DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 39 : Rahasia Keluarga Darren


__ADS_3

"Karena tema yang kita hadirkan di lipstik terbaru adalah fresh look, maka kurasa butuh wajah-wajah fresh juga sebagai brand ambassador," lanjut Chalvin mengemukakan sudut pandangnya sambil menatap penuh ke arah Karen.


Darren langsung bereaksi ketika istrinya ditatap seperti itu oleh Chalvin. "Sorry, Vin, tapi istri aku masih mahasiswa."


"Terus? Jadi Brand ambassador kan sama sekali enggak mengganggu aktivitasnya yang lain." Dia kembali menoleh ke arah Karen. "Oh, iya, kamu punya Instagram, enggak?" tanya Chalvin.


"Enggak punya/punya!" Darren dan Karen menjawab secara serempak, tapi dengan jawaban yang berbeda.


"Kalau lu sih gua tahu gak pake sosmed!" cetus Chalvin pada Darren, lalu bertanya lagi, "boleh tahu, enggak, nama Instagram kamu apa?"


Alis Darren tampak saling bertaut, dan bibirnya mengerut berkumpul menjadi satu.


Jangan kasih tahu! Jangan kasih tahu ....


"Karen Aurellia. Huruf L-nya di-double," balas Karen memberitahukan akun instagramnya.


"Akh!" Daren memekik kesal, tetapi berusaha tetap stay cool saat Karen melirik ke arahnya.


"Yang ini?" Chalvin menunjuk hasil pencariannya.


"Iya," sahut Karen cepat.


"Wow, followers kamu banyak juga, ya!"


Karen hanya tersenyum bangga, padahal hatinya tengah terkikik.


Dia tidak tahu aja kalau sebagian followers aku tuh gaib, alias cuma akun bodong, hihi ....


"Ternyata ada banyak produk yang kamu endorse. Ya ... walau cuma barang-barang murahan. Kamu juga fotogenik! Aku dah follow, follback dong!" pinta Chalvin sambil memperlihatkan smartphone-nya.


"Oke," ucap Karen yang lalu mengambil ponselnya.


Darren tampak keberatan saat istri dan sepupunya saling follow-followan. Hal itu terlihat jelas darik mimik wajahnya yang sudah tak utuh lagi dari tadi.


"Menurutku kamu cocok jadi brand ambassador produk lipstik Belleria series terbaru. Bentuk bibir kamu bagus soalnya, idealnya orang Indonesia," ucap Chalvin sambil memerhatikan bibir Karen secara saksama.

__ADS_1


Hal itu tentu membuat mata Darren makin melotot dengan napas yang tertahan, sementara Karen menjadi salah tingkah dengan pujian yang dikeluarkan Chalvin. Ia hanya menunduk malu-malu seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Gimana menurut Oma?" Chalvin menanyakan pendapat Oma Belle.


"Oma sih setuju. Lagian waktunya kan dah mepet. Baru mau bikin kesepakatan dengan model aja udah ngabisin waktu. Belum lagi mau pemotretan dan segala macam. Sementara launching-nya udah malam ini. Tapi, Darren setuju enggak kalau istrinya jadi model produk perusahaan kita?" Mata Oma Belle melirik ke Darren yang sedari tadi diam.


Saat Darren hendak mengangkat suara, Chalvin langsung menimpalnya lebih dulu. "Ya, setujulah, Oma! Ini kan demi perusahaan juga. Ya, enggak, Ren?"


Darren mengepalkan tangannya di depan mulut sambil berdeham sejenak. "Kalau aku ... tinggal dari Karen sendiri. Dia mau atau enggak. Kalau dia enggak mau, aku gak bisa paksa. Kamu dan Oma juga gak boleh maksa dia!"


Oma Belle dan Chalvin menoleh cepat ke arah Karen. Darren pun turut menatap istrinya sambil menahan napas.


Jangan terima ... jangan terima!


Ketiga orang itu kompak menatap Karen tanpa berkedip, hanya untuk menanti jawaban Karen.


Karen terdiam sejenak, tersenyum semringah sambil mengelus-elus betisnya sendiri. "Kalau aku sih ... mau banget, Oma!" seru Karen melebarkan senyumnya.


Darren yang tengah bersandar di dinding dengan tangan bersedekap dan kaki menyilang, lantas tersentak mendengar jawaban istrinya. Bahkan bahunya merosot seketika karena tadinya mengira Karen akan menolak tawaran Chalvin.


Jelas saja Karen menyetujuinya. Saat ini produk kosmetika keluarga Darren menjadi produk terpopuler, tentu akan sangat membanggakan bisa menjadi brand ambassadornya, bukan? Apalagi manajer dan founder dari produk itu sendiri yang memintanya langsung. Meski keluarga besarnya juga merintis usaha di bidang kosmetika, tetapi ia tak pernah dilibatkan seperti ini, apalagi ditawarkan menjadi brand ambassador.


"Ya, sudah kalau begitu kamu siap-siap aja ke studio kita buat pemotretan bersama produk. Chalvin, Oma serahkan semuanya sama kamu, ya!" perintah Oma Belle sambil berdiri dari duduknya.


"Siap, Oma! Tenang aja, nanti sekretarisku ikut bantu. Untuk marketing, kita ajak beberapa MUA terkenal di Ibukota untuk collabs dengan produk baru kita," tutur Chalvin.


"Bagus!" Oma Belle mengacungkan jempol ke arahnya, lalu menoleh ke arah Darren yang hanya diam dengan wajah merengut, "Kamu ada waktu, kan, ke acara malam ini?"


"Iya, Oma. Aku ngajar cuma sampai sore. Ini dah mau masuk lagi," balas Darren sambil melihat jam tangan. Ia menghampiri istrinya, kemudian mengelus rambutnya dengan lembut. "Aku balik kampus lagi, ya!"


Karen mengangguk sambil memegang tangan suaminya. Jari-jemari mereka saling bertautan seiring keduanya sama-sama merajut senyum.


Pasangan suami istri itu kini berpisah. Karen mengikuti Chalvin menuju studio foto yang masih berada dalam satu gedung. Keduanya lalu menaiki lift untuk sampai di lantai tujuan.


"Oh, iya, kalian berdua udah nikah sekitar tiga bulanan, ya?" tanya Chalvin membuka obrolan.

__ADS_1


"Iya."


"Lu suka enggak sama Darren?"


Karen menoleh sambil melempar tatapan judes. "Apa enggak ada pertanyaan yang lebih bodoh?"


Chalvin menahan tawa. "Darren itu tipe pria setia. Untung aja sifat Darren ngikutin mendiang nyokapnya."


Karen terkejut seketika. "Hah? Bukannya ibunya Darren masih ada?"


"Oh, jadi kamu belum tahu." Chalvin merasa telah salah berucap.


Karena terlanjur penasaran, Karen membujuk Chalvin untuk menceritakan apa yang belum ia ketahui.


"Yang kamu sangka sebagai nyokapnya Darren itu sebenarnya ibu tirinya alias selingkuhan bokapnya sewaktu ibunya masih hidup dan lagi berjuang kanker rahim. Bahkan bokapnya sempat telantarkan Darren juga. Padahal nyokap Darren turut berjasa memajukan perusahaan ini selama belasan tahun. Makanya sampai sekarang kakek Aswono sama Oma Belle gak mau mengakui anak dari istri muda bokapnya Darren. Karena nyokapnya Darren itu menantu kesayangan mereka," jelas Chalvin.


Mendengar cerita Chalvin, membuatnya teringat kembali ucapan Oma Belle tempo hari.


"Apa kamu tidak kasihan sama Darren, dia itu anak satu-satunya dalam keluarga. Kalau kalian mutusin tidak punya anak, siapa yang akan meneruskan keturunan ayah Darren?"


Karen tercenung sejenak. Ia pikir hanya dirinyalah yang hidup dan besar dalam lingkungan keluarga yang sering bertengkar. Ternyata Darren telah mengalami hal yang lebih sulit darinya.


...----------------...


Karen telah memasuki studio perusahaan. Sebelum pemotretan dimulai, ia dirias terlebih dahulu dengan menggunakan produk-produk mereka tentunya. Sedangkan Chalvin, sibuk memilih pakaian yang akan digunakan Karen saat pemotretan nanti. Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik berpenampilan layaknya sekretaris memasuki ruangan itu dan langsung menghampiri Chalvin. Lewat cermin rias, Karen bisa melihat kemesraan antara pria itu dengan wanita yang disinyalir sebagai sekretarisnya. Selang beberapa menit kemudian, keduanya pun pergi entah ke mana.


Karen yang masih sementara dirias, tiba-tiba teringat dengan kejutan ulang tahun untuk suaminya. Ia mengambil tas kecilnya, lalu mengeluarkan sekotak hadiah dalam bungkusan kado yang berisi bross inisial D. Rencananya, hadiah itu akan ia berikan malam nanti saat selesai acara bersamaan dengan kejutan kecil lainnya.


"Make-upnya udah selesai, ya? Gimana, cantik, kan?" ucap MUA yang bertampang sangar seperti Jack Sparrow tapi memiliki suara suara lembut seperti Hello Kitty.


"Ih, cantik banget!" Karen menatap takjub wajahnya yang telah terpoles makeup ala idola Korea.


Salah seorang karyawan mendekati Karen sambil menyerahkan baju yang akan ia gunakan.


"Ruang gantinya di sana, ya!" Karyawan itu menunjuk ke sebuah tirai berbentuk lingkaran yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


Karen langsung beranjak lalu menuju ruang ganti. Saat ia menyingkap tirai, matanya terbelalak melihat Chalvin dan sekretarisnya tengah sibuk berperang lidah.


__ADS_2