
Bagai anggota intelejen, para Mahasiswa kunang-kunang itu membuntuti Darren yang berjalan menuju arah selatan kampus. Gelagat Darren yang sedikit mencurigakan, membuat mereka makin penasaran untuk mengetahui arah tujuannya.
Mereka terkesiap saat pria yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata orang Indonesia itu memasuki perpustakaan.
"Kampret, cuma ke perpustakaan doank!"
Kawan-kawan Feril menggerutu kesal karena telah jauh-jauh menguntit, ternyata pria itu hanya memasuki ruang perpustakaan. Namun, tidak untuk Feril yang malah menempelkan wajahnya di jendela kaca sambil membungkukkan badan, mirip tetangga yang suka kepo.
Feril mengernyitkan dahi melihat Darren duduk tenang di deretan meja paling sudut dengan beberapa buku bacaan yang baru saja diambilnya.
"Udah sekelas profesor apa enggak capek belajar mulu?" gumam Feril heran.
"Udah gak heranlah orang kek gitu gitu berhadapan mulu ma buku. Yang heran itu kalo elo yang tiba-tiba rajin belajar, semesta bisa terguncang!" timpal temannya.
"Cabut, yuk! Gak guna banget ngikutin tuh orang!" ajak Feril sambil beranjak pergi.
Selepas kepergian Feril, Darren masih duduk dengan mata yang tertuju pada buku tugas.
"Sampai kapan kamu mau sembunyi kayak kucing?" tanyanya santai sambil membuka lembaran buku berikutnya.
Tak lama kemudian, kepala Karen mengintip keluar dari kolong meja samping tempat duduknya. Memastikan keadaan telah aman, ia pun keluar. Ternyata, Karen lebih dulu berada di perpustakaan menunggu suaminya. Saat Darren datang menghampiri mejanya, secara bersamaan matanya tak sengaja menangkap bayang Feril di jendela perpustakaan. Takut dilihat pria itu, ia pun bergegas sembunyi di kolong meja.
Darren menyodorkan buku berisi tugas yang baru saja diperiksanya. "Apa yang kamu bikin selama semester 1 dan 2 kalau akuntansi dasar aja gak kamu kuasai!"
Karen terbelalak melihat nilai tugasnya yang hanya mendapat dua simbol love penuh, sisanya mendapat simbol love retak.
"Kayaknya otak aku emang dirancang buat gak mikir-mikir yang sulit, deh! Kayak rumus-rumus gini! Tuhan aja ngasih ujian sesuai batas kemampuan manusia. Masa kamu ngasih ujian di luar kapasitas otak aku."
"Gak usah ngeles. Revisi sana!"
...----------------...
Tak terasa akhir pekan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini, sepasang suami istri itu pindah ke kediaman baru mereka. Rumah yang dihadiahkan kakek Aswono di hari ulang tahun Darren itu bergaya industrial dengan konsep unik dan modern. Rumah tipe minimalis itu memiliki full pencahayaan dari dinding yang serba kaca, dan menggabungkan unsur kayu ke dalam ornamen. Pemilihan warna-warna monocrom pada ruangan juga membuat rumah minimalis itu terlihat lebih luas.
"Kamu suka tinggal di sini, enggak?" Darren merangkul istrinya setelah mengelilingi tiap sudut rumah mereka.
Karen mengangguk senang. "Sayang, enggak ada kolam renangnya."
__ADS_1
"Ya, udah entar kita bikin aja kolam renang aja di halaman samping. Masih muat, gak, ya?" Darren berjalan menuju pekarangan samping yang hanya ditumbuhi rumput gajah. "Halamannya kecil ternyata!" Tawa Darren menyembul.
"Ini sih cuma bisa bikin kolam ikan!"
"Berdoa aja siapa tahu beberapa tahun ke depan kali aja kita bisa bangun rumah sendiri yang lebih besar dan ada kolam renangnya."
"Asal terus bersama, mau tinggal di manapun aku juga mau kok!" Karen menyandarkan kepalanya di lengan kekar Darren.
Darren mengelus rambut istrinya. "Beres-beres, yuk!"
Mereka lalu mulai mengatur barang-barang yang dibawa dari apartemen. Saat hendak merapikan barang-barang suaminya, Karen justru menemukan sebuah kotak perhiasan yang menyatu dengan barang tumpukan lainnya. Matanya membeliak melihat cincin berlian dengan desain yang simple nan elegan di dalam kotak tersebut. Bahkan terdapat juga struk pembayaran lengkap dengan tanggal pembelian yang menunjukkan cincin berlian itu dibeli dua hari yang lalu.
"Ci—cincin?! Jangan bilang cincin ini buat aku," gumam Karen kaget bercampur senang, "ta–tapi ... kok tiba-tiba banget mau ngasih hadiah cincin? Ulang tahunku masih tujuh bulan lagi, kan?" pikirnya curiga dengan mata yang memicing ke arah Darren.
Suara bel pertama yang berbunyi secara spontan mengejutkan dirinya. Ia meletakkan kembali kotak cincin itu saat Darren memintanya untuk membuka pintu.
"Baru juga pindah, dah kedatangan tamu!" gerutu Karen sambil berjalan menuju ruang tamu.
Begitu Karen berjalan menuju pintu, Darren cepat-cepat mengecek kumpulan barang-barangnya. Ia langsung menyelamatkan cincin yang baru saja dibelinya.
"Untung aja Karen belum lihat!" gumam Darren sambil bernapas lega. Ia memang masih memikirkan momen yang tepat untuk memberikan cincin itu pada Karen.
"Nih, Oma datangkan ahli Feng shui profesional yang sudah berpengalaman buat bantu kalian mengatur tata letak ruangan agar sesuai kelarasan dan mendapatkan energi yang positif," ucap Oma Belle dengan senyum sumringahnya.
Darren dan Karen tentu saja tak senang Oma Belle ikut campur. Baru saja hendak komplain dengan tindakan Oma yang tanpa persetujuan mereka, tiba-tiba terdengar kembali suara bel.
Karen buru-buru membuka pintu. Ia terkesiap begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya itu adalah mami Valen bersama seorang wanita asing yang tampaknya dari perusahaan desainer jika dilihat dari tanda pengenalnya.
"Karen, My Sweetie pie ... selamat atas rumah barunya!" Mami Valen menerobos masuk seperti biasa. "Eh, ada Oma juga, ya? Apa kabar?" ucap mami Valen sambil menempelkan pipi kiri dan kanan mereka.
"Baik-baik aja. Udah lama, ya, kita gak ketemu," sambut Oma Belle tak kalah hangat.
"Iya, nih, Oma." Mami Vallen lalu memperkenalkan wanita di sampingnya. "Mami panggilin kalian dekorator interior dari perusahaan desainer profesional. Dia bakal bantu-bantu kalian buat menata ruangan biar makin kece dan kekinian."
Mendengar ucapan mami Valen, Oma Belle langsung menyambar. "Tidak bisa! Kalau soal penataan ruangan itu bagiannya ahli Feng shui saya! Biar bisa menangkal hal-hal negatif yang masuk di rumah ini."
Ujung bibir mami Valen terangkat sebelah. "Oma punya kalender enggak, sih, di rumah? Ini sudah tahun 2022 loh! Bukan tahun jebot lagi! Di mana-mana orang udah pakai ahli desainer interior dan dekorator. Lagian Karen itu masih muda. Pemilihan perabotan dan tata letak harus sesuaikan dengan trend masa kini dong!"
__ADS_1
"Mau tahun berapapun, yang namanya Feng shui itu tidak termakan jaman dan membawa banyak manfaat bagi kehidupan rumah tangga. Mereka berdua aja enggak komplain, kok kamu sewot," tandas Oma Belle menunjukkan wajah tak senang.
"Lihat dong pasangan artis aja banyak yang pakai jasa perusahaan ini!" Mami Valen menggandeng wanita di sebelahnya.
"Tapi artis-artis itu juga banyak yang cerai, kan?!" cela Oma Belle yang terkikik bersama ahli Feng shui yang dibawanya.
"Mereka cerai juga gak ada hubungannya dengan dekorator interior. Jangan pakai ilmu cocoklogi, deh!"
"Makanya ahli Feng shui bisa mengantisipasi itu semua. Tata ruangan yang salah bisa memengaruhi keharmonisan rumah tangga! Sekelas pemilik hotel berbintang aja masih pakai jasa Feng shui, kamu kok sok-sokan modern!"
Oma Belle dan mami Valen terus mempertahankan opini masing-masing. Melihat keduanya yang saling serang mengalahkan debat pilpres, Darren dan Karen hanya bisa menepuk jidat.
"Oma, Mami, masalah penataan ruangan, aku sama Karen gak mau pakai jasa siapapun. Kami pengen mendiskusikan berdua sesuai keinginan kami," ucap Darren berusaha menengahi keduanya.
Akhirnya, Oma Belle dan mami Vallen pulang dengan tertib setelah diberi pengertian oleh pasangan suami istri tersebut. Mereka pun lanjut membereskan barang-barang.
Malam hari, Karen mendekati Darren yang tengah duduk bersandar di ranjang sambil menonton bola. Memakai lingerie merah terang, ia ikut duduk berselonjor di samping suaminya sambil memamerkan pahanya yang mulus. Apesnya, sudah berdandan seseksi itu, tapi malah diabaikan. Bahkan tak dilirik sama sekali.
Tak menyerah, ia menyentil lengan suaminya dengan jari telunjuk. Darren menoleh, menatap Karen yang tersenyum menggoda. Hanya sebentar saja, pria itu kembali menatap layar televisi yang menampilkan pertandingan Indonesia melawan Malaysia.
Karen mengerutkan bibirnya karena kembali diabaikan. Seolah pertandingan bola lebih menarik dibanding dirinya. Ia bersedekap dengan pandangan lurus ke depan. Mendadak, ia teringat dengan cincin berlian yang dibeli pria itu. Ia pun kembali menyenggol lengan suaminya dengan ujung telunjuk.
"Kenapa?" tanya Darren tanpa berpaling dari layar televisi.
"Ada yang pingin kamu kasih ke aku, enggak?" tanya Karen dengan rasa kepercayaan diri yang membara.
"Enggak ada," jawabnya singkat.
Mata Karen membulat seketika. "Beneran, nih? Gak ada yang pengen kamu kasih ke aku?" tanya Karen kembali memastikan.
"Emang mau ngasih apa?" tanya Darren yang makin serius menonton.
Karen langsung membuang muka sambil menggerutu dalam hati, "Ih, kok gak ada yang pengen dia kasih ke aku? Jangan-jangan cincin itu bukan untuk aku! Terus, buat siapa dong? Apa jangan-jangan ...."
.
.
__ADS_1
.