedikit untuk mengambil mangkok dan Karen mengikutinya dari belakang tanpa melepas pelukan.


Darren menuang sup yang baru saja masak ke dalam mangkok kosong. Sementara, Karen terus menempel di punggungnya dan enggan melepas lingkaran tangan di pinggangnya.


"Kalau kamu kayak gini gimana aku bisa jalan!" Darren mengeluhkan tingkah istrinya, tapi tak melarang istrinya untuk terus menempel di punggungnya. Sekali pun ia kesulitan bergerak dan berjalan ke meja makan sambil membawa mangkok berisi sup panas.


Karen melepaskan pelukannya saat mereka telah berada di depan meja makan. Ia menatap menu rumahan hasil masakan suaminya. Sup jamur, ayam goreng mentega, dan nasi putih panas. Ketiga masakan itu seolah saling berlomba mengepulkan uap panas yang membumbung.


"Enggak ada yang bisa ngalahin kehangatan yang tercipta di meja makan keluarga dengan sajian ala rumahan, bahkan resto mewah sekalipun!" ucap Darren seraya menarik kursi untuk diduduki Karen.


Karen mengangguk untuk membenarkan pernyataan suaminya. Ia turut duduk, lalu menyendokkan nasi ke piring suaminya. Hal sederhana itu sebenarnya belum pernah ia lakukan selama tiga bulan menjadi seorang istri.


"Enak gak?" tanya Darren ketika Karen mulai menyantap masakannya.


"Hum ...." Karen menjawab dengan sebuah anggukan.


"Supnya keasinan, gak?"


Karen menggeleng. Malam ini, ia benar-benar tak banyak bicara.


"Dulu pas di London ini jadi comford food¹ andalan aku."


Dentingan sendok yang beradu dengan piring kaca harus terhenti sejenak ketika ponsel milik Darren berdering tiba-tiba. Kening pria itu berkerut begitu mengetahui yang meneleponnya adalah kakek Aswono. Tentu saja ia masih belum tahu, apa yang membuat kakeknya itu mendadak menelepon.


.


.


.


catatan kaki 🦶



Comford food: makanan yang menimbulkan rasa nyaman dan nostalgia jika memakannya.

__ADS_1



__ADS_2