DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 171 : Gara-gara Lapar


__ADS_3

Mengetahui perut istrinya keroncongan karena lapar, Darren lantas berkata. "Kamu lapar? Aku ambilin makanan, ya?"


Ketika Darren hendak beranjak, Karen malah mencegat tangannya. "Gak usah aku mau bobo aja. Lagian aku tadi dah minum susu juga."


"Ya, sudah ... istirahat, gih!"


"Kamu juga dong! Jangan kerja mulu. Udah pulang malam masa sambung kerja," protes Karen sambil merengut.


"Iya, beres. Aku mandi dulu." Darren mengapit bibir Karen yang maju ke depan hingga terlihat seperti mulut bebek.


Setelah selesai mandi, Darren tersenyum kecil saat melihat istrinya telah terlelap. Ia mematikan lampu kamar dan turut masuk ke dalam selimut.


Di saat semua orang tenggelam dalam keheningan malam, Karen malah tampak gelisah. Perasaan tak nyaman mendadak mengusik tidurnya. Ia berbalik ke kiri dan kanan untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Hal itu dilakukan berkali-kali. Tiba-tiba ia terhenyak ketika tangan besar Darren menariknya masuk ke dalam kungkungannya.


Berbantalkan lengan suaminya, Karen bisa merasakan kehangatan pelukan dari pria itu. Ia pun menoleh sejenak, hanya untuk melihat wajah tampan yang tengah terlelap. Sialnya, tak berlangsung lama kemudian perutnya mendadak keroncongan. Lambungnya terus mengirimkan sinyal lapar yang tak bisa ditunda.


"Sayang ...." Karen mencoba membangunkan suaminya.


Tak ada respon.


"Sayang," ulangnya sekali lagi sembari sedikit menggoyangkan tubuh pria itu.


"Hum?" Darren menyahut kecil dalam keadaan mata tertutup.


"Aku lapar ...."


"Makan!" balas pria itu yang masih belum membuka mata. Wajar saja, ia kelelahan dengan jadwal mengajar yang padat, belum lagi sempat menjadi dosen penguji untuk sidang proposal.


"Temani dong! Takut keluar sendiri."


"Emang ini jam berapa?"


"Dikit lagi jam dua ...." Karen beranjak dari tempat tidur lalu menoleh ke arah Darren yang masih terkapar di atas tempat tidur. "Darren, ayo! Lapar nih!"


Darren meminggirkan selimut kemudian bangun dengan rambut yang seperti gelombang tsunami. Masih enggan membuka mata lebar-lebar, pria itu berjalan keluar kamar bagai orang mabuk mengekor Karen yang lebih dulu menuruni anak tangga.


"Sayang, kamu mau ke mana? Itu arah ke ruang tamu bukan ke dapur!" tegur Karen yang melihat suaminya berbelok kanan.


Darren sontak membalikkan tubuh sambil mengucek mata. Mereka sama-sama ke dapur untuk mencari sisa-sisa makanan tadi malam.


"Yah, udah gak ada makanan. Aku makan mie instan aja deh. Biar cepet masaknya."


"Eittss ... gak ... gak ... gak .... Itu gak ada nutrisinya. Dah gitu kadar natriumnya tinggi."


"Terus, makan apa dong?"


"Terserah yang penting bukan mie instan!" balas Darren sambil menguap.

__ADS_1


"Kalo gitu masakin aku, ya?"


Mata Darren membesar seketika. "Masak sekarang?"


"Ya, iyalah!"


"Apa gak bisa tunggu pagi? Ngemil aja dulu, yah?"


"Gak bisa! Orang dah lapar banget. Masa mesti nunggu pagi!"


"Salah sendiri disuruh makan sebelum tidur, malah gak mau."


"Tadi kan belum kepengen."


"Terus, kamu mau dimasakin apa?"


"Nasi goreng seafood yang biasa kamu buat. Biar cepet juga masaknya."


"Tunggu aku cek dulu, stok seafood-nya."


Darren membuka kulkas dan mengobok-obok persediaan lauk beku di rumah itu. Untungnya terdapat stok udang di dalam sana. Ia lalu membuka rice cooker untuk mengambil nasi yang akan diolah. Sialnya, ternyata nasi di dalam rice cooker telah habis dan hanya menyisakan sedikit kerak.


"Yah, nasinya habis!"


"Terus gimana dong?"


"Hah?!" Karen terperanjat seketika. Namun, apa boleh buat, tak ada yang bisa dimakan juga untuk saat ini. Selain itu, ia sudah membayangkan lezatnya nasi goreng buatan suaminya seperti biasa.


Darren terpaksa memasak nasi terlebih dahulu. Dengan mata yang terkulai, ia mencuci beras sebelum dimasukkan ke dalam mesin penanak nasi. Kepalanya bahkan terantuk berkali-kali karena tak sanggup menahan kantuk.


"Besok malam kita ke rumah ayahku, ya? Mereka ngajakin kita makan malam di sana, sekalian antar Sheila pulang," ajak Darren tiba-tiba.


"Loh, Sheila dah mau balik ke rumahnya?"


"Iya, mamanya dah kangen banget soalnya. Lagian dia mulai berubah, udah gak sebandel dulu. Malah keknya sekarang dia dekat banget sama Oma."


Karen tertegun. Berbeda dengan Oma yang dulunya menentang kehadiran anak itu dan kini malah akrab, ia dan adik iparnya itu malah tak pernah dekat hingga kini. Meski tinggal seatap, keduanya tak pernah berinteraksi kecuali saat sedang di meja makan. Ia pun menyadari kerenggangan hubungan mereka karena dari awal ia memang tak pernah mau mencoba akrab dengan adik tiri Darren itu.


Tiba-tiba saja perutnya kembali keroncongan. "Duh, dah laper banget."


Darren melihat pisang yang ada di kitchen set lalu memberikannya pada Karen yang duduk di meja makan. "Nih, makan pisang dulu."


"Emangnya aku monyet apa?"


"Emang yang suka pisang cuma monyet? Aku juga loh ...." Darren membuka kulit pisang lalu memakan ujung buahnya. "Pisang itu lebih menyehatkan dan mengenyangkan juga!" Dia menyodorkan pisang yang telah digigitnya itu ke arah Karen.


Karen mencoba pisang bekas gigitan Darren dengan ragu-ragu. Jujur, ia tak pernah memakan pisang secara langsung kecuali yang telah diolah menjadi sejenis kue.

__ADS_1


"Jangan bilang tiap hari kamu minta dimasakin di jam hantu kek gini!" dengus Darren kembali ke dapur sambil menguap lebar. Ia masih harus membersihkan udang yang masih membeku.


"Salah sendiri tadi aku mau masak mie instan gak dikasih. Udah tahu istri cuma bisa masak itu doang!" ucap Karen sambil mencoba menghabiskan pisang. Ia melirik suaminya sejenak, melihat sosok jangkung berpiyama tidur itu bersandar di kulkas dengan tangan bersilang di bawah dada dan mata yang terpejam. Ia pun mengambil pisang yang baru seraya membuka kulitnya.


"Hum ... pisangnya enak banget," ucap Karen dengan nada sensual dan gaya nakal yang dibuat-buat.


Darren membuka matanya dengan tatapan yang langsung tertuju pada istrinya. Karen meliriknya sambil menjilat pisang dengan perlahan, dari pangkal hingga ujung. Darren tersenyum miring dan langsung berjalan menuju ke arah perempuan itu. Entah kenapa, dia selalu merasa gemas melihat tingkah istrinya yang suka memancing hasratnya. Ia berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki istrinya, sedikit membungkuk sambil menangkap tangan Karen yang memegangi pisang.


"Kamu ini lagi makan atau lagi mancing?"


"Dua-duanya!"


Darren mendekatkan bibirnya ke telinga Karen, sembari berbisik, "Jangan mancing tengah malam di tempat kek gini, entar bahaya, loh!"


"Sebahaya apa emangnya?" Karen memiringkan kepala.


Di saat yang sama Darren mengecup kilat bibirnya. Ciuman singkat itu serasa seperti sebuah aliran listrik.


"Yah, cuma kek gitu?"


"Emang kamu mau kayak gimana? Kasih contoh dulu dong!" pinta Darren yang masih membungkuk di belakang kursi yang diduduki istrinya.


Karen kembali menoleh ke arah pria itu, meraih tengkuk telinganya sembari mendekatkan bibir mereka. Saat hidung mereka bersinggungan, Karen malah meletakkan jari telunjuknya di bibir Darren yang hendak menerkamnya. Sebelah tangannya yang berada di leher pria itu, kini turun secara perlahan menuju dada pria itu. Tangan lentik itu terus turun ke bawah hingga batas celana piyama yang digunakan suaminya.


Darren menahan tangan Karen yang hendak bergerak masuk ke dalam celananya. Pria itu langsung menyerangnya dengan ciuman buas yang menuntut.


"Gadis Nakal, kamu mancing-mancing aku mulu. Gak takut apa aku lepas kendali di sini?" bisik Darren sambil mengigit-gigit kecil telinga Karen.


Karen melenguh kecil. Darren semakin memanas melancarkan cumbuan. Seseorang mendadak muncul dari arah ruang tamu hingga membuat keduanya kelabakan. Ternyata itu adalah Chalvin yang baru saja pulang dari luar kota. Suasana yang tak tepat ini membuat ketiganya canggung, kikuk bahkan mematung beberapa saat.


"Baru pulang, Vin?" Darren berinisiatif lebih dulu memecahkan kecanggungan di antara mereka.


"Ah, iya. Capek banget!" Chalvin mematahkan lehernya ke kiri dan kanan. "Kalian sendiri ngapain malam-malam ada di dapur?" tanyanya balik.


"Ini ... Karen laper, minta makan. Maklum bumil." Darren mengacak-acak rambut Karen.


"Oh, kirain ... bikin kaget aja, tahu! Aku masuk dulu, ya? Mau langsung tidur nih!" Setelah pamit, Chalvin lekas menaiki tangga menuju kamarnya. Ia sempat kembali menoleh ke arah suami istri itu, sebelum membuka pintu kamarnya.


"Aku cek nasi dulu!" ucap Darren sambil mengecup kepala Karen dengan lembut.


Darren beralih menuju ke dapur. Melihat tombol rice cooker yang telah berpindah tempat, tanda beras telah matang. Ia pun segera memberitahukan pada Karen. Baru saja membuka penutup rice cooker, mata pria itu terbelalak melihat hasil beras yang dimasak di luar ekspektasi. Tampaknya, efek mengantuk berat membuatnya tak sadar terlalu banyak menuang air ke dalam beras melebihi takaran yang sesungguhnya.


Darren menoleh kembali ke arah Karen, sambil berucap kaku, "Sayang, kamu makan bubur aja, ya? Entar aku tambahin toping sea food."


"Apa?!"


"Bubur itu lebih menyehatkan loh daripada nasi goreng. Cocok buat bumil," bujuk Darren.

__ADS_1


.


__ADS_2